BAB 11 - sweet punishment

2329 Words
"Mau ngapain dia telfon kamu? Angkat saja buruan sana! Bilang sama dia kalau ponselku hilang dan beri dia nomerku yang baru!" bisik Juna sambil menyuruh Chandra untuk mengangkat telfon dan agak menjauh ke depan. Chandra pun bergegas berdiri dan mengangkat telfon itu sambil berjalan ke arah depan, sementara Nadine sudah balik kembali ke meja makan sambil membawa secangkir teh panas untuk sang tamu. "Lho, kok Mas Chandra pergi?" "Dia lagi ngangkat telfon dari klien, kamu taruh saja cangkir itu di sini, sekarang mending kamu dandan dan ganti baju dulu, abis ini kita akan jalan-jalan, lihat-lihat rumah!" Nadine hanya tersenyum kemudian segera beralih menuju ke lantai atas, sementara Chandra sudah balik ke meja makan lagi sambil menyodorkan ponsel itu ke Juna dan memberi kode kalau Felicia ingin ngobrol dengannya. Mau tidak mau akhirnya laki-laki itu mengambil ponsel tersebut, kemudian berdiri dan beralih ke teras depan. "Hallo, ada apa?" "Kamu gimana sih, Sayang? Ponsel hilang kok nggak bilang-bilang? Aku ‘kan jadi bingung mau nelfon kamu ke mana? Kamu ‘kan juga bisa minta tolong sama Chandra untuk ngabarin aku." Suara Felicia terdengar merepet seperti mercon bantingan di ujung sana. "Sorry, aku nggak sempet,” sahut Juna sambil memutar kedua bola matanya, “kebetulan banyak pekerjaan yang harus aku tangani di sini, tapi tadi Chandra sudah kasih nomer baruku, ‘kan? Kamu bisa nelfon ke nomer itu sekarang." "Iya, sudah aku simpan, aku cuma mau ngingetin lagi, pas anniversary kita, jangan lupa pulang. Kami sudah nyiapin pesta besar-besaran!" sela Felicia sambil menyeringai lebar. "Iya, iya. Aku pasti pulang, ya udah ... udahan dulu yaa, karena aku harus ninjau proyek lagi, dah." Juna segera mengakhiri percakapannya dengan Felicia, kemudian berbalik masuk ke dalam resort, saat itu dilihatnya Chandra tampak lahap menikmati makanan buatan Nadine. Namun, perempuan itu belum kelihatan batang hidungnya. "Nih, ponselmu. Thanks ya! Oh iya, hari ini aku mau lihat-lihat rumah untuk Nadine, kamu mau ikut?" "Mau dong! Kalau Boss yang ngajak, masa ditolak, siaaap, Boss!" Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di sebuah perumahan yang Juna pilih dari beberapa properti yang tersedia di kota kecil itu. Mulai dari beberapa rumah kosong minimalis, minimalis modern, hingga minimalis yang dilengkapi dengan kolam renang. Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah rumah minimalis yang dilengkapi dengan sebuah kolam renang yang terdapat di dalam rumah. "Bagaimana? Kamu fix ambil yang ini?" tanya Juna sambil mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru ruangan. "Harganya pasti mahal, ya? Karena ada kolam renangnya." Nadine merasa cemas. "Kalau kamu suka, buatku nggak masalah, malah ada baiknya kalau kita ambil rumah ini karena dengan begitu kamu bisa berenang, kalau kamu bete nungguin aku kerja, bagaimana?" Sesaat perempuan itu terdiam sambil memperhatikan ruangan di dalam rumah itu dan berjalan-jalan melihat-lihat ruangan-ruangan yang ada di sana. "Di depan kolam renang sini, kita bisa taruh sofa besar untuk ruang keluarga, lalu disampingnya itu ruang televisi, kemudian di sini ruang makan, sebelahnya itu dapur bersih, di luar sana ada dapur kotor, ada juga kamar pembantu." "Tadi ada berapa kamar?" sela Nadine sambil terus menyapu tatapannya ke ruangan yang ada di depannya. "Ada tiga, Bu!" sahut Kaushalia, agen properti yang mengantar mereka melihat-lihat rumah. "Ada tiga ... di atas ada dua sedangkan di bawah ada satu. Kolam yang di sebelah kolam renang itu, bisa kita taruh ikan koi di sana, cukup menarik bukan?" Juna ikut menimpali sambil menunjuk sebuah kolam kecil di sebelah kolam renang atau tepatnya berada di depan kamar bawah. "Iya, rumahnya juga adem, aku juga betah kalau tinggal di sini," Chandra ikut buka suara sambil memperhatikan seluruh ruangan yang kosong tersebut. "Kamu juga bisa tinggal di sini, Ndra! Kalau kamu mau." "Nggak ah! Aku di rumah mess saja, nggak masalah. Nanti aku gangguin kalian lagi, nggak enak, 'kan?" sahut Chandra sambil menggeleng pelan. Nadine hanya tersenyum sambil melirik ke Juna yang saat itu juga sedang melirik ke arahnya. "Ya udah, kita ambil rumah ini, lalu kapan beli sofa dan lain sebagainya?" tanya Nadine penuh semangat dan antusias,bkedua bola matanya berbinar terang. "Sekarang aja sekalian, kebetulan aku sama Chandra juga lagi nggak gitu repot, jadi kita beresin aja hari ini. Besok biar dibersihkan dan ditata, lalu lusa kita bisa pindah ke sini, bagaimana?" Kedua bola mata Nadine mendelik seraya berkata, "Tapi banyak banget lho, Sayang ... yang harus kita beli, karena kita ‘kan ngisi satu rumah, belum lagi perlengkapan dapur." Perempuan itu malah jadi cemas. "Nggak masalah, Sayang. Kita ‘kan memang beli rumah dan isinya, aku udah siapin semuanya buat kita, nggak masalah. Chandra juga cukup kuat kok, untuk jalan-jalan shopping belanja keperluan semuanya. Bukan begitu, Ndra?" Laki-laki itu hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti. "Ya udah kalau gitu, kita ambil rumah ini!" Juna pun mengangguk mantap begitu mendengar keputusan sang istri. "Bu Kaushalia, kami jadi ambil rumah ini." "Baik, Pak! Saya akan menyiapkan berkas-berkasnya dulu, nanti saya antar ke kantor Pak Juna. Jadi tunai, 'kan?" Dengan cepat Juna mengangguk seraya berkata, "Iyaa, tunai! Nanti pembayarannya akan diatur sama sahabat saya ini, Chandra dan oh iyaa, tolong ... nanti sertifikat rumah ini atas nama istriku saja, aku ingin rumah ini sebagai kado special buatnya!" "Baik, Pak! Akan saya urus semuanya! Nanti saya perlu KTP Bu Nadine, difoto saja. Nanti Bapak bisa kirim pesan ke saya.” Juna kembali mengangguk. “Kalau gitu saya permisi dulu, Pak Juna. Mari, Bu Nadine, Pak Chandra …." Mereka bertiga hanya mengangguk ke agen properti tersebut lalu sedetik kemudian Chandra sudah terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan sang agen, sementara Juna mulai menghampiri Nadine yang sedang melihat-lihat kamar bawah. "Bagaimana? Kamu suka, 'kan?" tanya Juna sambil memeluk sang istri dari belakang lalu mencium pipinya yang memerah karena bahagia. Nadine pun mengangguk dengan senyumnya yang mengembang. "Ooh iyaa, aku juga sudah dapat pembantu buat nemeni kamu nanti. Dia itu tunangannya salah satu karyawanku di proyek. Jadi kita beli tempat tidur dan lemari juga buat dia. Bagaimana?" Nadine kembali mengangguk dan tersenyum lebar. *** Keesokan hari, Nadine sudah mulai sibuk membersihkan dan menata rumah barunya bareng Aminah, pembantu baru mereka, sementara Juna sudah kembali sibuk dengan pekerjaan proyek, hingga tak terasa seharian sudah perempuan itu membereskan rumah barunya. Saking capeknya, Nadine pun tertidur di kamar yang terletak di lantai atas, hingga tak terasa panggilan Juna di ponsel tidak di gubris sama sekali. Laki-laki itu lalu memutuskan pulang ke resort. Namun, Nadine tidak ada di sana, Juna sudah menduga kalau istrinya itu pasti tertidur di rumah baru mereka. Karena hari sudah larut malam, pria itu memutuskan untuk tidur di resort saja. Pagi itu, Nadine baru tersadar kalau semalam dia tertidur di rumah baru. Namun, Juna tidak ada. Rupanya semalam laki-laki itu tidak tidur di sampingnya, karena bekas tempat tidur di sebelahnya masih rapi dan bersih, tidak ada jejak ada orang yang tidur di sana. Bergegas dia bangun dan turun ke bawah untuk mencari sang suami. "Minah, apa semalam kamu lihat Bapak pulang?" "Nggak itu, Bu. Semalam Bapak nggak pulang ke rumah," sahut Minah—si asisten rumah tangga mereka yang baru—yang mulai sibuk di dapur. Bergegas Nadine berlari lagi ke lantai atas dan menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas di sebelah tempat tidur. Dilihatnya nama Juna berkali-kali meneleponnya. Tanpa pikir panjang lagi, Nadine segera melesat pergi ke resort, setelah pamit ke Aminah. Begitu sampai di sana, dilihatnya laki-laki itu masih tertidur pulas di ranjang. Perempuan itu pun tersenyum begitu melihat wajah suaminya yang begitu damai ketika sedang tidur. Nadine lalu mencium pipi sang suami dengan lembut, hingga membuat Juna terbangun dan tersenyum saat dilihatnya sang istri duduk di sampingnya di tepi ranjang. "Kamu sudah di sini? Semalam--…" "Maafkan aku, Sayang ...." sela Nadine lirih, "semalam aku nggak angkat telfon, aku tertidur di kamar kita, di rumah baru kita. Maafkan aku, ya," sahutnya dengan ekspresi wajah yang memelas. Juna hanya tersenyum sambil menarik tangan perempuan itu, hingga tubuhnya ambruk dan berada tepat di atas dadanya seraya berkata, "Kalau begitu kamu harus diberi hukuman karena kamu telah membiarkan suamimu tidur sendirian semalaman," ujarnya sambil membelai wajah ayu sang istri. "Apa hukumannya? Memasak makanan yang special untukmu? Memijat bahumu? Memandikanmu?" Juna terus-menerus menggeleng saat Nadine menyebutkan hukuman yang pantas untuknya. "Aku akan memberikan hukuman yang berat untukmu! Yaitu menghujanimu dengan ciuman!" Juna segera membalikkan tubuh perempuan itu, hingga akhirnya kali ini Nadine yang berada di bawah Juna. Nadine kaget dan berteriak kecil lalu tertawa geli karena Juna mulai menciumi wajah dan tubuhnya secara membabi buta. "Mas Juna, hentikan! Aku geli, aku gelii ..," pintanya mengiba di tengah tawanya yang nyaring. Nadine berusaha memberontak. Namun, Juna tidak melepaskan perempuan itu. Laki-laki itu malah semakin bersemangat menghujaninya dengan ciuman. "Tidak! Aku nggak akan melepaskanmu karena kamu sudah berbuat salah, kamu harus dihukum!" "Iya, iya … aku minta maaf. Ampun, ampun, Sayang. Maafkan aku, pleasee ... maafkan aku!" Nadine terus meronta meminta maaf pada sang suami. Sesaat pria itu terdiam dengan kedua kakinya yang menyilang di perut sang istri, sehingga perempuan itu tak mampu bergerak sedikit pun. Tiba-tiba Juna melepaskan sarung guling satu per satu lalu di ikatnya tangan Nadine ke pilar penyangga yang ada di ranjang. "Mas Juna, apa yang kamu lakukan?" Nadine jadi panik saat suaminya mengikat kedua tangannya dengan tatapan sadis. Senyumnya yang mematikan mulai menghias wajahnya yang tampan. Nadine jadi semakin heran. Ada senyum kemenangan di wajah laki-laki itu. "Mas Juna, kenapa pakai ikat-ikat begini segala? Kamu ini kenapa?" Nadine terus saja memberontak. Namun, ikatan Juna di kedua pilar itu begitu kuat, hingga tangannya terasa sakit. Tiba-tiba saja laki-laki itu bangun lalu turun dari ranjang dan lari turun ke lantai bawah. Perempuan itu jadi semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya akan dilakukan suaminya? Tak lama kemudian, Juna naik lagi ke lantai atas dan berjalan perlahan-lahan menghampiri Nadine yang masih terus memberontak di atas ranjang, berusaha membuka ikatan itu. Juna tersenyum nakal sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Belum pernah Juna merasa bahagia seperti ini, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari sang ibu. "Mas Juna, lepaskan aku ... aku mohon ... pleasee … tanganku sakit." Juna bergeming sedikit pun, wajah memelas Nadine dengan rintihan penuh kesakitan tidak membuat hatinya goyah. Laki-laki itu lalu naik ke atas ranjang dan berlutut persis di depan betinanya, menatap sang istri dengan mata elang, seolah-olah hendak menerkam sambil tersenyum nakal. Belum pernah pria itu memberikan hukuman atau permainan seperti ini ke Felicia, istri pertamanya. Baru kali ini dia memberikan hukuman seperti ini ke istrinya yang baru. "Kamu harus di hukum Nyonya Nagarjuna Evandaru!" "Aku sudah menyerah, Sayang. Kamu sudah menghukum aku, ‘kan? Apa nggak ada dispensasi atau re--... re--..." Tiba-tiba saja pikiran Nadine jadi blank sambil terus memberontak. "Remisi!" sela Juna lantang sambil tertawa kecil. "Iya, itu remisi! Semua orang yang kena hukuman, bisa dapat itu, 'kan?" "Remisi diberikan kalau dia melakukan perbuatan baik, sedangkan kamu sedari tadi memberontak terus, minta dilepaskan, apa itu perbuatan baik?" Juna kembali tertawa kecil sambil terus menatap sang istri. Nadine pun akhirnya hanya bisa pasrah. "Baiklah, aku nggak akan memberontak atau minta dilepaskan, tapi apa memang seperti ini perlakuan seorang suami yang sangat mencintai istrinya? Hmm?" Nadine berusaha mengucapkannya dengan nada rendah dan memelas dengan ekspresi cat eyes-nya yang mengiba. "Aku adalah suamimu! Jadi aku berhak melakukan apapun yang ingin kulakukan pada istriku dan saat ini istriku harus menjalani hukuman terlebih dulu! Soal remisi, itu soal mudah, kalau istriku bisa menunjukkan sikap baiknya, maka aku sebagai suami pasti akan memberikan remisi itu tanpa diminta," ujar Juna dengan senyum mautnya sambil tetap menyembunyikan sesuatu di balik punggung. "Baiklah, aku akan menunjukkan sikap baikku. Aku nggak berontak lagi. Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Belum juga Juna menjawab pertanyaan Nadine, tiba-tiba ponsel perempuan itu yang terdapat di dalam tas tangan menjerit. Bergegas dibukanya tas tangan tersebut yang teronggok di atas ranjang, di dekat kaki Nadine, dilihatnya nama Rommy yang memanggil. "Rommy? Siapa itu Rommy?" tanya Juna penasaran sambil memperhatikan ponsel Nadine. "Rommy? Dia itu sahabatku, Sayang. Salah satu teman musisi, sini biar aku bicara dengannya!" pinta Nadine mengiba. "Baiklah, aku akan melepaskan tangan kananmu, agar kamu bisa leluasa bicara dengan Rommy-mu itu!" Juna lalu melepaskan tangan kanan Nadine dan memberikan ponsel itu padanya. Perempuan itu hanya bisa meringis kesakitan sambil mengusap-usap pergelangan tangannya ke pipi. "Hallo, Rom, apa kabar?" sapa Nadine dengan tangan kirinya yang masih terikat di pilar penyangga. "Nadine! Kamu benar-benar jahat, ya! Masa nikah nggak bilang-bilang, sih?” Suara Rommy terdengar sangat lantang di ujung sana, “aku kira kamu itu cuma tour keliling lima kota, tapi ternyata buntutnya malah nikah! Memangnya selama ini kamu pacaran sama siapa? Kenapa kamu nggak pernah ngasih tau aku?" lanjutnya masih dengan suara yang merepet, sementara itu Juna mulai melakukan aksinya dengan membuka satu per satu kancing blouse Nadine. "Maafkan aku, Rom. Ceritanya panjang, nanti pasti aku akan cerita ke kamu, yang jelas selama ini aku pacaran sama laki laki, Say! Bukan gay seperti kesukaanmu!" balas Nadine sambil melirik ke sang suami dan melihat apa yang dilakukan laki-laki itu. "Mas Juna, apa yang kamu lakukan?" Nadine jadi semakin heran dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba saja membuka semua kancing blouse atasannya dan mulai melumuri perut perempuan itu dengan selai strawberry yang disembunyikan sedari tadi di belakang punggung. "Juna? Aku Rommy, Sayang. Aku bukan Juna, siapa itu Juna? Suamimu?" Rommy jadi bingung saat Nadine menyebut nama Juna. Sesaat didengarnya sahabatnya itu menjerit kegelian. "Nad, kamu nggak apa-apa, ‘kan? Nad, kamu kenapa?" Perlakuan Juna yang nakal, membuat Nadine jadi tidak konsen dengan telponnya. Perlahan-lahan dengan lembut, laki-laki itu mulai membersihkan selai strawberry yang menempel di perut Nadine dengan lidahnya, hingga tanpa sadar perempuan itu pun menjerit lagi. Juna segera membungkam mulut betinanya itu dengan tangan lalu memberikan kode ke Nadine untuk ngobrol dengan Rommy, perempuan itu hanya bisa mengangguk lemah. "Sorry, Rom. Aku minta maaf, aku lagi kena hukuman dari suamiku!" "Hukuman ...? Hukuman apa, Nad?" Nadine jadi bingung bagaimana caranya bilang ke Rommy, kalau saat ini Juna sedang memberikan hukuman yang sangat manis untuknya. Perempuan itu tidak pernah mengira kalau sang Arjuna akan memberikan hukuman yang seperti ini pada dirinya. Suaminya ini memang selalu saja bisa memberikan kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah dia duga sebelumya. Nadine jadi semakin mencintainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD