BAB 15 - sweet escape

2439 Words
Udara pagi itu terasa begitu segar, angin yang berembus pun masih terasa dingin saat menyentuh kulit. Hanya ada dua pilihan untuk cuaca seperti ini, apakah tetap memutuskan untuk meringkuk bergelung di dalam selimut yang hangat atau pergi ke luar untuk jalan-jalan atau berolahraga menikmati udara segar pagi ini. Namun, kedua pilihan itu tidak berlaku untuk Juna, Nadine dan ketiga sahabatnya. Pagi ini, mereka berlima sudah bersiap dengan koper-koper dan barang bawaan mereka yang akan dibawa ke Pulau Moyo. Seperti yang sudah di jadwalkan kemarin, weekend kali ini Juna berencana mengajak Nadine dan ketiga sahabatnya untuk liburan di Pulau Moyo sekaligus melakukan inspeksi mendadak untuk melihat progress proyek propertinya di sana. "Semuanya sudah siap? Oke, ayo kita berangkat!" ujar Juna lantang sambil melambaikan tangan ke Nadine dan ketiga sahabatnya agar bergegas masuk ke dalam mobil. "Kita nggak nunggu Mas Chandra dulu? Mas Chandra ‘kan belum datang," sela Nadine cemas. "Dia nggak ikut! Kemarin dia harus pulang ke Jakarta, pacarnya pulang dari London," sahut Juna sambil berjalan menuju ke mobil. "Oh gitu! Pacarnya kuliah di London?" Juna hanya mengangguk, kemudian memberikan kode ke Pak Hendi untuk siap-siap berangkat setelah ketiga sahabat Nadine selesai menaruh barang bawaan mereka di mobil. "Aminah, aku pergi dulu, ya! Titip rumah, kalau ada apa-apa, kamu bisa telpon aku atau Bapak, oke?” Aminah mengangguk sambil mengantar majikannya ke depan, “kamu sudah simpan nomer kami, ‘kan?" Gadis lugu itu mengangguk lagi. Nadine pun bergegas masuk ke dalam mobil, Juna dan ketiga sahabatnya sudah menunggu sedari tadi. Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi melesat meninggalkan rumah. Pagi-pagi sekali, sekitar jam enam pagi, Juna, Nadine dan ketiga sahabat mereka melintas di jalanan menuju ke Bandara Internasional Lombok yang terletak di Kota Mataram. Perjalanan ke kota itu memakan waktu kurang lebih dua jam dari Kota Sekotong, tempat tinggal mereka saat ini. Setibanya di bandara, mereka berlima lanjut terbang dari Lombok menuju ke Pulau Sumbawa Besar dengan jarak tempuh kurang lebih empat puluh lima menit. Penerbangan dari Lombok ke Sumbawa Besar memang hanya ada sehari sekali dan itu pun hanya dilakukan pada pagi hari, makanya sejak semalam Juna mewanti-wanti banget sama Nadine untuk mengingatkan ketiga sahabatnya agar bersiap-siap sejak subuh, agar tidak ketinggalan pesawat. "Kamu nggak lupa ‘kan ngingetin ketiga sahabatmu itu untuk bangun pagi-pagi? Kalau perlu sebelum subuh, mereka harus bangun. Aku nggak mau kalau kudu nunggu lama-lama, entar bisa ketinggalan pesawat!" "Sudah, sudah, Sayang. Aku sudah ingetin mereka, jangan khawatir. Percaya deh, mereka pasti bakal bangun sebelum subuh, nggak usah cemas." Nadine pun tersenyum kecil ketika teringat percakapan mereka semalam sambil membereskan barang-barang mereka yang akan mereka bawa selama liburan. "Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu? Ada apa?" tanya Juna penasaran sambil memajukan dagunya ke depan. Sesaat suara Juna membuyarkan lamunan Nadine yang saat itu sedang memandang jauh keluar dari jendela pesawat. "Hmm … apa?" Nadine jadi bingung saat Juna menuntut jawaban. "Kamu! Kamu kenapa senyum-senyum sendiri seperti tadi?" Juna lalu menirukan gaya senyuman Nadine yang sangat dihafalnya. "Ooh, yang tadi? Hehehe, aku cuma keinget ucapanmu semalam, ternyata memang harus pagi-pagi, ya berangkatnya, karena penerbangannya aja cuma sekali sehari," ucap Nadine dengan wajah innocent-nya. "Belum lagi begitu turun dari bandara nanti, kita masih harus naik mobil lagi menuju ke pelabuan, lalu baru nyebrang ke Pulau Moyo,” sela Juna tegas, “jadi banyak sekali rangkaian transit yang harus dilewati, Sayang. So we have to go early in the morning, Honey!” lanjutnya lagi. "Iya, demi melihat surga yang tersembunyi itu. Aku jadi penasaran seperti apa sih, tempatnya? Konon katanya dulu Lady Diana juga pernah berlibur ke sana ya?" Juna pun mengangguk membenarkan ucapan istrinya. "Nggak cuma Lady Di. David Bowie, Mick Jagger sampai petenis Maria Sharapova juga pernah berlibur ke sana. Tempat itu benar-benar private resort, maksudku resort yang akan kita tinggali nanti. Namanya Alamwana resort, satu-satunya resort yang ada di Pulau Moyo, oleh karena itu aku tertarik untuk buka resort baru di sana." "Apa dekat dengan Alamwana resort?" Nadine jadi semakin tertarik dengan cerita sang suami. "Nggak! Resortku ada di sebelah utara, kalau Alamwana itu di sebelah barat daya. Sampai hari ini progressnya sudah tujuh puluh persen. Kalau nggak salah, saat ini mereka sedang bikin kolam renang di sana!" "Lalu rencananya ada berapa resort?" sela Nadine lagi. "Kurang lebih mungkin dua puluh resort, tapi mungkin bisa nambah lagi. Kamu nanti bisa lihat perbedaan yang tampak antara resortku dengan resort yang kita tinggali nanti, tapi sebenarnya sih, kurang lebih sama." Tak terasa pesawat yang mereka tempati sudah tiba di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III. Mereka berlima kembali melanjutkan perjalanan menuju ke pelabuhan Poto Tano lalu menyewa kapal, menuju ke Pulau Moyo, menyeberang dari pelabuhan Pantai Gowa dengan kapal motor selama satu jam menuju ke Pulau Moyo dengan tujuan labuhan di Labuan Badas. Saat itu cuaca sangat cerah dan ombaknya pun juga sangat tenang. Nadine dan ketiga sahabatnya sangat excited dengan panorama yang terbentang di depan mereka, matahari juga bersinar sangat lembut mengiringi kapal yang mereka tumpangi perlahan-lahan meninggalkan Sumbawa. Tak henti-hentinya perempuan itu mengabadikan keindahan Pulau Sumbawa dari laut dengan membidikkan kamera Canon-nya, begitu pula Rommy yang memiliki hobby yang sama seperti Nadine yaitu fotografi, sedangkan Trisha dan Melinda tampak asyik berfoto selfie sendiri atau berdua atau kadang beramai-ramai dengan ponsel mereka masing-masing, sementara Juna lebih asyik berdiam diri sambil menikmati embusan angin laut yang sepoi-sepoi menyapu rambut gondrongnya yang coklat kemerahan. "Kamu sudah sering ke sini rupanya ?" Rommy mencoba membuka percakapan dengan mendekati Juna yang saat itu sedang duduk di bagian atas kapal motor, membiarkan matahari membakar sedikit kulitnya yang putih. "Ya, begitulah. Seperti yang aku bilang dari kemarin, aku ada proyek di sana dan aku ingin meninjau seberapa jauh progressnya," sahut Juna sambil membenarkan kacamata hitamnya yang bertengger di hidung yang mancung sambil menatap lurus ke depan. Rommy pun menelan ludah sesaat, begitu melihat ketampanan yang terpampang di depannya. Kulitnya yang putih dan memerah semakin menampakkan kejantanan yang ada pada laki-laki di sebelahnya ini. Andai saja dia bukan suami sahabatnya, ingin rasanya Rommy mendekati Juna yang mungkin punya kesamaan dengan dirinya. Namun, dia sadar kalau Juna adalah laki-laki sejati. Selama dia menginap di rumah Nadine, kurang lebih hampir seminggu ini, tidak satu malam pun Rommy lewatkan untuk menguping aktifitas malam kedua pasangan pengantin baru tersebut. Awalnya tanpa sengaja, pagi itu ketika mereka baru pulang dari clubbing, sekitar jam setengah 3 pagi, Rommy gelisah dan tidak bisa tidur, kerongkongannya terasa kering. Laki-laki itu segera beralih ke dapur, mencari air putih untuk membasahi kerongkongannya. Tiba-tiba lamat lamat dia merasa seperti mendengar sebuah suara dari lantai atas, pria itu yakin kalau itu suara Nadine yang sedang berasyik masuk dengan suaminya. Awalnya Rommy ragu untuk naik ke lantai atas untuk meyakinkannya. Namun, otak m***m dan rasa penasarannya begitu kuat, dia ingin melihat atau mendengar seperti apa aktifitas malam mereka. Perlahan Rommy segera berjalan berjingkat menuju ke lantai atas, tepatnya langsung ke kamar Nadine. Pucuk dicinta ulam pun tiba, rupanya kedua sejoli yang sudah di mabuk cinta itu tidak sadar kalau pintu kamar mereka berdua tidak tertutup dengan sempurna. Mungkin mereka terlalu terburu-buru untuk menyatukan hasrat sehingga menyisakan sebuah celah kecil pada pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dari celah tersebut Rommy bisa mengintip dengan jelas bagaimana gaya mereka pagi itu, Nadine tampak terengah-engah sambil sesekali menjerit pelan dengan desahannya yang membuat laki-laki itu tidak ingin bergeser dari tempatnya berdiri. Pemandangan tersebut benar-benar membuat Rommy gila, lututnya pun gemetar, kejantanannya mengeras, dia tidak tahan lagi, apalagi setelah pasangan pengantin baru itu menyatu satu sama lain. Bergegas Rommy berjingkat turun menuju ke kamarnya sendiri, lebih tepatnya ke kamar mandi untuk melepaskan semua hasratnya di sana. Pria itu benar-benar tidak bisa melupakan apa yang telah dilihatnya pagi itu, bahkan sejak saat itu, setiap malam sekitar jam dua pagi, Rommy selalu berusaha untuk menguping di depan kamar Nadine yang kali ini sudah tertutup rapat, hanya untuk mendengar desahan atau erangan nikmat pasangan pengantin baru tersebut yang dibayangkan sendiri melalui imaginasinya. "Hei, lagi asyik ngobrolin apa, nih?" Suara Nadine yang tiba-tiba muncul di depan mereka, membuyarkan lamunan Rommy tentang apa yang dilihatnya setiap malam. "Obrolan antar laki-laki," sahut Rommy mantap. Juna dan Nadine hanya tertawa kecil, kemudian perempuan itu duduk di depan Juna, menyenderkan tubuhnya di d**a bidang sang suami sambil menikmati pemandangan yang ada di depan mereka. Rommy hanya bisa berdehem kecil di depan mereka lalu berkata, "Kalau mau bermesraan, jangan di depan gue dong!" ujarnya kesal. Nadine tertawa begitu mendengar keluhan sahabatnya. "Emang kayak gini bermesraan? Bermesraan itu gini, Rommy," sahutnya sambil merapatkan tubuhnya di d**a Juna dengan melingkarkan lengannya di pinggang laki-laki itu lalu menciumi rahang keras yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitarnya, dilanjut dengan mencium bibir merah Juna dengan lembut. "Nah ini yang namanya bermesraan," lanjutnya sambil tertawa tergelak. Juna pun tersenyum, sedangkan Rommy hanya bisa menyeringai kecut melihat tingkah kedua pasangan ini. "Ya, ya … aku nyerah, kalian berdua ini emang pasangan yang hot dan panas! Bikin aku iri aja, nanti dilanjut di pulau itu !" "Iya dong, ini ‘kan sekalian bulan madu kami. Awas, jangan ngintip, ya!" Juna dan Nadine kembali tertawa kecil, sedangkan Rommy cuma bisa melengos kesal. Mereka bertiga kemudian kembali menikmati perjalanan di atas laut. Sepanjang jalan, mata mereka disuguhi pemandangan langit biru yang cerah, tebing-tebing sekeliling pulau yang ditumbuhi tanaman liar, pasar putih yang kontras dengan gradasi warna air laut dari biru hingga toska, sungguh sangat cantik dan eksotis. Tak lama kemudian mereka telah tiba di dermaga Alamwana resort, lalu diantar semacam bus tentara menuju ke resort yang berjarak 1,5 km dari dermaga. "Kalian nggak lupa bawa uang tunai, ‘kan? Karena di sini nggak ada ATM! Jadi kalau mau beli oleh-oleh, bayarnya pake uang tunai, bukan gesek dan satu lagi jaringan sinyal di sini juga nggak begitu bagus. Jadi saranku lebih baik kalian matikan saja ponsel lalu nikmati keindahan pulau ini, bagaimana? Setuju, ‘kan?" ujar Juna setelah mereka sampai di Alamwana resort. "Setuju!" Nadine dan ketiga sahabatnya kompak berseru bersamaan lalu tertawa bareng-bareng. Mereka berlima lalu berjalan beriringan menuju ke Alamwana resort. Saat masuk ke dalam lobby resort, mereka berlima di sambut dengan welcome drink, semacam minuman orange squash yang berwarna-warni dengan irisan jeruk lemon yang bertengger di pinggir gelas ditambah sebuah aksesoris payung kecil sebagai hiasan di atasnya. Nadine dan ketiga sahabatnya benar-benar takjub dengan privat resort yang sebagian besar terbuat dari ornament kayu tersebut. Dengan tidak mengurangi nuansa alam di sekelilingnya yang ditumbuhi pohon-pohon yang hijau subur, dengan banyak rusa dan kera yang berkeliaran bebas di sekitarnya, membuat resort tersebut benar-benar alami. "Sorry, ternyata kita nggak bisa booking tiga kamar, kemarin aku booking tiga ternyata hari ini cancel satu karena ada rombongan turis yang datang, jadi aku ambil extra bed untuk Rommy, biar nanti ditaruh di kamar Melinda dan Trisha, gimana? Nggak apa-apa, ‘kan, Rom?" "It's okay, nggak masalah, aku bisa tidur di mana saja," sahut Rommy santai, Nadine dan kedua sahabatnya pun tersenyum sambil melirik ke Rommy. "Okee, let's go to our room!" Mereka berlima lalu keluar dari lobby menuju ke kamar resort mereka masing-masing yang dikelilingi oleh pohon-pohon Pirus dengan laut Flores-nya yang kaya akan karang. Kamar resort mereka benar-benar seperti tempat perkemahan di tengah hutan dengan dua puluh tenda safari yang tersebar di antara pepohonan. "Wow, kita benar-benar seperti berkemah di alam liar!" Rommy berteriak kegirangan sambil mulai mengabadikan kembali pemandangan yang ada di depannya, sementara yang lain mulai masuk ke dalam kamar resort mereka masing-masing yang berbentuk seperti tenda yang berdiri sendiri-sendiri, dihiasi dengan lantai kayu keras, dinding, jendela dan kanopi ber-AC yang menjulang tinggi, melindungi sebuah tempat tidur mewah dengan kamar mandi dalam dan tempat tidur queen size yang tertutup kelambu. "Bagaimana? Kamu suka?" "Sukaa banget, Sayang. Pantas saja kalau Lady Di betah bersembunyi berlama-lama di sini" sahut Nadine sambil memeluk Juna erat. "Kalau kamu mau spa dan pijat, di sini juga tersedia spa di alam terbuka, kalian bisa memesannya nanti." Nadine hanya mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang queen size yang empuk. Terbayar sudah semua rasa lelah selama perjalanan tadi, sementara Juna mulai membongkar barang-barang mereka. "Nad, kita makan siang dulu yuk! Laper, nih." Tiba-tiba saja Melinda muncul di depan pintu kamar resort mereka sambil mengetuk-ngetuk pintu dan mengelus-elus perut. Nadine dan Juna hanya tertawa kecil melihat tingkah perempuan itu yang kelaparan. "Oke! Ayo, Sayang. Kita makan siang dulu, bongkar barangnya nanti aja, nanti aku bantuin." Mereka bertiga keluar kamar dan beralih menuju ke meja makan yang terletak di depan kamar mereka dengan pemandangan alam terbuka hijau plus pasir pantai putih yang membentang di sepanjang laut yang biru cantik. "Juna, thanks a lot! Karena kamu sudah membawa kami liburan ke heaven-nya dunia. It's so amazing, wonderful!" puji Rommy tulus setelah mereka bergabung duduk di depan meja makan. "Tapi aku rasa semua spot di pulau Lombok dan Sumbawa ini adalah heaven-nya dunia, deh! Mana ada sih di sini, yang tempatnya jelek? Iya, ‘kan?” sela Trisha yang sedari tadi hanya terdiam mengagumi, “ada gunung, bukit, laut, pantai, semuanya bagus! Aku suka, besok kalau suamiku pulang, aku akan ajak dia liburan di sini aja bareng Tora, karena tempat ini bener-bener tempat pelarian yang manis dari segala rutinitas sehari-hari," lanjutnya penuh semangat, Melinda segera menyenggol siku Nadine yang kebetulan duduk di sebelahnya begitu mendengar ucapan sahabatnya itu. Perempuan itu pun tertawa. "Yes! Absolutely! Sweet escape yang tak terlupakan." Rommy ikut menimpali. "Tapi jangan di sini liburannya, Sha. Di resortnya Juna aja, di Pulau Moyo ini juga, saat ini sudah tujuh puluh persen lebih pembuatannya. Bukan begitu, Sayang?" ujar Nadine sambil melirik ke Juna. Laki-laki itu hanya mengangguk membenarkan. "Wah, kalau gitu, kalau pas open launching resortmu, aku juga ikut lagi, ah" Rommy juga tidak kalah semangat begitu mendengar bocoran soal proyek resort keluarga Juna. "Aku juga!" Melinda pun tidak kalah semangat sambil mengacungkan jarinya ke atas. “Boleh, boleh saja kalian semua boleh datang ke resort kami," sahut Juna senang, "Lokasinya di mana?" sela Melinda penasaran. "Di sisi utara Pulau Moyo, view-nya ke arah Pulau Satonda dengan view sunset dan sunrise secara langsung. Kalian juga bisa diving dan snorkling di sana,” sahut Juna bangga, “kalau kalian nggak capek, abis makan siang ini, aku mau pergi ke sana, kalian mau ikut?" Kedua manik mata beberapa pasang mata itu tampak berbinar terang, begitu mendengar tawaran laki-laki tajir itu. Tepat pada saat itu pelayan restoran resort menghampiri meja mereka lalu mulai menyajikan makanan khas Indonesia dan Barat dengan bahan-bahan organik dan terbaik sesuai paham healthy food yang sedang trend akhir-akhir ini. Nadine dan ketiga sahabatnya benar benar sangat excited, apalagi setelah makan siang nanti, mereka akan melihat resort milik keluarga Juna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD