Chapter 12 Dua Ratus Lima Puluh Ribu

1755 Words

“Huuufff.” Aku menghela nafas sambil menyapu resto sebelum buka. Malas, tidak semangat, sering menghela nafas. Sekarang itulah penyakit yang menghampiriku sejak kehampaan hati ini menerpaku. Cieh. Maaf aku lebay. Aku hanya bercanda. Aku jadi seperti ini gara-gara kepergian si tukang ngerjain itu. Tunggu tunggu tunggu. Batinku bicara. Aku menghentikan sapuku menyapu lantai yang sudah kinclong ini. “Jangan katakan kalau aku beneran suka,” ujarku dalam hati. Aku langsung menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau itu terjadi. Tapi ini sudah tiga minggu kepergiannya, bahkan aku tidak pernah tahu orang itu kemana. Aku juga tidak mau tahu. Pergi sana, emang siapa dirimu? Tapi entah mengapa hatiku berkata lain. Aku merasa ada yang hilang kalau tidak ada yang mengerjaiku dan mengganggu hariku. Oh nge

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD