Memaafkan

1370 Words
"Jangan ambil kesimpulan yang bisa membuat kamu sakit hati sendiri. Papa memang sembuh ketika itu, tetapi pada akhirnya harus jatuh sakit lagi dan kali ini tidak tertolong. Papa meninggal karena aku," tenggorokan Ega tercekat. Berapa kali pun kejadian itu di ungkit selalu mampu menghadirkan rasa asing yang kerap membuat dadanya sesak. Ega tentu tidak akan lupa jika sang Papa drop akibat menyaksikan dirinya yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Milea telah jauh darinya dan statusnya sudah menjadi suami orang. "Innalillahi wainna ilaihi raaji'uun. Maaf ya aku nggak tahu jika om sudah meninggal," ucap Milea menyesal tidak mengetahui fakta itu karena dia telah menutup akses untuk berkomunikasi dengan mantan pacarnya itu selama ini. "Nggak apa-apa, Mas tahu banget posisimu saat itu," sahut Ega yang melihat empati yang ditunjukkan Milea untuk sang papa. "Kalau boleh tahu kondisi Mas yang bagaimana yang bikin om sampai anfal dan meninggal," tanya Milea penasaran. Ternyata banyak fakta terkuak di luar asumsinya selama ini. Informasi yang dia dengar hanya yang tampak dari luar, sementara yang terjadi sebenarnya hanya keluarga dekat yang tahu. Ega yang mendengar Milea menyebutnya Mas kembali jadi senang luar biasa. Tetapi kesedihan kala mengingat sang Papa kembali mampu menyamarkan kebahagiaan itu. "Setelah pernikahan, Mas barulah sadar jika kamu telah pergi jauh. Seakan baru terbangun dari mimpi dan ketika sadar Mas sudah tidak ingin hidup lagi saat itu. Mas benar-benar kehilangan jati diri. Mas menjadi pemalas dan pemurung. Jika itu bukan tentang kamu, Mas malas untuk sekedar bergerak atau membuka mata. Mas hanya akan mendengar jika itu informasi tentang kam. Tapi nihil, Mas tidak menemukan keberadaan kamu lagi dimanapun. Praktis, Mas hanya tidur dan tidur saja kerjanya. Makan pun sangat jarang. Kalau mama tidak menangis, Mas tidak akan makan. Mas juga sakit banget saat itu, Sayang. Mas tidak bisa menguasai diri dan keadaan. Mas tidak menyadari jika itu telah menyakiti diri sendiri dan juga keluarga Mas, terutama Papa yang memiliki ide menikahkan aku dengan anak sahabatnya." Ega menghembuskan nafasnya kasar untuk meredakan sesak yang dia rasakan saat ini. Airmata yang akan jatuh ditahannya mati-matian. Milea tidak tahu harus berbuat apa, melihat Ega begitu sedih mengingat momen itu, dia merasa bersalah telah berpikir negatif tentang Ega selama ini. Milea menghambur ke pelukan Ega ketika Ega akhirnya tidak berhasil menahan laju air matanya. Ega menangis sesenggukan dan dengan perasaan yang tidak karuan, dia membalas pelukan Milea. "Sayang...maaf. Maaf.. karena sudah menyakiti kamu." Milea menggelengkan kepalanya dengan airmata yang sama derasnya. Mereka masih berpelukan saling menyalurkan rindu yang membuncah. Keduanya mengalami sakit yang sama akibat keegoisan orang tua. "Jangan minta maaf lagi ya, aku sudah memaafkan kamu. Aku juga tidak tahu bahwa apa yang kamu alami lebih berat dari apa yang aku rasakan," tutur Milea masih dalam tangisannya. Di sisi lain dia rindu laki-laki ini, biarlah dia sedikit egois untuk saat ini. Milea tidak peduli dengan status Ega yang masih kabur untuknya. Milea mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar Ega. "Sudah mau selesai istirahat pertama, kamu ngisi kelas dulu atau lanjut aja?" tanya Ega hati-hati. "Aku ngisi kelas dulu saja, takut anak-anak ketinggalan materi jika dibiarkan jamkos. Lanjut lewat chat aja ya, nggak enak sama yang lain kalau aku terlalu lama disini," kilah Milea dengan wajah sedikit menunduk. Betapa malunya Milea kala mengingat dirinya yang menikmati pelukan sang mantan dan yang lebih parah lagi dia membalas pelukan itu. Benar dugaan Ega, sakit hati Milea pasti bisa berkurang banyak jika sudah mendengar penjelasannya. Karena memang pada kenyataannya dia tidak pernah mengkhianati Milea. "Ya sudah, yang fokus ya ngajarnya. Jangan mikirin Mas terus. Aku akan tetap di sini, tidak akan pernah kemana-mana lagi, oke? ," gumam Ega lirih dengan jari telunjuknya mengarah ke d**a Milea. Tak ayal Milea tersenyum mendengarnya. Tak pernah dia sangka sebelumnya jika kisahnya dengan Ega tidak berakhir begitu saja. Akan ada kisah lanjutannya, entah bagaimana Tuhan menuliskan skenarionya nanti. "Baik, Pak. Saya permisi dulu melanjutkan tugas," canda Milea yang di sambut tawa kencang Ega. Dia sempat mengacak rambut Milea sebelum gadis itu menghilang di balik pintu. Milea keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Meskipun benci dan kecewa, hati kecilnya merasakan perasaan berbeda. Dia bahagia telah bertemu dengan orang yang selama ini ia hindari. Dia bisa membohongi orang lain, tetapi dia tidak akan mampu membohongi diri sendiri. "Ada masalah, Bu?," sapa bu Mariana dari arah lorong menuju ruang TU. "Enggak kok Bu, ini... masih nggak enak badan sedikit," jawab Milea sedikit beralasan. Dia tidak sadar melamun sambil berjalan. Rasanya masih tidak percaya jika hubungannya dengan Ega akan membaik secepat ini. "Kenapa dipaksa masuk Bu, jika masih sakit? Nanti tambah parah lo kalau kurang istirahat," tambah Bu Mariana cemas. "Oh itu Bu, laporan untuk kepala sekolah kan wajib disetor sekarang. Saya nggak enak kalau harus mangkir untuk tugas pertama. Secara kepala sekolah kita kan masih baru. Pasti butuh laporan itu segera," kilah Milea lagi. "Iya juga ya Bu. Ya sudah Ibu istirahat saja biar enakan," saran Bu Mariana yang terlihat cemas beneran. Milea merasa bersalah telah membohongi seniornya itu. "Ya sudah Bu, saya permisi dulu," pamit Milea kemudian. "Silahkan Bu, semoga cepat baikan," Ucap bu Mariana tulus dengan nada khawatir. Baik sekali hati rekan sejawatnya itu. Milea mengangguk dan segera memasuki ruangannya. Dia meregangkan ototnya yang sedari pagi sudah tegang. Huft.... lega rasanya. Tring.. Tring... Triing Suara telpon masuk dari gawainya, dengan malas dia melihat siapa nama pemanggilnya. Kalau tidak ada nama dia bermaksud mengabaikannya. Lagi malas basa basi. Tapi tebakannya salah, nama sang ibu tertera di layar gawainya. "Assalamualaikum Buk, tumben telpon di jam kerja. Ada masalah?" Tanya Lea penasaran, sebab tak biasanya ibunya itu telpon di jam kerja. Mendadak Milea cemas takut terjadi sesuatu dengan keluarganya. Milea khawatir, biasanya beliau lebih suka menghubunginya malam hari melalui video call. Biar puas tanpa ada gangguan katanya. "Wa'alaikum salam, enggak kok Nduk. Nggak ada apa-apa. Ibuk hanya takut lupa kasih kabar. Minggu ini si Renata mau menikah. Kalau bisa kamu dateng ya Nduk. Ibuk juga kangen sama kamu. Nggak enak kalau nggak dateng. Pak dhe mu sudah wanti-wanti untuk dateng," ucap Ibunda Milea semangat. Milea langsung terlihat lega, rupanya kabar bahagia yang di sampaikan sang ibu, bukan sebaliknya seperti kekhawatirannya barusan. "Kok mendadak sih Buk, semoga akunya nggak sedang ada kerjaan. Aku usahain ya, Buk," jawab Milea lembut. "Sebenarnya sudah agak lama rencana pernikahan ini, ibuk yang lupa-lupa terus mau kasih tahu kamu. Calonnya juga orang Surabaya. Mungkin kamu masih ingat? 'Kan waktu lamaran tahun lalu kamu hadir Nduk." Ya, Lea ingat dengan calon sepupunya itu. Tetapi kalau sekarang ya lupa bagaimana wajahnya. Kan sudah lama. "Iya Buk, ingat kok. Nanti aku usahakan datang. Tapi nggak bisa lama di rumah, 'kan nggak musim liburan." Milea juga nggak kalah kangennya sama keluarga di rumah. Apalagi keponakannya yang lagi lucu-lucunya. Dulu Milea sangat membatasi untuk pulang kampung dengan alasan sibuk. Padahal kenyataannya dia menghindari sang mantan. Tetapi sekarang yang dihindari malah muncul dengan sendirinya "Jangan lupa loh, Ibuk tunggu di rumah." "Nggeh Buk, assalamualaikum." "Wa'alaikum salam." Setelah Ibunya mengakhiri panggilannya. Di sisa jam pelajaran yang harus dia isi sampai waktu pulang tiba, Milea sama sekali tidak fokus. Benar apa yang Ega bilang, dia masih terus terbayang dengan laki-laki ganteng yang selama ini memenuhi pikiran dan hatinya. Tidak mau munafik, dia bertahan jomblo hingga usia 29 tahun tidak lain juga masih belum bisa move on dari sang mantan. Hari Sabtu pagi Milea pergi ke stasiun untuk mudik sesuai janjinya dengan sang ibu. Kali ini dia tidak mau menggunakan kendaraan pribadi, terlalu riskan dengan pikiran yang susah untuk fokus sejak kedatangan sang mantan dalam hidupnya belakangan ini. Ega telah berhasil mengacaukan kembali pertahanannya. Lebih baik dia menggunakan angkutan umum yang aman. "Satu ya Pak, turun stasiun Kota Baru," ujar Milea kepada petugas loket penjualan tiket. Kereta jurusan Malang sekarang sudah terjamin keamanan dan kenyamanannya. Meskipun akan sedikit lebih lama dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi, tapi naik kereta ada kesan tersendiri. Di dalam kereta dia bisa melamun atau tidur sepuasnya. Atau bisa juga tetap terjaga dan duduk santai sambil menikmati pemandangan yang menakjubkan selama perjalanan. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan akhirnya dia sampai di kota kelahirannya. Begitu turun dari kereta dia langsung menuju depan stasiun karena dia sudah ditunggu oleh kakak tercintanya. "Hai cantiik, butuh tumpangan?" Milea kaget mendapati seseorang yang tiba-tiba menyapanya dengan jarak yang sangat dekat hingga dia merasa deg-degan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD