Ch.1 — Masa SMP
1 Januari 2001, SMP CITRA
Di sinilah aku, berdiri diantara kerumunan orang yang mengelilingiku sambil bersorak kepadaku setelah menyaksikan perkelahianku dengan siswa sekolah tetangga yang kabarnya merupakan jagoan di sekolahnya. Tapi ternyata, aku mampu mengalahkannya dengan telak, walaupun pipiku terasa ngilu karena terkena pukulannya, tapi itu tidak penting, yang penting aku telah mengalahkannya. "Hahaha." Aku tertawa ditengah-tengah kerumunan itu.
***
Namaku Topa Mahendra, saat ini umurku 16 tahun dan aku adalah siswa di sekolah yang cukup ternama di kotaku, SMP CITRA.
Saat ini, aku baru saja naik ke kelas 3 SMP. Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, setiap naik kelas, pasti penghuni kelasnya di acak, jadi setiap tahun aku harus bertemu dengan orang-orang baru dan itu sangat menyebalkan bagiku. Bayangkan saja, bagaimana bisa seseorang memiliki teman dekat jika hanya bersama selama 1 tahun?
Berkenalan dengan orang baru bukan hal yang sulit, juga bukan hal yang mudah, terutama untukku. Aku tidak suka berkenalan dengan orang secara sengaja. Maksudku, lebih baik berteman karena terlibat suatu masalah, seperti berteman karena berkelahi, berteman dengan lawan tawuran, bukankah itu lebih seru? Yah, kalau pun tidak seperti itu, paling tidak seorang teman itu harus tetap sekelas, 'kan?
*****
Harusnya pagi ini aku datang ke sekolah untuk melihat-lihat kelas baruku dan memilih tempat duduk, tapi untuk apa membuang waktuku untuk hal seperti itu? Bukankah lebih baik datang siang saja? Kalau pun semua orang sudah memilih tempat duduk, toh masih ada satu kursi kosong bagianku, jadi untuk apa aku repot-repot datang pagi.
Selain itu, aku juga punya hal lain yang lebih penting dari sekedar memilih tempat duduk. Pagi ini, aku berencana pergi ke sekolah tetangga yang ada di seberang jalan untuk membuat pelajaran pada anak-anak di sana. Kalau tidak salah namanya Bima, dia ketua anak motor dari sekolah tetangga.
Kemarin sore, saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku di warung pinggir jalan tempat biasa kami nongkrong, tiba-tiba saja mereka, anak motor itu lewat dengan suara berisik knalpotnya. Sudah tahu knalpotnya berisik, eh malah dia geber-geber di depan kami. Dia buta apa bagaimana? Sudah jelas lewat di depan orang tapi tidak ada sopan-sopannya.
Jadi, pagi ini aku dan kedua temanku memutuskan untuk pergi ke sana dan mencari anak bernama Bima itu untuk memberinya pelajaran. Sekitar jam 8 pagi, kami bertiga mendatangi sekolah itu. Oh iya, kedua temanku, Irvan dan Reza. Bisa dikatakan mereka teman dekatku.
Irvan, kami sekelas saat kelas 1. Dia anaknya songong dan sok jagoan. Jadi waktu itu, saat aku sedang tidur siang di kelas, menelungkupkan kepala pada tanganku di atas meja, tiba-tiba saja dia datang lalu menggebrak mejaku dengan keras sampai aku terkejut setengah mati.
"Mau lu apa, gobl*k?" ucapku dengan nada tinggi penuh emosi.
"Ini kelas tol*l, bukan rumah! Kalo lu mau tidur mending balik ke rumah aja."
"Lah, terus masalah lu apa, Anj*ng?"
Aku berdiri dan langsung memukul hidungnya, dan kami pun terlibat perkelahian sampai darah dari hidung mengotori baju kami berdua. Anak kelas 1 SMP berkelahi sampai berdarah-darah, seperti petinju saja.
Akhirnya, kami diberi hukuman oleh guru untuk berlari mengelilingi lapangan olahraga sepuluh kali, itu hukuman apa siksaan? Gila banget guru yang ngasih hukuman itu.
Dan kami berdua pun sepakat untuk kabur dari sekolah dan tidak menjalankan hukuman kami. "Hahaha..." Oh iya, aku lupa memberi tahu siapa pemenang dari perkelahian kami, tentu saja aku.
Dan sejak saat itu, Irvan menjadi temanku.
Lalu Reza, kami sekelas saat kelas 2, dia berbeda dengan Irvan, dia tidak songong tapi dia sok ngatur.
Jadi waktu itu aku baru saja datang, kebetulan hari itu jadwal piketku, kan sudah memang seharusnya yang jadwal piket hari itu harus datang pagi, tapi aku malah datang siang. Bukan disengaja, aku bangun kesiangan hari itu karena habis begadang nonton bola.
"Top, bukannya elu jadwal piket hari ini, ya?"
"Iya, sorry gue kesiangan."
"Terus piket lu gimana?"
"Ya enggak gimana-gimana. Yaudahlah, toh udah bersih ini. Ngapain dipermasalahin lagi?"
"Ya enggak bisa gitu, dong. Elu kan juga harus tanggung jawab sama kewajiban elu. Kalo kaya gini, enak banget di elunya dong." Nada bicaranya mulai naik.
"Lah, terus gue harus gimana, Njir?"
"Bentar, gue tanyain sama Bu Sri dulu." Bu Sri adalah wali kelasku saat kelas 2.
Reza berjalan keluar ruangan kelas dan akan pergi ke kantor untuk memberitahukan masalah ini ke wali kelas. "Hah... menyusahkan sekali."
Saat dia berada diantara pintu masuk, aku langsung menarik baju belakangnya dan membenturkan tubuhnya ke tembok. Aku mencengkram erat kerahnya. "Elu ribet banget sih, Anj*ng! Timbang masalah piket doang lu laporin sama wali kelas. Lu mau gue hajar?"
Dia hanya menatapku datar, tidak ada ketakutan di matanya dan saat itu juga harga diriku terasa dipertaruhkan, emosiku naik dan tanpa basa-basi langsung kupukul wajahnya beberapa kali. Dia tidak diam saja, dia juga memukulku beberapa kali, tapi pukulannya tidak terasa sama sekali.
Akhirnya dia pun kalah dariku.
Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Kami berdua masuk BP dan diceramahi selama berjam-jam. Reza sebenarnya bukan anak nakal sepertiku, tapi karena dia terlibat perkelahian denganku, citranya sebagai anak baik mulai luntur. Dan sepulang sekolah, aku mengajaknya untuk nongkrong dan merokok bersama dan akhirnya kami berteman.
Lalu apakah Reza sekarang masih dicap sebagai anak baik? Tentu saja tidak. "Hahaha." Dia sekarang menjadi anak nakal yang sering bolos sekolah, tapi aku lebih menyukai sifatnya sekarang, yang lebih barbar dan membangkang.
Singkat cerita, kami sudah selesai dengan urusan kami. Kami bertiga akhirnya datang ke sekolah, SMP CITRA, sekitar jam 10 pagi. Karena saat itu kondisi sekolah masih bebas jadi gerbang sekolah tidak ditutup dan kami pun merasa diuntungkan sebagai anak nakal karena bisa keluar masuk dengan bebas.
Kami bertiga berbeda kelas. Aku di kelas 3-A, Irvan 3-B, dan Reza 3-C. Akhirnya kami terpisah dan mereka kembali ke kelasnya masing-masing
Aku berjalan santai di koridor kelas sambil memandangi dalam kelas lewat jendela, terlihat di dalam kelas orang-orang sudah duduk di kursinya masing-masing.
Saat aku memasuki kelas, aku menatap sekeliling ruangan beserta orang-orang yang ada di sana yang juga langsung melihat ke arahku. "Sialan." Aku mengumpat dalam hati saat tidak melihat satu pun temanku saat di kelas 2. Semuanya terlihat asing, hanya beberapa saja yang aku kenal, itu pun hanya perempuan.
Setelah itu, pandanganku tertuju pada sebuah kursi kosong di baris pertama dari kiri, kursi paling belakang, tepatnya di pojok ruangan, aku berjalan ke sana, menarik kursinya lalu duduk. Aku menyandarkan tubuh sambil menatap langit-langit kelas lalu menghela nafas kasar. Sangat menyebalkan berada disini, diantara orang-orang asing yang belum kukenal.
Beberapa menit kemudian saat aku mulai mengantuk, seorang perempuan dengan pakaian rapi bersih berjalan mendekatiku lalu menatapku dengan tatapan menyebalkan. Terlihat nama di baju sebelah kanannya tertulis RANIA.
Aku menatapnya balik. "Ngapain lu liatin gua?" tanyaku.
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menggebrak meja di depanku cukup keras yang membuat aku terperanjat kaget dan dengan spontan mengumpat. "Anj*r!"
Setelah aku spontan berkata seperti itu, semua orang yang berada di dalam kelas langsung menatap sinis ke arahku beberapa saat sebelum kembali mengalihkan pandangan dan melanjutkan aktifitas mereka.
Aku pun berdiri karena terlanjur kesal kepadanya. "Mau lu apa sih, hah?" bentakku.
"Heh!" Rania mendorong tubuhku pelan. "Elu tahu gak ini bangku siapa?" tanyanya sambil menempelkan ujung jari telunjuknya ke atas meja yang aku pilih.
"Lah, ini bangku gua lah! Kan gua yang pilih duluan." balasku juga menempelkan ujung jariku ke meja tersebut.
"Elu duluan? Ngimpi lu! Ini bangku Reno, tahu!"
"Reno? Siapa pun itu gua gak peduli!" Aku pun kembali duduk di kursi lalu menelungkupkan kepala pada tanganku di atas meja berniat untuk tidur.
Tiba-tiba saja Rania menarik kerah seragamku dengan tangan kirinya dan membuatku sangat jengkel. Aku pun menarik tangannya dari kerah seragamku lalu menghempaskannya sampai hampir jatuh.
"Lemes banget."
"Anj*r lo ya?" umpatnya padaku. Wajahnya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Dih, cengeng banget."
Setelah itu, ia terus mengoceh tidak karuan, tapi aku tidak terlalu peduli dengan ocehannya, dia hanya seorang perempuan centil yang mencari pujian orang lain.
Sementara ia mengoceh kepadaku, aku hanya mendongakkan kepalaku menatap langit-langit kelas lalu memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur. Perkelahian tadi cukup membuatku merasa lelah. Kurasa tidur sejenak boleh juga.
Tapi ocehan Rania sangat mengganggu dan memekakkan telingaku. Aku pun sudah tidak tahan lagi dan langsung menggebrak meja dengan keras, membuat seisi kelas hening lalu menatap ke arahku.
Aku tidak terlalu peduli kepada tatapan mereka, saat ini perhatianku tertuju kepada Rania yang terlihat akan menangis di depanku.
Beberapa saat kemudian, Rania pun terlihat mengeluarkan air matanya diikuti suara tangisnya yang tersedu-sedu.
Aku hanya mengerutkan keningku melihat tingkahnya. "Cengeng banget lu! Cuma gitu doang aja nangis." ucapku meledeknya.
Setelah itu, 2 perempuan menghampiri dia, Wulan dan Siti. Mereka berdua sepertinya teman Rania.
"Elu kenapa, Ran?" tanya Wulan sambil menyibakkan rambut depan yang menutupi wajah Rania.
"Eh, kok elu nangis? Kenapa?" tanya Siti yang berada di sebelahnya.
Rania menunjuk kearahku. Aku mengerutkan keningku. Kenapa dia nyalahin aku? Kan dia yang mulai duluan. Emang ya, perempuan tuh gak pernah mau ngalah. Pasti mereka akan nyalahin laki-laki walau pun sebenarnya perempuan yang salah.
Setelah itu, Wulan menatapku dengan sinis. "Elu cowok apa banci sih? Kok beraninya sama cewek?" ucapnya.
"Iya nih, ganteng-ganteng kok beraninya sama cewek. Lembek banget jadi cowok!" sambung Siti.
Aku menatap mereka balik. "Dengerin ya lu berdua! Cewek ini yang mulai duluan! Dia tiba-tiba gebrak meja gua pas gua lagi duduk. Terus, pas gua gebrak balik, eh dia nangis. Dan lu berdua, datang-datang langsung nyalahin gua? Sehat lu?" balasku tak mau kalah.
"Ada apaan woi, berisik banget!" ucap seseorang entah darimana tapi yang pasti dia di dalam kelas. Aku mengedarkan pandanganku dan menemukan orang itu. Dia baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendengar percekcokan antara aku dan ketiga perempuan sialan ini.
Aku kembali menatap ketiga wanita di hadapanku karena tidak peduli pada orang itu. "Sekarang lu bertiga mending cabut dari hadapan gua!" ucapku.
"Dih, gak disuruh juga kita bakalan cabut dari hadapan elu kali." jawab Wulan sinis.
"Iya, najis banget ada di hadapan elu." Siti menimpali.
Setelah itu, mereka bertiga pergi dari hadapanku dan duduk di kursinya masing-masing. Kebetulan, kursi mereka berdekatan. Rania duduk di depan Wulan dan Siti duduk di samping Wulan.
Aku pun kembali duduk di kursi lalu menoleh kearah mereka. Dan benar saja dugaanku, mereka sedang menatapku sinis sambil membicarakan sesuatu, sepertinya mereka sedang membicarakanku.
"Kalo bukan cewek, udah gua abisin mereka bertiga." batinku kesal.
Aku pun menoleh ke anak yang tadi berteriak kepadaku dan kulihat dia sudah tertidur kembali. Untung saja dia cuma berteriak sekali kepadaku, kalau tidak, dia sudah kuhabisi karena sudah berani membentakku.
Setelah itu aku pun menyandarkan kembali tubuhku ke kursi lalu mendongakkan kepalaku menatap langit-langit kelas. Saat mataku mulai terpejam, aku dikagetkan suara pintu kelas yang terbuka dengan keras.
Aku sudah tidak tahan lagi, aku pun berdiri dan berniat keluar dari kelas lalu sesaat kemudian mengurungkan niatku dan kembali duduk saat melihat Pak Rahmat berjalan ke arah kursi guru.
Pak Rahmat itu bertubuh gempal dan pendek. Berkumis tebal dan potongan rambutnya selalu sama setiap tahun, cepak. Ia memakai kacamata tebal dan matanya selalu menatap tajam. Ia adalah guru Matematika dan salah satu guru tergalak di sekolah ini.
"Selamat pagi anak-anak. Duduknya dirapikan." ucapnya sambil duduk di kursi.
"Itu yang dibelakang tolong dibangunkan!" Dia menunjuk kepada anak yang tertidur tadi.
Anak di sebelahnya menggoyangkan tubuhnya beberapa kali tapi ia tidak juga terbangun.
"Gak bisa, Pak. Dia susah bangunnya." ucap anak itu kemudian seisi kelas mulai tertawa.
"Diam semuanya!" ucap Pak Rahmat lalu menatap seisi kelas.
Tiba-tiba hening.
"Coba bangunkan lagi!" suruh Pak Rahmat lagi.
Aku pun mengangkat tanganku.
Pak Rahmat melihat ke arahku. "Iya, ada apa?"
"Saya aja yang bangunin dia, Pak." ucapku menawarkan diri.
"Yasudah, coba kamu yang bangunin." jawab Pak Rahmat mengizinkan.
Aku pun berdiri dan berjalan menghampiri anak tersebut. Semua pasang mata menatapku termasuk Pak Rahmat.
Aku tersenyum sinis memandangi kepala anak itu. Kesempatan seperti ini jangan di sia-siakan. Aku mengangkat tangan lalu memukul kepala anak itu.
PLAK!
Aduh, aku sepertinya memukul terlalu keras. Tapi berkat pukulanku, anak itu pun terbangun.
"Akh... siapa yang geplak kepala gua woi!" teriaknya sambil memegangi kepalanya.
"Gua!" jawabku cepat.
Ia menoleh kearahku lalu berdiri dan mencengkram kerah seragamku. "Maksud lu apaan geplak kepala gua, Blok?"
Aku tertawa kecil. "Ini sekolah coy, bukan rumah. Kalo mau tidur di rumah aja." Aku menanggapinya santai.
"Lah, serah gua dong, lu cari ribut ya?"
"Ekhem!"
Deheman Pak Rahmat membuatnya menoleh. "Eh... Bapak..." ucapnya nyengir kuda.
"Kamu duduk ke kursimu." suruh Pak Rahmat kepadaku.
Aku menggenggam tangan anak tersebut yang masih menggantung di kerahku lalu meremasnya dengan kencang. Ia meringis kesakitan lalu melepaskan tangannya.
Setelah itu, aku pun berjalan mundur beberapa langkah sambil tersenyum kearahnya, ia menatapku dengan kesal. Aku pun berbalik badan lalu berjalan ke kursiku kemudian duduk.
Pak Rahmat menatap ke arahku beberapa saat lalu mengalihkannya pada anak itu.
"Siapa namamu?" tanya Pak Rahmat.
"Rendi, Pak." jawabnya sambil memijit tangannya.
Aku tertawa melihatnya. Baru diremas segitu aja udah mau nangis, gimana kalo dipatahin tuh tangan. Hahaha..
"Sekarang kamu keluar dari sini terus lari di lapangan olahraga 20 kali putaran." ujar Pak Rahmat.
"Hah? Serius, Pak? Gak kebanyakan tuh?" Rendi terkejut tak percaya.
Aku hanya tertawa puas mendengarnya. Lari 10 kali putaran aja udah kaya mau mati, apalagi 20 kali putaran, yakin kuat tuh anak.
"Iya! Cepat keluar!" bentak Pak Rahmat.
Rendi pun berjalan keluar kelas dengan lesu, lemah, lunglai. Saat di pintu keluar ia menatap dan menunjuk ke arahku. "Awas lu!" Sepertinya itu sih yang kudengar.
Setelah itu selesai semua perhatian tertuju pada Pak Rahmat yang menggebrak meja beberapa kali. "Fokus kesini, semuanya!"
Aku pun reflek melihat kearahnya walau pun tidak mau.
"Bapak akan menjadi wali kelas kalian untuk satu tahun ke depan," ucapnya singkat, padat, dan jelas.
Mampus! Pak Rahmat jadi wali kelas. Bukannya aku takut kalau dia jadi wali kelasku, tapi kalau dia sudah memberi hukuman tidak tanggung-tanggung, bahkan dulu waktu masih kelas 2, aku melihat kakak kelas yang dihukum olehnya karena ketahuan merokok di sekolah, dia berlari mengelilingi lapangan sambil menghisap rokok. Gila gak tuh?
"Sekretaris disini siapa ya?" tanyanya pada seisi kelas.
Semua hening, tidak ada yang menjawab karena memang sistem organigram di kelas belum dibuat.
Ya iyalah, orang baru aja masuk kelas 3, masa tiba-tiba udah ada sekretaris aja, aneh-aneh aja nih Pak Rahmat.
Pak Rahmat menatap seisi kelas heran. "Kok gak ada yang angkat tangan? Sekretarisnya gak ada?" tanya dia lagi setelah pertanyaannya tidak ada yang menjawab.
"Belum ada lah, Pak, orang baru masuk hari ini." ucapku santai.
Takut sih tidak, cuma namanya juga guru kita, ya sebisa mungkin harus kita hormati walau pun kita tidak suka padanya, tapi jangan tunjukan itu didepan mukanya, dibelakang aja.
Pak Rahmat menatapku beberapa saat. "Ya sudah, yang di sana jadi ketua kelas, ya. Kamu yang bertanggung jawab di kelas ini." ujarnya tiba-tiba.
"Lah?"
Seumur-umur di sekolah, baru kali ini aku jadi ketua kelas. Bukannya apa-apa ya, jadi ketua kelas kayanya enak, bisa suruh-suruh soalnya walaupun katanya tanggung jawabnya juga gede.
"Serius, Pak, dia yang jadi ketua kelas?" tanya seorang perempuan di kursi paling depan pojok kiri.
"Bukannya apa-apa ya, Pak, tapi dia tuh anaknya bermasalah, Pak. Dari kelas 1 sampai kelas 2 aja kalo digabungin alfanya bisa ratusan." sambung perempuan disebelahnya.
"Iya bener tuh, Pak." ucap perempuan pertama menyetujui ucapannya.
Ya gimana ya? Mau ngelak tapi emang bener yang mereka katakan, jadi ya mending diam ajalah.
"Bapak 'kan harusnya udah tahu kelakuan dia. Bukannya bapak pernah ngehukum dia ya?" ucap yang lainnya.
Pak Rahmat ini kayanya udah pikun deh, soalnya sering lupa kelakuan anak-anaknya, tapi wajar sih, soalnya dia udah tua juga. Paling 2-3 tahun lagi dia pensiun.
"Jadi maunya gimana? Kalian yang atur sendiri?" tanya Pak Rahmat lagi.
Semua seisi kelas saling menatap satu sama lain tapi tidak ada yang menanggapi ucapan Pak Rahmat. Yang menyetujui tidak ada, yang menyanggah pun tidak ada.
Saat seisi kelas masih hening dan saling menatap, pintu kelas tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk ke dalam kelas.
Pak Rahmat menoleh ke arah pintu lalu melihat anak yang baru masuk tersebut. Anak itu terlihat terkejut saat melihat sudah ada guru di dalam kelas, ia berjalan menghampiri meja Pak Rahmat.
"Maap, Pak, saya—"
"Darimana kamu?" ucap Pak Rahmat cepat memotong ucapannya.
"Dari toilet, Pak. Saya mules." ucapnya beralasan.
"Siapa nama kamu?"
"Reno, Pak."
"Yasudah, kembali ke kursi kamu." suruh Pak Rahmat.
Reno mengangguk lalu mulai berjalan menuju kursinya.
Tapi, kenapa dia berjalan ke arahku? Sambil menatapku lagi, dia menantangku apa bagaimana? Ah, atau jangan-jangan ini kursinya, ya?
Dia sudah berada di hadapanku dan menatapku kaget. "Kok lu duduk disini? Ini kan bangku gua. Pergi lu! Cari bangku lain."
"Ogah! Lu aja cari bangku lain," ucapku menolak.
Datang-datang langsung cari ribut aja nih anak. Masa nyuruh aku nyari bangku lain. Kenapa gak dia aja yang nyari bangku lain? Kalau ini kursinya, so what? Dia mau nyuruh aku buat ngalah sama dia? Ngimpi kali.
"Ini bangku gua, Njir! Elu pindah sono!" ucapnya kesal. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku sambil melotot menatapku.
Bro, kamu ngapain begitu? Berharap aku takut sama kamu? Enggak akan, bro, nggak akan. Siapa pun juga bisa melotot kaya gitu. Aneh-aneh aja.
"Lu kira gua takut sama lu, hah? Mau coba balik sekolah ribut sama gua?" ucapku membalas tatapannya.
"Lu kira gua juga takut sama lu, hah? Kalo mau co—"
"Yang di sana ngapain? Kenapa belum duduk?" ucap Pak Rahmat dari depan kelas.
Reno langsung menoleh ke belakang. "Eh, iya, Pak. Ini dia ngajak ngobrol, Pak." alasannya.
"Dih."
Setelah itu, Reno berjalan melewatiku sambil mendengus kesal menatapku. Dia duduk di kursi lain yang berada di baris kanan paling belakang.
"Bapak absen dulu ya, sambil menghafal nama kalian."
Kenapa hampir semua guru bicara begitu? Sebelum absen pasti mereka bilang "sambil menghafal nama kalian." Dan sudah pasti, anak yang dikenal guru itu suka disuruh macam-macam, suruh isi spidol lah, suruh ambilin buku paket di kantor lah, suruh apa aja pokoknya.
"Abi ..., Ace ...,"
*****
Dua jam kemudian bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat kedua.
Aku, Reza, dan Irvan pergi ke kantin untuk makan siang. Nasi goreng kesukaaanku. Mie goreng kesukaan Reza. Gorengan pakai saos kesukaan Irvan.
Kami duduk di satu meja. Reza di depanku dan Irvan di sebelah Reza.
"Anak baru cakep-cakep banget, woi!" ucap Reza antusias.
"Yang bener lu? Kelas mana aja yang ceweknya cakep-cakep?" tanya Irvan tidak kalah semangat.
"Tadi sih gua liat kelas 1B sama 1D, buset gila kulitnya putih banget. Yang pake kacamata kelas 1B itu punya gua ya, jangan lu rebut!" ucap Reza pada Irvan.
Aku hanya tertawa mendengar obrolan mereka sambil tetap fokus memakan nasi goreng kesukaanku, Nasi Goreng Bibi Narsih.
"Elu juga, Top!" ucap Reza tiba-tiba.
Aku terkejut sampai tersedak. "Uhuk... Uhuk...." Aku batuk beberapa kali kemudian reda setelah meminum satu gelas air putih.
Aku menatap Reza. "Sialan lu, Za! Sampe keselek gua, Njir!"
Mereka berdua kemudian tertawa.
"Lagian, siapa juga yang mau sama bocah kelas 1 SMP, Njir? Elu aja sono, gua mah kagak." ucapku pada mereka berdua.
"Halah, kalo lu liat juga pasti langsung suka lu." ucap Reza mencemooh.
"Kagak, Njir! Beneran!"
"Halah."
"Kagak!"
"Berisik woi!" teriak seseorang dari arah belakangku. Aku tidak tahu dia berteriak kepada siapa, tapi yang terdengar berisik di kantin cuma kami bertiga.
Aku pun menoleh ke belakang mencari asal suara.
"Dia lagi ...." ucapku saat melihat orang yang berteriak adalah Reno.
Aku pun memalingkan kembali pandangan ke depan karena pegal jika harus tetap menoleh ke belakang untuk menatapnya.
Aku melihat Reza dan Irvan masih menatapnya tajam. Mereka mungkin tidak terima diteriaki oleh Reno.
"Udah, jangan ngurusin orang gila itu," ucapku pada mereka berdua agar kembali melanjutkan obrolan kami.
Setelah itu, aku pun menuangkan air putih dari teko yang ada di meja ke dalam gelas yang sudah kosong karena habis kuminum tadi kemudian meneguknya sedikit.
Aku kembali mengambil satu sendok nasi goreng lalu bersiap melahapnya. Saat sendok itu sudah berada di depan mulutku, tiba-tiba sebuah tangan menepis sendokku sampai jatuh ke tanah. Aku hanya diam tak percaya menatap sesendok penuh nasi gorengku jatuh begitu saja ke tanah.
Irvan dan Reza langsung berdiri.
"Maksud lu apaan, Anj*ng?" bentak Reza.
"Sini lu, ribut sama gua!" teriak Irvan.
Aku sudah bisa menebak siapa orang di belakangku yang baru saja membuat sesendok nasi gorengku jatuh ke tanah.
Aku menghela nafas kasar lalu berdiri dan menatap dingin pada orang tersebut.
"Pulang sekolah di belakang sekolah, lu ribut sama gua." ucapku dengan datar.