BAB 14 - addicted

2274 Words
Menunggu adalah hal yang paling membosankan bagi Nadine. Namun, malam ini dia harus sedikit bersabar menunggu panggilan telfon ke handphone sang suami. Rupanya Juna tidak langsung mengangkat telfon, meskipun Nadine sudah berkali-kali menghubunginya. Mungkin kerjaan di proyek cukup menyita perhatian laki-laki itu, sehingga dia tidak segera mengangkat telfon dari istrinya. Nadine mencoba untuk mengerti dan memaklumi keadaan ini. "Sayang, kamu masih di proyek?" tanya Nadine setelah terhubung dengan Juna yang masih sibuk di kantor. "Iya, aku masih di proyek, kenapa?" Suara Juna mulai terdengar di ujung sana. "Nggak apa-apa, sih. Cuma mau nanya aja, malam ini temen-temen pada pengin clubbing, apa aku boleh ikut?" Sesaat Juna terdiam begitu mendengar permintaan sang istri. "Ya, boleh. Kamu boleh clubbing sama mereka, tapi ngomong-ngomong mau clubbing di mana?" Nadine memekik senang, saat Juna mengijinkannya. Laki-laki itu sendiri merasa penasaran dengan rencana sang istri dan teman-temannya. "Nggak tahu juga, makanya aku tanya kamu, apa di sini ada klub malam?" "Ya ... mungkin ada, tapi mungkin nggak seperti yang di Jakarta. Menurutku sih, lebih baik kamu ke Hotel Pearl Beach saja, nanti biar Pak Hendi yang antar kalian. Nanti aku akan minta Pak Hendi untuk ke rumah sekarang," sahut Juna. "Oke, aku tunggu. Terima kasih yaa, Sayang. Love you." Nadine lalu memutuskan sambungan telponnya, tak lama kemudian, mereka berempat akhirnya tiba juga di Hotel Pearl Beach. Setelah bertanya ke resepsionis, Nadine dan ketiga sahabatnya memasuki pub and bar yang ada di hotel tersebut, saat itu baru jam sepuluh malam. Namun, pub yang kebanyakan berornamen kayu tersebut sudah terlihat hampir penuh. Meja bar yang terhampar di sana benar-benar sudah penuh, belum lagi yang pada duduk-duduk di sofa yang terletak di pinggir-pinggir ruangan atau kursi-kursi yang berada di tengah, semuanya penuh. Sebagian besar pengunjungnya kebanyakan berasal dari turis asing, bule-bule putih yang datang dari berbagai negara yang datang ke sana untuk menikmati keindahan pulau Lombok, juga ada beberapa turis Asia dengan mata sipit dan bahasa mereka yang sangat khas. "Wah, rame juga, ya ... banyak bulenya lagi! Lihat tuh, Mel. Pilih yang mana? Kamu katanya pengabdi bule!" goda Rommy begitu mereka duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. "Sotoy, lu! Gue bukan pengabdi bule, tapi pecinta bule!" Nadine dan Trisha tertawa tergelak begitu melihat ulah Melinda dan Rommy yang selalu aja berantem di setiap kesempatan kalau mereka lagi ngumpul bareng seperti ini. "Sama aja lagi! Kamu itu ya, harusnya nonton film kenapa harus bule? Biar mata kamu tu kebuka, kalau cari cowok tu jangan cuma bule mulu yang akhirnya ditinggal juga! Contoh nih, dua teman kita yang suka produk lokal, laki mereka juga strong enough, iyaa nggak, Bu?" tanya Rommy sambil menoleh ke Trisha dan Nadine yang masih saja tertawa geli. "Eh, tapi tunggu! Nagarjuna Evandaru itu bukan seratus persen produk lokal! Ibunya dari Turki, jadi dia setengah bule juga, ‘kan?" Melinda mencoba membela diri. "Oke, oke! Tapi ‘kan nggak seratus persen pure bule! Tetep ada bau-bau lokalnya, kalau kamu ‘kan penginnya bule otentik! Native speaker!" sela Rommy dengan semangat nyolotnya. "Lho emang salah kalau pengin perbaikan keturunan? Iyaa nggak, Nad?" Melinda tetap tidak mau kalah nyolot. "Udah ah! Kalian berdua ini selalu ada-ada aja, sekarang mau minum apa?" sela Nadine sambil menjentikkan tangannya ke arah pelayan yang kebetulan lewat di depan mereka. "Sedikit wine boleh, ‘kan?" goda Rommy sambil mengedipkan sebelah matanya ke Nadine dengan sikap mengiba ibarat anak kecil yang minta dibeliin lollipop dengan ekspresi catty eyes-nya. "No! Aku nggak mau kamu mabok di sini! Entar kita-kita ini yang susah!" Nadine melarang keras, pelayan yang berdiri di sebelahnya tampak tertawa kecil lalu menahan tawa begitu melihat ulah perempuan itu dan teman-temannya. "Iya, jangan kasih dia kesempatan minum wine, Nad! Ujung-ujungnya entar mabuk berat! Kayak kemarin tu waktu di putusin ama Bonny, langsung teler dia minum sebotol!" sela Melinda penuh semangat karena kali ini dia punya kesempatan untuk membalas laki-laki itu. "Ya, udah terserah kalian deh! Mau pesen apa, yang penting harus enak! Delicious! Ayo, Mel ... kita dancing dulu, sambil cari bule!" Rommy bergegas menarik Melinda untuk nge-dance bareng dirinya di lantai dansa yang kebetulan baru segelintir orang yang melantai di sana, sementara Nadine dan Trisha sibuk memesan minuman ke pelayan yang berdiri di depan mereka dengan baju sexy-nya. Tak lama kemudian setelah puas menikmati minuman yang mereka pesan, Rommy kali ini menarik Nadine dan Tirsha untuk nge-dance bareng mereka. Tanpa sungkan perempuan itu mulai meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti dentuman nada yang dimainkan oleh sang DJ, bahkan sesekali tertawa sambil merangkul leher Rommy. Melinda dan Trisha pun ikut lebur menikmati irama tersebut. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, mereka berempat masih asyik menikmati suasana yang tercipta di sana, bahkan Melinda juga sempat mendapat kenalan seorang pria bule asal Belanda yang bernama Erick. Melinda dan Erick lalu mojok berdua setelah puas nge-dance bareng tadi. "Sia-lan, si Melon udah dapet gebetan tuh, Nad!" Nadine hanya tertawa sambil terus menggoyangkan tubuh dan kepalanya begitu mendengar keluhan Rommy, karena memang tinggal mereka berdua yang masih belum lelah bergoyang di lantai dansa. Mereka berdua tampak seperti pasangan yang sedang jatuh cinta, Rommy memang paling ahli dalam memperlakukan pasangan menarinya di lantai dansa, membuat banyak orang merasa iri, apalagi ketika tangannya mulai meraba punggung Nadine, tiba-tiba ada seseorang yang mencekal tangannya. Laki-laki itu kaget dan menghentikan gerakan tariannya, begitu pula Nadine yang kemudian berbalik untuk melihat apa yang menyebabkan sahabatnya berhenti menari, ternyata di belakangnya telah berdiri Juna yang menatap ke arah mereka berdua secara bergantian. "Boleh, aku menari dengan istriku?" tanya Juna sambil melepaskan cengkeraman tangannya yang begitu kokoh di tangan Rommy. Pria itu bisa melihatnya dari balik lengan kemeja Juna yang tergulung hingga ke siku. "With my pleasure," sahut Rommy dengan senyum manisnya kemudian meninggalkan mereka berdua dan beralih ke meja bar untuk memesan minuman lagi, saat itu Trisha baru saja keluar dari toilet dan ikut bergabung dengan Rommy di meja bar. "Kamu nyusul ke sini rupanya?" tanya Nadine santai sambil merangkul leher Juna dan kembali menggoyangkan tubuhnya. Laki-laki itu hanya mengangguk lalu ikut bergoyang menikmati dentuman nada dari sang DJ sambil berbisik di telinga sang istri, "Bajumu terlalu sexy! Dan aku juga nggak suka sama caramu nge-dance bareng Rommy tadi, terlalu intim!" Nadine tertawa kecil begitu mendengar pengakuan suaminya yang terdengar begitu cemburu. "Masa baju gini kelihatan sexy, sih? Ini ‘kan umumnya baju kalau ke klub, lagian rok miniku juga nggak pendek-pendek amat, cuma selutut, Sayang,” Nadine berusaha membela diri, “masa pake hijab kalau ke klub, nggak asyik lagi," godanya sambil menatap kedua bola mata Juna, intens sambil menggigit bibir bawahnya dengan terus menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Iya, tapi bajumu terlalu ketat, terlalu menggoda banyak pria, apalagi cara nge-dance-mu tadi sama Rommy, bikin banyak cowok berpikiran liar dan aneh!" Nadine hanya tersenyum kecil sambil terus mendengarkan keluhan sang suami yang memang benar-benar cemburu, kemudian perempuan itu membalik tubuhnya dan ditariknya tangan laki-laki itu agar melingkar di perut. Nadine terus saja menggoda Juna dengan gerakan-gerakan erotisnya yang sengaja dia lakukan dengan menempel di tubuh laki-laki itu, agar amarahnya tidak berlarut-larut. "Kamu selalu saja menggodaku," bisiknya lirih di telinga Nadine sambil memeluk tubuh betinanya yang sintal, yang selalu memabukkan dan membuat dia ketagihan. Perempuan itu hanya tertawa sambil mendongakkan kepala dan bersandar di bahu kekar sang suami sambil terus menggoyang-goyangkan tubuhnya yang masih menempel di tubuh laki-laki ini. "Kamu selalu bikin aku ketagihan," bisiknya lagi sambil semakin merapatkan pelukannya di tubuh sang istri dan menghirup aroma wangi rambut perempuan itu yang manis, menyapu wajahnya dengan lembut. Juna pun tersenyum lalu mencium pipi Nadine dari arah belakang tanpa peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka di lantai dansa. "Kita keluar yuk! Aku bosan di sini!" ajak Juna tiba-tiba. "Okay, aku ambil tasku dulu!" Mereka berdua kemudian beralih dari lantai dansa menuju ke sofa di mana Nadine meninggalkan tas tangannya di sana. Setelah mengambil tas tangan, Juna lalu menggandeng tangan sang istri menuju ke pintu utama bar sambil mampir ke sebuah sofa yang terletak di dekat pintu terlebih dulu. Rupanya Chandra ada di sana, ngobrol bareng seorang perempuan yang tidak Juna kenal. "Bro, aku ke pantai dulu! Kalau cari aku, aku ada di sana!" Chandra mengangguk lalu memberikan jas ke Juna, begitu laki-laki itu memberikan kode untuk memberikan jas tersebut padanya. Sedetik kemudian pasangan pengantin baru itu sudah berjalan menuju ke pantai yang terletak di dekat hotel tersebut sambil bergandengan tangan. Setibanya di tepi pantai, Juna menutupi bahu Nadine dengan jasnya. "Pakai ini, nanti kamu kedinginan ...." "Wah, romantis sekali, kamu tahu aja ada tempat yang romantis seperti ini, Sayang," puji Nadine sambil melepas high heels-nya dan memperhatikan hamparan pasir putih plus ombak air laut yang begitu tenang, terhampar di depan mata. Tepat di bibir pantai ada beberapa kursi malas yang terbuat dari sofa-sofa yang empuk dengan warnanya yang berwarna-warni, mulai dari biru, merah, orange dan lain sebagainya, ditemani lampu-lampu taman dan lilin-lilin aroma terapi yang nyalanya cukup redup, yang mampu menambah ambience romantisme suasana di sana. "Sebelum aku memulai proyek di kota ini, aku sempat beberapa kali menginap di beberapa hotel dan resort yang ada di sini. Salah satunya, ya hotel ini, jadi aku tahu tempat ini," ujar Juna sambil berbaring di salah satu kursi malas yang terletak di sana. "Tapi memang bener, seperti yang dibilang sama Rommy, kalau Lombok itu heaven-nya dunia!" sahut Nadine sambil duduk di kursi malas yang terletak di sebelah sang suami dengan jas yang masih menggantung di bahu. "Rommy lagi ...." Dari nada suaranya Nadine tahu kalau Juna cemburu sama Rommy. Perempuan itu lalu berdiri dan meletakkan jas tersebut di kursi malas tersebut lalu beralih ke kursi malas sang suami dan merebahkan dirinya di sebelah laki-laki itu dengan posisi miring, lalu direbahkan kepalanya di d**a Juna yang bidang sambil mengusap-usap d**a suaminya, Juna hanya terdiam. Suasana pantai malam itu benar-benar sepi hanya ada mereka berdua, oleh karena itu Nadine memberanikan diri untuk bermesraan dengan suaminya sambil bermanja-manja. "Kamu itu nggak usah cemburu sama Rommy," ucap Nadine sambil mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang suami yang terlihat kesal. Perasaan cemburu masih terlihat jelas di sana. Ditelusurinya wajah tampan itu dengan salah satu jarinya mulai dari kening hingga ke dagu. "Kenapa memangnya?" tanya Juna kesal dengan keningnya yang berkerut. "Karena dia itu nggak suka cewek, Rommy itu lebih suka sama cowok," sahut Nadine sambil mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya lalu mulai menggesek-gesekkan hidungnya di hidung laki-laki itu yang mancung dengan lembut, sedangkan alis Juna semakin melengkung terangkat ke atas. "Maksudmu, dia ...." Nadine menggangguk membenarkan apa yang ada di pikiran suaminya itu yang belum terucap, lalu mencium bibir merah itu dengan lembut. Senyum di bibir Juna akhirnya mengembang kembali dan membalas ciuman sang istri yang mulai intens. Perempuan itu semakin liar mencumbu pejantannya dengan menyusupkan jemari tangan ke balik kemeja sang Arjuna yang terbuka setengah dan mengeksplor d**a bidang suaminya itu dengan jemarinya yang lentik. Hingga tiba-tiba ponsel Nadine yang berada di dalam tas tangannya menjerit, membuat mereka tersentak kaget sambil saling memandang satu sama lain lalu keduanya tertawa bersama. Nadine segera bangun dan mengambil ponsel itu dari dalam tas tangan, rupanya Melinda yang menelepon. "Ada apa, Melon?" "Kamu ada di mana, Nad?" suara Melinda mulai terdengar di ujung sana. "Aku ada di tepi pantai, lagi pacaran sama mantan pacarku, kamu mau apa? Ganggu aja!" sahut Nadine sambil tertawa-tawa dan duduk di sebelah Juna yang masih terbaring di kursi malas. Laki-laki itu lalu bangun dan menciumi bahu dan punggung sang istri dari belakang sambil membuka retsleting baju perempuan itu yang terletak di bagian belakang, membuat Nadine jadi kegelian karena kali ini jemari pria itu mulai nakal mengeksplor punggung sang istri yang terbuka hingga ke bawah. "Emang! Kami memang mau ganggu kamu, karena bar-nya sudah tutup, nih, Nad. Kita mau kemana lagi? Kami ke sana, ya? Nggak apa-apa, ‘kan?" "Ya, sudah kemarilah. Aku ada di tepi pantai, yang ada kursi malas warna-warninya. Aku tunggu!" "Iya, iya ... kami ke sana," Nadine lalu mendengar sambungan telfon terputus. "Sayang, tutup retsletingnya! Mereka mau menuju ke sini!" Juna pun melenguh kesal sambil menutup retsleting baju sang istri sambil berbisik, "Kita pulang aja, yuk!" Nadine yang sudah tahu maksud sang suami, hanya tersenyum lalu berbalik menghadap ke Juna dan membelai pipi laki-laki itu. "Iya, begitu mereka datang, kita pulang. Sabar, ya ...." Tepat pada saat itu Melinda, Trisha dan Rommy datang menghampiri mereka. Ketiga sahabat Nadine itu juga tampak takjub dan tercengang dengan pemandangan yang ada di depan mereka saat ini. "Wow, keren! Bagus sekali pemandangannya di sini!" Melinda dan Trisha pun kompak mengutarakan perasaan yang sama sambil menyapu seluruh area tepi pantai tersebut. "Apa kita bisa stay di sini sampai sunrise? Pasti view-nya sangat indah, kamu mau ‘kan, Nad?" pinta Rommy penuh harap. "Tapi besok aku masih ada pekerjaan, jadi aku rasa lebih baik kita pulang saja!” sahut Juna tegas, “apalagi saat ini sudah hampir jam setengah dua pagi," lanjutnya sambil melirik ke arah jam yang melingkar di tangan. Juna segera berdiri dari kursi malas, terdengar lenguhan Rommy yang terdengar frustrasi karena keinginannya tidak terwujud. Nadine jadi tidak enak hati, tapi dirinya tidak bisa berbuat lebih karena alasan Juna memang benar, sesaat suasana hening di antara mereka. "Weekend minggu ini, kalian masih ada di sini, ‘kan?" tanya Juna tiba-tiba. Nadine dan keempat sahabatnya tampak penasaran dengan pertanyaan laki-laki itu. "Iya, kenapa memangnya?" sahut Rommy heran. "Kalau gitu weekend besok kita ke Pulau Moyo, kalian bisa lihat sunrise dan sunset di sana sepuasnya. Kebetulan aku mau nengokin proyek yang lain di sana," ucap Juna sambil melirik ke Nadine. Perempuan itu pun tersenyum penuh arti sambil balas melirik ke Juna, sementara Rommy, Melinda dan Trisha langsung bersorak-sorai karena itu artinya waktu liburan mereka ke Pulau Lombok tidak terbuang percuma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD