Akhirnya Ega mengangkat wajahnya dengan senyum getir terukir di sana. Terlihat sekali dia berusaha untuk tegar dan kuat. Dia menyadari kesalahannya yang menyebabkan kesalahpahaman selama ini, memang tidak mudah di maafkan.
"Kalau begitu terima kasih atas pemberian maafmu. Tapi kalau boleh tahu, kenapa sampai sekarang kamu belum menikah? Maaf kalau terlalu lancang." Tiba-tiba Ega mencetuskan pertanyaan yang membuat Milea seketika berang. Harga dirinya tersentil karena Ega mengungkit kesendiriannya.
"Bukan urusanmu! Kamu tidak berhak ikut campur dalam hidupku!" seru Milea lantang. Mendadak harga dirinya sepertj dikuliti dengan munculnya pertanyaan sederhana dari mulut sang mantan. Sangat tidak tahu diri menurutnya.
"Memang bukan urusanku saat ini, tetapi suatu saat semua yang menyangkut kamu, akan menjadi urusanku. Bahagia dan sedihmu akan menjadi tanggung jawabku. Dengan atau tanpa persetujuan darimu."
Ega tiba-tiba menyadari sesuatu, menyadari jika kata-kata yang keluar dari mulut Milea tidak sejalan dengan hati gadis cantik itu. Ega sangat peka terhadap Milea, bahkan hanya dengan bahasa tubuh yang di balut dengan kemarahan.
Ega maklum, karena Milea seorang wanita yang memiliki rasa malu yang sangat tinggi, sehingga bisa menekan rasa rindu dan cinta yang selama ini masih dimiliki untuk dirinya.
"Memangnya siapa kamu, hingga dengan mudahnya bicara seperti itu. Nggak tahu diri banget ya!." Nafas Milea memburu dengan d**a naik turun menahan emosinya. Sikap tenangnya terusik karena keberanian Ega mengklaim dirinya adalah urusannya dan juga tanggung jawabnya. Pertanyaannya pun terlalu sensitif untuk di singgung.
Setelah sekian lama Ega membiarkan dirinya kesakitan sendiri, sekarang dia seenak perutnya mengklaim bahwa semua yang menyangkut Milea akan menjadi urusannya juga! Enak saja!
"Oke, kalau kamu tidak nyaman dengan pertanyaanku, aku minta maaf lagi untuk ini. Aku butuh bicara berdua denganmu untuk menjelaskan secara detail kejadian waktu itu. Tolong, aku minta waktunya sebentar, bisa?" tanya Ega dengan tatapan memohon. Ega yakin dengan penjelasan darinya, Milea bisa sedikit terbuka mengenai perasaannya.
"Aku juga minta maaf karena kali ini aku tidak punya waktu. Aku sibuk. Aku tidak butuh penjelasan apapun. Kalau begitu aku permisi pamit dulu." Lea masih jengkel dengan lelaki di depannya ini, tapi dia berusaha untuk bersikap sopan. Bagaimanapun dia adalah atasannya sekarang.
Milea melepas pegangan tangan Ega secara kasar yang berusaha menahannya dan segera beranjak menuju pintu keluar.
"Tunggu!" seru Ega sembari berlari secepatnya untuk meraih tubuh Milea dalam dekapannya. Milea yang tidak menyangka bahwa Ega akan melakukan itu mendadak bengong. Tubuhnya mendadak kaku, seperti ada aliran listrik ribuan volt yang mengalir dalam tubuhnya. Ada yang berdesir dalam darahnya. Ada yang hendak meledak di sekitar dadanya. Logikanya ingin menolak, tetapi tubuhnya mengkhianatinya. Tanpa dia sadari dia sudah berada dalam dekapan sang mantan kekasih dan dia menikmatinya.
"Maaf, aku minta maaf ya. Tolong, dengarkan aku dulu. Aku tidak akan membiarkan pergi jika kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku dulu," mohon Ega kembali. Suara Ega kembali bergetar, dia sudah lama memimpikan bisa memeluk tubuh itu, tubuh yang dia harapkan bisa dia peluk seumur hidupnya. Tubuh yang lama ia rindukan siang dan malam, kini bisa di raihnya dalam hangatnya pelukan. Harum tubuh Milea yang menguar seakan menjadi obat lelahnya selama ini.
"Mas tahu dan Mas sadar, jika sakit yang Mas torehkan dulu sangatlah dalam. Tetapi obat yang sebenar-benarnya obat adalah si pembuat luka itu sendiri. Jadi, izinkan Mas menghapus luka itu. Please!" lirih Ega menggaungkan apa yang tersimpan di dalam benaknya selama tujuh tahun lebih ini.
Dia tidak berhenti menghirup aroma Milea yang sangat ia rindukan selama ini. Seandainya waktu bisa dia hentikan sementara, pasti dia sudah melakukan itu. Dia ingin bersama gadis yang di dekapannya ini selamanya.
Milea tertegun dengan perasaan kacau balau. Ada rindu, kecewa, sakit hati sekaligus cinta menjadi satu. Apalagi Ega kembali memakai panggilan 'Mas' untuknya seperti panggilan Milea saat masih menjadi pacarnya dulu.
"Maaf jika waktu itu bukan Mas yang datang ke acara wisuda kamu, tapi justru undangan pernikahan Mas dengan gadis lain yang mengacaukan acaramu. Sungguh waktu itu Mas tidak pernah menyuruh siapapun kirim undangan itu untuk kamu. Mas akhirnya tahu bahwa Jihan yang mengirimkan undangan itu di hari wisuda kamu," tutur Ega lembut. Dia sedikit mengendurkan pelukannya saat dirasanya Milea sudah tidak berontak lagi.
Milea sudah tidak terlalu memikirkan Ega yang saat ini memeluknya. Dia cukup kaget dengan kenyataan itu. Tubuhnya semakin membeku. Dia mengira bahwa Ega lah yang menghendakinya untuk menyaksikan Ega duduk di pelaminan dengan gadis pilihan kedua orang tuanya. Milea berpikir Ega memang sengaja membuatnya sakit hati lebih dalam dengan mengundangnya ke pernikahan itu.
"Kamu tahu 'kan, bahwa dari dulu Jihan memang tidak suka dengan hubungan kita. Dia memang sepupu Mas, tapi dia punya perasaan khusus terhadap Mas, itulah sebabnya dia sengaja mengirimkan kartu undangan itu untuk membuat kamu sakit hati. Jihan juga tahu seberapa besar cinta Mas buat kamu. Dia iri dengan hubungan kita," lanjut Ega lagi.
Perlahan Ega menguraikan pelukannya. Dia yakin Milea tidak akan kemana-mana sebelum mendengar penjelasannya. Ega sangat mengenal Milea. Dari pada mengutamakan perasaannya dia akan lebih menonjolkan logika. Jadi dia pasti butuh penjelasan lengkap dari dirinya saat ini.
"Duduk dulu ya, nanti capek berdiri terus," ucap Ega lembut. Dia pegang kedua bahu Milea untuk dia tarik dan di dudukannya tubuh gadis itu di sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Milea menolak dengan kasar dengan melipat tangannya di depan d**a.
"Minum dulu ya, ini minuman kesukaan kamu loh. Kalau mau lagi masih ada di kulkas." Ega menyodorkan minuman dalam kemasan yang menjadi favorit Milea waktu mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Milea memperhatikan dengan perasaan hangat, dia cukup tersanjung Ega masih mengingat minuman favorit nya. Kopi dengan rasa alpukat yang ia gemari sampai sekarang.
"Mau makan dulu. Mas punya stok makanan dan camilan kesukaan kamu juga ini," tawar Ega berharap Milea bersedia menerimanya. Tetapi jawaban Milea justru sebaliknya.
"Nggak usah, terimakasih. Lanjutkan saja penjelasannya. Setelah istirahat pertama aku ada kelas," jelas Milea kembali dingin masih dengan posisi berdiri dengan tangan terlipat di depan d**a.
"Oh, Oke." Ega buru-buru melanjutkan penjelasannya, takut Milea berubah pikiran, "jadi, waktu itu kondisi papa kritis, beliau memintaku untuk menikah dengan anak sahabatnya. Papa dalam kondisi yang membuat aku tidak bisa berpikir panjang. Aku berharap papa akan bahagia dan sembuh jika aku menuruti kemauannya. Kamu pernah dengar nggak, kalau penderita penyakit jantung itu harus selalu bahagia? Dan memang benar, papa sembuh setelah aku menikah dengan gadis itu," lanjut Ega dengan wajah sendu.
Milea kembali merasakan sakit luar biasa, dia cemburu berat dengan gadis yang baru saja disebut keberadaannya oleh Ega. Dulu dia sudah membayangkan akan jadi pasangan Ega di pelaminan, sesuai dengan yang mereka impikan. Membayangkan Ega pernah bersentuhan dengan wanita lain membuat hati Milea seperti terbakar. Dan kecemburuannya dapat terbaca oleh Ega yang memang sangat peka dengan perasaan Milea.
Dia raih tangan Milea dan digenggamnya lembut. Berharap sakit itu sedikit berkurang. Berharap rasa cemburu Milea tidak lagi berkobar. Ah, bolehkah Ega merasa sedikit bahagia di tengah rasa cemburu Milea yang berkecamuk? Ega bahagia bisa membuat Milea kembali merasakan cemburu untuk dirinya.
"Kamu jangan berpikir macam-macam dulu ya, sekarang kamu harus ngisi kelas dulu. Sedangkan masih banyak yang harus aku jelaskan ke kamu," ucap Ega lirih, hampir tidak terdengar. Dirinya malu jika harus mengulang maaf itu lagi sementara dia belum selesai dengan penjelasannya. Dia berharap sakit yang dirasakan Milea akan berkurang banyak setelah mendengar semuanya nanti.
"Berpikir macam-macam gimana maksudnya?" tanya Milea ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Ega tentang dirinya saat ini. Sebelum dia hempaskan tangan Ega yang berhasil menggenggamnya beberapa saat, Ega lebih dulu melepasnya. Apakah ia masih se peka dulu?
"Itu mukanya kelihatan banget cemburunya, seakan-akan aku mencintai gadis yang jadi pilihan papaku. Pasti kamu sudah berpikir aku sudah menyentuhnya."
Tepat sekali, Ega masih se peka itu kalau menyangkut Milea. Muka Milea memerah, ada perasaan hangat yang menyusup dalam hatinya yang panas di dera rasa cemburu sekaligus benci. Rasa yang mampu menjadi pendingin hatinya yang seakan terbakar. Ternyata Milea masih menempati tempat yang istimewa di dalam hati Ega.
Setahun menjalin hubungan telah membuat Ega mengenalnya luar dalam. Belum ngomong saja Ega tahu apa yang Milea mau hanya dengan menatap wajahnya atau melihat gestur tubuhnya. Dan inilah alasan Milea susah move on. Karena dia belum pernah menemui laki-laki yang se peka orang yang terus menggenggam hatinya hingga saat ini.
"Memangnya enggak? Buktinya kamu mau memperistri dia," sahut Milea sewot. Ega yang mendengar itu langsung tergelak. Tawanya pecah membahana ke seisi ruangan. Bahkan dia sampai memegang perutnya yang terus terguncang akibat tawanya yang tak berhenti- berhenti.