Ch.3 — Masa SMP | Nakal II

1372 Words
Setelah diceramahi kurang lebih selama 30 menit di ruang BP, aku pun diizinkan kembali ke kelas oleh Pak Rizki. Berhubung masih jam istirahat, aku pun mampir dulu ke kelas temanku, Irvan, kelas 3B. Aku masuk tanpa permisi, berdiri di depan kelas sembari mengedarkan pandanganku. "Bangku Si Irvan dimana, Njir?" Jujur, aku gak tahu kursi tempat dia duduk ada di sebelah mana. Setelah cukup lama mencari, aku pun melihat tasnya tergeletak di sebuah kursi. Aku tahu betul tasnya seperti apa. Aku melangkah ke sana. Duduk di kursinya. Semua orang yang ada di sana menatapku bingung. Mereka mengernyitkan dahi. Tapi, aku tidak peduli. Aku mengabaikan mereka dan tetap duduk di sana dengan santai. "Eh, lu bukannya Topa, ya?" lontar seseorang dari kursi sebelah. Aku menoleh. "Yoi. Kok lu tahu, Bro?" Aku balik bertanya. "Kita dulu sekelas, Anjir!" kata dia. Ucapannya sok akrab banget. Bikin jengkel. "Lah ... Yang bener lu? Nama elu siapa?" Aku sedikit penasaran sih, masa iya aku pernah sekelas sama anak ini. "Gue Tomy. Lu udah lupa?" Aku mengernyit dahi. "Tomy? Perasaan gue gak pernah kenalan sama elu, deh." "Ya emang gak pernah. Kan kita sekelas, ngapain kenalan?" ucap Si Tomy. "Oh iya bener juga. Hahaha ...." Logikanya mantap juga nih anak. Aku pun tiba-tiba pingin ketawa. "Eh iya, lu lihat Si Irvan gak? Ini kursi dia, 'kan?" "Iya. Itu kursinya. Dia paling masih di kantin." "Lama amat dia di kantin." "Biasalah. Dia bukannya satu geng sama elu, ya?" "Bukan. Gue gak kenal sama dia. Hahaha...." "Lah, terus ngapain elu—" "Gue balik kelas dulu." Aku langsung memotong ucapannya karena tidak ingin terus melihat wajah anak itu. Sok akrab banget soalnya. Aku pun beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu kelas yang tertutup. Aku melompat dan menendang pintu itu cukup keras. Iseng aja, sih. Biar kaya kungfu-kungfu gitu. "Aduh!" Tiba-tiba ada suara seseorang dari luar. Aku terkejut. Mataku melebar seketika. Waduh! Kayanya kena orang nih. Aku pun mengintip keluar dan terlihat seorang perempuan tengah terduduk di lantai sembari mengusap keningnya. "Aw ... Sakit banget! Siapa sih yang buka pintu barusan? Gak punya otak apa?!" Perempuan itu marah-marah. Wajahnya terlihat sangat kesal. Waduh! Aku harus ngapain nih? Aku pun mencoba tetap tenang. Menarik napas dalam. Memasang wajah biasa saja agar tak dicurigai. Dengan langkah santai, aku berjalan melewati pintu. "Heh! Elu ya yang buka pintu?! Ngaku lu!" semburnya tiba-tiba. Mataku terbuka lebar seketika. Aduh, Anjir! Ketahuan lagi! Tetap tenang dan jangan grogi. Aku menoleh ke samping. "Eh? Lu ngomong sama gue?" Aku pura-pura gak tahu apa-apa. "Lu lihat dong mata gue! Mata gue lihat kemana?" Buset! Galak banget nih cewek. "Mana gue tahu! Kan yang punya mata elu! Udah ah, gue mau balik kelas." Aku pun melangkah pergi dari sana. "Tunggu dulu!" Dia menarik kerah belakangku. Leherku sampai tercekik. Tenaga perempuan itu lumayan besar. Songong banget nih cewek! Terus, bukannya tadi dia duduk di lantai? Kapan dia bangunnya? "Elu kira lu bisa kabur gitu aja, hah? Lu gak tahu siapa gue?" sosor perempuan itu Etdah! Kaya di cerita novel aja. Sok-sokan banget nih cewek. Aku membalikkan badanku. Cengkramannya terlepas dari kerah bajuku. Aku menatap matanya pekat. Dia lumayan cantik sih. Kulitnya putih mulus. Bibir tipis. Hidung mancung. Tapi, ada lebam merah di keningnya. Kayanya itu bekas benturan sama pintu, deh. "Emang gue peduli elu siapa?" balasku sambil memasang wajah malas. PLAK!! Anjir! Gue ditampar dong. Seriusan nih? Beneran kaya cerita novel ini mah. Mana tamparannya kenceng banget lagi. "Tuh! Salam perkenalan dari gue. Bye!" Dia langsung melengos masuk kelas gitu aja. Aku masih berdiri di tempat. Melamun sembari merasakan pipiku yang mulai terasa perih. Gila tuh cewek. Namparnya kenceng banget. Gak punya perasaan! Siapa sih dia? "Awas aja kalo ketemu nanti. Gue balas lu!" Aku menyimpan dendam pada perempuan itu. *** Pulang sekolah, aku, Irvan dan Reza seperti biasa mampir dulu di tempat tongkrongan. Sebuah kedai kopi. Karena kami cuma mampu nongkrong di sana. Namanya juga anak SMP. Duitnya pas-pasan. "Van, tadi gue ketemu cewek songong di depan kelas elu," ucapku. Irvan yang masih menyedot minumannya mengabaikan ucapanku sejenak. "Ah ...." Dia mendesah melepas dahaga. Irvan menatapku. "Apa, Top? Lu bilang apa tadi?" "Tadi gue ketemu cewek songong di depan kelas elu." "Hah? Seriusan? Siapa?" "Mana gue tahu! Pokoknya tuh cewek dari kelas elu. Elu kenal gak?" "Siapa ya? Cewek songong di kelas gue ada beberapa sih. Cantik gak?" "Lumayan sih. Kulitnya putih." "Si Putri kali." "Putri? Dia siapa?" "Mantan gue." "Mantan pacar?" "Mantan gebetan." "Dih! Yang bener, Anjir!" "Beneran! Gue pernah coba PDKT sama dia. Tapi, ya gitu." "Gagal?" "Bukan gagal sih. Gak berhasil aja." "Hahaha ... Sama aja, Blok!" "Emang dia kenapa? Kok bisa elu bilang dia songong?" "Dia nampar gue." "Ha?" Irvan terkejut tak percaya. "What? Seriusan?" Reza yang awalnya asyik main HP langsung nyosor. "Gimana ceritanya?" Aku pun menceritakan kejadian tadi siang kepada mereka. *** Besok harinya, aku masuk lagi ke Kelas 3B untuk mencari perempuan kemarin. Kata Irvan sih namanya Putri. Tapi belum tentu juga sih. Aku datang ke sini untuk memastikan, sekaligus memberi perhitungan. Aku menghampiri anak yang aku temui kemarin, Tomy. "Tom, elu tahu Si Putri gak?" tanyaku. "Putri? Iya ... tahu. Kenapa emangnya?" Sebelum melanjutkan, aku pun ingin memastikan kalau aku tidak salah orang. "Serius lu tahu sama cewek yang namanya Putri?" tanyaku sekali lagi. "Iya tahu. Emang mau ngapain sih? Saran gue, lu jangan macem-macem sama dia." Tomy ngasih saran. "Hm? Kenapa gitu?" "Lu gak tahu emangnya?" "Tahu apa?" "Dia ikut eskul Karate." "Lah terus?" "Dia udah Sabuk Coklat." "Sabuk Coklat? Apaan sih? Gue kagak paham yang begituan! Bodo amatlah. Gue gak takut sama dia!" "Mending jangan, Top. Nanti—" "Berisik banget lu! Udah! Jangan ngatur-ngatur gue! Gue pukul baru tahu lu!" bentakku agak keras. Udah jengkel banget soalnya. "Hehe ... Gue kan cuma ngingetin aja." Si Tomy langsung ciut seketika. "Gak perlu! Udah kasih tahu gue mana bangku cewek itu?" "Tuh yang paling depan." Tomy menunjuk satu kursi yang berada paling depan. Aku mengikuti arah yang ditunjuknya. "Yang itu? Yang tas ijo itu?" tanyaku memastikan. "Iya, yang itu. Emang lu mau ngapain sih?" tanya dia sekali lagi. "Udah lu diem aja! Jangan ikut campur!" ucapku agak tegas. Aku pun melangkah mendekati kursi perempuan itu. Ku pandangi tas hijau miliknya beberapa saat. Aku membuka resletingnya kemudian merogoh sakuku untuk mengambil sesuatu untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Sesudah selesai, aku tutup kembali tasnya lalu pergi dari sana. "Hahaha ... Rasain lu! Macem-macem sama gue sih!" Aku melangkah keluar dari kelas sembari tertawa puas. Pembalasan baru dimulai! *** Saat waktu istirahat tiba, seperti biasa, aku, Irvan, dan Reza kumpul di Kantin Sekolah. "Eh, kabur, yuk?" ajakku pada mereka. Reza yang sedang minum tiba-tiba tersedak lalu terbatuk beberapa saat. "Kenapa lu, Za? Kaya yang kaget gitu?" tanyaku heran. "Elu serius mau kabur?" tanya Reza. "Kenapa emangnya?" "Nanggung. Bentar lagi juga pulang," katanya. "Males gue di sekolah terus. Ke Kedai Kopi yuk?" "Kalo gue sih, ayo aja. Tapi lewat mana? Gerbang depan 'kan udah pasti di tutup," lontar Irvan. "Lewat belakang lah." "Manjat pagar?" "Iya." "Motor, 'kan masih di parkiran. Ntar ngambilnya gimana?" Irvan banyak nanya. "Yaelah ... Lu kaya baru pertama kali kabur aja. Ya nanti suruh temen kelas bawain lah. Atau nanti pas sekolah udah bubar, kita ke sini lagi juga bisa." Aku memberitahu cara kabur yang baik dan benar. "Kalau bolos, gak datang ke sekolah gue sering. Tapi, kalau kabur gue gak pernah. Gue gak ikutan ah. Takut." "Yah ... Jadi cuma gue sendiri, nih?" "Iya. Lu aja. Gue mah belum kuat mental," kata Reza. "Cemen lu berdua!" Aku melayangkan jempol terbalik pada mereka. *** Aku diam-diam keluar dari kelas. Tas sekolah aku sembunyikan di balik seragam depanku. Mataku berpendar. Memastikan tidak ada guru yang melihatku. Setelah sampai di belakang sekolah, langsung ku lempar tasku melewati pagar. Biar lebih mudah manjat pagar, jadi aku lempar dulu beban yang aku bawa. Aku melompat dan meraih ujung pagar. Lumayan tinggi. Tapi aku bisa meraihnya. Lagi-lagi perasaanku tidak enak. Roman-romannya bakal ada yang datang ke sini. Semoga aja bukan guru. "HEH! KAMU! NGAPAIN KAMU DI SANA? TURUN!" Anjir! Beneran ada yang datang dong. Aku menoleh ke arah suara. Mataku melebar seketika begitu melihat orangnya. "Pak Rahmat?!" "TURUN KAMU! IKUT SAYA KE TENGAH LAPANG!" Aku meneguk ludahku dengan susah payah. Siap-siap olahraga siang, nih. Hadeuh ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD