Yara menyambut pagi ini dengan sebuah notifikasi dari Kira. Temannya yang satu itu benar-benar memegang ucapannya. Ia mengunggah sepuluh foto mereka bertiga sekaligus di akun sosial medianya. Yara hanya bisa nyengir memandangnya. Tidak tahu harus tertawa atau menangis. Terlebih beberapa foto menunjukkan secara terang-terangan betapa konyolnya mereka.
Yara menggeleng-gelengkan kepala dan berjalan sambil lalu menyeberangi ruangan. Tentu saja ia senang. Apalagi membaca caption yang Kira tuliskan, nyaris seolah-olah Yara bisa mendengar Kira mengucapkannya sendiri di sebelah telinganya. Tapi meski begitu, ia tidak berani meninggalkan komentar apa pun. Takut akan ada orang lain yang mengetahui dirinya. Toh sejak dulu mereka bertiga sudah sepakat untuk tidak menandai Yara dalam unggahan apa pun sebelum ia benar-benar mengekspos dirinya sendiri. Dan kini Yara juga menyadari bahwa waktunya akan segera tiba.
Ia sendiri sudah menyiapkan sebuah alasan untuk diberikan pada Kira dan Zen. Pertama-tama ia akan mengunggah lukisan barunya dulu dan memberitahukan pengikutnya bahwa ia telah berhenti dari masa hiatus. Karena ada dua lukisan baru, dan karena ia selalu memberikan jarak waktu di setiap unggahannya, maka paling tidak ia bisa mengulur semakin banyak waktu.
Nah, untuk sementara waktu itu ia akan mempersiapkan diri lagi. Bermeditasi atau apa lah untuk menambah ketenangan. Ia sendiri sudah menjalani meditasi sederhana setiap pagi sejak dua hari terakhir. Terkadang ia juga melakukan yoga ringan di sini, dan semua itu ia lakukan berkat panduan yang ia dapat dari internet.
Yara merasa sudut bibirnya berkedut, bagaimana pun juga ia masih belum siap. Tetapi semua kegembiraan yang ia dapatkan hanya dari memandang foto-foto dalam unggahan mereka juga membuat hatinya menghangat. Karenanya ia merasakan dua perasaan bertentangan saat ini. Antara cemas dan senang, antara antusias dan was-was. Tetapi kemudian ia mencoba memutar ucapan Kira dalam ingatannya sekali lagi. Meski tidak seratus persen persis seperti yang ia ucapkan, setidaknya menangkap intinya saja sudah cukup. Begini, Yara mencoba berpikir serius. Bahwa apa yang orang lain pikirkan sama sekali tidak memengaruhi dirinya. Ia tahu ia tidak secantik Kira atau bahkan sebaik orang lain di atasnya, tetapi seharusnya ia bisa menyingkirkan pemikiran itu sejenak.
Dengan tegas Yara menolak semua kecemasan tak beralasan dan sedikit demi sedikit belajar untuk berpikir positif. Toh memang benar adanya, apa pun yang orang lain ucapkan tidak ada artinya. Mereka bukan orang penting sampai harus Yara pikirkan.
Setelah perasaannya menjadi lebih ringan Yara menggulung matras yang tadi ia gunakan dan mulai beres-beres. Sejak dulu rasanya tidak sehari pun studio kecilnya ini bisa bertahan dalam suasana rapi. Segala hal serasa kacau dan berada di tempat yang tidak seharusnya. Ia menggulung kain lebar di lantai. Meraih beberapa apron yang penuh dengan noda cat di sana-sini dan mengumpulkannya menjadi satu ke dalam sebuah keranjang plastik. Yara memutuskan untuk mencuci semuanya hari ini sekalian. Jadi ia rasa ia harus keluar untuk ke tempat laundry dan sekalian mencari makan.
Yara melirik jam di dinding, setelah mempertimbangkan sesaat dan dirinya juga belum terlalu lapar. Lantas ia lanjut bersih-bersih. Meski belum apa-apa ia menyadari bahwa kerapian yang sempurna adalah hal mustahil untuk bisa diraih. Karena bagaimana pun ini adalah studio seni, tempat yang sejak awal ia fungsikan sebagai tempat kerja. Di mana kuas dan cat selalu digunakaj setiap harinya. Terlebih mengingat ruangan ini tidak terlalu besar, seluruh lukisan-lukisan yang pernah ia buat pun tidak memiliki tempat khusus selain disandarkan pada dinding. Selain itu, biasanya dalam sehari ia bisa sampai mendapatkan dua atau tiga pesanan lukisan sekaligus. Yang membuat dirinya jelas tidak sempat untuk sekedar bersih-bersih. Belum lagi ia juga harus membuat lukisan versi cetaknya dan mengirimkan lukisan-lukisan yang selesai ia lukis ulang ke kantor pos.
Untuk pertama kalinya, membayangkan semua hal yang telah ia lakukan selama ini membuat Yara merasa lelah. Tapi meski begitu ia juga merasa bersemangat karena hal-hal ini lah yang ia sukai. Pada dasarnya ia suka menggambar, entah dengan media pensil warna, cat akrilik, cat air atau pun gouache. Oh, ya beberapa waktu sebelum ia mengambil hiatus, ia sempat memikirkan untuk membuat stiker juga. Tapi sayangnya Yara tidak terlalu paham dengan digital art. Hal itu membuat langkahnya sempat terhenti. Namun kemudian Yara mendadak sadar ia bisa membuat original characternya sendiri lewat tradi art dan melakukan proses yang sama seperti art printnya. Sambil menyinggingkan senyum Yara mengangguk-anggukkan kepala. Memutuskan untuk menyimpan ide itu sampai ia berhenti dari hiatusnya dulu. Lagi pula setelah aktif kembali dan memamerkan lukisannya biasanya ia akan langsung mendapat pesanan beberapa lukisan. Ah, setelah dipikir-pikir lagi, ada satu hal yang terkadang membuatnya bosan dalam pekerjaan yang dicintainya ini. Yaitu saat ia harus mengulang lukisan yang sama sampai belasan kali lebih. Rasanya agak menjengkelkan di saat-saat tertentu. Tapi tentunya bayaran yang ia terima mampu membuatnya tersenyum lebar kembali.
Yara tersenyum bangga sambil menggosok-gosok hidungnya. Kemudian teringat pada satu keinginan yang sudah lama ia lupakan. Dulu sebelum ia jadikan sebagai pekerjaan, Yara selalu bermimpi untuk memiliki banyak uang dan keluar dari rumah. Lepas dari cengkeraman orang tuanya yang menekan dan hidup dengan aturannya sendiri. Namun sekarang Yara mendadak menyadari. Saat ini uang yang ia miliki lebih dari cukup untuk mewujudkan keinginan itu. Sayangnya ia tetap tidak bisa pergi. Tidak setelah Bisha pergi lebih dulu. Tentunya ia tidak pernah menyalahkan Bisha. Ia hanya sedikit kecewa, itu saja. Tapi masalahnya sekarang adalah, ia sekali lagi terlena dan bukannya cepat-cepat pergi secara permanen dari rumah ia hanya membeli sebuah studio kecil untuk bekerja.
Yara mencoba mengingat-ingat alasan apa yang membuatnya melupakan keinginan itu. Sebagian besar jawabannya tentu saja karena mewujudkan impian pekerjaannya adalah hal paling menyenangkan yang ia miliki. Yah, sekarang Yara menyesali keputusannya ini. Keputusan untuk membeli studio dan bukannya tidak pergi ke luar kota sekalian. Tapi mendadak ia teringat, bukan kah alasan terbesar ia masih bisa sebahagia ini selama di kota ini adalah karena Zen dan Kira juga berada di sini? Itu benar. Seluruh teman-temannya masih di sini. Itu alasan keduanya. Ditambah semenjak ia mulai kuliah Yara merasakan tekanan dari orang tuanya makin memudar. Memusatkan seluruh perhatian mereka pada Bisha. Baru lah pada saat ini Yara menyadari. Di saat ia bisa bersenang-senang selama ini, bukan kah Bisha justru merasa sebaliknya.
Sejak kecil Bisha selalu menunjukkan kepintarannya, dan segala hal yang ia kuasai dalam bidang akademis membuat orang tua mereka luar biasa bangga. Tapi di saat yang sama, dengan kaburnya Bisha sekarang bukan kah juga menunjukkan bahwa Bisha sebenarnya tidak bahagia? Jika memang Bisha bahagia dengan semua pilihannya lalu kenapa ia harus pergi?
Mendadak, seluruh jejak kegembiraan di wajah Yara menghilang. Dalam beberapa waktu lamanya, ia merasa telah menjadi manusia paling egois di dunia. Karena meski dengan seluruh senyuman yang Bisha tunjukkan padanya selama ini, pernah kah ia sekali saja bertanya padanya apakah Bisha benar-benar bahagia?
Tidak. Tidak sekali pun.