bc

Wanita Untuk Rabi

book_age0+
3.8K
FOLLOW
51.7K
READ
arrogant
dominant
goodgirl
drama
comedy
sweet
bxg
EXO
like
intro-logo
Blurb

Hidup Ishana yang lurus-lurus saja berubah menjadi berlika-liku ketika dia bertemu dengan Ridwan Abi Agraha dari tabrakan kecil di pagi hari. Ishana yang sedang syok karena gagal sidang ujian skripsi membuatnya meleng dan nyaris membuatnya tabrakan dengan mobil plat Jakarta yang dikendarai Abi.

Ishana dipaksa mengganti rugi lecet di body mobil Abi dan terpaksa menerima potong gaji untuk melunasi ganti rugi perbaikan mobil Abi yang ternyata adalah pemilik hotel tempat Ishana melamar pekerjaan.

Ishana tidak bisa memungkiri bahwa pria yang dianggapnya sedikit b******k ini mencuri hatinya. Namun Ishana tidak berani bermimpi menjadi wanita untuk Abi, dia hanyalah gadis biasa dan juga dirinya hampir saja mengalami pemerkosaan di hotel tempatnya bekerja untuk menolong temannya.

Bahkan ketika hati mereka hampir bertaut, Ayah Ishana menerima lamaran anak Kepala Desa tanpa sepengetahuan Ishana. Ishana yang tidak bisa menolak keinginan Ayahnya membuat Abi kecewa dan melepaskannya. Apakah Ishana memang tidak bisa menjadi wanita untuk R. Abi? Ishana hampir menyerah ketika Abi datang dan menerima duel maut dari anak Kepala Desa.

Happy reading guys

Follow me if you enjoy my stories

chap-preview
Free preview
Chapter 1 The Black Morning
Sebuah mobil Subaru Impreza menembus gelapnya pagi jalanan yang sudah lama dia tinggalkan. Mengemudi dengan seenaknya karena jalanan yang bisa dibilang sepi. Di sebelahnya nampak pria yang tengah tidur dengan nyenyaknya. Dia menatap sebal pada pria yang menemaninya jauh-jauh dari Jakarta ke kota kecil di Jawa Timur ini lebih tepatnya Kota Tahu alias Kediri. Sebenarnya kedatangannya ke sini juga karena terpaksa. *** “Ridwan Abi Agraha, kamu cek hotel baru kita di Kediri.” “Apa?” Pria yang biasa di panggil Abi ini nampak protes dengan menunjukkan wajah tidak percayanya. “Apa kuping kamu tidak dengar? Ayah suruh kamu ke Kediri, kamu cek hotel cabang Kediri. Di sana kan baru saja buka sebulan lalu.” Si bos alias ayah dari Abi bicara dengan penekanan. “Yang lain kan bisa Yah, ada Mas Galih sama Mas Rido juga,” protesnya. “Kamu ini jangan melempar tugas. Masmu Galih mau menikah 3 bulan lagi, dia lagi sibuk mengurus ini itu. Terus masmu Rido juga mau menikah meski ceweknya lagi kabur. Nah tinggal kamu si ragil yang nganggur.” “Abi nggak nganggur, Yah.” “Sudah jangan banyak alasan. Kamu berangkat sekarang. Ajak Roland atau Damian boleh deh. Jangan ngajak cewek pokoknya,” ujar si Ayah. “s**t ...” gumam Abi kesal. “Ayah dengar kamu bilang shat s**t. Awas ya!” goda si ayah, Hartono Agraha pemilik Hotel Agraha dengan cabang di seluruh Indonesia. *** Dan di sinilah sekarang Abi bersama Roland, asisten pribadinya, sepupunya dan sahabatnya, di jalanan Kota Kediri setelah empat jam melakukan perjalanan dari Bandara Juanda. Dari Jakarta naik pesawat turun di Surabaya. Kemudian dengan mengendarai Subaru Impreza yang sudah disiapkan orangnya yang ada di Surabaya mereka berangkat menuju Kota Tahu. Tidak ada kesulitan menemukan jalan ke Kota Kediri karena sebenarnya Abi waktu kecil tinggal di Kediri karena Ibunya juga orang Kediri. Kemudian begitu Abi waktunya masuk SD, seluruh keluarganya tinggal di Jakarta. Pagi ini memang mendung gila, padahal sudah jam tujuh pagi tapi jalanan terlihat suram seperti mau hujan saja. BRAAKK. Abi menginjak rem mendadak. “Aduh!” pekik Roland yang kepalanya bertemu dasbor mobil. Tidur cantiknya berubah menjadi kepalanya yang pusing. “Ada apa sih, Bi?” “Kayaknya nabrak sesuatu nih. Cepet lu kunyuk keluar!” perintah Abi sedikit panik. Apesnya pagi-pagi nabrak. Abi memarkir mobilnya di pinggir jalan. “Iya,” ujar Roland sambil keluar dari mobil dengan keningnya sedikit benjol. Roland melihat sekitar sepi karena sekitar jalan hanya persawahan dan kebetulan tidak ada kendaraan lewat. Seorang gadis berusaha mengangkat motornya yang ambruk di tanah, untung tidak di aspal dingin. “Nggak papa, Mbak?” tanya Roland. Si gadis berbalik setelah berhasil membuat motor beatnya berdiri lagi. “Nggak papa kok, Mas. Maaf tadi aku naik aspal nggak lihat-lihat belakang,” ujar si gadis agak takut juga karena itu salahnya. “Cantik juga nih cewek,” batin Roland setelah melihat gadis ini dari atas sampai bawah. “Maaf ya Mas, kalau gitu saya pergi duluan ya. Saya keburu telat masuk kampus ini,” ujar si gadis serasa ingin segera kabur. Tak papalah motor beatnya lecet sedikit asal tidak berurusan lama dengan pemilik mobil. “Oh ya sudah kalau tidak apa-apa.” “Astagfirullah. Subaraku.” Suara Abi dari samping kanan mobilnya. Roland dan si gadis melihat kemarahan di wajah Abi. “Kenapa bro?” tanya Roland sambil menghampiri Abi yang berdiri di samping mobil. “Lihat nih Subaru, lecetnya kok parah gini.” Abi melambai pada si gadis. “Kenapa Mas?” si gadis mulai gemetaran. Dia melihat plat mobil B 4131 WJF. “Bukan orang sini,” batin si gadis. “Sini kamu!” panggil Abi geram Si gadis menghampiri Abi dan Roland. Dia melihat lecet besar di mobil biru ini. Si gadis menelan ludah. “Udah lihat kan? Subaru lecet kayak gini karena ulah sembrono kamu. Ganti rugi!” ujar Abi dengan wajah mengintimidasi. “Ganti rugi?” si gadis menunjukkan muka polosnya. “Hihihi.” Roland malah cengengesan melihat sahabatnya ini sedang berdebat dengan gadis kecil. “Iya. Ganti rugi dua juta!” “Du-dua juta? Haduh Mas ini gimana kan di sini rodanya yang banyak siapa?” “Ya jelas Subaru lah.” “Nah itu sampean tahu. Maka dari itu mobil ngalah sama yang namanya motor.” “Nggak bisa, enak aja! Situ yang main terobos juga. Pokoknya ganti rugi atau lapor polisi nih! “ “Eh apaan lapor-lapor polisi! Orang lagi susah juga malah nambahin susah si Mas ini.” Si gadis nampak tidak mau terpojok. Dia memikirkan sesuatu. “Cepet ganti rugi!” desak Abi. “Duit darimana, apes banget pagi ini,” gumam si gadis sambil berjalan menghampiri motornya. “Lho lho mau kemana kamu?” tanya Abi. “Katanya minta ganti rugi, ini mau ke motor dulu,” jawab si gadis. Dengan cepat dan tepat si gadis langsung menyalakan motor dan tancap gas. Dia melarikan diri. “Woy kampret malah kabur!” umpat Abi. “Hahahaha, bisa-bisanya kita dikerjain gadis cilik.” Roland malah tertawa terpingkal-pingkal. “Enak aja mau kabur. Ayo kita kejar. Harus dikasih pelajaran tuh bocah ingusan.” Abi langsung masuk ke mobilnya diikuti Roland yang masih ketawa ketiwi tidak jelas. Abi segera menstarter mobilnya dan langsung mengerjar motor si gadis yang kabur. Dalam mobil dia terus mengumpat tidak jelas dan menyetir dengan sedikit ekstrim. Roland yang berada di sebelahnya tidak berhenti melafalkan doa-doa untuk keselamatannya. “Bi, kita belum nikah tahu. Aku nggak mau mati karena hal sepele Bi,” ujar Roland mengingatkan sahabatnya yang sedang terbawa emosi itu. “Diam!” Abi serius mengemudi. “Haduh bahaya banget ini, jiwaku bisa terancam kalau seperti ini caranya,” batin Roland sambil memandang Abi yang sedang emosi. “Nah itu dia si cewek kurang ajar.” Abi melihat si gadis berada tak jauh di depan mobilnya. Abi langsung menambah gasnya dan berada tepat di belakang si gadis yang sedang mengendarai motor beatnya. Abi langsung membunyikan klakson dan membuat si gadis terkejut. Abi membuka kaca mobil di tempat Roland. “Suruh tu cewek berhenti!” perintah Abi “Heh, jangan mepet-mepet bahaya nanti nabrak dia,” ujar Roland agak khawatir karena mobil Abi sudah di samping motor si gadis. Si gadis terlihat mulai panik karena ada mobil di sebelahnya. Si gadis semakin melajukan motornya tapi Abi ikut melajukan mobilnya agar tetap di samping motor si gadis. “Mbak, berhenti deh,” ujar Roland dari dalam mobil. Dia bicara sambil tersenyum pada si gadis. “Woi berhenti woi!” teriak Abi dari dalam mobil. Si gadis menoleh sebentar kemudian melambai dan tersenyum. “s**t!” umpat Abi karena terpaksa berhenti akibat lampu merah di Pertigaan Ngronggo. Dia melihat si gadis melaju lurus karena lampu hijau untuk arah lurus. Abi yang membawa mobil tentu tidak bisa menerobos jalan untuk arah lurus yang hanya muat untuk kendaraan roda dua. “Gadis itu sudah kabur. Hebat juga dia ya, Bi,” ujar Roland dengan menampakkan wajah kagum pada si gadis pengendara beat. “Apa katamu?” sahut Abi dengan mimik kesal. “Serem banget wajahnya,” ujar Roland terang-terangan. “Lama banget ini lampu merah. Awas saja kalau sampai aku berhasil menangkapnya pasti aku akan memberi pelajaran pada cewek bar-bar itu.” Roland menghela nafas sambil bersandar di kursi mobil. Abi yang marah-marah perti ini jarang dilihatnya. Apalagi sampai dipermainkan oleh cewek gadis kecil yang baru ditemui di kota kecil ini. Roland mengambil smartphonenya dan mengambil gambar Abi yang sedang super duper badmood itu. Abi mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya tidak sabar pada kemudinya. Dia tidak sabar untuk segera melaju dan mengerjar si gadis yang sudah tidak kelihatan di depannya. Mulut Abi tak berhenti mendesis karena sudah tidak sabar. Begitu lampu berubah hijau, Abi langsung tancap gas dan menyuruh Roland mengamati sekitar untuk mencari keberadaan si gadis itu. Niat hati ingin melaju dengan kecepatan tinggi tapi apa daya karena semakin masuk kota semakin banyak kendaraan besar yang memadati jalan. Dengan mendengus kesal akhirnya Abi hanya bisa mengemudi dengan kecepatan standar. Dia kehilangan jejak si gadis. Semakin banyak sumpah serapah dan beberapa kata vulgar yang diucapkan Abi karena tidak berhasil mengejar si gadis yang membuat Subaru lecet. Akhirnya Abi memutuskan berhenti mencarinya dan bergegas melajukan Subaru ke hotel. Mood-nya yang terlanjur buruk membuat penyambutan orang-orang hotel tidak dapat dinikmatinya. Bayang-bayang gadis itu masih berkeliaran di dalam otaknya. Rasanya dia ingin melakukan sesuatu yang buruk pada gadis itu. Hingga waktu istirahat siang tiba, dengan dalih lelah, Abi memutuskan untuk mengajak Roland keluar dari hotel. Rupanya dia masih tidak bisa menerima dia dipermainkan oleh gadis kecil kampung. Dia masih ingin mencarinya. “Udah lah bro,” ujar Roland ketika mereka tiba di parkiran hotel. “Mau cari ke mana? Kita saja tidak tahu identitasnya. Lupain saja.” “Enak aja, awas aja kalau ketemu lagi sama tu cewek kurang ajar! Aku masih ingat betul plat nomornya. Kita ke kantor polisi sekarang!” ujar Abi masih dongkol. Abi berhenti berjalan karena mendengar suara dua orang bercakap-cakap di parkiran. Abi merasa seperti pernah mendengar suaranya. “Kenapa Bi?” tanya Roland. “Sttt.” Abi menyuruh Roland diam. Abi bersembunyi di balik tiang besar di parkiran dan menguping percakapan dua orang yang tak jauh dari tempatnya saat ini. “Mbak ini surat lamaranku.” “Tapi Mbak tidak bisa menjamin di terima lho.” “Iya Mbak aku tahu kok. Tapi semoga saja masih ada lowongan, aku butuh banget uang Mbak.” “Iya kamu berdoa saja. Eh, kenapa tanganmu kok lecet-lecet gitu?” “Oh ini tadi pagi aku tabrakan Mbak.” “Masyallah, kamu nggak apa-apa? Dimana tabrakannya?” Bingo. Ketemu lu cewek kurang ajar! Abi tersenyum dengan seringai licik. Di otak supernya sudah terlintas cara membalas si gadis yang dikerjarnya tadi. “Seenaknya kabur, emang dia kira ini sinetron apa. Aku akan ajarkan dia apa itu dunia nyata,” batin Abi. “Mau ke mana, Bi?” tanya Roland. “Ikut saja,” jawab Abi. Setelah memastikan si gadis itu pergi, Abi menghampiri wanita yang bicara dengan si gadis tadi. Wanita tadi adalah karyawan di hotel milik Abi ini. “Maaf, Mbak,” ujar Abi di depan si Mbak yang ternyata resepsionis hotel ini. Wanita di depan Abi dan Roland ini nampak sedikit terkejut di datangi dua makhluk Tuhan paling sexy di dunia. Abi yang menyadari itu langsung melambaikan tangan di depan wajah wanita itu. Tapi wanita itu masih terpaku terpesona kepada dua pria di depannya. Roland menahan tawa melihat wanita ini sampai segitunya. “Mbak.” Abi memanggilnya lagi dan dia baru sadar. “Ah, iya maaf, Pak?” tanya si wanita yang nampak malu-malu berhadapan dengan bos besar hotel. “Itu surat lamaran kerja ya? Suruh besok dia interview ke sini,” ujar Abi langsung to the point. Abi langsung berbalik dan berjalan pergi. “Lho?” Wanita ini nampak bingung. “Udah turutin aja maunya Pak Ridwan Abi Agraha, Mbak Kinan Wahyuni,” ujar Roland yang tahu namanya dari name tag di d**a wanita ini. “Oh, ah iya, P-Pak.” Si wanita nampak sedikit gugup. “Tolong di urus ya,” ujar Roland lalu tersenyum. “I-iya, Pak. Sepupu saya pasti senang kalau mendengar ini,” ujarnya. “Hmm mungkin dia akan lari kalau tahu,” ujar Roland “Kenapa?” “Ah, tidak apa-apa kok. Minta no hp-nya dong.” “Roland!!” panggil Abi. Malamnya di hotel acara penyambutan Abi kembali dilanjutkan. Berbeda dengan tadi siang, Abi nampak bersemangat memberi sambutan dan senyum ke sana kemari. Diam-dia Abi sudah mempersiapkan rencananya besok. *** Hello, terima kasih sudah membaca ceritaku. Shinjukyuu

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Nur Cahaya Cinta

read
366.5K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Marriage Not Dating

read
563.3K
bc

Takdir Cinta

read
503.1K
bc

Marrying Mr. TSUNDERE

read
386.9K
bc

Accidentally Married

read
111.4K
bc

Dear Doctor, I LOVE YOU!

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook