BAB 13 - friendship forever

2372 Words
Suara lantunan pengajian dan doa-doa dari anak-anak yatim piatu dan ibu-ibu tetangga sekitar rumah akhirnya berakhir sudah, digantikan oleh kata-kata sambutan dan perkenalan dari tuan rumah hingga tausiah dari seorang ustadah yang memberikan wejangan untuk semua orang. Tak terasa tiga jam sudah acara tersebut berlangsung, satu per satu tamu-tamu undangan pun pergi meninggalkan rumah keluarga Nagarjuna Evandaru sambil membawa buah tangan dan souvenir yang disiapkan oleh sang tuan rumah. "Mari Bu Juna, kami permisi dulu. Terima kasih lho undangannya, terima kasih juga untuk souvenirnya. Bagus banget!" ujar salah satu tetangga Nadine yang bernama Bu David yang datang ke acara selamatan rumah baru mereka. "Iya, jangan lupa juga mampir ke rumah kami, rumah kami itu yang ada di depan itu ... dekat, ‘kan?" sela ibu yang lain yang bernama Bu Togar dengan logat Bataknya yang kental. Juna dan Nadine hanya mengangguk dengan senyum manisnya. "Jangan lupa juga, ikutan arisan PKK bareng kami, ya. Nanti kami daftarin, biar bulan depan bisa ikutan. Mau, ‘kan?" Kali ini perempuan yang bernama Bu Farhan juga ikut menimpali. "Iya, Ibu-ibu. Diatur saja, kebetulan saya juga hanya di rumah saja, ngurus rumah sama suami," sahut Nadine sambil melirik ke arah sang suami yang mengangguk kembali di depan ibu-ibu tersebut. "Wah, kalau gitu sama dong seperti kami! Itu artinya kita dapat tambahan satu lagi, nih ... temen ngerumpi kalau sore hari sebelum para suami pulang kantor, sambil menikmati teh hangat dan kudapan ringan, bukan begitu, Sist?" sela Bu David penuh semangat. Kedua ibu yang lain segera mengangguk mengiakan ucapan perempuan itu sambil tertawa kecil lalu melirik ke arah Juna, rupanya ketiga ibu-ibu tersebut terpesona juga dengan ketampanan sang Arjuna. "Ya udah, Bu Juna. Kami pamit pulang dulu, ya. Mari Pak Juna ..." ujar Bu Togar, kedua ibu yang lain pun ikut berpamitan dan bergegas meninggalkan rumah itu. Saat Juna dan Nadine berbalik masuk ke dalam rumah, tiba-tiba dari arah pintu pagar terdengar suara yang begitu lantang, memanggil nama Nadine. "Nadine!" Nadine dan Juna menoleh ke arah sumber suara tersebut. Melinda yang pertama kali berlari menghambur ke Nadine saat perempuan itu berlari ke arahnya lalu memeluk sahabatnya ini. Perempuan itu sangat bahagia begitu melihat ketiga sahabatnya sudah muncul di rumah barunya. Nadine segera membalas pelukan Melinda, Trisha dan yang terakhir Rommy, seorang laki-laki perlente dengan gayanya yang metrosexual, membuat banyak wanita tergila-gila padanya. Namun, sayang Rommy tidak suka perempuan. Bagi Rommy, perempuan itu tidak lebih dari sekadar sahabat dekat yang bisa menjadi tempat curhat dan berkeluh kesah, seperti hubungan persahabatannya dengan Nadine, maka tak heran bila aksi cium pipi kiri dan pipi kanan juga pelukan hangat di antara keduanya adalah hal yang biasa dan lumrah. Namun, tidak bagi Juna. Laki-laki itu yang mengira kalau Rommy adalah pria yang normal seperti layaknya seorang laki-laki yang mencintai seorang perempuan. Juna benar-benar merasa kesal dan geram, begitu melihat kemesraan yang terpampang dengan jelas di depannya. Sesaat pria itu mengepalkan jemari tangan. Namun, sedetik kemudian dikendurkan kepalannya, saat mereka berempat berjalan menghampiri dirinya. "Sayang, kenalkan ini sahabatku yang satu lagi, selain Trisha dan Melinda. Namanya Rommy!" Rommy segera mengulurkan tangannya ke Juna, laki-laki itu hanya tersenyum dan menjabat tangan Rommy dengan mantap. Pria itu bisa merasakan ketegasan, rasa penuh percaya diri dan sifat mendominasi yang ada dalam diri suami Nadine melalui jabatan tangannya. "Sepertinya ... saya sangat familier dengan nama keluarga besar Anda, Tuan Juna." Alis Juna naik ke atas dan melengkung tinggi begitu mendengar ucapan Rommy sambil mengendurkan jabatan tangannya. "Oh ya? Dari mana Anda tahu? Padahal selama ini keluarga kami nggak ada yang menjadi selebriti atau pun musisi seperti kalian." Juna berusaha merendah sambil melipat tangannya di depan d**a. "Tapi pengusaha kaya seperti Anda, pastinya juga menjadi bahan berita yang menarik untuk para kuli tinta, bukan begitu, Tuan Juna?" Juna hanya tertawa kecil, laki-laki itu merasa harus lebih waspada dengan sahabat Nadine yang satu ini karena bisa saja rahasia kecilnya selama ini terbongkar, sementara Chandra yang sedari tadi hanya terdiam di antara mereka, juga punya pemikiran yang sama seperti yang dipikirkan Juna sambil memicingkan matanya memperhatikan Rommy dengan saksama. "Sudah-sudah ... ngobrolnya dilanjut lagi nanti. Sekarang kalian istirahat dulu! Ayo, aku antar kalian ke kamar!" sela Nadine cepat. "Nad, aku sama Chandra mau kembali ke proyek dulu. Mungkin aku pulang agak malam, kamu bersenang-senanglah sama ketiga sahabatmu ini. Oh iya aku lupa, kenalkan ini sahabatku, Chandra ... dan satu lagi panggil aku Juna saja, rasanya itu lebih baik," sela Juna tegas sambil tersenyum penuh arti. "Kami sudah mengenalnya, waktu di café tempo hari," sahut Trisha sambil tersenyum manis, Melinda juga mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu. "Iya, waktu pernikahan kalian, Mas Chandra ini juga datang, ‘kan?" ucap Melinda masih dengan senyum manisnya, sementara Rommy hanya terdiam memperhatikan mereka. Chandra sendiri hanya mengangguk di depan mereka bertiga. Tak lama kemudian Juna dan Chandra pun berpamitan dan berlalu pergi dari sana. "Kamu ini ya, bener-bener deh! Diasingkan sama tu pangeran lalu dibawa lari dari kota metropolitan yang gemerlap tiada tara ke negeri antah berantah seperti ini, kamu mau aja!" Nadine, Melinda dan Trisha hanya tertawa mendengar nada suara Romeo yang terdengar kesal sambil berjalan ke kamar yang berada di lantai bawah. "Itu semua karena cinta, Sayang. Nah, ini kamarmu, kamar mandi ada di dalam, wifi juga tersedia, mau minta apalagi?" goda Nadine sambil membuka pintu kamar mandi kamar tersebut. "Lalu ... kalau kamar kami di mana, Nad?" sela Melinda dengan senyumnya yang mengembang di wajah. "Kalau kamar kalian ada di atas, di sebrang kamarku. Ayo, kita ke atas!" Nadine segera mengajak Trisha dan Melinda naik ke lantai atas. "Aku ikut!" teriak Rommy setelah menaruh kopernya di dalam kamar. Laki-laki itu bergegas menyusul mereka bertiga. Namun, sebelum naik ke lantai atas, Nadine menunjukkan terlebih dulu ruang TV dan ruang keluarga yang di tengahnya terdapat kolam renang ke ketiga sahabatnya. "Suamimu itu benar-benar milyuner, ya! Beli rumah kayak beli krupuk aja, gampang banget, plus perabotannya lagi!" puji Rommy sambil memperhatikan ke sekeliling ruangan tersebut. "Ini perabotannya juga baru semua ya, Nad?" Nadine hanya mengangguk membenarkan ucapan Trisha yang langsung di sahut oleh ocehan Rommy lagi. "Ya, iyalah baru semua, baunya aja masih terasa. Apalagi Nadine juga baru pindah ke rumah ini, ‘kan? Tapi ngomong-ngomong, emangnya berapa duit rumah ini?" "Nggak tahu,” sahut Nadine sambil mengendikkan bahunya ke atas, “yang ngurus semuanya itu Mas Juna sama Mas Chandra, sahabatnya tadi. Kalau aku bagian menata dan merawatnya saja. Ayo, sekarang kita ke atas!" Nadine lalu mengajak mereka bertiga naik ke lantai atas. "Trus, selamanya kamu bakal tinggal di kota kecil ini? Apa kabar dengan pekerjaanmu?" tanya Rommy lagi sambil berjalan mengekor di belakang Nadine. "Ya, mau gimana lagi, Rom. Kerjaan suamiku ‘kan di sini. Meskipun kantor pusatnya di Jakarta, tapi untuk beberapa bulan ke depan, dia kudu garap proyek di sini, jadi mau nggak mau, aku harus ngikut dia, ke mana dia pergi." "Iya bener, Nad! Istri harus ikut sama suami! Kalau nggak, bisa-bisa diambil sama pelakor yang lagi nge-trend itu!" Mereka berempat tertawa bersama-sama, begitu mendengar celoteh Melinda. "Nah, ini dia kamar buat Melinda dan Trisha. Kalau yang sebelah sana itu kamarku," ujar Nadine sambil menunjuk kamar yang berada di seberang kamar kedua sahabatnya. "Di kamar ini juga ada kamar mandi dalam. Oh iya, rencananya kalian mau berapa hari di sini? Sebulan, ya?" tanyanya sambil menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. "Sontoloyo, enak aja sebulan!” sahut Rommy lantang sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam kamar tersebut, “emang kita nggak kerja apa? Kamu sih enak udah punya suami tajir, nggak usah kerja, nggak masalah!" lanjutnya. Melinda dan Trisha hanya geleng-geleng kepala sambil mulai membuka koper mereka masing-masing dan mengeluarkan barang mereka satu per satu lalu menatanya di dalam lemari. "Iih, jangan nyolot gitu dong! Biasa aja kali. Aku ‘kan cuma nanya, siapa tahu kalian mau nginep sebulan di sini. Aku ‘kan seneng banget, jadi ada temennya gitu," sahut Nadine santai sambil menyilangnya kedua kakinya di atas masih dengan posisi menelungkup di ranjang dengan dadanya yang terganjal bantal. "Tapi sumpah! Aku benar-benar heran sama kamu deh, Nad! Apa kamu nggak eman-eman sama karier musik kamu yang kamu rintis selama ini? Kamu nggak eman-eman sama beasiswamu yang udah kamu dapetin dengan susah payah untuk sekolah di Amrik itu?" "Rom, emang kamu fikir, aku nggak bisa berkarier musik di sini? Sama aja, ‘kan? Mau di sini mau di Jakarta atau di mana pun, aku rasa aku masih bisa ngembangin karir musikku. Kalau memang aku harus stay di sini cukup lama, aku mungkin bakal mikirin untuk cari kerja di sini. Tenang, Say. Karier musik itu nggak cuma di Jakarta aja!" Nadine mencoba membela diri "Betul juga ucapan Nadine! Aku setuju! Kalau semua orang mikir cari duit atau kerja itu tempatnya di Jakarta. Bisa-bisa Jakarta penuh sesak dengan orang-orang yang berbondong-bondong cari kerja di sana dong! Iya nggak, Nad!" sahut Melinda sambil mengulurkan tangannya dengan tanda Hi Five ke arah Nadine. Perempuan itu juga menyambut uluran tangan sahabatnya sebagai tanda setuju dengan gerakan tangan Hi Five – nya juga. "Iya, iya deh! Kalian ini emang paling bisa, paling jago kalau disuruh debat! Aku nyerah deh," sahut Rommy pasrah. "Tapi aku rasa, emang bener sih yang dibilang sama Rommy tadi. Intinya, kamu ini sekarang sudah berubah, Nad ... setelah kamu kenal sama Juna. Kamu jadi nggak gitu mikirin soal karir kamu, padahal dulu kamu ‘kan ngotot banget pengin ngembangin karir musik kamu," sela Trisha sambil menata barang-barangnya ke dalam lemari. "Yes, aku setuju sama pendapat Trisha! Aku masih ingat dulu, waktu kamu bilang kalau kamu pengin jadi pencipta lagu macem Melly Goeslow atau Dewiq yang lagu-lagu ciptaannya selalu diantri sama penyanyi-penyanyi kondang!" Rommy mulai merepet lagi, Nadine pun hanya tertawa kecil. "Aku masih menyimpan cita-cita itu, Say. Jangan khawatir, aku masih Nadine kalian yang dulu, aku nggak pernah berubah, aku masih mimpi jadi pencipta lagu, tenang aja ... nggak usah cemas,” sahut Nadine mantap, “gini-gini aku juga udah nyicil kok bikin-bikin lagu, tapi belum selesai juga, sih," ucapnya lagi dengan senyum manis sambil bangun dari tempat tidur. "Ya, udah, sekarang lebih baik kalian istirahat aja dulu, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi, okay?" Ketiga sahabat Nadine hanya mengangguk kecil. Perempuan itu lalu keluar dari kamar tersebut dan beralih ke kamarnya sendiri, direbahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menghadap ke langit-langit dan mulai teringat akan ucapan ketiga sahabatnya. "Apa iya, sih aku sudah berubah? Perasaan nggak deh, biasa-biasa aja. Ya, emang sih, statusku sekarang sudah berubah, tapi passion-ku sama musik nggak akan pernah berubah. Aku masih ingin mengembangkan karierku di dunia musik. Musik itu ‘kan sebagian dari jiwaku." Nadine kemudian mengambil gitar yang selalu dibawanya ke mana saja yang di letakan di dalam kamar. Dipetiknya dawai-dawai gitar tersebut untuk mencari nada-nada yang pas. Perempuan itu berusaha untuk mencari inspirasi untuk menyelesaikan lagu yang selama ini tidak selesai diciptakan. *** Setelah selesai menikmati makan malam, ternyata Juna belum pulang juga ke rumah. Nadine tidak begitu merasa khawatir, dia mulai terbiasa dengan pekerjaan proyek sang suami. Sementara ketiga sahabatnya tampak sedang bersantai di ruang keluarga dengan kesibukannya masing-masing, Trisha tampak asyik membaca buku, Rommy sibuk main game online di gadget dan Melinda sedari tadi merubah-rubah channel TV terus, tidak tahu saluran yang mana yang mau dia tonton. "Nad, suamimu belum pulang, ‘kan?” Cari apa yuk yang seru, masa cuma nongkrong-nongkrong aja di rumah. Cuma nonton TV aja, nggak asyik ah!" ujar Melinda sambil menyesap lemon tea hangat buatan Aminah. "Iya, Nad! Nggak asyik lagi cuma diem di rumah aja. Lagian asal kamu tahu aja ya, kita ini sedang berada di heaven-nya dunia lho," sela Romeo yang sibuk membuka kacang kulit kesukaannya, setelah selesai bermain game online, sedangkan Trisha tampak asyik membaca novel yang dibawanya dari rumah. "Maksudmu ...?" Nadine yang juga ikutan membuka kacang kulit jadi penasaran, begitu pula Melinda dan Trisha. "Lho? Kamu nggak tahu? Kamu Mel? Trisha?" Ketiga perempuan itu hanya bisa menggeleng sambil melongo dan tidak ngerti maksud Rommy. "Ya, ampun! Helloo? Ke mana aja kalian selama ini? Kalian tahu ... Pulau Lombok ini heaven-nya dunia! Surganya dunia, girls!” ujar Rommy antusias, “seluruh dunia takjub akan keindahan dan panorama yang ada di pulau ini, khususnya para bikers yang suka travelling, mereka semua mengakui kalau Lombok is Paradise Island!" lanjutnya penuh semangat. "Bikers ...? Emang sejak kapan kamu jadi bikers?" tanya Nadine heran. "Sejak dia punya pacar baru!" sela Melinda sambil melirik ke Rommy. Laki-laki itu langsung melempar bantal kursi ke Melinda yang tertawa tergelak bareng Trisha, sedangkan Nadine malah bingung dan jadi penasaran. "Ini ... serius? Emang Bonny kenapa?" Nadine jadi semakin penasaran. "Bonny udah ke laut! Udah matek! Dia lebih suka sama tante-tante girang sekarang! Ninggalin gue begitu aja!" Nadine segera berdiri dan menghampiri Rommy lalu memeluk sahabatnya itu erat sebagai bentuk empatinya pada laki-laki itu yang baru saja putus cinta. "Kok kamu nggak bilang sih, kalau udah putus sama Bonny?" "Kamu juga nggak bilang kalau nikah diam-diam sama mas gantengmu itu!" sahut Rommy kesal, Nadine hanya tersenyum sambil menangkup ke dua pipi pria itu. "Tapi sekarang kamu punya penggantinya, ‘kan?" Rommy menggeleng dengan ekspresi wajahnya yang memelas. "Bohong! Bohong dia, Nad!” sela Melinda lantang, “pacarnya sekarang bukan brondong lagi, tapi om-om tajir, bikers, moge-nya aja keren ... Harley, Say!" lanjutnya sambil mengacungkan ibu jari. "Sotoy, lu! Dodol! Gue baru pdkt! Pendekatan, Say. Abis dia itu ACDC, anaknya udah tiga, gila, ‘kan? Udah ah, nggak usah bahas dia mulu! Gimana kalau kita clubbing? Di kota kecil seperti ini pasti ada klub malamnya juga, ‘kan?" tanya Rommy penasaran. "Aku belum tahu, Rom. Paling mungkin hotel bintang lima yang ada pub and barnya," sahut Nadine. "Ya udah, yuk kita ke sana! Dari pada cuma di sini aja, bosen!" Rommy bergegas berdiri dan menyuruh ketiga sahabatnya untuk berdiri. "Aku ganti baju dulu, ya!" "Aku juga!" sahut Melinda menimpali ucapan Trisha, lalu mereka berdua bergegas ke lantai atas menuju ke kamar mereka. "Sebentar, aku tanya suamiku dulu, karena aku nggak tahu hotel yang mana yang bagus, sebentar aku telpon dulu dia, ya ...." Bergegas Nadine menyambar ponsel yang berada di atas meja, lalu mulai memencet nomer handphone Juna, sambil mengira-ngira apa nanti Juna bakal ngasih ijin padanya untuk pergi ke klub malam atau tidak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD