-6- Just Marry Me

1206 Words
Pagi itu, Alfon sudah mulai bekerja di kantor X-Point yang berada Tower B X-Point dengan kantornya berada di lantai teratas, meski belum secara resmi. Semua berjalan dengan tenang sepanjang pagi. Juan hanya sekali menyinggung tentang pertunangan Alfon dan Elsa. Lebih tepatnya, pesta pertunangan mereka. Pesta pertunangan mereka akan diadakan di grand ballroom X Point dalam dua minggu. Selain itu, Juan hanya melaporkan tentang pekerjaan. “Oh iya, Pak Alfon belum menyapa Direktur Operasional mall dan residence kita,” Juan mengingatkan. “Tadi pagi juga Bapak menolak penyambutan di grand ballroom. Juga …” “Besok Senin kan, aku baru resmi kerjanya. Kamu aja yang terlalu rajin bikin janji temu sama Elsa kemarin-kemarin,” Alfon menyela. Juan cengengesan. “Saya pikir, sebelum Pak Alfon masuk kerja resmi, Bapak bisa sambil jalan-jalan di gedung kita. Takutnya nanti Bapak nyasar.” Alfon mendesis kesal. “Bilang aja, kamu malas kan, nemenin aku di sini?” omelnya. “Emangnya Pak Alfon nggak bosan sama saya terus? Saya aja bosan,” balas Juan. Entah sudah keberapa kalinya Alfon ingin memecat Juan, tapi berhasil menahan dirinya. “Oh iya, Pak, tentang kafe itu …” Juan tampak ragu sesaat. Alfon seketika langsung tahu apa yang akan dikatakan Juan. “Nggak usah ngomong apa-apa kalau kamu udah tahu. Aku yang akan urus itu.” Juan mengangguk patuh. “Mengenai …” Kalimat Juan berhenti ketika ponselnya berbunyi. Bahkan tanpa meminta izin atau permisi pada Alfon, Juan mengangkat teleponnya. Ekspresi terkejut Juan setelah mengangkat teleponnya membuat Alfon urung menyindirnya. “Kenapa? Ada masalah?” tanya Alfon. Juan menatap Alfon dengan tatapan takjub. “Bu Elsa ada di sini. Di depan pintu. Dia mau ketemu Pak Alfon.” Seketika, Alfon berdiri. Ia sudah akan pergi menjemput Elsa, tapi teringat pesan Aira dan kembali duduk. “Suruh dia masuk,” kata Alfon. Juan mengangguk, lalu bergegas ke pintu dan membukanya. Alfon refleks menahan napas ketika sosok Elsa melangkah masuk. Ketukan heels tajamnya teredam karpet di ruangan Alfon. Sementara, ekspresi wanita itu begitu dingin, tapi penuh tekad. Seolah ia siap memporak-porandakan kantor Alfon saat itu juga. Meski bukan kantor Alfon yang diporak-porandakannya, melainkan hati Alfon. Oke, thank you. Begitu Juan keluar dari ruangan itu sembari menutup pintu, Elsa yang menghampiri Alfon berhenti di seberang meja Alfon. Wanita itu mengangkat dagu angkuh seiring bibirnya melontarkan kalimat, “Just marry me! I’ll give you everything you want. I can give you everything you need.” Itu bukan permohonan. Namun, wanita itu kemudian mengulurkan tangan. “Aku bisa bantu kamu dalam banyak hal. Aku bisa jadi istri yang sempurna buat kamu, baik di depan atau di belakang orang-orang.” Kata-kata Elsa itu mengantarkan otak Alfon untuk memerintah tangannya bergerak dan menyambut uluran tangan wanita itu. Ketika Elsa menawarkan diri pada Alfon untuk menjadi istrinya, adakah alasan bagi Alfon untuk menolak? “Tapi, dengan satu syarat,” sebut Alfon. Elsa yang tangannya tenggelam dalam genggaman Alfon mengerutkan kening heran. “Apa syaratmu?” tanya wanita itu. Alfon tak langsung menjawab, ia menatap bibir Elsa. Alfon harus mengakhiri kegilaan, atau mungkin rasa penasaran ini. “Apa syaratmu?” ulang Elsa, dengan nada lebih waspada. Alfon menatap mata Elsa. “Ciuman,” jawab Alfon. “Kasih aku kebebasan nyium kamu kapan pun aku pengen.” Kerutan di kening Elsa semakin dalam. Wanita itu tampak bingung. “Tapi … kamu kan, bebas ketemu cewek-cewekmu. Kenapa aku …” “Kalau kamu nggak mau …” Alfon sudah akan menarik tangannya, tapi kali ini Elsa yang menggenggam tangannya, begitu erat. Ego Alfon menang. Dadanya mengembang bahagia hanya karena tangan itu menggenggam tangannya. “Ya, aku setuju,” ucap Elsa cepat. Alfon nyaris tersenyum, tapi teringat pesan Aira dan ia kembali memasang wajah tanpa ekspresinya. Meski, ia tak bisa menahan kecewa ketika Elsa melepaskan genggaman tangannya. “Buat ketentuan lainnya, nanti malam kita omongin lagi. Kalau gitu, aku …” “Elsa,” Alfon memotong kalimat Elsa. “Ya?” Elsa tampak was-was. Mungkin, ia khawatir Alfon berubah pikiran. “Kamu udah sarapan?” tanya Alfon. “Aku … belum. Aku langsung ke sini tadi dan …” “Kamu mau …” Alfon menahan kalimatnya. Tidak. Ia tidak boleh mengajak Elsa sarapan. Ia harus menahan diri. Maka, Alfon melanjutkan, “sarapan di restoran X-Point?” “Kamu ngajak sarapan bareng?” Elsa memastikan. Alfon menggeleng, meski hatinya berteriak, memberontak. “Aku mau titip.” Elsa terperangah. Namun, wanita itu segera mengendalikan diri dan mengatupkan bibir. “O-oke. Aku bisa sekalian sarapan. Kamu mau titip apa? Nanti aku akan minta makanannya diantar ke sini.” Elsa bahkan tersenyum setelah mengatakannya. Senyum tipis, hanya senyum resmi, hanya senyum tak berarti, tapi itu sukses membuat jantung Alfon jumpalitan. “Jadi, kamu mau apa?” tanya Elsa lagi. “Kamu,” Alfon refleks menjawab. Elsa mengerutkan kening bingung. Alfon tersadar akan kebodohannya. “Ma-maksudku, kayak kamu aja. Kamu pilih aja apa yang enak buat sarapan.” Elsa mengangguk. “Oke. Kalau gitu … sampai ketemu nanti malam,” pamit Elsa. Wanita itu mengangguk kecil sebelum berbalik dan melangkah tegas meninggalkan ruangan. Sementara, Alfon langsung bersandar lemas di kursinya. Apa yang barusan terjadi? Alfon memaksa otaknya merapikan kejadian beberapa saat lalu. Elsa masuk kemari dan melamarnya, Alfon mengajukan syarat tiket ciuman bebas, Elsa setuju. Oke. Oke! Alfon kemudian tertawa, puas dan bahagia. Bersamaan dengan itu, Juan yang baru masuk berseru kaget, “Astaga, Pak Alfon kenapa?!” Sekretaris kurang ajar Alfon itu menghampiri Alfon dan langsung menyentuh keningnya, memeriksa matanya. “Jangan sembarangan pegang-pegang!” Alfon menepis tangan Juan yang hendak menyentuh lengannya. “Calon kepunyaan orang ini.” Juan terlongo. Yes, you heard that! “I’m gonna marry her. She proposed to me,” pamer Alfon sembari memasang pose pongah di kursinya. Juan meringis. “Mungkin emang Bu Elsa yang ngelamar Pak Alfon, tapi demi apa pun, saya yakin Pak Alfon yang jatuh cinta sama Bu Elsa. Sendirian.” Setelah mengatakan itu, Juan berlari keluar ruangan karena Alfon sudah mengangkat berkas terdekat untuk dilempar pada anak kurang ajar itu. *** Well done, Elsa. Elsa terus mengucapkan itu dalam kepalanya sembari menunggu pesanan. Alfon bahkan tidak meminta hal yang aneh. Tidak saham, tidak tubuh Elsa. Hanya ciuman. Itu bukan masalah. Elsa tidak terlalu terkejut mengingat Alfon yang seorang playboy. Meski, ia heran juga Alfon tak memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta tubuh Elsa. Bukan berarti Elsa berharap. Ia berterima kasih, malah. Ia tidak sudi ditiduri Alfon setelah pria itu tidur dengan sembarang jalang di luar sana. Mungkin juga pria itu hanya berselera melakukannya dengan jalang-jalangnya. Elsa lantas memikirkan tentang ketentuan dalam pernikahan mereka. Ada satu hal penting yang lupa disebutkan Elsa pada Alfon tadi. Meski, nanti malam mereka akan membahasnya. Elsa tidak meminta banyak. Ia hanya membutuhkan kebebasan. Jadi, jika ia memberikan itu pada Alfon, maka pria itu pun harus memberikan hal yang sama padanya. Terutama, masalah perusahaan. Elsa tidak bodoh. Ia sudah lama terjun di dunia bisnis. Pernikahan bisnis seperti ini tidak pernah menjadi pernikahan murni. Elsa hanya tak tahu apa rencana papa Alfon menyetujui perjodohan ini. Elsa tak tahu, apa yang papanya tawarkan pada keluarga Alfon. Satu hal yang ia tahu pasti, ia tak bisa mundur dari perjodohaan ini, dari pernikahan ini. Jika ia tak bisa menikmati ini, maka ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD