Awalnya Abi menyangka kedatangannya ke kota kelahirannya ini akan membuatnya mati gaya dan bosan. Bayangkan Abi yang biasa hidup di Ibukota mendadak berada di kota kecil yang terkenal dengan tahu taqwanya ini. Beda sekali dengan Jakarta yang ramai, di sini sangat sepi. Tapi enaknya di sini tidak ada kemacetan layaknya di Jakarta yang tiada hari tanpa kemacetan.
Insiden tabrakan itu sempat membuat Abi semakin tidak betah berada di Kediri dan ingin cepat-cepat kembali ke Jakarta. Namun Tuhan berkehendak lain. Ishana yang dianggapnya cewek bar-bar dan kurang ajar berhasil membuat Abi menahan niatnya mempercepat tugas observasi di AHP Cabang Kediri ini. Abi akui Ishana itu menarik dan bisa dijadikan penghilang stres selama dia bertugas di Kediri.
“Kenapa senyam-senyum lu Bi?” tanya Roland yang menemani Abi sarapan di resto hotel.
“Siapa yang senyum-senyum,” ujar Abi berkilah dengan deheman. “Bisa-bisanya aku bertingkah seperti remaja sedang kasmaran hanya dengan mengingat tentang Ishana kemarin,” batin Abi menyadari perubahan sikapnya sendiri.
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Roland dengan menaik-naikan alisnya.
“Nanti kau juga akan tahu.” Abi menyeringai.
“Senyum itu...” Roland menunjuk-nunjuk wajah Abi. “Itu adalah senyum yang penuh dengan rencana licik. Aku yakin pasti kau merencanakan hal besar.”
“Habiskan sarapanmu. Setelah ini kita akan kebagian promosi,” ujar Abi santai.
“Siap bos. Sebenarnya kemarin aku sudah ke sana dan memang di sana..”
“Ada apa? Apa ada kejanggalan?”
“Orang bicara jangan dipotong.” Roland kesal. “Dengarkan dulu. Aku kemarin sudah di sana dan memang di sana itu ceweknya cakep-cakep.”
“Kerja woi kerja. Malah jlalatan nyari cewek.” Abi melempar serbet pada Roland namun berhasil ditangkapnya dan dia mengusap tangannya dengan serbet itu.
“Hahahahaha.” Roland hanya tertawa.
***
Hari ini merupakan perdana Ishana bekerja di APH. Dia berangkat dengan semangat dan tentunya datang sepagi mungkin. Dia tidak mungkin akan membuat dirinya terlambat di hari pertama kerja. Meski dalam pikirannya masih was-was dengan pria yang namanya Abi. Dengan memakai kemeja putih lengan sebatas siku dan celana jeans warna hitam, dia bergegas ke bagian pengurus karyawan mencari Bu Rita.
“Oh, kamu ya karyawan baru itu.” Bu Rita memandangi Ishana dari atas sampai bawah.
“Iya, Bu,” jawab Ishana sambil tersenyum.
“Kamu di bagian serba bisa, jadi kamu bisa dibagian mana saja. Sekarang sedang dibutuhkan pelayan di resto hotel. Selama batas yang tidak ditentukan kamu akan bekerja di resto APH,” ujar Bu Rita.
“Iya, Bu,” jawab Ishana. “Syukur deh jadi waitres. Lumayan lah. Semoga saja tidak bertemu si Ababil lagi,” batin Ishana lega.
“Ayo ikut saya.”
Ishana segera mengikuti langkah cepat Bu Rita menuju Resto. Padahal Bu Rita sudah tidak muda lagi tapi langkahnya benar-benar cepat. Ishana sampai harus sedikit berlari agar tidak tertinggal Bu Rita.
Begitu sampai di resto yang telah buka sejak jam 7 pagi, Bu Rita melempar Ishana pada manajer resto. Maksudnya menyerahkan tugasnya pada manajer resto, Pak Budi. Bapak-bapak dengan wajah bodi lumayan tidak gemuk. Kelihatan selalu tersenyum pada siapapun. Pak Budi dengan sabar menjelaskan apa saja yang harus Ishana kerjakan dan syukurlah otak Ishana bisa menerima dengan cepat.
“Anu mbak Riri, roknya apa tidak ada yang lebih panjang sedikit?” tanya Ishana setelah berganti dengan seragam resto. Hem putih dengan kerah hitam dengan pita kupu-kupu dengan logo APH dan rok orange dengan wiru di depan yang panjangnya di atas lutut. Termasuk rok mini tapi tidak terlalu mini juga. Menurut Ishana ini terlalu pendek. Dan dia lupa tidak memakai celana pendek.
“Yah memang begini seragamnya. Cocok kok,” ujar Riri, salah satu pelayan senior. Dia sudah bekerja sejak APH dibuka.
“Tapi aku tadi tidak pakai celana pendek mbak.” Ishana sedikit berbisik histeris.
“Ya besok pakai ya,” ujar Riri berbisik juga.
Ishana membuang nafas. Perasaannya sedikit tidak enak melihat keadaannya yang agak tidak nyaman dengan seragam resto.
“Tenang saja. Ayo mulai bekerja. Jangan lupa senyum,” ucap Riri.
“Iya,” jawab Ishana. Ishana merapaikan rambut ekor kudanya.
Resto APH ini berada di lantai satu dan berdekatan dengan swimming pol di samping hotel. resto dengan desain minimalis dengan furniture kayu seperti pada zaman dulu. Dengan desain sekarang terlihat begitu asri ditambah dengan kolam koi di luar restoran khusus untuk pengunjung yang ingin makan di diluar ruangan. Sekedar info, resto di hotel APH ini tidak hanya untuk pengunjung hotel tapi juga terbuka untuk umum.
Jam di dinding menunjukkan waktu 12.00 tepat. Jamnya makan siang dan akan menjadi jam-jam yang lumayan padat di resto. Ishana yang masih baru merasa belum terbiasa dan merasa menyusahkan ke empat pelayan lain.
“Eh, itu orangnya lihat-lihat.” Dewi berbisik kepada Nita saat dua orang pria memasuki resto.
“Ya ampun itu ta pemilik APH, ganteng banget. Single lagi.” Nita ikut terpesona.
“Aku yang akan mencatat pesanan mereka,” ujar Dewi hendak ke meja yang di duduki siapa lagi kalau bukan Abi dan Roland.
“Aku aja Wi, kamu urus tamu lainnya.”
“Enak aja, aku saja!”
“Kalian berdua, ini pesanan meja duabelas dan tujuh,” ujar si koki dari dalam dapur.
“Pak Karya ganggu saja,” protes Dewi dan Nita bersamaan.
Ishana yang selesai mengantar pesanan disuruh ke meja 10 oleh Riri yang sedang sibuk dengan tamu lainnya. Ishana segera menghampiri meja no 10 dan begitu dia sampai di meja no 10 rasanya dia ingin segera berbalik dan kabur.
“Heh, mbak mau kemana? Kita belum pesan ini,” ujar Abi sengaja diperkeras.
“Hiss.” Ishana mendesis kemudian berbalik kembali. Dia memasang senyum seramah mungkin. Ingat dia mempunyai kartu As untuk menghancurkanmu. Ujar Ishana pada dirinya sendiri.
Makan siang Abi sengaja ke Resto hotel. Ya apalagi kalau bukan melihat Ishana memulai pekerjaannya. Setelah diberitahu Bu Rita soal penempatannya di resto, Abi memutuskan untuk mengganggu pekerjaannya.
“Suit-suit. Ishana makin cantik saja pakai seragam gini,” ujar Roland terang-terangan.
Ishana masih tersenyum meski dalam hati dia ingin menghajar dua orang di depannya ini. Terutama Abi.
“Bapak berdua mau pesan apa?” tanya Ishana bersiap mencatat pesanan di note kecil ditangannya.
“Pesan kamu deh dibungkus ya,” goda Roland.
“Hahahaha bapak Roland lucu sekali. Yang ini tidak ada di menu bapak.” Ishana masih bersikap semanis mungkin.
“Ngapain kamu godain cewek bar-bar ini.” Ada nada tidak suka diucapan Abi.
“Bercanda aja Bi. Ishana aku pesan Sirloin Steak sama Sparking Green,” ujar Roland.
“Sirloin Steak sama Sparking Green ya pak. Terima kasih. Tolong ditunggu ya pak.” Ishana menutup bolpoinnya.
“Heeeh, kamu berani ya nyuekin saya.” Suara Abi mengultimatum.
“Oh ada bapak juga ya. Mau pesan apa pak?” tanya Ishana sengaja melakukannya.
“Orion Cliff Black Paper dan Elgris Fruit.”
Ishana tersenyum sambil memandang Abi yang juga memandangnya. Roland yang melihat mereka berdua hanya senyum-senyum geje sambil memainkan smartphone besarnya.
“Bapak Abi, Anda pasti tahu itu tidak ada di menu resto hotel,” ujar Ishana dengan suara dibuat seramah mungkin.
“Iya saya tahu,” jawab Abi santai.
“Lalu kok Bapak Abi pesan menu itu?” tanya Ishana masih ramah mode on.
“Ya terserah saya lah. Cepet kamu suruh koki buat itu pesenan saya. Saya sudah lapar ini dan kamu hanya membuat perut saya ini tambah lapar.”
“Bapak sengaja ya melakukannya?”
“Iya jelaslah. Sudah cepat pergi sana, kalau tidak ada ya dibuat ada. Atau kamu mau saya sebarkan foto nakal kamu ini.” Abi menunjukkan foto di smartphonenya.
Wajah Ishana langsung mendung. Dia hampir berteriak tapi ditahannya. Ishana melihat pada Roland yang senyum-senyum di depan smartphonenya. Roland yang melihat wajah memelas Ishana langsung mengerti.
“Sama kayak pesananku itu Pak Abi,” ujar Roland.
“Iya Pak.” Ishana buru-buru melarikan diri. Karena buru-buru bolpennya terjatuh dan Ishana buru-buru mengambilnya.
Tanpa sengaja Abi yang memperhatikan kepergian Ishana melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Yakni pemandangan ketika Ishana membungkuk mengambil bolpen dengan rok mininya itu.
“Kali ini warnanya hitam,” gumam Abi sambil geleng-geleng. Ini kedua lainya Abi secara tidak sengaja melihat celana dalam Ishana. “Gadis ini cukup gila juga. Untung saja yang lihat hanya aku,” batin Abi gregetan melihat Ishana.
“Apa yang hitam Bi?” tanya Roland.
“Sepatu,” jawab Abi asal.
“Ha? Sepatu?” Roland tidak paham maksud Abi apa.
Ishana kembali ke dapur dengan muka gundah gulana. Memang tidak mungkin mereka tidak akan bertemu karena sudah jelas Abi tinggal di hotel dan dia juga yang memperkerjakan Ishana.
“Ketemu pangeran malah pasang muka sepet,” sindir Dewi.
“Pangeran apaan,” gerutu Ishana seperti suara desisan.
“Coba tadi aku yang nyatet pesanan, pasti sekarang banyak bunga-bunga bermekaran di sekelilingku,” sahut Nita.
“Hahaha iya mbak,” jawab Ishana sekenanya.
“Hei, tamu lagi banyak malah ngobrol di dapur,” ujar Riri yang baru masuk dapur, dia menyerahkan note pesanan pada koki.
“Hehehe, enggak kok, Mbak,” jawab Dewi.
Tak lama kemudian pesanan untuk meja no 10 alias pesanan untuk Abi dan Roland sudah siap. Ishana segera mengantarkannya ke meja no 10. Entah hanya perasaannya atau memang benar jika sejak keluar dari dapur Abi terus melihat padanya hingga dia sampai di depan meja mereka.
“Ini pesanannya pak.” Ishana meletakkan makanan pesanan mereka.
“Terima kasih Ishana,” ujar Roland. Playboy ini memang suka SKSD.
Abi menendang kaki Roland di bawah meja.
“Aduh.” Pekik Roland sambil menatap Abi meminta penjelasan. Abi menaikkan alisnya.
“Kenapa Pak Roland?” tanya Ishana.
“Ah, enggak apa-apa Ishana,” jawab Roland sambil senyum.
“Kenapa aku jadi kesal melihat Roland menggoda Ishana. Hmmm,” batin Abi merasakan keanehan dalam dirinya.
“Saya permisi Pak. Silakan dinikmati,” ujar Ishana lagi.
Ishana segera menghampiri pengunjung yang baru memasuki Resto. Abi masih memperhatikan gerak-gerik Ishana. Abi tersenyum miring masih memperhatikan Ishana. “Aku memang sengaja berhenti mengganggumu. Ini masih permulaan untuk bermain. Sudah cukuplah tingkahku tadi. Bagiku mengganggumu itu seperti relaksasi tersendiri bagiku,” batin Abi.
***