Ketika Alfon turun dari lift di lantai ruang kantornya, Juan sudah menunggu dengan senyum lebar. Bahkan ketika mereka berjalan menuju ruangan Alfon, Juan menyenggol Alfon begitu keras dengan bahunya hingga Alfon terhuyung. Alfon mendesis kesal pada Juan yang malah nyengir.
“Cuma mau tanya, gimana malam pertama Pak Alfon?”
Alih-alih menjawab, Alfon malah mengancam, “Ini untuk kesekian ribu kalinya aku mikir, kayaknya mending aku mecat kamu, deh.”
Juan menggerakkan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri, menunjukkan ketidaksetujuan. “Kalau Bapak mecat saya, sekretaris baru Bapak pasti akan ngedukung Pak Albert. Penawaran Pak Albert sulit ditolak, Pak. Apalagi gaji yang ditawarin Pak Albert. Empat kali lipat dari yang dikasih Bapak.”
Alfon mengumpat kesal. Papanya benar-benar keterlaluan. Itu juga alasan Alfon tak bisa memecat Juan. Sekretaris kurang ajar itu tidak pernah tergoda dengan tawaran gila papa Alfon.
“Jadi, gimana? Kenapa Bu Elsa minta cuti dua hari buat Pak Alfon? Kalian ngapain aja di kamar, hayo?” Juan hendak menyenggol Alfon lagi, tapi kali ini Alfon menghindar, membuat Juan menabrak tembok.
Alfon tersenyum puas sementara Juan mengomel kesal.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Alfon begitu mereka masuk ke ruangannya.
Meski masih tampak kesal, Juan bersikap profesional dan menyebutkan jadwal Alfon.
“Oh iya, akhir pekan ini, jadwal Pak Alfon pergi ke puncak,” beritahu Juan.
Alfon mengangguk.
“Bu Elsa … apa nanti ikut, Pak?” tanya Juan hati-hati.
Alfon berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Belum saatnya,” ia berkata. “Tapi, kamu tahu jadwal Elsa hari ini?”
Juan mengangguk mantap. “Hari ini, Bu Elsa nggak ada janji temu makan siang, Pak. Saya juga udah pesan tempat di restoran favorit Bu Elsa.”
“Good job,” puji Alfon.
“Tapi, omong-omong, Pak, Bu Elsa nggak nolak Pak Alfon di tempat tidur, kan?”
Juan langsung kabur setelah menanyakan itu, membuat Alfon gagal melempar tumpukan berkas di mejanya ke kepala sekretaris kurang ajar itu.
***
Elsa menghela napas lelah sembari bersandar di kursi kerjanya. Ia memutar tubuh dan menatap langit.
Pernikahannya dengan Alfon memang membantunya di perusahaan. Di rapat sebelumnya, Elsa diserang habis-habisan oleh dewan direksi karena masalah pembangunan resort terbaru mereka, membuat Elsa nyaris terkena serangan panik di depan banyak orang. Namun, hari ini tak ada yang menyerangnya. Mereka hanya meminta Elsa segera membereskan masalah itu.
Tentu saja, Elsa akan membereskan itu. Ia akan mencari tahu siapa dalang di balik kesalahpahaman yang membuat Elsa harus menikah dengan Alfon.
Elsa memutar kursinya kembali ke depan meja ketika mendengar suara ketukan Pak Indra di pintu ruangannya. Elsa sudah hapal ketukan pintu sekretaris yang dikirim papanya itu. Ketika Pak Indra masuk, ia tidak sendirian. Elsa langsung berdiri ketika melihat Alfon memasuki ruangannya. Sementara, Pak Indra sudah keluar lagi.
“What about lunch?” tawar pria itu tanpa basa-basi.
Elsa tak langsung menjawab. Ia menatap wajah Alfon lekat selama beberapa saat. Papanya benar. Elsa harus berterima kasih pada Alfon karena mau menikah dengannya. Masa bodoh meski pria itu melakukannya karena kasihan.
“Aku yang pilih tempatnya, boleh?” tanya Elsa.
“Juan udah mesan tempat di restoran favoritmu,” jawab Alfon.
Elsa mengerjap kaget. “Kamu mata-matain aku?”
“Aku nyari informasi penting buat kamu, demi peranku sebagai suami yang sempurna,” terang Alfon. “Lagian, kalau aku tanya kamu langsung, kamu nggak akan mau jawab, kan?”
Elsa tak mengelak. “Apa kamu tahu apa makanan favoritku?”
Ganti Alfon yang tak menjawab. Elsa mendengus pelan.
“Kalau kita nggak ada meeting penting pas makan siang, pastiin aja kita makan bareng. Nanti kamu juga hafal sendiri makanan kesukaanku,” usul Elsa.
Alfon mengangguk setuju. “Kita pergi sekarang?”
Giliran Elsa yang mengangguk. Ia mengambil ponsel dan tasnya sebelum menghampiri Alfon. Mengejutkannya, Alfon tiba-tiba menggandeng tangan Elsa. Meski begitu, Elsa tak bisa protes. Toh pria itu hanya menjalankan permainannya. Benar. Ini hanya permainan. Elsa yang menuliskannya sendiri di kontrak mereka.
Di lobby mereka bertemu beberapa direktur yang baru akan pergi usai rapat tadi. Alfon berhenti dan menyapa mereka dengan sopan. Mereka bahkan sempat mengobrol singkat tentang gym, sauna dan beberapa fasilitas di X-Point.
“Fasilitas X-point sangat memuaskan, Pak Alfon. Istri saya sangat senang waktu saya belikan satu unit apartemen di X-Point,” ucap Januar, Direktur Keamanan perusahaannya.
“Tentu saja. Itu hasil kerja keras istri saya,” ucap Alfon bangga.
Elsa menoleh kaget, tak menyangka Alfon akan menyebutkan hal seperti itu.
“Tolong bantu istri saya di sini, Pak. Saya akan mastiin istri Pak Januar dapat fasilitas terbaik di X-Point.” Alfon mengulurkan tangan.
Januar langsung menyambut uluran tangan Alfon dengan antusias. “Tentu saja, Pak Alfon. Kami semua selalu mendukung Bu Elsa.” Januar dan direktur lainnya menatap Elsa dan tersenyum ramah.
Alfon lalu berpamitan pergi, masih dengan menggandeng tangan Elsa. Bahkan, Alfon kemudian dengan berani merangkul Elsa. Meski begitu, Elsa tak protes. Ia menoleh menatap Alfon, menyadari bahwa apa yang dikatakan papanya adalah kebenaran. Elsa harus berterima kasih pada Alfon karena mau menikah dengannya.
***
Sore itu sepulang kerja, Alfon memutuskan memasak untuk makan malam. Saat ini, Elsa pasti masih dalam perjalanan pulang dari kantornya. Alfon belum tahu semua makanan kesukaan Elsa, tapi ia tahu satu hal, Elsa suka steak. Siang tadi, Elsa mengatakan itu, tapi ia tidak memesan steak karena ingin makan nasi, jadi ia memesan nasi blackpapper beef.
Setelah makan siang tadi, Alfon menyuruh Juan belanja. Terkadang, anak itu berguna juga. Alfon masih mengenakan kemeja kerjanya ketika mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak dan mengeceknya. Sudah lengkap. Alfon menggulung lengan kemeja, mencuci tangan, lalu mulai mencuci sayuran.
Alfon mengecek jam berkali-kali karena Elsa tak kunjung pulang meski hari mulai gelap. Bahkan setelah Alfon selesai memasak, Elsa belum juga tiba. Alfon mengambil ponsel, menimbang-nimbang, apa sebaiknya ia menelepon Elsa?
Alfon menghela napas dan pergi ke ruang tamu. Ia duduk di sofa dan menatap ponselnya lekat. Ia mencari nomor Elsa. Selama beberapa saat, ia hanya menatap layar ponselnya, ke arah nomor yang akhirnya ia minta sendiri dari Juan setelah ia begadang semalaman menunggu telepon wanita itu.
Di tengah keraguannya, ia mendengar suara pintu terbuka. Alfon mendongak dan dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Elsa yang baru masuk, tampak lelah. Alfon segera berdiri dan menghampiri Elsa.
“Kenapa baru pulang? Lembur?” tanya Alfon.
Elsa mengangguk muram. Wanita itu berjalan melewati Alfon, tapi Alfon menahan tangan Elsa, lalu menarik wanita itu dalam peluknya.
“Al?” Elsa terdengar bingung.
“Aku kangen kamu,” aku Alfon. “Lain kali, kalau kamu lembur, tolong kabarin aku.”
Alfon perlahan melepas pelukan. Dilihatnya ekspresi terkejut Elsa.
“Aku udah masak buat makan malam. Steak.”
Mata Elsa membulat. “Serius?”
Alfon tersenyum dan mengangguk. Ia menggandeng tangan Elsa, mengajaknya ke meja makan, tapi Elsa bergeming di tempat. Alfon kembali menatap wanita itu dengan heran.
“Kenapa? Kamu nggak suka? Mau aku pesenin makanan di restoran?” tawar Alfon sabar.
Elsa menggeleng. Namun, tiba-tiba wanita itu memeluk Alfon. Seketika, Alfon mematung.
“Makasih,” ucap Elsa.
Alfon semakin bingung. Ia ingin balas memeluk Elsa, tapi ia masih bingung dan penasaran juga kenapa Elsa memeluknya.
“Makasih karena udah bersedia nikah sama aku. Dan makasih udah nepatin janjimu buat ada di pihakku,” sambung Elsa.
Alfon tersenyum, akhirnya membalas pelukan Elsa. Dikecupnya puncak kepala Elsa.
“Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di pihakmu. Dan aku akan selalu ada buat kamu,” ucap Alfon tulus.
Elsa melepas pelukannya dan mendongak menatap Alfon. “Kenapa?”
Alfon tersenyum dan menangkup wajah Elsa. “Karena aku cinta sama kamu, El.”
Elsa tampak terkejut. Tentu saja, wanita itu terkejut. Alfon mengalah dan menarik tangannya dari wajah Elsa. Namun, lagi-lagi Elsa mengejutkannya dengan menangkup wajah Alfon.
Sebelum Alfon sempat bertanya, wanita itu sudah berjinjit dan mencium bibir Alfon. Menanggapi itu, Alfon menahan pinggang Elsa dan memperdalam ciumannya.
Setelah sepuluh tahun, akhirnya Alfon menyadari perasaannya. Bahwa ia jatuh cinta pada Elsa. Dan setelah sepuluh tahun, akhirnya, usaha bodohnya tidak sia-sia. Karena saat ini, Elsa ada di pelukannya, menciumnya dengan manis, sebagai istrinya.
***