BAB 12 - love each other

2020 Words
"Nad, kamu nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Rommy cemas, “Nad, kamu kenapa?" Rommy, sahabat Nadine yang menelefonnya pagi itu merasa kebingungan dengan sikap perempuan itu yang tiba-tiba menjerit. Rupanya perlakuan Juna yang nakal, membuat dia jadi tidak konsen ngobrol dengan Rommy. Perlahan-lahan dengan lembut, dibersihkankannya selai strawberry yang menempel di perut sang istri dengan lidahnya, hingga tanpa sadar Nadine pun menjerit lagi. Juna segera membungkam mulut perempuan itu dengan tangannya lalu memberikan kode padanya untuk ngobrol lagi dengan Rommy, Nadine hanya bisa mengangguk lemah. "Sorry, Rom. Aku minta maaf, aku lagi kena hukuman dari suamiku." "Hukuman ...? Hukuman apa, Nad?" Perempuan itu jadi bingung bagaimana mengatakannya pada Rommy, kalau saat ini Juna sedang memberikan hukuman yang sangat manis untuknya. Dia tidak pernah mengira kalau suaminya ini akan memberikan hukuman yang seperti ini padanya. Juna memang selalu saja bisa memberikan kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah Nadine duga selama ini. Nadine jadi semakin mencintai laki-laki ini. “Nad, kamu masih di sana, 'kan? Kamu dengar suaraku, 'kan?" Rommy jadi semakin cemas dan mengkhawatirkan keadaan sahabatnya, sementara Nadine sendiri berusaha menahan rasa geli yang dibuat oleh sang suami yang masih sibuk membersihkan sisa-sisa selai strawberry di perutnya. "Iyaa, iya, Rom ... aku masih di sini. Aku masih dengar suaramu. Maaf ya, aku nggak konsen tadi. Hukuman suamiku ini benar-benar sangat berat, bagaimana kalau aku tutup dulu telfonnya? Nanti aku telfon kamu balik lagi?" "Nggak! Nggak usah! Kamu nggak usah telfon-telfon aku lagi! Kamu denger ya, Nad. Lebih baik kamu nggak usah telpon-telpon aku lagi mulai sekarang! Titik!” sahut Rommy ketus, “kamu nggak butuh aku, aku juga nggak butuh kamu!" ujarnya lagi dengan nada judes. Nadine jadi bingung sambil terus menahan geli karena perbuatan Juna yang masih sibuk membersihkan perutnya sampai bersih, hingga tidak ada sisa selai strawberry di sana. "Lhoo ...? Kenapa, Rom? Apa aku punya salah sama kamu?" "Iyaa! Kamu memang punya salah sama aku! Kamu nikah diam-diam, nggak bilang-bilang sama aku! Ujug-ujug aja nikah gitu, jadi aku juga mau kasih hukuman sama kamu!" Suara Rommy terdengar kesal dan marah. "Rom, jangan gitu dong. Aku bener-bener minta maaf, sorry banget kalau aku nggak kasih tahu kamu--..." ucap Nadine sambil menggelinjang menahan geli. "Nggak bisa! Kamu sudah menyakiti hati dan perasaanku, Nad! Oleh karena itu aku akan terbang ke sana untuk menghukum kamu secara langsung!" bentak Rommy lantang. Nadine kaget hingga tercengang tidak percaya. "Apa ...? Kamu mau ke sini? Beneran? Serius?" "Kapan sih Rommy-mu ini nggak serius? Yaa iyaalah, aku serius banget, Sayang! Besok aku akan terbang ke sana bareng Melinda dan Trisha. Kamu puas? Heeh ... ratu drama!" Senyum Nadine pun mengembang dan terbuka lebar menghiasi wajahnya yang ayu, begitu mendengar kabar dari Rommy. Juna jadi penasaran sambil bertanya dengan kodenya ke sang istri. Namun, Nadine belum bisa memberikan jawaban padanya. "Bener ...? Ya, udah nanti kamu tinggal bilang aja jam berapa kamu berangkat, siapa tahu aku bisa jemput kalian di bandara, okay? Aku tunggu yaa!" "Okey, Sayang. Sampai ketemu besok, ya dan selamat menjalani hukumanmu, ooh iyaa salam yaa buat suamimu yang ganteng! See yaa!" Terdengar suara telpon terputus. Nadine sangat senang karena ketiga sahabatnya akan datang ke rumah barunya besok. Hatinya sangat bahagia, hingga ikatan di tangan kiri tidak terasa sakit lagi, sedangkan Juna yang sudah selesai membersihkan perut sang istri yang berlumuran selai strawberry jadi tambah penasaran. "Ada kabar apa rupanya? Kok senyum-senyum kayak gitu?" tanyanya sambil melepas ikatan di tangan kiri Nadine. "Besok, ketiga sahabatku ... Melinda, Trisha dan Rommy mau datang ke sini, Sayang. Mereka mau liburan di sini, sekalian nengokin aku, boleh, 'kan? Mereka biar nginep di rumah kita saja, nggak usah di hotel, boleh, 'kan?" tanya Nadine dengan kedua bola matanya yang membulat dan berbinar terang sambil mengusap-usap tangan kirinya yang baru saja lolos dari ikatan. Juna hanya mengangguk mengiakan permintaan istrinya itu. "Tapi jam berapa mereka datang? Kamu nggak bisa jemput mereka di bandara, Sayang. Karena besok setelah sholat duhur, kita mau ngadain pengajian untuk rumah baru kita, sedangkan perjalanan ke bandara cukup jauh, kurang lebih 2 jam lebih!" Nadine menepuk jidat. "Oh iyaa! Aku lupa! Besok ‘kan ada pengajian di rumah!" "Yaa udah, biar besok dijemput sama sopir proyek saja, nanti aku minta Chandra biar ngurus semuanya." Senyum Nadine kembali mengembang. "Makasih, Sayang. Kamu memang suami yang selalu bisa di andalkan!" puji Nadine sambil mengembangkan tangannya lebar-lebar lalu memeluk suaminya erat, Juna pun membalas pelukan sang istri dengan senyum manisnya, sedetik kemudian Nadine teringat sama hukuman Juna barusan. "Heii! Lalu gimana ini perutku yang lengket? Tuan Nagarjuna Evandaru?" Perempuan itu segera mengendurkan pelukannya di tubuh sang suami dan menatap laki-laki itu dengan tatapan kesal. Juna hanya tersenyum nakal, lalu turun ke bawah ranjang dan berancang-ancang hendak melarikan diri. "Ini ‘kan hukumanmu! Karena kamu sudah membiarkan suamimu tidur sendirian!" goda Juna sambil melangkah mundur dengan ekspresi wajahnya yang puas. "Mas Juna! Jangan lari kamu! Kamu harus tanggung jawab! Mas Juna!" Jeritan Nadine tidak digubrisnya sama sekali, karena laki-laki itu sudah berlari turun ke bawah. Nadine segera mengejar suaminya itu, lalu turun juga ke lantai bawah, mereka berdua berputar-putar di antara sofa dan kursi-kursi makan. Juna terus berusaha menghindar dari kejaran sang istri yang terlihat kesal dan marah padanya. "Mas Juna, berhenti! Kamu harus tanggung jawab! Mas Juna!" Namun, laki-laki itu tidak mau juga berhenti, nafas mereka berdua sudah terengah-engah. Nadine yang saat itu berdiri di depan Juna sudah tidak kuat untuk lari lagi mengejar suaminya, yang sepertinya memiliki extra stamina. Peluh di sekujur tubuh Nadine mulai membasahi tubuhnya yang terbuka, hingga hanya tersisa pakaian dalam yang menutupi sebagian dadanya yang menggumpal dengan gerakan yang naik turun. Juna benar-benar tidak tahan melihatnya. Tiba-tiba dengan cepat laki-laki itu menjatuhkan betinanya bagaikan seorang atlet taekwondo yang menjatuhkan lawan di atas bantal besar yang teronggok di atas karpet, sehingga tubuh perempuan itu jatuh sempurna di atasnya. Nadine pun tersentak kaget hingga terpekik. "Oouww ... Mas Juna!" Kedua tubuh mereka lalu bergulung-gulung di atas karpet yang berada di ruang tamu sambil tertawa-tawa, hingga akhirnya berhenti dengan tubuh Juna berada di atas Nadine. Sesaat mereka berdua saling memandang dalam diam dengan penuh cinta. Napas keduanya tampak terengah-engah. d**a Nadine pun terlihat naik turun, membuat Juna jadi tidak tahan. "Sayang, malu, aah. Kalau ada orang gimana?" Nadine berusaha menghindar saat Juna perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah cantik perempuan itu dan berusaha mencium bibir mungilnya. "Kenapa harus malu? Aku sudah mengunci pintunya tadi dan lagi tirainya ‘kan masih tertutup, jadi masih aman, ’kan?" sahut Juna sambil menciumi pipi, telinga dan leher sang istri yang jenjang, membuat Nadine menggelinjang kegelian. Apalagi saat laki-laki itu menghujam bibir mungil itu dengan bibirnya, perempuan itu pun merespon dengan baik sambil mengalungkan lengannya di leher pejantannya, sesekali meremas rambutnya yang gondrong dengan gemas. "Sepertinya tenagamu ini nggak pernah habis, ya ...?" "Iya dong, ‘kan buat kamu juga!" Keduanya kemudian saling b******u kembali dengan nafsu yang penuh membara dan liar di atas karpet, Juna dan Nadine mulai saling mengenali bagian tubuh mereka satu sama lain dengan saling merapatkan tubuhnya dan merasakan kehangatan yang menjalar di keduanya, sambil sesekali mengambil nafas di tengah panasnya cumbuan mereka. Hingga akhirnya kedua tubuh mereka yang sama-sama memanas melebur menjadi satu dengan semua peluh yang membasahi keduanya, disertai erangan dan desahan kenikmatan yang membahana di seluruh ruangan. "Jun! Juna! Junaa!" Pasangan pengantin baru itu yang baru saja mencapai pelepasan bersama dengan tubuh mereka yang masih menyatu satu sama lain langsung tertawa kecil dan pelan begitu mendengar suara Chandra di pintu depan sambil menggedor-gedor pintu resort mereka. Bayangan tubuh laki-laki itu tampak jelas dari dalam resort, untung saja tirai double yang menutupi jendela dan pintu tersebut masih tertutup rapat. "Chandra datang di waktu yang tepat!" ujar Juna sambil berbisik dan tertawa kecil, Nadine pun ikut tertawa kecil sambil membayangkan apa jadinya kalau Chandra datang ketika mereka baru saja setengah permainan, pasti rasanya sungguh tidak nyaman sama sekali bagi mereka berdua. Bergegas Juna mengenakan pakaian, sedangkan Nadine mengambil semua pakaian yang tergeletak di lantai, lalu berlari ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah memastikan semuanya aman, Juna pun berteriak dari dalam sambil menghampiri pintu. "Masuk lah! Mau cari sarapan pagi?" tanya Juna sambil membukakan pintu depan resort untuk Chandra, lalu menyibakkan tirai yang menutupi jendela kaca besar resort tersebut. Sesaat Chandra jadi bengong dan bingung seraya berkata, "Lho, bukannya hari ini kamu mau pindah ke rumah baru? Aku tadi ke sana, tapi kamu nggak ada, waktu aku telpon kantor, kamu belum datang. Ya, udah aku langsung ke sini, ternyata baru bangun to rupanya?" tanyanya heran sambil melirik ke jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan. Juna pun hanya tertawa dan menyeringai kecil. "Kamu sudah sarapan? Kebetulan aku belum sarapan, nih! Mau makan apa? Lebih baik kita pesan sarapan pagi dari resort saja, ya! Karena Nadine juga belum masak!" "Boleh lah, apa aja yang kamu pesan, pasti aku makan!" sahut Chandra santai, “tapi ngomong-ngomong mana ini Nadine? Kok nggak kelihatan?” tanyanya heran. “Lagi mandi di atas!” Juna lalu memesan sarapan pagi untuk mereka bertiga melalui telfon dan memintanya untuk diantar ke resort, kemudian menyusul Chandra yang saat itu sedang menonton televisi di ruang tamu. Dihempaskan tubuhnya di sofa di sebelah pria itu sambil melemparkan sebuah apel merah ke sahabatnya dan memakan apel merah bagiannya sendiri. "Oh iyaa, Man. Besok aku minta tolong, kamu suruh Pak Hendi untuk jemput teman-teman Nadine di bandara," ujar Juna sambil memakan apel merahnya. "Teman-teman Nadine? Dari Jakarta ...?" tanya Chandra sambil memakan juga apel merah kesukaannya, Juna mengangguk mengiakan. "Lalu, mereka itu ada berapa orang dan mau nginap di rumah barumu itu?" Laki-laki itu kembali mengangguk sambil terus memakan apel merah. "Mereka ada tiga orang, dua cewek dan satu cowok. Pastikan Pak Hendi jangan keliru jemput tamunya! Kalau perlu pakai tulisan nama-nama mereka, jadi mereka tahu kalau itu orangnya yang jemput!" perintah Juna tegas. "Baik, Boss! Siap!" "Dan oh iyaa ... kamu sudah undang anak-anak panti asuhan untuk pengajian di rumahku besok? Jangan lupa undang juga tetangga sekitar rumah, paling nggak yang tinggal satu blok dengan rumahku!" "Sudah beres, Boss! Undangannya sudah jadi hari ini, begitu jadi nanti aku akan suruh si Udin untuk nyebarin undangannya ke tetangga rumahmu," sahut Chandra sambil terus memakan apel merah. "Udin? Udin yang tunangannya pembantuku itu?" "Yes! Tunangannya Aminah dan oh iya sebelum kamu bilang, aku juga sudah mesan catering untuk acaramu besok, jadi semuanya sudah beres, tinggal pelaksanaannya saja!" ucap Chandra tanpa ragu. "Bagus! Good job! Kamu memang selalu bisa aku andalkan! Jangan lupa acaranya setelah sholat duhur, okay?" Chandra mengangguk mantap, tepat pada saat itu pelayan room service datang dengan kereta makan yang berisi sarapan pagi untuk mereka. "Selamat pagi, Pak! Mau ditaruh di mana sarapan paginya?" "Ooh, ditaruh di meja makan saja, thanks yaaa!" Pelayan room service itu hanya tersenyum lalu segera melaksanakan perintah Juna untuk menata sarapan pagi mereka di meja makan, saat itu Nadine yang sudah selelsai mandi, turun dari lantai atas dengan rambutnya yang dibalut handuk dan disampirkan di dadanya yang sebelah kiri, hingga menyisakan salur-salur rambut yang menjuntai di kanan kiri pipinya, membuat kecantikan alaminya semakin terpancar keluar. "Waaah ... sarapan pagi apa, nih?" tanya Nadine sambil duduk di kursi makan dan mulai melihat-lihat sarapan pagi yang dipesan sang suami. Juna bergegas bangun dari sofa begitu melihat istrinya sudah berada di meja makan. "Nad, ajak Chandra sarapan pagi dulu! Aku mau mandi dan hari ini kita check out!" Dengan cepat perempuan itu mengangguk, sementara Juna bergegas naik ke lantai atas, menuju ke kamar mandi. Chandra lalu menyusul Nadine, duduk di kursi makan dan mulai menikmati sarapan pagi bareng perempuan itu. "Katanya ... besok, teman-temanmu mau datang, ya? Siapa aja namanya?" "Namanya Melinda, Trisha dan Rommy! Memangnya Mas Chandra yang mau jemput mereka besok?" tanya Nadine sambil menuangkan teh panas ke cangkir. Chandra pun menggeleng seraya berkata, "Bukan aku, tapi Pak Hendi, salah satu sopir proyek yang akan jemput teman-teman kamu di bandara. Kamu bisa beritahu mereka kalau nanti Pak Hendi bakal bawa papan nama, maksudku kertas gitu yang bertuliskan nama mereka, siapa tadi? Melinda, Trisha dan Rommy, ya?" Nadine mengangguk sambil menyesap lemon tea-nya perlahan, lalu membayangkan betapa serunya besok kalau ketiga sahabatnya itu datang dan menginap di rumah barunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD