Elsa menunggu dengan sabar selama Alfon membaca sepuluh lembar kontrak yang dibawanya tadi. Namun, ia juga lekat memperhatikan ekspresi Alfon, berikut setiap perubahannya. Ekspresi santainya perlahan berubah seiring ia membalik lembar demi lembar. Kerutan yang muncul di keningnya semakin dalam mendekati lembar terakhir.
Tiba di akhir halaman, pria itu meletakkan kontrak di meja dan menatap Elsa bingung.
“Apa maksudmu dengan … permainan?”
Elsa mengedik kecil. “Well, you’re a player. Pasti kamu udah terbiasa ngelakuin permainan, kan? Ini toh bukan permainan yang sulit. Kamu cuma harus jadi suami yang sempurna di depan semua orang. Aku pun akan ngelakuin hal yang sama.”
“Kamu bilang, kamu bisa jadi istri yang sempurna, di depan ataupun di belakang orang-orang,” singgung Alfon.
“Ya. Kecuali untuk dua hal,” balas Elsa.
Alfon mengerutkan kening, bertanya tanpa kata.
Elsa mengedik ke arah berkas di meja. “No love, no sex.”
Alfon terdiam.
Elsa berpikir cepat sebelum pria itu menolak. “Well, aku bisa lakuin yang kedua dengan syarat kamu nggak sembarangan nidurin jalangmu di luar sana. Deal?”
Alfon tak menjawab. Ia menatap berkas kontrak yang dibuat Elsa lekat, lalu menatap Elsa.
“Apa sebenarnya yang kamu perluin dalam pernikahan kita?”
Elsa menunjuk Alfon. “A perfect husband. At least, di depan orang-orang. Masalahnya, papaku milih kamu. Jadi, anggap aja kamu menuhin kriteria perfect itu.”
“Karena itu, kamu juga minta kebebasan buat ngatur perusahaanmu sendiri?” tanya Alfon.
Elsa mengangguk. “Kemarin kamu cuma nyebutin satu syarat. Ciuman itu. Jangan khawatir. I won’t let you down.”
Tatapan Alfon turun ke bibir Elsa., lalu pria itu menghela napas. Mengejutkan Elsa, pria itu tiba-tiba berdiri. Elsa pikir, pria itu akan pergi dan Elsa ikut berdiri. Namun, pria itu hanya memutari meja untuk berdiri di sebelah Elsa.
“No love, right?” Alfon memastikan.
Elsa mengangguk mantap. Lalu, ia merasakan Alfon meraup pinggangnya dan menariknya mendekat. Menyusul kemudian, bibir pria itu mendarat di bibir Elsa, menciumnya dalam. Tanpa aba-aba.
Elsa berpegangan di lengan Alfon, hendak membalas ciuman pria itu, tapi Alfon menarik diri dengan tiba-tiba. Lagi-lagi Elsa dibuat terkejut.
“Deal,” ucap Alfon seraya melepaskan Elsa.
Lalu, dengan tenang, pria itu melangkah ke tempat duduknya dan kembali duduk. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah barusan ia tidak tiba-tiba mencium Elsa di depan semua pengunjung restoran. Elsa beruntung tak ada yang menyoraki ataupun melempar gelas agar mereka berhenti.
“Jadi, kapan kita akan menikah?” tanya Alfon.
Elsa tersadar dan kembali fokus pada pria itu. Ia kembali duduk, berdehem. “Secepatnya. Setelah pesta pertunangan kita, mungkin sebulan …”
“Seminggu,” putus Alfon.
Elsa mengangguk, tak sedikit pun keberatan dengan itu. Toh, ia yang membutuhkan ini. Namun, ia penasaran alasan Alfon akhirnya menyetujui perjodohan mereka.
“Boleh aku tahu, kenapa akhirnya kamu setuju buat nikah sama aku?” tanya Elsa hati-hati.
“Kamu udah tahu jawabannya,” jawab Alfon.
Elsa mendengus pelan. “Nggak mungkin cuma karena ciuman, kan?”
Alfon mengangguk. “Ya, karena ciuman itu. Aku agak sedikit terlalu penasaran sama ciuman kita waktu itu. Rasanya beda. Aku cuma penasaran, itu aja.”
Penasaran. Itu saja. Tentu saja. Apa yang Elsa harapkan dari playboy b******n ini? Elsa hanya tersenyum sinis menanggapinya.
***
“Apa maksudmu dengan no love?” tuntut Aira ketika menginterogasi Alfon larut malam itu di rumahnya. Tentu saja, dengan yang lain. Dengan alasan makan malam bersama, yang itu hanya alasan. Bahkan orang i***t seperti Alfon pun tahu.
Meski begitu, sementara Alfon bercerita tadi, mereka memang benar-benar makan sambil mendengarkannya.
“Ya, itu aturan dia. No love.” Alfon mengedik pasrah.
“Trus, kamu nggak protes gitu?”
Alfon menggeleng. “Buat apa? Aku dari awal juga udah tahu, Elsa sama sekali nggak tertarik sama aku. Dia benci sama aku. Keajaiban macam apa yang bisa bikin dia jatuh cinta sama aku? It’s nonsense, Ai.”
“Jadi, kamu nyetujuin aja gitu?” Aira membelalakkan mata dengan garpu teracung.
Alfon sedikit memundurkan tubuh di sofa ruang tamunya. “Ya. Aku pun nggak berharap itu dari dia. Aku tahu itu impossible. Lagian, aku udah ngerasa cukup dengan nikah sama dia.”
“Cukup?” Suara Aira meninggi.
Alfon mengangguk. Ia lalu memperhatikan bagaimana teman-temannya menghentikan makan malam mereka dan saling bertukar tatap dengan pasangannya.
“Jangan samain aku sama Elsa sama kalian. Kalian kan, saling jatuh cinta. Sementara, aku sama Elsa … well, mungkin Elsa benar, ini cuma permainan. Juga, karena aku penasaran.”
“Penasaran apa?” tanya Aira tak mengerti.
“Tentang ciumanku sama dia.” Alfon mengedik santai. “Sejujurnya, aku nggak bisa berhenti mikirin tentang itu setelah kejadian di pesta pernikahan Ken sama Arisa waktu itu. Jadi, mungkin beberapa kali lagi ciuman sama Elsa bakal ngasih aku jawaban buat rasa penasaranku. That’s it.”
Aira mengerang dan menggerutu pelan. Alfon samar mendengar kalimat, “Dasar i***t bucin level dewa yang nggak peka.”
Itu bukan untuk Alfon, kan? Entah kenapa, itu terdengar mengerikan.
“Kalau menurutku sih, jalanin aja dulu,” ucap Arisa.
Yura dan yang lain tampak mengangguk setuju.
“Trus, gimana sama rencana Aira itu?” singgung Yura.
“Rencana apa?” tanya Alfon.
“Rencana buat bikin Elsa jatuh cinta sama kamu,” sebut Rey.
Alfon mendengus. “That will never happen.”
“Mau taruhan?” tantang Aira.
Alfon mengedik santai. “Siapa takut?”
“Yang kalah, ngabulin satu permintaan buat yang menang. Apa pun itu.” Aira tersenyum licik.
Alfon mendengus, lalu mengangguk. “Deal.”
“i***t satu itu nggak pernah belajar dari pengalaman,” celetuk Rey.
Alfon mendesis kesal membalas Rey.
***
Elsa menatap berkas yang tadi langsung ditandatangani Alfon, tanpa revisi, bahkan tanpa didampingi pengacaranya. Mau tak mau, Elsa penasaran juga. Apa yang keluarga Alfon inginkan dari Elsa? Kenapa mereka setuju dengan perjodohan ini?
Mungkin sebaiknya Elsa bertanya pada Alfon. Namun, ketika Elsa hendak menghubungi Alfon, mencari nomor pria itu di daftar kontaknya, Elsa menyadari satu hal. Ia tak punya nomor Alfon.
Oh, i***t.
Elsa sudah akan meminta nomor Alfon pada Pak Indra, tapi menahan diri. Tidak. Sekretarisnya itu tidak boleh tahu. Tidak punya nomor calon suamimu bukan hal yang patut diumumkan, Nona. Terlebih pada mata-mata musuhmu.
Daripada Pak Indra, sekretaris Alfon sepertinya tampak lebih bisa dipercaya. Elsa memutuskan untuk menghubungi pria itu.
Pada dering kedua, teleponnya diangkat.
“Selamat malam, Bu Elsa, ada yang bisa saya bantu?” tanya sekretaris Alfon itu. Juan, namanya, jika Elsa tidak salah ingat.
“Aku … ehm … tolong kirimkan nomor kontak Pak Alfon pada saya. Terima kasih.”
Elsa lalu memutuskan telepon. Ia menunggu, tak sampai semenit, ada pesan masuk berisi kontak Alfon.
Elsa sudah akan menghubungi nomor itu, tapi ia kemudian ragu. Apa sebaiknya besok ia bertanya langsung?
Ya, sepertinya begitu lebih baik. Toh, besok ia juga harus memberikan salinan berkas kontrak mereka. Elsa mengangguk mantap. Namun, tatapannya masih tertuju pada nomor Alfon. Nomor ini … entah kenapa terasa tidak asing. Elsa berusaha mengingat-ingat, tapi ia tak mendapatkan apa-apa.
Malam itu, Elsa naik ke tempat tidurnya sambil memandangi nomor itu. Hingga akhirnya, ia tertidur dengan memeluk ponselnya, berusaha mengenali nomor Alfon.
***