Chapter 3 Berjumpa Lagi

1697 Words
Ishana berteriak kegirangan mendapat telepon dari Kinan yang mengabarkan bahwa besok dirinya interview di hotel. Ishana melompat-lompat seperti anak kecil yang akan diajak lihat bazar buka giling di pabrik gula Ngadirejo. Betapa senang hatinya sampai ngilu-ngilu akibat tabrakan tadi pagi seolah lenyap entah kemana. Dan di sinilah sekarang Ishana dengan rok hitam selutut, kemeja putih dan juga sepatu hitam dengan hak rendah. Kalau begini Ishana merasa seperti Kinan. Dia juga menggulung rambut panjangnya seperti cepolan ala gadis korea. Ya Ishana maniak drama korea dan suka penampilan gadis korea dengan rambut cepolannya. Meski penampilannya sehari-hari tidak seperti gadis korea. “Mbak tempat untuk interviewnya dimana ya?” tanya Ishana pada resepsionis hotel yang kebetulan hari ini bukan sepupunya. “Naik saja ke lantai 20. Nanti cari kamar Suite Room nomor 17,” jawab resepsionis. “Interview kok di dalam kamar hotel,” batin Ishana merasa aneh. “Ada yang ingin ditanyakan lagi?” tanya Mbak resepsionis yang cantik ini. “Oh tidak Mbak, makasih ya.” Dengan masih berpikir Ishana menaiki lift menuju lantai 20 seperti kata resepsionis tadi. Ishana baru tahu kalau interview dilakukan di dalam kamar hotel. Sebenarnya dia agak ragu apa benar tapi kemudian dia menguatkan hatinya. Jangan negative thingking dulu, ini kan hotel jadi interview di dalam kamar hotel terlihat wajar saja kan? Dengan pemikiran begitu Ishana menarik napas dalam-dalam dan kebenariannya langsung terisi penuh. Ishana tiba di lantai dua puluh. Tidak ada yang kelantai dua puluh alias lantai teratas dari Agraha Palace Hotel ini. Lorong ini penuh dengan kamar Suite Room. Ishana mencari nomor pintu tujuh belas dan dia menemukannya. Lima pintu setelah lift. Ishana merapikan bajunya dan setelah dirasa rapi segera dia menekan tombol interkom di pintu kamar Suite Room tujuh belas itu. “Permisi Pak Bu. Saya Ishana, saya ingin interview,” ujar Ishana di depan interkom. “Masuklah.” Terdengar suara balasan dari interkom. Ishana membuka pintu yang tidak dikunci ini. Pertama yang keluar dari mulutnya adalah kata ‘WOW’ karena melihat isi kamar suite room ini. Bukan hanya luas tapi sangat luas. Ishana tidak bisa berhenti mengagumi keindahan kamar hotel ini. Ini pertama kalinya Ishana masuk kamar Suite Room ah bahkan ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke dalam hotel seperti ini. Ishana segera menghampiri meja kerja dimana orangnya sedang duduk membelakanginya. “Selamat siang, Pak,” ujar Ishana sesopan mungkin. “Jadi kamu mau kerja di sini?” tanya si bos sambil memutar kursinya. Mata Ishana langsung membelalak membulat melihat siapa orang yang duduk di kursi kerja itu. Napasnya serasa tercekat. “Ketemu lagi.” Ishana terdiam dalam kepanikan. “Apa kabar?” ujar Abi dengan senyum miringnya. Benar. Dia adalah si empunya mobil yang tabrakan dengan Ishana kemarin. “Permisi, Pak.” Ishana membalikkan badan dan berjalan cepat menuju pintu. Ishana segera meraih handle pintu. Tapi pintu tidak mau terbuka. Terkunci. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari tubuhnya. Mati aku. Batin Ishana kemudian melihat ke arah Abi dan dia tersenyum miring sambil menunjukkan remote kecil ditangannya. “Jangan harap bisa kabur lagi ya,” ujar Abi. Harus bagaimana sekarang. Ishana berusaha memutar otaknya tapi dia tidak menemukan ide bagus. Dia berdecak kesal menyesali harinya. “Ke sini kamu.” Dengan langkah berat Ishana kembali berdiri di depan meja kerja Abi. “Ya Allah kenapa hambamu ini harus bertemu dengan mas mas keren ini lagi. Keren tapi kejam sepertinya,” batin Ishana. Dia menunduk tidak berani menatap wajah si bos. “Hmmm, kamu pasti tidak menyangka kan bertemu denganku lagi,” ujar Abi dengan nada penuh intimidasi. “Enak aja main kabur, belum ganti rugi juga. Sekarang mana ganti ruginya?” tagih Abi. Ishana terpaksa menatapnya. Keputusan salah. Pesonanya membuatnya mati kutu. Dia kembali menunduk. “Kemarin sepertinya tidak ganteng-ganteng banget tapi sekarang kenapa pesonanya kuat sekali. Apa karena jas yang dia gunakan. Kuatkan hambamu ini Ya Allah.” “Kalau kamu tidak mau bayar kamu tidak akan saya biarkan keluar dari kamar ini hidup-hidup.” Abi mengancam. “Ja-jangan, Pak. Maaf kemarin saya kabur, habisnya saya tidak punya uang, Pak. Uang segitu banyak saya dapat darimana. Jajan aja pas-pasan,” ujar Ishana mengiba. “Saya tidak peduli. Sekarang juga saya mau ganti ruginya mana!” “Beneran saya tidak punya uang, Pak. Bapak bisa lihat saya melamar kerja di sini. Saya bersedia kerja di sini apapun deh Pak, nanti gajinya buat bayar perbaikan mobil Bapak,” ucap Ishana dengan berat hati. “Enak aja. Kamu itu bicara seenaknya jidat kamu saja ya. Di sini itu saya bosnya.” “I-iya maaf, Pak.” “Hmmm. Kalau dilihat-lihat kamu lumayan juga,” ujar Abi sambil melihat Ishana dari bawah sampai ke atas. “Lumayan? Jangan bilang dia memandangi tubuh suciku ini. Awas saja kalau dia berani melakukan macam-macam padaku,” batin Ishana. Alarm bahayanya berbunyi. “Kamu bisa ganti rugi pakai tubuhmu.” DEG. “Maksudnya, Pak?” tanya Ishana seperti gadis polos. “Ya saya pakai tubuh kamu di atas kasur itu,” ujar Abi dengan matanya menunjuk tempat tidur king size itu. “Ha?” “Mau tidak? Nanti saya tidak tagih ganti rugi perbaikan mobil saya lagi.” Entah keberanian dari mana. Ishana berjalan menghampiri Abi di kursi kebesarannya. Abi tersenyum miring dengan entengnya. Tanpa basa-basi Ishana mengangkat tasnya dan langsung memukul kepala Abi. “Aduh, apa-apan kamu?” protes Abi sambil melindungi kepalanya. “Enak saja Bapak bilang pakai tubuh saya buat bayar perbaikan mobil yang dua juta itu.” Ishana masih terus memukulnya. “Heh, cewek kurang ajar. Berani kamu sama saya.” “Rasakan ini. Enak aja anak perawan seperti saya hanya dua juta. Nih rasakan!” Ishana masih terus memukulnya. “Cewek bar-bar aduh!” Pergerakannya terhenti, tangannya di cekal Abi. Direbutnya tas Ishana dan melemparkannya sembarangan. Wajah Abi nampak seperti gunung mau meletus. Rambutnya acak-acakan gara-gara pukulan Ishana. “Kurang ajar kamu pukul-pukul kepala berharga saya. Sini kamu!” Abi menarik paksa Ishana keluar dari meja kerjanya. Dia melempar gadis dengan tubuh tak seberapa gemuk itu ke atas tempat tidur. “Aduh!” Ishana mengaduh bukan karena jatuh di tempat tidur yang empuk ini tapi karena pergelangan tangannya sakit akibat cengkeraman Abi. “Kamu berani sama saya ya.” Abi langsung naik ke atas tempat tidur. “Makanya jadi orang jangan sok berkuasa deh, Pak. Mentang-mentang orang kaya,” ujar Ishana malah seperti menambah pertamax di atas kobaran api. “Kamu ya …” Abi langsung menahan kedua tangan Ishana di samping kepalanya dan berada di atas tubuh mungil Ishana dengan bertumpu pada lututnya. “Saya perkosa kamu baru tahu rasa ya,” ucap Abi terdengar sangat horor. “Lepasin, Pak! Enak saja mau perkosa saya. Ini buat suami saya ya,” ujar Ishana masih berusaha berontak tapi sulit. “Hahahaha baru kali ini ada cewek bar-bar kurang ajar seperti kamu banyak omong lagi. Makanya jangan berani-berani buat masalah dengan Ridwan Abi Agraha.” “Kalau bapak berani perkosa saya, saya buat Bapak IMPOTEN!” sergah Ishana berani dengan memberi penekanan pada kata terakhir. “Apa kamu bilang?” Begitu Abi lengah Ishana langsung melepaskan tangannya dan menendang perutnya dengan lutut mungilnya. Abi roboh kesamping. Dengan berani Ishana langsung duduk di atas tubuhnya. Ishana hendak mencekik leher Abi tapi dia berhasil menahan tangan Ishana. Ishana masih berusaha sekuat tenaga mencapai leher Abi. “Jangan kira saya takut ya sama Bapak,” ujar Ishana “Dasar cewek bar-bar, memangnya kamu kira kamu bisa menang dari saya.” “Bi. Aku Roland.” Suara dari interkom membuat Ishana menoleh ke pintu. Merasa dorongan tangan Ishana sedikit berkurang Abi melepaskan tangan Ishana dan langsung meraih kepalanya. Abi langsung mencium bibir mungil Ishana. Ishana terkejut dan dia mulai berontak tapi Abi tidak melepaskan bibirnya. Perlahan perlawannya melemah. Ishana yang kaku dan pasif membuat Abi semakin menciumnya dengan dalam dan memasukkan lidahnya. Ishana gelagapan dia benar-benar tidak tahu cara berciuman. Abi merasakan bibir ishana terasa manis sekali beda sekali dengan bibir-bibir para mantannya. Mungkin ini yang namanya bibir perawan. Batin Abi. “Emm..” suara dari bibir Ishana yang masih beradu dengan bibir Abi. Abi tidak melepaskannya dan masih melumat bibir mungil Ishana. Ishana sudah tidak melawan. Abi melepasnya ketika napasnya telah habis. Mereka berpandangan, perlahan mata Ishana langsung tertutup dan dia ambruk di atas tubuh Abi. “Woi Ridwan Abi Agraha! Lu ngapain di dalem pakai di kunci segala? Mau ngomong penting ini!” terdengar gedoran pintu tidak sabaran. Sialan ini Roland. Umpat Abi sambi mengambil remote kecil di sakunya dan menekan tombol untuk membuka kunci pintu. Sebuah rencana baru terlintas di otaknya. “Kenapa sih pakai kunci-kunci kamar segala.” Roland masuk sambil menggerutu. “Astaga, Abi!” Roland nampak terkejut melihat keadaan sahabatnya. “Heh, ambil ponsel diatas meja,” perintah Abi. “Siang-siang malah main sama cewek. Bisa-bisanya kamu Bi, jahat.” Roland mengambil ponsel di meja, “Aku kan juga pengen.” “Enak aja. Main apaan, aku hampir terbunuh gara-gara cewek bar-bar ini. Buruan ambil foto ini.” “Apa? Kamu mau ngapain cewek ini?” Roland memperhatikan Ishana dia seperti sedang mengingat sesuatu, “Eeeeh ini kan cewek yang kabur habis nabrak mobil kemarin.” “Nggak usah banyak cing cong, cepet foto sebelum cewek bar-bar ini bangun. Kewalahan aku menghadapi cewek ini,” ujar Abi sambil melap keringat yang keluar disekitar keningnya. “Jahat banget sih. Cepet gaya yang asik.” Abi berpose mesra dengan Ishana yang tidak sadarkan diri. Abi memperhatikan Ishana dari dekat. Gadis dipelukannya ini memang cantik, kulit wajahnya putih bersih tak ada satu bekas jerawat pun di sana. Alisnya tebal, bulu matanya lentik dan yang paling utama adalah bibir pink mungilnya yang sekarang ini sedikit bengkak. “Untung lu kemari bro,” ujar Abi sambil melihat hasil foto hasil jepretan Roland yang tidak kalah dari photografer handal ini. Foto-foto yang diambilnya nampak seperti mereka sepasang kekasih yang sedang bermesraan. “Dengan foto ini dia tidak akan bisa kabur,” gumam Abi. “Terus mau diapakan foto itu?” tanya Roland. “Rahasia.” “Ck, Bi Abi, selalu begitu. Kamu tertarik pada gadis ini?” Abi hanya membalasnya dengan senyuman. Untuk sekarang yang dipikirkannya adalah memperlihatkan foto ini pada Ishana dan melihat bagaimana reaksinya. Membayangkannya saja membuat Abi ingin tertawa terbahak-bahak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD