Memandang seluruh lukisan yang memenuhi studio kecilnya ini membuat Yara menjadi sangat sedih. Seolah dikepung oleh kesedihan berlapis-lapis ia menundukan kepala dan memejamkan mata. Mengembuskan napas berat dan sembari menghindari serangan kepedihan itu ia berbalik dan duduk di meja bundar di sebelah konter. Ia menarik sebuah kursi untuk ia duduki, menyandarkan punggung pada sandaran dan mendongakkan kepala.
Tanpa diminta ingatannya kembali pada saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu memasuki puncak musim semi, dan taman adalah tempat prioritas nomor satu bagi Yara, Kira dan Zen. Entah selama jam istirahat atau sepulang sekolah mereka bertiga selalu menghabiskan banyak waktu di sana. Kira senang mengumpulkan daun-daun maple yang cantik, kadang mengumpulkan daun-daun lain juga untuk membuat mahkota untuk mereka bertiga. Dan tiga daun tercantik yang ia peroleh akan ia bagi antara dirinya, Yara dan Zen, meletakkan daun-daun itu dibuku mereka masing-masing untuk dijadikan pembatas buku. Dan Kira melakukan ini setiap hari, jadi sudah cukup dibayangkan berapa banyak dedaunan yang sudah terkumpul di buku-buku mereka.
Sementara Zen, ia biasanya tiduran di atas tumpukan daun yang berguguran. Terkadang menjadikan kedua tangannya sebagai bantal, terkadang membuat sebuah gundukan dari dedaunan yang lebih tinggi untuk menggantikan tugas kedua tangannya dan sembari tiduran dengan kaki terlipat di atas kaki yang lain, ia akan memandang ke beberapa sudut tertentu dan seolah tengah menerka-nerka dengan jari-jarinya, persis seperti seseorang yang bermaksud untuk memotret sesuatu. Dan belakangan, setidaknya tiga kali sehari Zen menceritakan pada siapa pun yang mau mendengar bahwa dalam perayaan ulang tahunnya yang akan datang sebentar lagi, orang tuanya akan membelikannya sebuah kamera.
Kira dan Yara, yang sejak awal cenderung lebih dekat dengan Zen ketimbang anak-anak lain pun mendapatkan cerita itu dua kali lebih banyak ketimbang anak-anak lain. Kira biasanya akan menjawab "hm" atau "mn" sebagai tanggapan, tapi Zen tak pernah terlihat tersinggung, karena baginya didengar saja sudah cukup. Lain lagi dengan Yara, biasanya ia akan menanggapi dengan "itu bagus" atau "aku juga tidak sabar" sambil tetap fokus pada gambar yang ia tengah buat.
Dan begitu lah kegiatan mereka belakangan. Yara duduk agak terpisah untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari apa yang ingin ia gambar. Ia juga selalu membawa pensil warna meski tak ada pelajaran seni. Ia duduk dengan kaki terlipat ke depan dan ia jadikan sebagai landasan untuk buku gambarnya.
Saat ini penampilan Yara masih persis seperti anak laki-laki. Rambutnya dipotong begitu pendek bahkan nyaris sama persis seperti rambut Zen. Ia juga tak pernah memakai aksesoris tertentu untuk menghiasi rambutnya, karena bahkan diusianya sekarang ia tidak suka sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman. Dan meski tahu banyak rumor yang mempertanyakan gendernya dari sekolah sebelah Yara tak pernah memusingkan hal itu. Bahkan bisa dibilang ia tidak peduli sama sekali. Di usianya sekarang tidak seperti Kira yang selalu memamerkan jepit rambut berbeda setiap harinya, ia lebih cocok disandingkan dengan Zen yang sama-sama polos dan sembarangan, bahkan cenderung terlalu cuek.
Namun sejak sebelum musim gugur dimulai, Yara menyadari kehadiran seseorang dari sekolah sebelah di sekitarnya. Mereka nyaris berpapasan setiap waktu dan baik Yara dan anak laki-laki itu selalu bertukar pandang satu sama lain. Tapi mengingat mereka tidak saling mengenal satu sama lain, mereka pun tak pernah terlibat dalam obrolan apa pun. Meski begitu Yara tahu dan sedikit heran, bahwa anak itu selalu kedapatan mencuri pandang padanya. Biasanya Yara hanya balas memandangnya dengan raut wajah datar dan dia akan memalingkan wajah dengan gugup atau terkadang bersikap seolah tak terjadi apa pun.
Karena letak sekolah mereka bersebelahan, tentunya taman ini menjadi begitu ramai setiap waktu. Dan ini adalah pertama kalinya bagi Yara merasa penasaran pada orang lain selain pada urusannya sendiri. Bahkan semakin lama si anak laki-laki itu terlihat seolah ingin mengatakan sesuatu padanya, bahkan terkadang sudut bibirnya berkedut seolah ingin menyapa dengan sebuah senyuman. Tapi bahkan senyuman terkecil pun terlihat begitu sulit. Dan akhirnya mereka berdua hanya bertukar pandang seperti biasa, bersikap seolah tak ada yang terjadi, dan memalingkan wajah masing-masing saat tersenyum. Dan anak itu adalah Samuel Sato.
Di usianya sekarang tentu saja Yara belum mengerti tentang menyukai orang lain. Tapi ia cukup yakin menyukai Sam dan menganggap rasa suka itu seperti saat ia ingin berteman dengan seseorang. Meski sejauh yang ia ingat ia tidak pernah menginginkan orang lain menjadi temannya.
Tapi semua kelucuan yang ia bagi diam-diam bersama Sam mendadak runtuh saat suatu hari, saat mereka berpapasan hanya berdua saja di taman -di jam itu semua orang sudah banyak yang pulang- tiba-tiba Sam menghentikan langkah dan berbalik. Yara yang merasa Sam ingin memanggilnya tapi kesulitan untuk bicara pun ikut berbalik sehingga mereka saling berhadapan.
Raut wajah Sam nampak begitu sulit, setengah sedih, setengah kecewa, setengah marah, seolah ada banyak begitu emosi yang ia rasakan sekaligus. Membuat Yara mengernyitkan kening dengan heran.
"Aku tidak menyukaimu," meski kata-katanya lemah tapi Sam jelas terlihat memaksakan kata-kata itu agar terdengar tegas.
Yara bergeming. Ia tidak mengerti dan bertanya-tanya apa barang kali Sam salah orang. Tanpa mengatakan apa-apa ia hanya berdiri di sana memperhatikan.
Kedua tangan sam terkepal erat. Ia tak pernah benar-benar memandang mata Yara selama ini. Kemudian dengan suara keras ia setengah berteriak. "Aku tidak menyukaimu, aku benar-benar tidak suka. Aku bukan orang seperti itu! Aku normal!" Selesai bicara begitu ia langsung berbalik dan lari.
Sulit untuk membayangkan betapa syoknya Yara saat itu. Ini pertama kalinya Yara mendengar seseorang secara terang-terangan bicara semacam itu padanya. Tanpa sadar ia mengangkat sebelah tangan mengusap pipinya yang basah. Ia menangis. Seketika bertanya-tanya, apakah dirinya memang sejelek itu?
Isak Yara mulai keluar dari mulutnya dan ia menangis dengan suara keras. Rasanya menyakitkan mendapati seseorang yang kau harapkan menjadi teman ternyata malah membencimu. Baru lah saat Yara beranjak dewasa ia sadar, bahwa perasaan itu bukan lagi mengenai seorang anak kecil yang menginginkan teman, ia sendiri tidak langsung sadar bahwa ia memang menyukai Sam. Selalu memperhatikan laki-laki itu dari kejauhan. Mendengar jejak kenakalannya dari mulut banyak orang. Dengan begitu praktis ia tidak pernah bisa mengeluarkan Sam dari pikirannya.
Kembali ke masa sekarang, Yara tersentak sadar dari lamunan saat suara ketukan pintu terdengar. Ia segera bangkit untuk menerima pesanan makanannya. Dan sedikit memaksakan seulas senyum ramah pada si pengantar itu.
Setelahnya Yara kembali masuk, menjatuhkan tubuhnya pada kursi lagi dan menghela napas keras-keras. Menyetujui pendapatnya sendiri bahwa hidup ini memang keras.