Chapter 12

1573 Words
Angin bertiup samar menerbangkan ujung topi Yara yang menutupi sebagian wajahnya. Saat ini ia sedang berbaring di bawah kanopi di bibir pantai. Langit sudah menggelap dan jauh di ujung barat kilauan orange keemasan nampak menyilaukan mata. Tapi Yara tak bergeming. Seharian ia, Kira dan Zen sudah menghabiskan waktu ke sana ke mari untuk pemotretan. Dan Yara harus mengikuti untuk membantu dan tak jarang dilibatkan pada ini dan itu. Memusingkan memang, namun di saat yang sama Yara merasa senang. Zen juga sungguh-sungguh membawa sebuah lukisan dan easelnya sekaligus. Sore ini Yara melakukan pemotretannya sendiri di pantai, di bawah cengkeraman Kira dan Zen, memangnya ia bisa apa? Zen mengatur latar yang sederhana dan tentu tak bisa dibilang jelek. Sebelumnya dalam perjalanan mereka mampir ke sebuah toko untuk membeli baju renang untuk Yara, dan Kira memaksanya untuk membeli sebuah gaun juga. Kemudian Yara tahu gaun itu difungsikan untuk pemotretannya sendiri. Setidaknya ia senang karena tak perlu dipotret menggunakan baju renang. Angin kembali bertiup menerbangkan ujung kemeja putih kebesaran yang Yara ia kenakan. Pada dasarnya tidak terlalu suka memakai pakaian seterbuka ini, karenanya pada saat membeli gaun dan baju renang, ia sekalian membeli kemeja putih besar untuk dijadikan luaran. Dengan begini bahkan selama bermain air sore tadi ia bisa merasa lebih nyaman. Yara bergeming sedikit. Mengangkat topi yang menutupi sebagian wajahnya dan mengangkat siluet dua orang dikejauhan. Selama nyaris seharian sibuk menyelesaikan pemotretan, kemudian mereka memutuskan untuk bermain di pantai. Setelahnya Yara merasa lelah dan memilih beristirahat di bawah kanopi ini. Berbeda dengan Zen dan Kira yang seolah memiliki tenaga yang tiada habisnya. Mereka belum beristirahat sedikit pun dan terus bermain dengan wajah berbinar cerah. Bahkan sekarang Zen sudah berjongkok lagi untuk memotret Kira. Mereka beberapa kali terkikik-kikik geli. Kemudian seolah mengingat keberadaan Yara mereka berbalik dan memanggilnya untuk berbalik. "Kan sudah kubilang selama di sini kita harus banyak mengambil foto bertiga untuk kenang-kenangan," Zen berujar sambil melambaikan sebelah tangan. Yara nyengir sebelum akhirnya melepaskan topi di atas wajahnya dan meletakkan benda itu di sebelah tempat ia duduk. Ia pun bangkit dan dengan langkah bersemangat bergabung bersama kedua temannya. Kira memekik girang dan bersiap-siap. Dan meski sudah cukup banyak mengambil foto bertiga seharian ini, sekali lagi mereka melakukan hal yang sama. Hanya saja kali ini yang menjadi latar belakang foto mereka adalah pemandangan matahari terbenam. Kira bertepuk tangan begitu mereka puas mengambil begitu banyak foto. Setelahnya mereka bertiga duduk di atas pasir dan membiarkan ombat yang tenang sesekali menjilat kaki mereka yang terjulur. Yara merasa begitu rileks, sebuah perasaan yang rasanya sudah lama sekali belum ia rasakan. "Aku akan memilih sepuluh foto kita yang paling bagus dan mengunggahnya diakunku," Kira memberitahu mereka dengan senang. Alis Yara terangkat, bersamaan dengan ujung bibirnya yang melengkung ke atas. "Itu bagus," Zen berkomentar. "Hari ini sangat menyenangkan sekali, pasti menyenangkan jika bisa liburan seperti ini setiap minggu." Yara sedikit mengernyit. Ia tidak tahu kesibukan seharian ini bisa dikatakan sebagai liburan, tapu baik Kira mau pun Zen sama-sama terlihat puas dan senang. "Aku juga sering kepikiran untuk membeli rumah di dekat pantai, pasti sangat menyenangkan ya," Kira berujar lagi sambil memandang jauh ke lautan. "Aku pernah membaca beberapa artikel, katanya tinggal di dekat pantai memang menurunkan stres kan?" Yara tak yakin sepenuhnya ingat dengan artikel yang dibacanya sambil lalu itu, karenanya ia menambahkan kesan bertanya di akhir kalimat. Kira mengangguk, pandangannya masih terfokus jauh ke depan. Seolah setengah kesadarannya telah meninggalkan mereka. Zen mengangkat pandangan dari layar ponselnya yang tadi ia gunakan untuk memotret mereka bertiga dan memandang Kira yang duduk di sebelahnya. "Lalu kenapa tidak beli saja?" Ia bertanya dengan enteng. Kira mendengus sembari mengerucutkan bibir. "Uang tabunganku belum cukup." Zen mengernyit. "Memangnya rumah sebesar apa yang ingin kau beli?" Kira terkekeh kecil tapi tidak memberi jawaban. Yara ikut memandang ke arah pandangan Kira dan merenung. Sesaat keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti mereka. Tiba-tiba Kira menoleh seolah baru teringat pada sesuatu. "Aku tidak melihatmu menghubungi Samuel hari ini, apa tidak apa-apa?" Yara menolak untuk menoleh meski tahu Yara tengah menatapnya. Ia tidak ingin membicarakan perihal Sam sama sekali. Dan ini adalah hal yang begitu sulit karena di saat Yara benar-benar ingin menyerah padanya, di saat yang sama mereka seolah di dorong untuk terus mendekat. Setelah keheningan yang cukup lama Yara akhirnya berujar santai. "Aku sudah menyerah padanya." Kira dan Zen saling melirik satu sama lain. Meski Yara tahu mengatakan hal itu sama saja dengan mengakui perasaannya pada Sam, tapi Yara tidak keberatan lagi. Toh memang begitu lah kenyataannya. Ia menghabiskan seumur hidup untuk membenci dan mencintainya. Tapi laki-laki itu tidak pernah sekali pun menyadarinya. Bahkan tak pernah sekali pun repot-repot berusaha mengingatnya. Yang Yara mengerti, bahwa dirinya tak lebih dari segores noda dalam ingatan seseorang. Sama sekali tidak penting. Dan karena Kira dan Zen tidak mengatakan apa-apa, ia pun merasa senang. "Ngomong-ngomong apa kalian tidak lapar?" Yara menoleh memandang Zen dan Kira yang saat itu masih memandanginya dengan raut wajah bingung, sedih dan cemas. Yara mendenguskan tawa kecil pada mereka. "Kenapa? Bukan masalah besar kok." "Mm, baiklah kalau begitu kau mau makan apa?" Tanya Zen cepat, seolah tak ingin merusak suasana. Kira mngernyit dan berbalik ke arahnya. "Kita," katanya dengan tegas. "Aku ingin pizza." Zen mendengus mengejak. "Mana ada pizza di sini, kita harus makan sesuatu yang mahal selagi kita di sini. Ingat, manfaatkan keadaan sebaik-baiknya." "Kau bayar sendiri," Kira berujar kasar. "Kenapa aku harus bayar sendiri jika ada kau?" Zen bertanya lagi dengan suara keras. Yara tidak tahu harus tertawa atau menangis sekarang. Lantas ia pun bangkit lebih dulu agar kedua temannya ini mengikuti. Ia tidak bohong saat mengajak mereka makan, ia benar-benar lapar saat ini. . . Dua hari satu malam telah berlalu. Kini Kira, Yara dan Zen dalam perjalan pulang yang penuh tawa. Yara duduk di depan bersama Zen dan terua membuat lelucon-lelucon lucu. Kira yang duduk di belakang akan menambahkan sesuatu dalam lelucon mereka dan tertawa terbahak-bahak. Ia memiliki tipe tawa yang membuat orang lain akan ikut tertawa begitu mendengarnya. Karena itu lah sulit sekali bagi mereka untuk berhenti tertawa. Setelah waktu berlalu cukup lama pada akhirnya Yara bersandar lemas di kursinya dengan perut sakit. "Aku jadi lapar," katanya sambil memegangi perut. Kira mendengus. "Sebelum pulang kan kita sudah makan di sana," ucapnya. "Tapi perjalanan pulang memang menghabiskan begitu banyak tenaga." "Apa perlu kita mampir untuk makan lagi?" Zen menawarkan dengan bersemangat. "Tidak, tidak," sahut Yara cepat. "Masing-masing dari kita sudah memiliki lingkaran hitam di bawah mata, sebaiknya kita cepat-cepat pulang untuk tidur." Tentu saja mereka semua pulang dalam keadaan begitu, bagaimana tidak jika setiap hari mereka tak pernah berhenti bermain dan bahkan hanya tidur selama dua jam kemarin malam. Seharian setelah pemotretan setelah makan malam, mereka memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian lalu kembali ke pantai untuk menyalakan kembang api. Bahkan saat mendekati tengah malam, bukannya kembali ke kamar masing-masing untuk tidur mereka malah memutuskan untuk membuat pesta barbeque sampai jam dua pagi. Seolah masih belum puas, setelahnya bahkan mereka bermain kartu di kamar Zen sampai jam lima. Rasanya benar-benar gila. Bahkan setelah tidur hanya selama dua jam mereka kembali bangun dengan bersemangat karena hari ini adalah hari terakhir mereka di sini dan sama sekali tidak bisa disia-siakan. Zen memberungut kecewa, tapi kebahagiaan masih jelas terpahat di wajahnya. "Lain kali kita harus membuat jadwal yang lebih panjang. Dua hari satu malam sangat kurang." Kira menyentuh dagu dengan sebelah tangan dan berpikir keras. "Pasti menyenangkan jika setidaknya bisa seperti ini seminggu sekali," ujarnya kemudian. Yara mendengus. "Jika kau ingin aku berhenti dari pekerjaanku sekarang juga tentu itu bisa dilakukan." Kira nyengir seoleh meminta maaf tapi ia tidak terlihat menyesal sama sekali. Tentunya ia sadar meski jadwalnya tidak sepadat Yara tapi dirinya juga tetap memiliki pekerjaan. "Kalau begitu sebulan sekali." Yara tidak memprotes lagi karena pada dasarnya ia juga menginginkan hal yang sama. "Jadi kau sudah memutuskan untuk berhenti hiatus?" Tanya Zen tanpa memandangnya dan fokus pada jalanan. Yara mengangguk dan nyengir sedikit. Mengingat beberapa waktu lalu sudah mengatakan hal yang sama tapi belum ada pembuktian. "Aku serius kali ini setelah beristirahat aku akan mulai bekerja lagi." Mendadak Kira memekik bersemangat. "Kalau begitu kau akan mengunggah fotomu juga kan?" Yara membeku dengan gugup. "Itu juga akan kupikirkan waktu tepatnya." "Baiklah, aku akan menunggu," kata Zen penuh arti sambil melirik Kira lewat cermin. Yara tahu dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi. Kali ini ia akan benar-benar mengunggah foto dirinya, karena bagaimana pun Zen sudah membantunya sejauh ini dan meski ia yakin seribu persen Kira akan membagikan foto kirimannya juga ia tetap harus mengunggahnya. Memikirkannya itu saja cukup membuatnya merinding. Akhirnya mereka sampai di depan rumah Kira. Setelah berpamitan dengan suara keras dan ceria ia pun pergi. Mereka sudah sepakat untuk langsung beristirahat setelah ini jadi tidak ada basa-basi lagi untuk mengajak mampir. Semakin cepat mereka beristirahat akan semakin baik. Setelahnya Zen mengantar Yara ke studionya sesuai permintaannya sendiri. Ia masih menolak untuk pulang ke rumah. Begitu sampai di sana, Zen membantu mengembalikan lukisan dan easelnya ke tempat semula dan langsung pulang setelahnya. Begitu ditinggal sendirian Yara jadi menyadari betapa lelah dirinya. Ia menjatuhkan ranselnya sembarangan dan melangkah cepat menuju sofa, bermaksud untuk tidur. Namun baru separuh perjalanan ia mendengar dering ponselnya berbunyi. Dengan kening berkerut-kerut dalam ia berbalik ke meja tempat tadi ia melatakkan ponselnya. Rupanya Sam. Yara kembali mematikan notifikasi di ponselnya, mengabaikan telepon itu dan bergegas tidur. Ia bahkan terlalu lelah untuk marah-marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD