Chapter 4 Tak Bisa Kabur

1773 Words
“Jadi saingan APH (Agraha Palace Hotel) hanya GSH (Grand Surya Hotel)? Dan tidak perlu dikhawatirkan karena semua fasilitas hotel kita lebih baik dari GSH. Ya baguslah kalau begitu. Soal pendapatan sebulan pertama ini bagaimana?” “Sepertinya masih naik turun. Pengunjung juga tidak terlalu banyak karena namanya juga kota kecil. Pariwisata di sini juga tidak terlalu banyak sih.” Sayup-sayup aku mendengar orang sedang mengobrol. Perlahan aku merasakan cahaya menembus mataku. Perlahan pandanganku semakin jelas. Aku di mana ini? Aku mengingat-ingat kejadian tadi. Ciuman. Aku langsung duduk. Aku langsung membuka selimut dan melihat keadaan tubuhku dan syukurlah pakaianku masih lengkap hanya saja rambutku berantakan seperti sarang lebah. Ada dua pria yang sedang mengobrol di meja kerja. Mereka kan si mas-mas insiden kemarin. Tunggu. Ini dikamar ada tiga orang, aku perempuan sendiri dan mereka dua orang pria. Tiba-tiba aku teringat berita di patroli beberapa hari yang lalu. Seorang gadis di Tulang Bawang di gilir tiga puluh pemuda b******k selama satu tahu dan sekarang gadis kelas 1 SMP itu tengah hamil. Jangan-jangan mereka juga melakukan hal buruk pada tubuhku ini. Aku mengambil bantal yang kupakai tadi dan aku turun dari tempat tidur dengan perlahan agar mereka tidak menyadariku. Tempat tidur ini terhalang rak kaca dengan banyak hiasan-hiasan entah apa aku tidak memperhatikannya. Begitu aku hampir dekat dengan mereka, aku langsung berlari kecil dan bersiap menyerang si pria yang duduk di kursi. “Kurang ajar! Rasakan ini!” Aku berhasil memukul kepalanya dengan bantal. “Aduh, apa yang kau lakukan?” Dia terkejut juga. “Wah-wah, bangun-bangun langsung nyerang.” Si pria satunya malah ketawa ketiwi. “Berani kalian perkosa aku ya. Mati saja nih. Biar kita impas!” Aku menggebu-gebu ngamuknya. “Gila bener. Berhenti nggak!” Si pria di kursi langsung berdiri dan mengambil bantal dari tanganku dan membuangnya. “Tenang Gadis Cantik.” Si pria satunya memegangiku. “Lepasin aku. Atau kubuat kalian berdua impoten nih,” ujarku sok berani. “Hahahahaha.” Dia melepaskanku. Dia tertawa terbahak-bahak. “Ya ampun Bi, konyol banget ini anak.” Dia masih tertawa terpingkal-pingkal. “Kok malah ketawa-ketawa apa yang lucu?” protesku. “Tingkahmu itu benar-benar diluar nalar. Siapa juga yang perkosa kamu. Kau itu pingsan sebelum aku apa-apain,” ujar si pria bernama Abi ini. Ya aku ingat dia mengatakan namanya Ridwan Abi Agraha. “Oke, aku percaya. Tapi bapak sudah menc-” ucapku tercekat. Aku tidak jadi mengatakannya. Kenapa aku harus mengalami hal tragis begini. Dicium orang tidak dikenal lagi. Suami masa depanku maafkan aku. Bibirku sudah tidak ada segelnya lagi. “Apa? Ciuman?” Mataku langsung membelalak mendengar dia bicara dengan entengnya. “Cuma dicium segitu saja langsung pingsan, dasar pe-ra-wan.” Dia sengaja menekan kata terkahirnya. “Itu hanya mimpi serem, dicium gorila masih mending.” Aku mengambil tasku yang ada diatas meja. “Permisi.” “Heh, mau kemana? Belum ganti rugi juga.” “Ganti rugi apa lagi?” mendadak aku ingat dua juta rupiah. Mending aku kabur saja. “Awas ya kamu kabur. Sini kamu. Kalau berani keluar selangkah saja dari kamar ini, aku sebarin foto nakal kamu.” “Apa?” aku langsung memandang tajam pada si Abi ini. “Hahahahahaha.” Si temannya masih ketawa ketiwi tidak jelas. Pak Abi memperlihatkan beberapa foto di smartphonennya. Astaga foto apa-apaan ini. Bisa-bisanya ada fotoku dengan dia terlihat sedang bermesraan di atas kasur. Bahkan ada foto berpelukan juga. Sialan, kenapa aku tadi pakai pingsan segala. Hidupku sudah the end. Abah tolongin Ishana. “Kamu tidak mau kan foto ini aku aku posting di internet atau aku kirimkan keluargamu,” ujarnya. Aku terdiam. Otakku sudah tidak bisa berpikir lagi. Apa aku lapor polisi saja. “Mau lapor polisi juga percuma. Jangan macam-macam deh. Kamu mau kerja di sini kan? Aku izinkan kamu kerja di sini sebagai ganti rugi perbaikan mobilku. Nanti gajimu di potong 50% sampai mencapai dua juta.” “Kerja di sini? Aku sudah tidak mau berurusan dengan kalian,” ujarku kesal. Aku tertindas dan sedang ditindas. “Ya sudah, dikasih hati tidak mau. Roland kamu cetak foto-foto ini terus kamu kirim ke keluarganya dulu baru posting di internet,” ujar si Abi sialan ini pada temannya. “Pasti jadi headline news nanti dengan judul mahasiswi Universitas-“ “Ja-jangan!!” cegahku. Aku jadi takut ternyata dia tidak main-main. “Sudah ikutin maunya saja Ishana. Toh kamu bisa kerja di sini," ujar si temannya Abi, kalau tidak salah dia dipanggil Roland sama si Abi. “Nih, kamu bawa amplop ini ke HRD di lantai satu. Roland kamu ikut dia ke HRD sana. Terus mintakan daftar karyawan di sini,” ujar si Abi. “Oke bos.” Roland mengambil amplop cokelat itu. “Ayo Ishana kita ke HRD.” Ajaknya sok akrab. “Eh, tapi-” “Sudah ayo ikut saja. Sebelum Pak Abi berubah pikiran,” ujar Pak Roland sedikit berbisik. Akhirnya aku diam dan keluar dari kamar ini bersama Roland. Kelihatannya mereka berdua seumuran, harusnya panggil bapak nih. Apes oh apes. Tapi tunggu dia bilang aku bisa kerja di sini untuk bayar ganti rugi. “Oh, ya, kenalkan namaku Roland. Panggil aja Mas Roland,” ujarnya ketika kami di dalam lift. Dia mengulurkan tangannya. “Ishana, Pak,” ujarku sambil menjabat tangannya sekilas dan melepaskannya. “Kok bapak sih. Wajah kece begini panggilnya mas dong. Tapi kalau lagi berdua begini aja. Kalau pas kerja panggil bapak nggak apa-apa deh.” Narsis bener ini orang. Meski dia tak kalah keren dari si Abi sialan tadi. “Iya, Pak Roland.” “Oh iya, sebaiknya kamu jangan melawan Pak Abi lagi. Dia itu tipe yang tidak mengenal kekalahan. Lagipula kamu butuh pekerjaan ini kan?” ujar Pak Roland. “Iya, Pak. Mentang-mentang orang kaya seenaknya tu si Ababil.” “Hahahaha. Kamu terus terang banget. Kamu nggak takut saya laporin ke orangnya.” “Jangan Pak, tadi itu keceplosan namanya. Jangan ya, Pak.” “Tenang-tenang tidak akan kulaporkan kok.” Aku menghembuskan napas lega. Bisa jadi kerupuk mlempem juga nih diriku yang tertindas ini. Apakah ini sudah suratan takdir untukku. Aku masih berharap ini semua hanya mimpi di siang bolong. Pintu lift terbuka karena lift sudah sampai di lantai satu. Aku segera mengikuti Pak Roland menuju ruang HRD. Banyak mata langsung melihat padaku berjalan di belakang Pak Roland yang pastinya membuat para hawa iri melihatnya. Apalah aku yang hanya bisa merusak pemandangan mereka. Pak Roland langkahnya seperti monster raksasa, aku sampai keteteran mengikuti langkahnya yang panjang dan super cepat ini. Jalan apa lari-lari sih ini. Tapi aku tetap berada tak jauh darinya. Hilang bisa gawat ini. Kemudian sampailah kami di depan ruangan HRD. “Selamat siang, Pak Roland.” Wanita cantik langsung berdiri memberi salam dengan senyuman tercantiknya. “Siang. Saya minta daftar semua karyawan di hotel ya,” ujar Pak Roland. “Baik, Pak tunggu sebentar,” ujar si cewek seramah mungkin. “Oh, Pak Danu di mana?” tanya Pak Roland lagi. “Di ruangannya Pak.” “Oke. Ayo Ish.” Aku mengikuti Pak Roland menuju ruangan di tengah ruangan ini. Pasti bingung. Diruangan besar HRD ini ada ruangan lagi. Sepertinya kepala HRD. Pak Roland menyerahkan amplop itu pada Pak Danu kemudian keluar dari ruangan kepala HRD ini. Meninggalkanku bersama bapak-bapak berkumis tebal ini. “Mulai besok kamu mulai kerja di sini, sementara shift kamu pagi saja dulu,” ujar Pak Danu setelah membuka amplop cokelat yang dibawa Pak Roland tadi. “Iya Pak, saya bagian apa ya Pak di sini?” tanyaku. “Menurut rekomendasi dari Pak Abi, kamu akan di tempatkan di BSB (Bagian Serba Bisa),” jawab Pak Danu. “Bagian apa itu Pak?” aku baru dengar BSB. “Sesuai namanya, ya kamu jadi karyawan yang serba bisa. Kamu bantu bagian manapun yang butuh bantuan. Besok kamu datang saja jam 7 pagi terus cari Bu Rita, bagian kedisiplinan karyawan wanita,” ujar Pak Danu. “I-iya Pak,” jawabku meski sebenarnya masih bingung juga. Lihat besok sajalah. Kalau bahaya mending aku kabur saja. Setelah mengucapkan terima kasih aku segera keluar dari ruangan ini. Kulihat Pak Roland sedang ketawa ketiwi dengan mbak-mbak di meja depan. Dari sikapnya kelihatan kalau Pak Roland ini playboy kelas kakap. “Sudah Ishana?” tanya Pak Roland. Si cewek menatapku tidak suka. Maaf mengganggu deh. “Sudah Pak,” jawabku. “Saya bawa dokumennya dulu. Ayo,” ujar Pak Roland sambil memberi aba-aba agar aku mengikutinya. Aku tersenyum dan membungkuk sedikit pada mbak mbak ini tapi yang kudapat malah kucelan bibirnya yang kelihatan jelas dia merasa tidak suka padaku. Ada juga mbak-mbak kayak begini. Lupakan sajalah. “Terima kasih Pak sudah mengantar saya sampek lobi. Saya takut nyasar juga sih karena agak ribet juga rutenya,” ujarku ketika kami sampai di lobi. “Sama-sama. Oh iya saudara kamu ada yang kerja di sini ya.” “Kok bBpak tahu?” “Hahaha, ya tahulah. Kamu pasti punya nomor ponselnya, kan?” Ternyata ada maunya juga ni orang. “Punya.” “Boleh kan aku minta.” Pak Roland senyum-senyum penuh maksud. “Gimana ya Pak, itu kan privasi Mbak Kinan.” “Tenang deh, saya nggak akan bilang kalau kamu yang kasih. Nanti kalau Pak Abi cari masalah sama kamu, saya bantuin deh.” Pak Roland menawarkan kerjasama. Bagaimana ini? Maafkan aku ya Mbak Kinan. “Iya deh Pak, tapi jangan bilang kalau saya yang kasih ya.” “Sip.” Akhirnya aku menukar no hp Mbak Kinan dengan janji bantuan dari Pak Roland. Maafkan aku ya Mbak Kinan, tapi sepertinya suatu waktu aku butuh bantuan dari playboy ini jika nanti terjadi sesuatu diluar kemampuanku. Tak kuduga Mbak Kinan datang ke rumahku dan dia bercerita : “Ya itu kemarin habis kamu pulang, dia mendatangi Mbak. Mbak sampai melongo didatangi dua orang pria ganteng-ganteng. Sampek gugup. Terus tanpa basa basi dia bilang ke Mbak suruh kamu datang interview.” Aku mendesis. Kini aku tahu bagaimana alur yang kukira kebetulan ini. Ya mungkin awalnya kebetulan. Dia pasti melihatku sedang bicara dengan Mbak Kinan diparkiran kemarin. Pantas lah jadi begitu ceritanya. “Kamu kenal sama Pak Abi?” Belum sempat aku menjawabnya, hp Mbak Kinan berbunyi. Ada sms. “Pak Roland ...” gumam Mbak Kinan. “Kok dia tahu no hpku ya?” “Siapa mbak?” tanyaku pura-pura. “Ini ada yang sms mengaku Pak Roland, asprinya Pak Abi.” Cepet banget beraksinya playboy itu. Jangan sampai mbak Kinan tahu kalau aku yang memberikan no hpenya pada playboys itu. Kemudian kulihat mbak Kinan senyum-senyum sambil membaca pesan. Pasti sudah kena jerat pesona Pak Roland. Aku tidak akan mencampuri urusan merekalah. Mereka kan sudah sama-sama dewasa, apalah aku yang masih ABG 20 tahun yang labil ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD