-16- A Crazy Dream

1431 Words
Alfon mengakhiri ciumannya dan terengah kehabisan napas. Elsa pun begitu. Ketika Alfon hendak mencium Elsa lagi, wanita itu tiba-tiba menahannya, lalu menamparnya. Alfon terkejut. Tak hanya sekali, Elsa kembali menampar Alfon. “Alfon, bangun!” Suara itu menyentak Alfon. Alfon gelagapan menatap sekeliling. Ia berada di sofa ruang tamu dan Elsa duduk di sebelahnya. Mimpi. Mimpi s****n! Lagi! “Kamu ngapain tidur di sini?” tanya Elsa heran. Alfon berdehem. “Kamu baru pulang?” Elsa mengangguk. “Aku harus ketemu klien mendadak sore ini tadi.” “Oh.” Alfon mengangguk-angguk. Ia lalu teringat masakannya dan berdiri. “Aku masak makan malam. Steak.” Elsa terbelalak kaget. “Serius?” Ganti Alfon yang terkejut. Reaksinya persis seperti di mimpinya. Alfon dalam hati tak bisa mencegah dirinya berharap. Alfon meraih tangan Elsa dan menarik wanita itu berdiri. “Aku masak itu karena katamu itu makanan kesukaanmu,” ungkap Alfon. Namun, Elsa kemudian tampak canggung. “Aku … Alfon, sori, tapi aku udah makan malam.” BYUR! Seketika Alfon seolah disiram air dingin. Detik itu juga, ia benar-benar sadar, ini kenyataan, bukan mimpi. “Aku tadi meeting di luar sama klienku, jadi kami sekalian makan malam,” jelas Elsa. “Oh. Oke.” Alfon memaksakan senyum. Ia yang bodoh. Seharusnya ia tak berharap. Ketika ia setuju untuk masuk dalam pernikahan ini, Elsa menyuruhnya menjalankan permainan peran sebagai suami yang sempurna. Itu pun hanya di depan orang lain. No love. Dulu, Alfon pikir itu cukup. Seharusnya, itu cukup. Alfon tak membutuhkan apa pun selama Elsa ada di sampingnya. Namun, saat ini, meski Elsa ada di hadapannya, wanita itu terasa begitu jauh. *** Elsa mengernyit menatap punggung Alfon yang menjauh. Entah kenapa ia merasa punggung itu tampak begitu sedih. Apa ia tadi mendengar kata-kata Elsa? Kata-kata yang tak sanggup ia ucapkan ketika Alfon membuka mata. “Makasih karena udah bersedia nikah sama aku. Dan makasih udah nepatin janjimu buat ada di pihakku.” Elsa menggeleng dan pergi ke kamar untuk mandi. Namun, di dalam kamar, Elsa yang sudah masuk ke kamar mandi, keluar lagi. Tanpa mengganti baju lebih dulu, Elsa keluar kamar dan pergi mencari Alfon. Pria itu tampak melamun di meja makan. Tampak dua piring steak tersaji di hadapannya. Ketika Alfon menghela napas berat, Elsa tanpa sadar ikut menghela napas. Elsa lantas mengambil tempat di kursi seberang Alfon. Pria itu mendongak kaget. “Itu buat aku, kan?” tanya Elsa seraya mengedik ke arah piring steak di depan Alfon. Alfon, masih tampak terkejut, mengangguk. Elsa menarik piring itu mendekat. Mengambil garpu dan pisau yang masih ada di depan Alfon. “Biar aku coba masakanmu. Meski sejujurnya, aku ragu kamu bisa masak beneran.” Elsa sudah akan mengiris steak-nya, tapi Alfon tiba-tiba menarik piringnya. Elsa shock. Ia menatap Alfon. “Kamu berubah pikiran?” “Bukan gitu. Ini udah dingin. Biar aku panasin dulu,” ucap Alfon cepat. Namun, ketika Alfon hendak berdiri, Elsa menahan tangannya. “It’s okay. Ayo makan aja. Kamu juga pasti udah lapar. Kalau harus nunggu lagi, aku mungkin berubah pikiran.” Alfon kembali duduk dan mengangguk, mendorong kembali piring yang diambilnya ke depan Elsa. Sejujurnya, Elsa sudah sangat kenyang. Namun, mengingat usaha Alfon, Elsa memutuskan untuk duduk di sini. Toh, ia juga berutang terima kasih pada pria itu. *** Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu pun Alfon berbaring miring menghadap Elsa untuk menatap wajah tidur istrinya itu. Elsa bergerak pelan lalu mengganti posisi tidurnya dan berbaring miring menghadap Alfon. Alfon tak dapat menahan senyum melihat wajah Elsa. Hingga mata Elsa perlahan terbuka. Elsa masih tampak mengantuk. Ia mengerjapkan matanya, lalu mengernyit menatap Alfon. “Kamu nggak tidur?” tanya wanita itu. “Ini mau tidur,” jawab Alfon. Elsa mengangguk, lalu memejamkan matanya lagi. Entah kenapa, hanya karena pertanyaan pendek tidak penting itu d**a Alfon seolah mengembang. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum bahagia. Tak pernah terbayangkan dalam benak Alfon sebelumnya, ia akan berada di situasi seperti ini dengan Elsa. Tatapan Alfon kemudian jatuh pada anak rambut Elsa yang jatuh ke wajahnya. Alfon mengulurkan tangan, menyingkirkan anak rambut itu. Hingga tiba-tiba, Elsa tersentak dalam tidurnya, tangannya menggapai udara kosong. Alfon mengulurkan tangan dan membiarkan Elsa menggenggam tangan kirinya. Wanita itu kembali tenang dalam tidurnya. Apa Elsa bermimpi buruk? Selain malam pertama mereka, semalam pun, Elsa seperti ini. Apa yang terjadi di mimpi wanita itu sebenarnya? Tak ingin esok pagi Elsa terbangun dengan mengamuk lagi, sama seperti semalam, Alfon perlahan menarik tangannya dari pegangan Elsa. Namun, Elsa tampak panik dalam tidurnya dan menahan tangan Alfon. Kali ini, kedua tangan Elsa menggenggam tangannya. Di tengah kebingungannya, Elsa menarik tangan Alfon mendekat, memeluk tangannya. Alfon menahan napas. Ia perlahan mencondongkan tubuh ke arah Elsa, menyangga tubuh dengan siku kanannya, lalu menarik tangannya dengan hati-hati. Namun, Elsa malah semakin menarik tangan Alfon, membuat Alfon nyaris jatuh menimpa wanita itu jika ia tidak sigap. Saat ini, Alfon berada tepat di atas Elsa yang masih berbaring miring memeluk tangan kirinya. Wajah mereka begitu dekat, Alfon nyaris mencium pipi Elsa. Alfon menurunkan pandangannya, tapi ia kini bisa melihat leher jenjang Elsa. Jantungnya mulai berpacu semakin cepat. “Elsa,” panggil Alfon pelan. Elsa mengernyit menanggapi panggilannya. “Elsa, please …” Alfon memohon. Akhirnya, Elsa membuka matanya, mengerjap bingung. Wanita itu perlahan menoleh ke arah Alfon, lalu terbelalak kaget. “Kamu megang tanganku,” Alfon buru-buru menjelaskan. Elsa menunduk dan tersadar. Seketika ia melepaskan tangan Alfon. Namun, Alfon seolah terkunci oleh tatapan Elsa. Ia tak bisa bergerak. “Aku udah ngelepasin tanganmu,” Elsa berujar. Tatapan Alfon turun ke bibir Elsa. “Aku menang satu permintaan, kan?” ia memastikan. Elsa tak menjawab. Alfon kembali menatap mata Elsa yang menatapnya ngeri. “A-aku lagi dapat tamu bulanan.” Alfon mengerutkan kening, mencerna kata-kata Elsa. Apa hubungannya … “We can’t have s*x now.” Alfon seolah merasa perutnya ditinju, sebelum tubuhnya terasa panas membayangkan kata-kata Elsa. “I mean a kiss. That’s what I ask for.” Suara Alfon terdengar begitu berat. “Aku … sori, aku yang salah paham. Tapi, kenapa kamu perlu minta izin buat ciuman? Kamu berhak atas itu,” ucap Elsa. Ya, tentu saja. Sayangnya, Alfon jatuh cinta pada Elsa dan ia menghargai Elsa. Namun saat ini, bukan hanya ciuman yang diinginkan Alfon. Berkat Elsa. “Lupain aja,” tukas Alfon seraya menarik diri dan berguling ke sisi tempat tidur. Ia lantas berdiri dan pergi ke ruang ganti, menyambar jaket dan keluar dari kamarnya. Alfon perlu berolahraga dan menghabiskan tenaganya untuk hal lain. *** Setelah Alfon pergi begitu saja semalam, Elsa mencoba untuk tidur lagi. Namun, ia tak bisa tidur karena terus memikirkan pria itu. Sekitar jam empat dini hari, Elsa baru tertidur karena sangat mengantuk. Ketika ia bangun paginya, tempat tidur di sebelahnya masih kosong. Alfon benar-benar tak pulang. Elsa mendengus kasar. Seharusnya Elsa sudah bisa menebak. Pria itu pasti sudah mendatangi jalangnya di luar sana. Masa bodoh. Elsa bergegas turun dari tempat tidur dan ke kamar mandi. Di bawah guyuran shower, Elsa menyingkirkan semua pikiran tentang Alfon. Ia harus menyiapkan diri untuk mengurus resort-nya akhir minggu ini. Usai mandi dan berganti pakaian, Elsa keluar kamar dengan tas dan blazer kerjanya. Ia sudah akan pergi ke dapur untuk membuat toast ketika melihat sosok Alfon di sofa ruang tamu. Elsa mengurungkan niat ke dapur dan menghampiri Alfon. Elsa mengernyit melihat penampilan berantakan Alfon. Pria itu hanya mengenakan kaus yang semalam dikenakannya dan rambutnya tampak sangat berantakan. Sementara jaketnya tersampir asal di sandaran sofa. Elsa mendengus kasar. Ia menendang sofa untuk membangunkan Alfon. Ketika pria itu tak juga bergerak, Elsa menendang sofanya lebih keras. Kali ini Alfon bergerak. Pria itu berguling dari sofa dan … terjatuh ke atas karpet ruang tamu. Elsa melangkah mundur ketika Alfon mengerang kesakitan. Pria itu perlahan naik lagi ke sofa dan sudah akan berbaring lagi. Elsa refleks memanggilnya. “Alfon!” Alfon berbalik, akhirnya menatap Elsa. Pria itu mengucek matanya, sebelum akhirnya menyadari kehadiran Elsa. Alfon menurunkan kakinya, tapi tubuhnya limbung dan ia kembali jatuh ke karpet. Detik berikutnya, pria itu berdiri dan langsung menghampiri Elsa. Refleks Elsa mundur. “Jangan dekat-dekat,” Elsa memberi peringatan tajam. Alfon seketika berhenti. “Don’t touch me with your dirty hand, okay? Clean up yourself. You smell so bad,” desis Elsa. “What?” Alfon terdengar tersinggung. Elsa melipat lengan di d**a, menatap Alfon dari atas ke bawah. “Kalau kamu habis main panas sama jalangmu, lain kali langsung bersihin badanmu sebelum muncul di depanku. You disgust me.” Alfon ternganga tak percaya mendengar kata-kata Elsa barusan. Masa bodoh. Elsa akhirnya memutuskan untuk langsung berangkat kerja saja tanpa sarapan. Ia sudah kehilangan selera makan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD