-5- To Catch The Groom

1427 Words
Elsa, take a deep breath. Elsa terus mensugesti dirinya untuk tenang sembari menunggu kedatangan Alfon di restoran gedung X-Point itu. Ia sangat lega ketika menghubungi sekretaris Alfon dan mendapat jawaban jika Alfon mau menemuinya malam ini. Namun, itu tak menghalangi kecemasannya. Elsa merasa asing dengan dirinya yang ini. Dirinya yang hilang kendali. Ia harus tenang untuk bisa mengambil alih kendali. Ia hanya perlu membuat Alfon menyetujui perjodohan ini, menikah dengan pria itu dan semuanya beres. Semua akan kembali normal. Ia akan mendapatkan kendalinya utuh. Lagi. Atas segalanya. Elsa berhasil mempertahankan ketenangannya ketika Alfon datang. Namun, itu tak bertahan lama melihat betapa datar dan dinginnya ekspresi Alfon. Bahkan, pria itu tampak jelas sekali berusaha menghindari tatapan Elsa. “Alfon,” panggil Elsa, kali ini tanpa embel-embel ‘Pak’. Alfon menatapnya, sesaat. Benar-benar hanya sedetik, sebelum menunduk ke arah meja, seolah teman bicaranya adalah si meja. Separah itukah perjodohan ini untuk pria itu? Tentu saja. Alfon adalah playboy. Apa Elsa lupa rekor pria itu sebagai playboy semasa SMA? Apa Elsa berharap pria itu akan berjingkrak senang karena akan menikah dengannya? Bahkan hal pertama yang dibahas pria itu ketika mereka bertemu lagi setelah insiden di pernikahan Ken-Arisa adalah ciuman mereka. Ugh, kenapa pula papanya harus menjodohkan Elsa dengan playboy seperti Alfon? Seolah perjodohan itu belum cukup buruk. Alfon mungkin tak pernah sedikit pun memikirkan tentang menikah. Oh, ayolah. Menikah adalah hal terakhir yang diinginkan dalam kamus seorang playboy, benar, kan? “Um … jadi alasan aku mau ketemu kamu malam ini …” “Kita makan dulu aja.” Kalimat yang sama dengan tadi pagi. Mau tak mau, Elsa gelisah juga. Apa Alfon benar-benar akan menolak? “I’ll give you everything you want,” ucap Elsa putus asa. Alfon yang sudah akan memanggil pelayan, seketika menoleh menatapnya, terperangah, seolah Elsa barusan berkata ia membawa bom yang siap meledak. Meski kenyataannya, Elsa baru saja meledakkan bomnya. “Dengar, aku butuh perjodohan ini, oke? Jadi, kalau kamu bantu aku, aku akan kasih apa pun yang kamu mau. Saham di perusahaan, tanah, gedung, apa pun.” Alfon semakin terperangah. Apa pria itu tak percaya? “Kita bisa buat kontrak resmi kalau kamu nggak percaya,” Elsa meyakinkannya. Alfon mengerjap. Mata cokelat gelapnya menatap mata Elsa lekat. Dalam hati, Elsa terus berharap Alfon tak menolaknya. Demi apa pun, tolong jangan menolak. Elsa memejamkan mata, berpikir cepat, mencari apa pun yang bisa membuat Alfon tertarik pada perjodohan ini. Apa pun, tolonglah, apa pun, Elsa memohon putus asa. *** Alfon seketika tersadar dari keterkejutan ketika Elsa memejamkan mata. Tatapan Alfon refleks turun ke bibir Elsa dan pikiran kurang ajarnya kembali bekerja. Bibir merah itu berbalut lipstick. Namun, Alfon tahu, tanpa lipstick itu pun, bibir Elsa sudah merah. Alfon masih mengingatnya sepuluh tahun lalu. Namun, pikiran itu seketika lenyap ketika Elsa membuka mata dan berkata, “Kamu bisa tetap ketemu sama cewek-cewekmu meski kita nikah.” Alfon seketika melotot mendengar itu. Apa katanya barusan? Apa Elsa sudah gila? “Aku serius. Aku tahu, itu salah satu alasanmu nolak perjodohan kita. Kamu takut, kamu nggak bisa main-main lagi sama sembarang cewek di luar sana, kan? Nah, aku akan bantu kamu dalam hal itu.” Elsa bahkan tak sedikit pun ragu saat mengatakan itu. s**l! Tahu apanya? Wanita itu sama sekali tak tahu apa pun! Apa ia bahkan tahu, selama sepuluh tahun, Alfon tak bisa berkencan karena … Terkutuklah Ice Princess itu dan mulut kejamnya! Tidak, tidak. Alfon tak tega mengutuk Elsa. Oh, Man, ayolah! Berhenti berpikir seperti i***t! “Jadi, kita setuju?” tanya Elsa tanpa merasa bersalah. Ia tampak begitu bersungguh-sungguh hingga Alfon tanpa sadar mengumpat. Elsa tampak shock. Namun, Alfon juga shock! “Maaf, aku nggak bermaksud ngumpat di depanmu, itu bukan buat kamu. Aku cuma … kita omongin ini lagi besok, oke?” ucap Alfon cepat. Lalu, ia berdiri dari kursinya, menghampiri salah seorang pelayan dan menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu, memintanya mengantarkan makan malam untuk Elsa. Alfon bahkan tak sanggup menoleh untuk menatap Elsa, meski ia sangat ingin melihat wanita itu lagi. Kali ini, Elsa benar-benar keterlaluan. *** Elsa masih duduk mematung di kursinya, shock luar biasa atas reaksi Alfon tadi. Kenapa pria itu bereaksi seperti itu? Apa permintaan Elsa terlalu banyak? Apa pernikahan dengan Elsa seburuk itu? Elsa memejamkan mata dan memijat pelipisnya. Ini tidak benar. Apa lagi yang harus ia tawarkan pada Alfon agar pria itu setuju untuk menikah dengannya? Elsa tak sadar jika ia sudah berada terlalu lama di restoran itu sampai seorang pelayan menghampiri mejanya. “Permisi, Bu.” Elsa menoleh, sudah hendak meminta maaf dan pergi, tapi ia terkejut melihat pelayan itu membawakan beberapa piring makanan. Seingatnya, ia dan Alfon belum sempat memesan tadi. “Maaf, sepertinya pesananannya salah meja. Saya belum memesan,” beritahu Elsa. “Oh, tadi kekasih Ibu yang memesan untuk Ibu,” jawab pelayan itu. Elsa mengerutkan kening. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling restoran, tapi sudah tak menemukan Alfon. Elsa belum sempat mengucapkan terima kasih ketika pelayan itu meninggalkan mejanya. Elsa menatap piring-piring makanan yang tak mungkin ia habiskan di hadapannya. Apa lagi yang Alfon lakukan ini? Elsa kembali memijat pelipisnya. Kepalanya semakin terasa sakit. *** Alfon tak perlu kejutan tambahan malam itu, tapi Aira memang menakjubkan. Ketika Alfon tiba di penthouse-nya, Aira dan yang lain sudah menunggu di sana. Mereka duduk dan mengobrol santai di sofa ruang tamu seolah mereka berada di rumah sendiri. “Seharusnya nggak ada yang bisa naik ke sini selain aku,” ucap Alfon. “Dan sekretarismu,” tambah Aira. Wanita itu merentangkan lengan. “Rumahmu bagus. Udah bilang makasih belum sama Elsa? Dia kan, yang bikin ini?” Alfon menghela napas lelah mendengar nama itu. “What’s with that sigh?” “Al, apa ada masalah?” tanya Yura khawatir. “Kamu sama Elsa …” “Kalau aku nikah sama dia,” Alfon memotong kalimat Yura, “dia bilang aku bisa tetap ketemu sama cewek-cewekku.” Alfon tidak terkejut melihat ekspresi terkejut dari keenam wajah sahabatnya. Terlongo, terperangah, terkesiap ngeri, bahkan hingga memekik heboh. “WHAT?!” Itu Aira. Jelas. “You heard me.” Aira mengumpat. Alfon mengangguk. “Aku juga udah bilang gitu,” aku Alfon. “Kamu ngumpat dia?” kaget Arisa. “Nggak ke dia, tapi di depannya. I’m shocked.” “Masuk akal,” celetuk Ken. Terima kasih. “Elsa … beneran nggak ada expect apa pun ke kamu ya, Al?” Aira terdengar lesu. “Yeah. No expectation. She just thinks the worst of me, bahkan tanpa peduli itu benar atau enggak.” Damn h– tidak. Alfon tidak ingin mengutuk Elsa lagi. Alfon merasa begitu menyedihkan melihat tatapan iba ketiga pasangan di depannya. Berusaha mengalihkan pembicaraan, Alfon pergi ke arah dapur. “Kalian mau minum apa? Aku cuma punya soda, kopi, air putih. Kalau …” “Al,” panggil Yura. Alfon menghela napas dan menghentikan langkah. Ia berbalik, kembali menatap teman-temannya. “Are you okay?” tanya Yura. Of course, not! Namun, mengucapkan itu pada teman-temannya hanya akan membuatnya tampak semakin menyedihkan. Elsa, cinta pertamanya, menolaknya bahkan sebelum ia meminta. Tak cukup sampai di situ, wanita itu juga berpikiran seburuk dan serendah itu tentang Alfon. Alfon seolah … tak bernilai di mata Elsa. “Oke!” seru Aira tiba-tiba sembari berdiri. Wanita itu menghampiri Alfon, menepuk bahunya dan berkata, “Just marry her!” Alfon menatap Aira tak mengerti. “Kami memang dijodohkan.” “Dan buat dia jatuh cinta,” tambah Aira. Alfon mengerjap. Membuat Elsa jatuh cinta? Kepada Alfon? Ketika Elsa begitu tak menyukai Alfon? Tidak mungkin. Berharap saja Alfon tidak berani. “Perasaanmu ke dia udah nggak tertolong lagi, jadi nikahi dia dan buat dia jatuh cinta,” ulang Aira tegas. “Jangan mau jadi b***k cinta dan bucin sendirian.” Aira mengerdip padanya. Perlahan, senyum terbit di bibir Alfon. “Yeah. I’m gonna marry her. Definitely.” Cinta bukan masalah. Memangnya siapa yang butuh itu? Toh, Alfon akan menikahi Elsa. “Kita semua di pihakmu, Dude,” celetuk Rey dari sofa ruang tamu. “Good luck,” timpal Dio. Alfon menatap keenam sahabatnya itu dan bersyukur ia belum menendang mereka semua keluar tadi. “Jadi, apa rencana kita?” tanya Ken. Kita. Alfon dan mereka. “Let’s start making it,” sahut Aira seraya tersenyum lebar. “Let’s get it, Mr. Idiot.” Aira meninju lengan Alfon singkat sebelum kembali ke ruang tamu. Kali ini, Alfon tak sedikit pun merasa keberatan dipanggil Mr. i***t. Tidak, ketika ia tahu mereka semua benar-benar ada di pihaknya. Di pihak Mr. i***t menyedihkan ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD