Chapter 6 Happening Kiss

1925 Words
Gangguan demi gangguan dilancarkan Abi untuk menghancurkan ketentraman hidupku bekerja di resto. Biarlah tak sopan aku memanggilnya tanpa bapak toh dia tidak tahu. Ada saja ulahnya tiap hari untuk menjahiliku saat dia makan di resto. Semua memang karena ganti rugi itu dan juga karena kartu As yang dia pegang aku tidak bisa melawan dengan maksimal. Sudah seminggu aku bekerja di resto dan setiap hari pula tiada hari tanpa mengerjaiku. Segitunya dia gara-gara tabrakan itu. Nasibku. “Asyik bentar lagi pulang,” ujarku sambil melihat jam tangan yang menunjukkan jam 15.50. jam 4 sore aku bisa pulang. Aku bersiap-siap masuk ke ruang istirahat tapi mbak Riri memanggilku. “Ish, jangan pulang dulu!” cegahnya “Kenapa mbak? Kan jam 4 akhir shiftku,” tanyaku. “Kamu antar pesanan ke pool ya.” “Ha? Ke kolam renang? Siapa yang pesan makanan mbak?” tanyaku penasaran. “Pak Abi.” Deg. Duar. Rasanya kupingku langsung berdengung mendadak. Hari ini dia belum mengeluarkan jurus jailnya padaku. Akhirnya dia beraksi di sore hari seperti sekarang ini. Mentang-mentang anaknya yang punya APH dia bertindak seenak jidatnya. “Yang lain saja ya mbak. Kan aku mau siap-siap pulang.” Ujarku menolak dengan wajah memelas. “Dia maunya kamu yang antar. Kalau kamunya tidak mau mbak nih yang dipecat.” Ujar mbak Riri “Eh, pak Abi bilang begitu?” tanyaku tidak percaya. “Iya. Nih kalau tidak percaya baca notenya.” Mbak Riri menyerahkan sticky note warna kuning padaku. “KALAU ISHANA GAK MAU NGANTER PESANAN SAYA, YANG NERIMA PESANAN SAYA INI SAYA PECAT. CEPAT GAK PAKE LAMA.” Isi dari sticky note kuning itu dan hurufnya kapital semua. Tulisannya rapi banget beda banget dengan tulisanku. Padahal cowok nih si Ababil. “Percaya?” tanya mbak Riri. “Eh, iya mbak.” Aku hanya nyengir kecut. “Kamu ada hubungan apa sama Pak Abi?” tanya Dewi yang juga akan bersiap pulang. Dari nadanya bertanya seperti sedang marah dan mengintrogasi. “Gak ada apa-apa kok mbak Dewi.” Jawabku sambil senyum. “Gak mungkin gak ada. Buktinya itu dia kenal kamu gitu. Dan tiap hari pas makan siang atau sarapan di sini pasti tuh minta kamu yang melayani dia.” Dewi kelihatan sekali kalau mulai tidak suka denganku. “Heh, sudah-sudah. Cepat ke dapur sana Ishana. Makanannya mungkin sudah siap.” Ujar mbak Riri menengahi. “Iya mbak.” Aku langsung ngibrit ke dapur. “Riri kamu ini,” protes Dewi. “Tidak usah ikut campur urusan orang lain. Oke?” ujar Mbak Riri sambil melempar senyum dan kembali ke dalam resto. Aku segera ke dapur dan makanan sudah siap di atas nampan. Si koki Pak Erwan senyum-senyum aneh padaku. Aku membalas senyumannya kemudian segera mengambil nampan berisi lasagna dan jus jambu merah. Mengantar pesanan si bos ababil. Hanya perlu berjalan lima menit dan aku menemukan pool. Hanya ada beberapa orang yang sedang berenang. Aku celingak celinguk mencari Pak Abi dimana. Nihil, sudah mengedarkan pandang berkali-berkali tapi tidak melihat batang hidungnya. Yang ada malah mas-mas keren yang baru keluar dari air dengan bodi kotak-kotaknya dan celana renangnya yang ketat itu. Bodinya wow. “Astagfirullah, mataku udah gak perawan ini.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Bisa-bisanya malah memandangi tubuh mas-mas yang berenang. “Ditunggu-tunggu malah enak-enakan nonton cowok berenang.” Suara dari belakangku membuatku mengerucutkan bibirku. Siapa lagi kalau bukan Pak Abi. Situ yang dicari tidak ketemu sekarang nongol-nongol main tuduh saja. Aku segera berbalik dan OMEGAT. “Ro, roti sobek.” Ujarku syok melihat pemandangan di depanku. Kucabut ucapanku soal mas-mas yang barusan. Nih bodi Pak Abi lebih wow 10 kali. Badan kotak-kotak dan berotot. Putih mulus lagi eh ada cokelatnya juga dikit sih. Dan yang bkin tambah wow itu tingginya yang juga wow. Handuk putih kecil melilit di pinggangnya membuat yang melihat penasaran apa yang ada dibalik handuk putih itu. Sesuatu yang waw jelasnya. “Sudah puas lihatnya?” Ucapannya menyadarkanku. Aku segera menutup mulutku yang melongo sejak tadi. Kuharap air liurku tidak ikut menetes tadi. “Sini ikut saya.” Ujarnya sambil berjalan melewatiku. Aku mengikutinya duduk di bawah tenda. Dia langsung berbaring di kursi jemur. Banyak yang melihatnya baik mbak-mbak, ibuk-ibuk, mas-mas sampai anak-anak juga yang sedang ada di pool ini. Aku meletakkan pesanannya ke atas meja di samping kursinya. Batinku mengatakan harus segera pergi dari tempat ini. Tapi entah apakah dia tahu apa yang akan kulakukan dia langsung mengultimatum. “Kalau kamu pergi saya sebarin foto kamu,” ujarnya sambil melihatku. “Ish..” desisku sambil melotot padanya. “Sini jusnya!” perintahnya. “Ini, Pak,” ujarku sambil menyerahkan jus merah pesanannya. Dia menerimanya dan langsung meminumnya. “Kamu pijit tuh kaki saya.” “Saya harus kembali ke resto, Pak,” ujarku dengan sungut kesal. “Jam kerja kamu sudah selesai di sana. Jangan banyak alasan cepet pijit kaki saya. Capek tahu. Atau …” “Iya saya pijit, Pak.” Aku yang tahu apa yang dia ucapkan langsung mengiyakan perintahnya. Apalagi kalau tidak mengancam soal foto nakalku. Foto itu harus kudapatkan dan dimusnahkan. Aku duduk di pinggir kursi jemurnya dan mulai memijit kakinya. Biasanya para pria itu kakinya penuh dengan yang namanya bulu-bulu tapi ini manusia kakinya mulus meski masih berotot. Apa di cukur ya. Dengan asal-asalan aku memijat kakinya. “Kamu gak ikhlas mijatnya rugi di saya.” Abi banyak omong. “Emang enggak ikhlas,” sahutku cuek. “Kamu ini ya ..,” Abi seperti mau marah tapi dia tiba-tiba menutup matanya sambil tersenyum. Orang ini kenapa kok mendadak senyum begini. “Pak gak papa ta?” tanyaku. “Apa maksud kamu?” Abi membuka matanya. “Pak sudah ya? Saya mau pulang ini. Saya juga capek tahu,” ujarku. “Lima menit belum ada sudah capek. Apaan kamu ini? Sini sekarang pijat tangan saya. Cepet nanti kamu boleh pergi setelah mijat tangan saya.” “Bener ya, Pak.” “Hm …” Aku langsung berdiri dan berjalan hendak memutari kursi jemurnya. Seorang ibu tengah berjalan bersama dengan anaknya ke arahku. Aku masih berdiri di ujung kursi jemur Abi, karena jalannya agak licin aku berhati-hati dengan sepatu hak tinggiku ini. Niatnya hati-hati agar tidak bersenggolan dengan ibu dan si anak. Tapi emang kayaknya badan si ibu ini agak lebar ya dan itu sangat berasa waktu menyenggol punggungku yang membelakanginya. Tak ayal tubuhku limbung, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri. “Waaa.” Bruk. Cup. Mataku langsung terbelalak karena mendapati bibirku yang menempel di bibir Abi. Spontan mukaku langsung memerah. Bukannya segera melepaskan bibirku aku malah seperti membatu. Dengan bibir masih menempel dia malah memandangku entah bagaimana aku mendeskripsikannya. Kurasakan rasa asin dari mulutku. “Maaf ya Nak, tidak sengaja.” Aku langsung sadar dan melepaskan bibirku. Apa yang sudah terjadi? Ini pasti hanya mimpi. Kulihat sekilas Abi malah menyeringai aneh. Kulihat semua yang ada di pool menatap ke arah kami. Gawat ini pasti gawat. Mau ditaruh mana mukaku yang hanya satu ini. “Ma-maaf, Pak.” Aku langsung bangun dan turun dari kursi jemur Abi. Kulihat Abi ikut bangun juga. Jangan bilang dia malah senang. “Haduh nak ibu beneran tidak sengaja. Kamu tidak apa-apakan? Toh jatuhnya di atas mas yang tampan,” ujar si Ibu dengan senyum geje. “Saya yang tidak hati-hati Bu.” Aku berusaha tidak membuat masalah lagi. Apalagi ini pasti pengunjung hotel. “Si Ibuk ini bikin hidup saya tambah ruwet setelah ini,” batinku kacau. “Ya sudah kalau tidak apa-apa.” Ibu ini masih senyum-senyum tidak jelas. “Ma, mbaknya ciuman sama masnya ya,” ujar si anak dengan polosnya. Aku membeku mendengar omongan bocah cilik ini. Sudah tahu apa yang namanya ciuman benar-benar gila anak zaman sekarang. Salah ini bukan ciuman tahu. Ini kecelakaan ya ini seperti tabrakan waktu itu. “Stt nanti mbaknya malu. Ayo pergi,” ujar Si Ibu sembari tersenyum padaku, “Mas maaf ya,” ujar Si Ibu pada Abi. Hanya dibalas senyum oleh Abi. Aku bergidik melihat senyum Abi. Pemirsa mulai berbisik-bisik setelah menonton film pendek yang kubuat. Malu, apalagi kalau bukan itu yang kurasakan sekarang. Tapi pria yang sedang duduk dengan handuk dipinggangnya ini malah menatapku dengan senyum devilnya. “Kamu ini nakal banget ya ternyata,” ujarnya yang tiba-tiba serasa mencekik. “Bapak nggak lihat ya itu tidak sengaja. Lagian bukan salah saya jatuh dan menjadikan Bapak alasnya!” tukasku. “Alas?” dia marah mendengarku menyebutnya alas. “Iya lah, Pak.” Pak Abi langsung berdiri berhadap-hadapan denganku. Dia tinggi dan aku sampai harus mendongak kalau harus melihatnya. Aku hanya sebahunya. “Kamu ini ya berani banget bicara kurang ajar sama saya. Kamu bilang saya alas. Enak aja!” Ujarnya. “Bapak juga seenaknya menuduh saya. Semua ini salah bapak. Kalau bukan bapak yang nyuruh saya mijat tangan bapak gak mungkin deh bibir tak berdosa saya harus mendarat di bibir sexy bapak.” Aku menggigit bibirku karena merasa sudah salah memilih kata. Bibirnya memang sexy sih, tapi harusnya aku tak perlu mengatakannya. Dasar mulut tidak bisa diajak kompromi. “Hahaha.” Si Abi malah ketawa sambil geleng-geleng kepala. Mampus. Umpatku menyesal. “Kalian ini cocok banget deh.” Kami berdua menoleh ke sumber suara. Siapa lagi kalau bukan Roland, tapi ada gadis di sebelahnya. Kenapa mbak Kinan sama Pak Roland. “Ishana.” “Mbak Kinan.” Mbak Kinan menatapku seakan meminta penjelasan sedang apa aku beradu mulut dengan Pak Abi. Orang paling berkuasa di APH. “Berenang kok nggak ngajak sih Bi?” tanya Pak Roland sambil menepuk bahu Abi. “Males deh, aku ke ruang ganti dulu,” jawab Abi. “Bentar napa aku mau ngomong nih, mumpung ada Ishana juga,” cegah Pak Roland. “Apa? Cepet ngomong.” Kruuuyuuuuuk. Kruuuk. Kruyuuuk. Spontan aku memegang perutku. Astagfirullah ini perut bunyinya kenceng banget. Bahkan sukses membuat Abi, Pak Roland dan Mbak Kinan melihat padaku. Kenapa pakai bunyi sekarang sih. Mimpi apa aku semalam hingga dipermalukan di depan umum berkali-kali. “Aha-aha-aha.” Aku cengengesan. “Cacing kamu demo tuh Ish. Hahaha.” Pak Roland menertawakanku. Abi memandangku. Aku menoleh tidak mau memperlihatkan wajahku yang memerah karena malu. Tadi ada tabrakan bibir sekarang perutku berdendang riang di depan dia. “Kamu makan itu lasagnanya.” Aku menoleh dan memandangnya. Lasagnanya disuruh makan aku? “Tidak, terima kasih. Itu kan pesanannya Bapak,” tolakku sok tidak mau. “Kamu makan atau aku lindas kamu pake mobil,” ujarnya mengancam. Ancaman baru ini dilindas mobil. “Makan tuh sampai habis. Aku mau ke ruang ganti.” “Eh, beneran, Pak?” Aku masih tidak percaya. Abi menganggkat salah satu alisnya kemudian meninggalkan kami di bawah tenda. Tukang ancam dan juga tukang perintah. “Kamu makan saya Ishana. Kasian tuh cacing-cacing diperutmu nanti dangdutan lagi. Iya kan Kinan?” ujar Pak Roland. “Iya, Pak,” sahut mbak Kinan. Aku mencium aroma-aroma tidak enak dari mereka berdua. Mereka nampak jalan berdua di area hotel dan sepertinya mereka lebih dekat dari sebelumnya. Mungkinkah? Harus introgasi Mbak Kinan nih nanti. “Ishana nanti malam kamu gak ada acara kan?” tanya Pak Roland. “Nggak ada, Pak,” jawabku masih sambil makan. “Bagus deh kalau begitu. Jadi nanti malem bisa kan jalan-jalan keliling Kediri sama kita,” ujar Pak Roland, tangannya menunjuk dirinya dan mbak Kinan dengan maksud dari kata ‘kita’ tadi. Sudah dapat ditebak deh mereka pasti ada apa-apa. Aku melirik pada Mbak Kinan. Ada rona merah dipipinya. Pas sesuai dengan dugaanku. Mbak sepupuku ini sudah terperangkap pesona Pak Roland. Baru seminggu padahal mereka bertemu. Aku kapan ini punya pacar? Ah sudahlah aku tidak akan iri, semua untuk suami masa depanku. Walau bibirku sudah berdosa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD