BAB 10 - aku milikmu, kamu milikku

2038 Words
Malam semakin larut, suara deburan ombak yang memecah karang masih terdengar dari kejauhan. Suaranya tidak mengusik sama sekali bagi pasangan pengantin baru yang sedang menikmati dansa mereka. Laki-laki itu merasa damai dan nyaman bila bersama istri mudanya ini, begitu pula Nadine yang juga merasa senang bisa berduaan dengan Juna, laki-laki yang sangat dicintainya. Nagarjuna Evandaru kemudian mengendurkan pelukan di tubuh betinanya, ditatapnya wajah cantik itu sambil tersenyum manis. Nadine pun membalas dengan senyuman, perlahan dibelainya wajah itu dengan lembut seraya berkata, "Kamu tahu, aku merasa sebagai laki-laki yang paling beruntung dan paling bahagia yang bisa kenal dan jatuh cinta sama kamu, Nad." Perempuan itu hanya tersenyum sambil menatap kedua bola mata sang Arjuna yang mulai berkabut. Nadine pun menggeleng sambil mengusap ujung mata sang suami yang berair. "Ini adalah tangis kebahagiaan, Sayang. Biarkan. Aku sangat bahagia bisa menjadi suamimu dan memilikimu seutuhnya,” ucap Juna lagi, “aku bisa gila kalau aku nggak bisa mendapatkanmu," lanjutnya sambil menyusuri setiap jengkal paras cantik sang istri, dengan jari telunjuk, mulai dari kening, hidung hingga berakhir di bibir mungil perempuan itu yang sedikit menganga. Nadine lalu melingkarkan lengannya di leher laki-laki itu, malam ini dia sudah siap sepenuhnya menjadi milik Juna dalam suka dan duka. "Aku juga sangat bahagia bisa menjadi istrimu, Sayang. Karena aku juga sangat mencintai kamu,” balas Nadine sambil tersenyum manis, “aku juga bisa gila tanpamu. Kamu tahu, menikah denganmu adalah keputusan terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup. Aku nggak peduli dengan cibiran orang di luar sana yang menganggap sinis cinta kita yang katanya baru seumur jagung Banyak yang bilang kalau keputusan kita untuk menikah ini terlalu cepat, terlalu terburu-buru dan lain sebagainya, tapi aku nggak peduli!" sahutnya tegas sambil membelai wajah tampan itu dengan lembut, Juna pun terharu dan kembali menangis. Sesaat mereka terdiam, Juna kemudian menghela nafas dalam dan berkata, "Kamu tahu, selama ini seumur hidupku, aku selalu didikte oleh keluarga besarku. Jadi analoginya seperti ini, ketika aku hendak keluar rumah pun, aku selalu diarahkan belokan yang mana yang harus aku ambil." Nadine jadi terharu mendengar pengakuan sang suami yang cukup mengejutkan baginya. "Apa separah itu, Sayang?" Juna mengangguk sambil memalingkan wajah ke arah lain lalu mengusap ujung matanya lagi yang berair dengan kedua jari, seperti ada sebuah beban berat yang dipikulnya. Laki-laki itu menghela nafas cukup dalam, Nadine bisa merasakan kalau selama ini suaminya tidak bahagia. "Sama seperti dirimu, menikah denganmu adalah keputusan terbesar yang pernah aku buat seumur hidupku. Aku yakin kalau aku mengutarakan rencana pernikahanku ini pada keluarga besar, seperti yang aku ceritakan tempo hari, mereka pasti nggak bisa menerima dengan mudah, tapi aku nggak peduli. Itulah kenapa aku menikahimu secara siri untuk sementara waktu ini. Maafkan aku ya, Nad." Nadine menggeleng kembali menandakan dirinya tidak keberatan. "Tapi aku janji, suatu saat nanti, aku pasti akan menjadikanmu sebagai istri sahku, karena aku yakin ada satu orang yang bisa mengerti tentang perasaanku ini." Perempuan itu jadi penasaran. "Siapa dia?" "Ibuku. Beliau sangat mengerti tentang aku. Suatu saat nanti, aku akan mengenalkan kamu dengannya. Beliau pasti bisa menerima kamu, menerima keputusanku ini. Kamu bisa mengerti, ‘kan?" "Aku bisa mengerti, Sayang. Bagiku, aku sudah menjadi istrimu yang sah, aku sudah menjadi bagian dalam hidupmu sepenuhnya. Aku adalah milikmu, Sayang,” sahutnya dengan suara yang lemah lembut, membuat hati Juna jadi semakin merasa nyaman dan damai. Baru kali ini laki-laki itu merasakan suatu rasa yang tenang, tentram dan damai dalam hidupnya. “Dan ... aku sudah siap melewati malam pertama kita," bisik Nadine lirih di telinga sang suami dengan tatapan menggoda. Juna pun tersenyum penuh arti lalu dikecupnya kening perempuan itu dengan lembut. "Terima kasih, Sayang ...." Laki-laki itu kemudian mengecup lagi kedua mata Nadine yang terpejam. Perempuan itu hanya terdiam dan pasrah di depan pejantannya. Apalagi saat laki-laki itu turun mencium hidung dan perlahan turun ke bibir yang mungil yang sedari tadi sudah menunggu. Dengan lembut Juna mencium bibir itu. Nadine pun membalasnya. Ciuman yang awalnya dengan tempo lambat, sedang, lama kelamaan cukup intens dan liar dengan tempo yang sangat cepat, hingga kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara ini pun kehabisan nafas. Juna lalu mulai menciumi leher betinanya yang jenjang hingga ke pundak, perempuan itu menggelinjang geli sambil tertawa kecil, membuatnya jadi semakin bersemangat. Tanpa menunggu waktu lama, Juna lalu menggendong betinanya itu ala gendongan seorang pengantin. Nadine yang melingkarkan lengannya di leher sang Arjuna, terus menerus menghujani pria itu dengan ciuman. Juna pun membalas sambil menggendong pengantinnya menuju ke lantai atas, ke kamar mereka. Begitu tiba di lantai atas, laki-laki itu segera membawa pengantinnya ke ranjang, lalu merebahkan di sana. Nadine pun tersenyum manis saat Juna berada tepat di atasnya, kedua bola mata mereka saling menatap satu sama lain dalam diam. Juna kembali mencium kening sang istri, lalu turun ke pipi dan mulai mengeksplor telinga dan leher perempuan itu yang jenjang, Nadine kembali menggelinjang kegelian. Namun, tiba-tiba perempuan itu terbangun sambil mendorong tubuh laki-laki itu ke depan. Juna kaget hingga jatuh terjerembap dan terbaring di samping istrinya. Perasaan Nadine sendiri jadi tidak menentu, dadanya berdetak sangat kencang, karena inilah kali pertama dia menyerahkan tubuhnya pada seorang laki-laki yang notabene sudah menjadi suaminya yang sah. Juna lalu menyusul bangun dan duduk di sebelah sang istri sambil membuka kaos oblongnya dan melemparkan begitu saja ke lantai, hingga tubuhnya yang putih bak pualam terpampang dengan jelas. Laki-laki itu tersenyum penuh arti, disibaknya rambut Nadine yang panjang sambil diciumnya perlahan, bau wangi aroma tubuh istrinya ini benar-benar membuat Juna ingin meledak di dalam tubuh betinanya. Juna lalu menarik kedua tali spageti yang melingkar di bahu Nadine, hingga turunlah gaun itu ke bawah. Gadis itu jadi malu lalu mencodongkan tubuhnya ke depan sambil menekukkan lutut untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah terbuka. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu. Perlahan diciumnya punggung sang istri. Laki-laki itu mulai melakukan aksinya hingga membuat si empunya mengerang kegelian, Nadine berbalik menatap ke arah Juna yang menatapnya penuh cinta. Laki-laki itu lalu membimbing betinanya berbaring di atas ranjang. Juna kembali mencium istrinya dengan lembut dan pelan. Gadis itu benar-benar tidak tahan hingga meremas seprei erat-erat, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Menyaksikan Nadine mencapai kepuasan adalah salah satu hal yang paling menakjubkan yang pernah dia lihat, Juna begitu terpesona. Namun, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak buru-buru memasuki tubuh istrinya ini. Hingga akhirnya surgalah yang Juna rasakan saat dirinya masuk ke dalam tubuh betinanya dan meledak di dalam. Perempuan itu sendiri sempat mengerang kesakitan sesaat, karena ini adalah pengalaman pertamanya. Laki-laki itu sendiri merasa bersyukur karena dia lah orang pertama yang mendapatkan Nadine. Perempuan itu kembali menggigit bibir bawahnya sambil menahan sakit, sang suami jadi terharu dan berusaha selembut mungkin memperlakukannya. Nadine telah memberikan pengalaman yang sangat luar biasa, yang belum pernah dirasakannya selama ini, tidak juga dengan Felicia. *** Keesokan hari, Pagi itu, Nadine terbangun dari tidur panjangnya di atas d**a sang suami yang bidang, kedua tubuh mereka masih sama-sama terbuka tanpa busana, hanya selimut yang membalut tubuh keduanya. Perempuan itu tersenyum ketika teringat pada apa yang telah mereka lakukan semalam. Juna memang pintar, rasa perih yang didera semalam, sudah tidak dirasakannya lagi, ketika mereka melakukan hingga beberapa kali. Nadine jadi ketagihan dengan semua sentuhan Juna, diciumnya d**a bidang sang suami hingga membuat si empunya terbangun. "Selamat pagi ...." sapa Juna dengan suara parau sambil melirik ke Nadine yang masih sibuk menciumi dan mengelus d**a bidang itu dengan lembut, membuat kejantanannya kembali mengeras. "Pagi juga, tidurmu nyenyak, Sayang?" tanya Nadine yang kali ini berada di atas Juna, laki-laki itu pun mengangguk. "Sangat nyenyak sekali ... sampai-sampai aku bermimpi lagi bermesraan sama istriku hingga beberapa kali," goda Juna dengan ekspresi wajahnya yang innocent. Nadine segera memukul d**a sang Arjuna dengan gemas. "Itu namanya bukan mimpi! Tapi nyata!" "Masa, sih ...? Aku kok jadi lupa rasanya, ya? Gimana sih rasanya, Sayang? Mau lagi dong, katanya bukan mimpi!" Juna kembali menggoda sang betina yang saat itu sudah pasang muka cemberut sambil berbalik lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan bergegas berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuhnya yang masih terbuka sambil berteriak. "Kalau mau tau rasanya, tangkap aku kalau bisa!" Juna tersenyum miring melihat tingkah sang istri yang mulai menggoda. Bergegas laki-laki itu turun dari ranjang dengan tubuh yang terbuka pula sambil menyibak selimut dan menyusul sang istri masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci. Perempuan itu memang sengaja tidak menguncinya. Dilihatnya Nadine sudah membasahi rambut panjang dan tubuhnya di bawah kucuran air shower yang hangat. "Siapa takut! Aku pasti bisa menangkapmu!" Perempuan itu pun tersenyum mendengar ucapan sang suami yang sudah berdiri di belakang sambil memeluk tubuhnya dan mulai mengeksplor tubuh sintal itu yang begitu menggoda. "Kamu memang suka sekali menggoda, membuat aku jadi semakin tergila-gila." Nadine kembali tersenyum lalu membalik tubuhnya dan melingkarkan lengannya di leher laki-laki itu seraya berkata, "Itu karena aku sudah terkontaminasi oleh dirimu, Tuan Nagarjuna Evandaru!" sahutnya sambil menyerang sang pejantan dengan ciuman maut yang dipelajarinya dari pria ini. Pagi itu mereka kembali menyatukan hasrat dan asa di bawah siraman air shower yang hangat, sampai-sampai Juna lupa kalau pagi itu dia harus bertemu dengan salah satu klien penting. Tak lama berselang setelah pasangan pengantin baru itu selesai dengan ritual mandi mereka, pagi itu saat sedang menikmati sarapan pagi buatan Nadine, tiba-tiba Chandra—sahabat sekaligus orang kerpecayaan Juna—muncul di resort dengan muka masam dan kesal. "Hei, Chandra! Ayo, sini sarapan pagi dulu!" sapa Juna senang begitu melihat sahabatnya muncul di resort, sementara para pelayan room service terlihat mulai membereskan meja dinner mereka semalam. "Aku sudah sarapan!" sahut Chandra sambil menghempaskan tubuhnya di kursi makan yang terletak di depan Juna dengan perasaan kesal. "Tapi kamu belum nyoba sarapan yang ini, ini sarapan buatan istriku, enak lho!” ucap Juna antusias sambil menunjuk ke piring besar yang berisi masakan buatan Nadine. “Nad, ambilkan piring lagi buat Chandra!" Perempuan itu pun menurut dan bergegas mengambil piring di dapur untuk sahabat suaminya lalu kembali bergabung bersama mereka di meja makan. "Ayolah, Man! Jangan marah-marah seperti itu, makanlah dulu. Kalau pagi-pagi seperti ini dibuat marah, nanti kebawa terus sepanjang hari, bawaannya pasti pengin marah mulu!" Juna mencoba menenangkan perasaan Chandra. "Itulah kenapa, kalau setiap pagi kita harus selalu tersenyum dan bersyukur atas apa yang diberikan Allah pada kita setiap hari. Kayak aku nih, pagi-pagi gini, aku sudah merasa bahagia banget, karena aku sangat bersyukur atas apa yang Allah berikan padaku, yaitu seorang istri yang cantik, pinter masak, pinter di ran-- ..." Nadine segera menyenggol siku Juna dengan ekspresi wajahnya yang malu. Semburat rona warna merah muda tampak membias di pipinya yang cantik. Juna menyeringai senang sambil melirik ke sang istri seraya berkata, "Kenapa harus malu? Chandra ini sahabatku, Sayang. Dia itu sudah tahu bagaimana aku, kamu nggak perlu sungkan sama dia! Anggap dia sebagai saudaramu sendiri." "Ooh, jadi gara-gara itu, kamu jadi telat? Ini sudah jam berapa, Man? Jam sepuluh pagi, malah sudah hampir jam setengah sebelas, sudah hampir siang! Kamu lupa 'kan kalau kamu ada janji sama Pak Tahir?" ujar Chandra sambil mendengkus kesal. Karena tidak biasa Juna bersikap seperti ini. Laki-laki itu selalu memenuhi janjinya dan selalu on time. Tapi hari ini, semuanya berantakan. "Ooh iya, aku lupa, Man! Trus gimana? Apa dia marah-marah gitu?" sahut Juna sambil menepuk jidat. Laki-laki itu jadi merasa cemas. Nadine sendiri jadi merasa ikutan bersalah, karena gara-gara dia, suaminya jadi lupa semuanya. "Untung aja orangnya sabar, waktu aku bilang kalau kamu itu baru aja married. Dia bisa ngerti sih, lalu dia minta reschedule lagi untuk pertemuan berikutnya! Aku udah bikin janji lagi sama dia, jangan lupa lagi!" "Thanks, Man! Kamu memang sahabat yang sangat bisa diandalkan!" puji Juna senang sambil menepuk-nepuk bahu Chandra. "Nah, sekarang, makan dulu, biar perasaanmu agak enakan, ayo makan! Mau minum apa?" "Mau aku buatkan kopi atau teh?" sela Nadine. "Teh aja bolehlah, terima kasih, ya, Nad!" Perempuan itu bergegas berdiri lalu beralih ke dapur, untuk membuat teh panas untuk sang tamu. Tepat pada saat itu, benda pipih yang berbentuk persegi panjang warna hitam milik Chandra tiba-tiba mengeluarkan suara yang begitu nyaring. Laki-laki itu segera mengeluarkan ponsel tersebut dari saku belakang celana dan dilihatnya di layar depan nama Felicia yang menelfon. Chandra pun tersentak kaget lalu menunjukkan ponsel itu ke Juna. Sahabatnya itu cuma bisa terpana menatap nama Felicia—sang istri pertama—yang tertera di layar ponsel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD