Yara terbangun saat sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah gorden. Ia mengeluh panjang, mengusap-ngusap matanya sebelum akhirnya menyerah dan bangkit. Dengan rambutnya yang tergerai berantakan ia duduk di sofa tempat ia tidur dan memandang kesal pada gorden. Ia bergeming beberapa saat sebelum menarik dirinya sekali lagi dan berjalan dengan langkah berat untuk membuka gorden itu.
Ia mengernyitkan kening seketika, matahari sudah tinggi di atas kepala, butuh beberapa saat sebelum ia bisa terbiasa. Lantas Yara mengambil langkah mundur, seolah dengan begitu bisa lebih cepat membiasakan matanya pada sinar matahari. Ah, ia nyaris menabrak lukisan di tengah ruangan.
Benar juga, semalaman, tepatnya sejak Zen dan Kira pulang, ia memutuskan untuk membuat sebuah lukisan baru lagi. Lukisan ini belum sepenuhnya selesai meski menghabiskan nyaris semalam penuh. Ia juga menolak untuk pulang ke rumah. Tentu saja ini tidak berarti orang tuanya akan khawatir. Lagi pula Yara memutuskan ingin menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri untuk beberapa saat.
Ia mendesah keras memandang lukisan rumit di hadapannya itu. Namun tanpa mengatakan apa pun ia kembali menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Mengikat rambutnya secara sembarangan lalu mencuci muka.
Selesai begitu ia berjalan memutar menuju konter, tak ada banyak bahan makanan di sini karena memang Yara jarang sekali menginap, ia juga tidak suka memasak. Bahkan semalam ia lebih memilih tidur di sofa ketimbang memakai futon yang ada di lemari, rasanya ia terlalu malas untuk menata semua hal itu lagi.
Di dalam kulkas Yara menemukan sekotak sereal dan s**u, lantas ia mengambil mangkuk, menuangkan sereal disusul dengan s**u ke dalamnya. Ia tidak terlalu mempermasalahkan apa yang akan ia makan, saat ini suasana hatinya benar-benar buruk.
Sambil membawa kotak s**u yang tersisa dan mangkuk itu, Yara berbalik mengambil langkah lebar-lebar menyeberangi ruangan. Di tengah perjalanannya menuju balkon ia berhenti sesaat untuk menatap lukisan suram yang menghabiskan waktu semalaman ini, lalu kemudian memutuskan untuk mendorongnya sampai jatuh dari easelnya dengan satu kaki dan melanjutkan langkah seolah tak terjadi apa pun. Begitu lah keputusannya, Yara memutuskan untuk membuang lukisan terkutuk itu nanti.
Cukup sulit membuka pintu geser yang terhubung dengan balkon menggunakan tangannya yang sibuk. Rasa-rasanya semua hal bisa dengan mudah membuatnya marah, Yara sampai nyaris saja menendang pintu kaca itu jika masih menolak untuk dibuka.
Di balkon kecil ini ada sebuah meja bulat dan dua kursi kayu di kedua sisinya. Dengan kasar Yara menarik salah satu kursi untuk ia duduki, meletakkan mangkuk dan kotak susunya di meja dan baru akan menyuap sesendok sereal saat tiba-tiba mendengar suara dering ponselnya dari dalam.
Yara menyipitkan mata, berusaha mengabaikan suara itu tapi pada akhirnya ia merasa sangat terganggu dan bangkit dengan keras.
Ponselnya ada di meja di sebelah konter, ia sendiri tak terlalu ingat pada keberadaan benda itu semalaman ini. Namun begitu ia sampai di meja ponselnya telah berhenti berdering, menahan dirinya untuk tidak menendang meja lantas ia hanya menghela napas berat. Memejamkan mata sesaat sembari memijit pelipisnya dengan sebelah tangan.
Tak lama terdengar dering kecil lain dan meski dengan enggan Yara meraih ponselnya untuk memeriksa pesan yang masuk. Rupanya Zen, yang mengabarkan akan datang sore ini untuk memotret lukisan barunya. Yara segera meletakkan ponselnya kembali dan mengacuhkannya.
Ia berbalik lagi menuju balkon dan berharap tidak melihat lukisan baru yang tergeletak di lantai.
Kembali mendudukan dirinya di kursi yang ia tinggalkan, Yara menyendok sesenduk penuh sereal dan memasukkannya ke mulut. Dan tepat saat itu ia sadar, kenapa rasanya sangat tidak jelas begini? Masih menahan suapan pertamanya di dalam mulut, Yara meraih kotak s**u di meja dan memeriksa tanggal kadaluarsanya, ia nyaris tersedak begitu melihat angka-angka yang tertera di sana, untungnya ia cepat mengendalikan diri dan memuntahkan suapan pertamanya kembali ke mangkuk.
Ia mendesah keras, kemarahan dalam dirinya seolah bisa meledak kapan saja sekarang. Namun sebelum ia melakukan apa pun untuk menyalurkan amarahnya, mendadak ia tersadar dan merasa kecewa. Apa-apaan semua kemarahan tak berdasar ini? Kenapa ia harus merusak segala hal di sekitarnya tanpa alasan yang jelas?
Akhirnya Yara mengembuskan napas penuh beban dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan mata terpejam. Kali ini ia dengan jujur menerima perasaan yang ia rasakan sesungguhnya. Bahwa ia masih merasa sangat sedih karena Sam sudah melupakan dirinya. Tapi kenapa ia perlu menjadi sesedih ini? Yara juga tidak tahu kenapa. Setiap alasan yang ia jadikan jawaban tak pernah lebih baik dari alasan yang sebelumnya dan semua alasan-alasan itu seolah bertumbuk menjadi sebuah omong kosong besar.
Setelah keheningan panjang, Yara bangkit dan membereskan sarapannya yang gagal. Sembari menasehati dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati lain kali dan mengatur waktu untuk berbelanja bahan makanan, karena nampaknya ia akan menghabiskan lebih banyak waktu di sini dari yang pernah ia lakukan.
Selesai mencuci mangkuk dan sendok yang ia gunakan, Yara memutuskan untuk memesan makanan lewat ponsel, kali ini ia baru benar-benar memerhatikan jam berapa sekarang. Sudah hampir jam setengah satu siang. Ia bergumam takjub, efek tidak tidur semalaman membuat ia tertidur selama tujuh jam.
Ia juga memeriksa pesan dari Zen sekali lagi dan membalasnya dengan sebuah sticker seperti yang biasa ia lakukan. Yara memang cenderung lebih suka menggunakan sticker ketimbang mengetik sesuatu. Baginya lebih praktis, tak perlu bertele-tele tapi masih berkesan cukup sopan dan di antara semua alasan itu ia suka menggunakan sticker karena baginya itu adalah hal yang lucu.
Sambil menunggu pesanannya sampai, Yara memutuskan untuk mengambil lukisan yang akan dibuangnya kembali. Setidaknya lukisan ini, meski belum sepenuhnya selesai karena ia terus merubah-rubah bentuknya, sudah menghabiskan begitu banyak waktu dan usaha. Jadi Yara berpikir lebih rasional dan memutuskan untuk tidak jadi membuangnya. Ia menatanya kembali seperti sedia kala dan menatapnya dalam keheningan. Itu adalah lukisan dua orang berbaju merah yang berjalan di tengah hutan yang dipenuhi kabut dengan latar musim gugur. Apakah Yara memiliki makna khusus tentang lukisan ini? Entahalah, ia juga tidak tahu. Pada awalnya ia melukis wajah seorang pria, namun kemudian sadar bahwa ia membenci sosok yang dilukisnya itu lalu menimpanya dengan cat putih dan melukis ulang pemandangan seorang gadis yang menangis, tapi kali ini bahkan sebelum seperempatnya selesai Yara sudah menimbunnya lagi dengan cat kelabu. Dan di sini lah akhirnya, dua sosok berbaju merah yang entah muncul dari mana. Seolah dengan sendirinya muncul dalam kepalanya dan ia tidak memiliki pilihan lain selain melukis mereka.
Meski sebenernya ia tahu bahwa kedua orang itu adalah dirinya dan Sam, tetapi ia praktis menolak dan berusaha memandang kedua orang itu dengan berbagai cara yang berbeda. Walau tentunya tak mudah, karena fakta bahwa ia mengharapkan bisa berjalan bergandengan tangan bersama Sam secara harfiah tertuang dengan jelas di sini. Namun fakta lain bahwa sosok pria dalam lukisan ini juga tertutup kabut dan membuatnya terlihat setengah transparan adalah kenyataan milik Yara bahwa harapannya tak bisa menjadi nyata. Jadi singkatnya, lukisan ini menggambarkan dirinya yang berjalan dengan sosok yang ia cintai tapi tak bisa ia miliki, secara harfiah. Karena ia tahu, Sam tidak mencintai dirinya.
Alis Yara bertaut, pemikiran ini benar-benar membuatnya merasa sedih. Tapi kemudian ia sadar dan memandang ke sekeliling pada lukisan-lukisan lain yang memenuhi ruangan, semua lukisan itu juga dilukis berdasarkan rasa sedihnya yang terpendam selama bertahun-tahun.