Chapter 2 Ishana

1611 Words
Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang menggambarkan keadaanku saat ini. Baru kemarin aku shock karena tidak bisa ikut sidang skripsi gelombang pertama yang artinya aku harus ikut semester sembilan. Dan hari ini aku malah tabrakan dengan mobil plat Jakarta. Mana aku di suruh ganti rugi mobilnya yang lecet sebanyak dua juta. Bayangin dua juta? Bagiku sih jelas itu uang yang banyak bisa buat bayar kuliah dan lain-lain. Pakai ngancam akan lapor polisi kalau aku tidak mau bayar ganti rugi. Apes banget kan aku. Ya inilah aku gadis kuliahan yang sedang dilanda badai, Ishana. Pendek, memang hanya segitu nama yang diberikan orang tuaku. Kukira aku bisa kabur dengan cepat karena aku menggunakan motor. Tapi diluar dugaanku, mereka berhasil mengejarku. Aku mulai panik ketika mobil mereka berada tepat di sebelahku. Semakin aku menarik gas motorku mereka juga tambah gas yang artinya mereka sedang memojokkanku. Aku tidak akan menyerah. “Mbak, berhenti deh,” ujar mas-mas dari dalam mobil. Dia bicara sambil tersenyum pada padaku. “Woi berhenti woi!” teriak si pengemudi yang minta ganti rugi padaku tadi. Ini benar-benar gawat dan aku harus bisa kabur. Aku terus berdoa dalam batinku dan sepertinya Tuhan mendengar doaku. Di depan ada pertigaan lampu merah. Aku tersenyum dalam batin melihat lampu hijau untuk terus dan lampu merah untuk berbelok. Aku melambai dan tersenyum pada dua orang di dalam mobil biru itu. Lampu merah menyelamatkanku. Aku melihat dari spion motorku dan mobil itu berhenti. Aku bernafas lega setelah berhasil kabur dari kejaran mobil plat Jakarta itu. Dengan gas penuh aku melaju di jalanan Kota Kediri, kota kelahiranku dan sampai sekarang juga menjadi tempat tinggalku. Saat ini aku sedang melarikan diri dari mas-mas yang minta ganti rugi karena body mobilnya lecet akibat senggolan cantik dengan motorku. Untung saja itu orang bukan orang Kediri, kan plat mobilnya Jakarta. Semoga saja aku tidak bertemu dengan mereka lagi. Benar-benar jangan sampai berjumpa lagi, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padaku karena sudah mempermainkan mereka. “Isha.” Aku menoleh sambil melepas helm berwarna pink dari kepalaku. “Tia!” ujarku melihat sahabatku itu berjalan menghampiriku. “Eh motor kamu kok seperti habis jatoh,” ujar Tia menatap tanganku. “Itu tangan kamu ada darahnya Ish.” Wajahnya histeris. Aku melihat punggung tanganku, eh lecet juga ternyata tapi lecet biasa tidak parah juga. Keluar darah lah sedikit. “Iya nih apes banget habis tabrakan,” jawabku. “Nabrak apa?” “Nabrak mobil. Duh jangan sampai deh ketemu mereka lagi,” ujarku seperti berdoa. “Lhah kenapa?” tanya Tia. “Aku yang salah sih, naik aspal tidak lihat belakang dulu. Body mobilnya lecet dikit eh aku suruh ganti dua juta. Gila kan?” jawabku mulai bercerita. “Terus-terus.” Tia kelihatan penasaran sekali. “Ya aku kaburlah,” jawabku sambil memberikan senyum pada Tia. “Astagfirullah nih anak. Bagaimana kalau mereka menemukanmu?” “Bukan orang Kediri kok, platnya tadi aku lihat orang Jakarta dan kelihatan kayak bos-bos gitu sih mas-masnya tadi.” “Belum tentu plat Jakarta tapi orangnya juga bukan orang Kediri. Apalagi kamu bilang kayak bos-bos, bisa-bisa kalau mereka menemukanmu terus mereka akan laporin kamu ke polisi. Bagaimana coba?” “Kamu ini bukannya membantu malah membuat orang tambah takut aja sih. Au ah gelap mending aku ke klinik dulu minta obatin dokter kece.” Aku berjalan cepat mendahului Tia. “Eh, tunggu Ish, habis tabrakan juga tetep cepet jalannya,” ujar Tia sambil mengejar. Aku semakin mempercepat jalanku untuk menuju ke dokter kece eh maksudku ke klinik minta obatin lecet tanganku. Perih juga lama-lama dirasain. Semoga saja hari apesku berakhir di sini. Hari ini hanya ada 2 matkul dan jam 10 siang kelas sudah selesai. Pertemuan terakhir dan minggu depan UAS. Sebenarnya aku sudah tidak ada matkul lagi karena sudah semester 8 tapi nyatanya ada dua mata kuliah yang nilainya D dan terpaksa aku harus mengambil kuliah ulang, nyari gratis. Kalau ikut SP (Semester Pendek) jujur aku tidak ada uang. Per SKS saja 100 ribu, bayangkan dua mata kuliah dan berjumlah 5 SKS. Kasian juga sama Abahku kalau tahu anaknya ini malu-maluin. Sudah sekolah di kampus lokal swasta lagi. Ya aku kuliah di kampus UN PGRI Kediri, kalian pasti tahu kampus ini sempat mengalami status tidak aktif yang mengakibatkan banyaknya mahasiswa yang cabut pindah kampus dan ada juga yang demo untuk menggulingkan rektor yang dianggap sebagai dalang dibalik dilema kampus yang tidak aktif beberapa waktu lalu. Sampai heboh masuk tivi juga. Kampusku memang wow akhir-akhir ini. “Hmm tidak disangka minggu depan aku harus UAS bersama adik tingkat yang unyu-unyu itu.” Ujarku begitu duduk dikantin bersama Tia. “Ya kamunya sih pakai dapat D segala. Kok kuliah ulang juga malah bareng skripsi. Kamu nyari jalan susah malahan.” Ujar Tia. Dia sahabat baikku yang selalu setia mendampingiku. Dia pergi ke kampus hanya karena hari ini aku ada kuliah padahal dia sudah tidak ada kuliah. “Salahkan botak dan pak raden. Entah kenapa mereka berdua seperti kompak memberiku nilai D hanya karena aku tidak sengaja mengejek mereka.” Belaku tidak mau mengakui kesalahanku. “Ngeles saja kamu ini. Makanya jangan asal memberi julukan begitu pada dosen meski itu memang benar. Akhirnya malah molor kan skripsimu.” Tia menasehatiku. “Kalau masalah skripsi beda lagi kan? Aku dapat dosen pembimbing spesial begitu bagaimana mau skripsi lancar. Huhuhu.” Aku menyesali dospemku yang super duper menyusahkan. “Sabar-sabar. Mending segera ajukan dosen baru.” “Iya nanti habis UAS deh.” Ponsel Tia berbunyi. Tia segera melihat ponselnya dan wajahnya langsung berubah sedikit tidak senang. “Ah, Isha aku pergi dulu ya,” ujarnya sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya. “Aku juga sudah mau pulang kok.” Aku ikut beres-beres. “Lho karena aku?” “Tidak kok. Aku mau menemui Mbak sepupuku di Agraha Palace Hotel. Aku mau melamar pekerjaan di sana.” “Oh, begitu. Baiklah.” Aku dan Tia berpisah di gerbang belakang kampus. Rumah kami berlawanan arah. Aku segera meluncur ke Agraha Palace Hotel. Jangan mengira yang tidak-tidak dulu ya, aku ke hotel itu untuk menemui kakak sepupuku yang kerja di sana. Aku mau melamar kerja di sana untuk sampingan sambil menunggu UAS dan semester depan serta nambah uang jajan. Siapa tahu dapat kerja. Apapun boleh asal halal. Toh tidak ada salahnya mencoba lagipula melamar pekerjaan gratis kok, ya masih ngeluarin uang sih buat beli kertas folio sama amplop cokelatnya. Agraha Palace Hotel merupakan hotel besar yang menyaingi Grand Surya Hotel yang baru buka sebulan lalu. Mbak Kinan, sepupuku itu beruntung bisa kerja di sini sebagai resepsionis karena lulusan sekolah perhotelan. Dan sekarang aku sedang mencoba peruntunganku di sini. Semoga apesku sudah berakhir. Begitu tiba di parkiran Agraha Palace Hotel aku segera menghubungi Mbak Kinan agar keluar menemuiku di parkiran. Pas sekali aku tiba ketika jam istirahatnya. “Halo, Mbak. Aku sudah di parkiran nih,” ujarku di telepon. “...” “Oh, iya aku tunggu.” Aku menutup telepon. Aku mengedarkan pandang ke area parkiran yang luas ini. Aku berandai-andai jika diterima kerja di APH aku akan tiap hari memarkirkan motorku di sini. Aku sangat berharap bisa di terima di sini. Sepuluh menit menunggu aku melihat Mbak Kinan berjalan ke arahku sambil tersenyum. Aku segera melambaikan tanganku padanya. “Maaf ya Ish agak lama, habisnya tadi masih ada pekerjaan tidak bisa ditinggal,” ujar Mbak Kinan ketika di depanku. Mbak sepupuku ini sudah cantik, pintar dan tentunya sangat feminin. Beda sekali denganku yang tidak feminin. Hari-hari ke kampus aku hanya memakai celanan jeans dan kemeja kebesaran yang tidak bisa memperlihatkan lekuk tubuhku. Sebenarnya tidak ada lekukan di tubuhku. Ah aku jadi pengen jadi seperti Mbak Kinan. “Enggak apa kok Mbak. Seharusnya aku nggak mengganggu waktu kerja Mbak Kinan. Aku malah jadi ngrepotin Mbak Kinan,” ujarku setelah sadar dari lamunanku akan Mbak Kinan. “Eh, enggak kok. Jangan bilang gitu.” Mbak Kinan menepuk lenganku pelan sambil tertawa kecil. “Mbak ini surat lamaranku,” ujarku sambil memberikan amplop cokelat berisi lamaran pekerjaan. Mbak Kinan menerimanya. “Tapi Mbak tidak bisa menjamin di terima lho,” ujar Mbak Kinan yang terdengar seperti mematahkan harapanku. “Iya Mbak aku tahu kok. Tapi semoga saja masih ada lowongan, aku butuh banget uang Mbak,” ujarku berkeluh kesah. “Iya kamu berdoa saja,” ujar Mbak Kinan. “Eh, kenapa tanganmu kok lecet-lecet gitu?” tanyanya begitu melihat tanganku yang ku tempeli plester luka. “Oh ini tadi pagi aku tabrakan, Mbak.” “MasyAllah, kamu nggak papa? Dimana tabrakannya?” tanyanya khawatir. “Deket Ngadiluwih, udah nggak apa-apa kok. Oh aku pulang dulu ya, Mbak,” ujarku. “Ya udah hati-hati ya Ish. Bawa motor hati-hati jangan meleng. Untung hanya lecet-lecet saja. Bagaimana kalau sampai-” “Iya-iya aku akan hati-hati, Mbak,” potongku. Kalau aku tidak buru-buru pulang pasti Mbak Kinan akan bertanya lebih banyak lagi. Sementara aku tidak mau menceritakan kronologi jatuhnya diriku karena nanti malah akan jadi repot kalau Mbak Kinan memberitahu Abahku. Aku segera menuju motorku dan langsung tancap gas menuju kediamanku. Setelah di rasa-rasa ternyata badanku agak ngilu-ngilu, mungkin efek jatuh dari motor tadi pagi. Ah dipakai istirahat nanti juga akan sembuh. Yang penting sekarang fokus di jalan jangan sampai apes nabrak mobil lagi. Apakah hari ini bertepatan dengan netonku ya? Kata orang jawa sih kalau waktu neton itu kita tidak boleh keluar rumah. Karena kalau sampai keluar rumah nanti akan mendapatkan kejadian yang tidak diinginkan. Seperti kisahku hari ini yang tabrakan dengan mobil. Aku tidak terlalu meyakini hal itu karena kata Abahku apa yang terjadi dalam hidup kita adalah suratan takdir yang sudah ditulis yang di Atas. Ah semoga cukup hari ini saja aku mengalami hal ini. Kasur empuk aku datang. Aku capek sekali. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD