Hari sudah semakin sore, petang pun akan segera tiba. Nadine mulai resah saat merasakan kehadiran seseorang yang ada di depannya. Silau semburat sunset yang turun sore itu, membuat Nadine tidak bisa melihat wajah orang yang ada dihadapannya dengan jelas, hanya bayangan siluetnya saja yang tergambar di depannya. Perempuan itu jadi cemas, tapi kalau dilihat dari postur tubuhnya, orang ini sepertinya seorang laki-laki, tapi mau apa dia di sini? Nadine berusaha tenang dan tidak panik.
"Maaf, anda mau bertemu dengan saya?" tanyanya sambil melepas headset lalu mematikan musik di MP3. Orang yang berada di depannya ini hanya terdiam lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Nadine, membuat perempuan itu jadi semakin resah. "Mau apa kamu?" Bergegas dia berdiri dan mendorong tubuh orang tersebut dengan keras ke belakang. Ekspresi wajahnya terlihat takut. Namun, orang itu malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Nadine yang ketakutan. Dari suara tawa orang asing itu, sepertinya dia familier dengan suara ini. "Tunggu! Kamu itu ...." Perempuan itu segera berlari masuk ke dalam resort dan menyalakan lampu-lampu depan hingga terlihat wajah laki-laki itu yang sedang tersenyum lebar sambil menatap ke arahnya tajam.
"Mas Junaaa...!"
Nadine segera berlari menuju ke sang suami yang mengembangkan tangannya ke samping. Perempuan itu segera menghambur ke dalam pelukkannya dengan rasa haru. "Mas Juna! Kamu ini ... bikin aku takut aja! Kenapa nggak bilang, sih kalau kamu mau pulang cepet? Katanya mau pulang malam, tapi kenapa sore-sore udah nongol?" tanyanya manja sambil memukuli d**a laki-laki itu dengan gemas. Juna hanya tertawa sambil pura-pura menahan sakit di d**a. "Oooh maaf, sakit, ya? Maaf, ya, Sayang. Maaf ...," ujarnya lagi sambil mengelus-elus d**a sang suami yang bidang. Juna pun kembali tertawa kecil sambil mencium kening perempuan itu dengan lembut dan memeluknya erat.
"Nggak apa-apa, kok. Nggak sakit, aku hanya pura pura aja. Lagian kalau aku bilang kalau aku mau pulang sore ini, nanti nggak surprise dong!" Nadine pun menyeringai senang sambil melingkarkan lengannya erat di pinggang sang suami lalu menciumi dadanya yang bidang dari balik kemeja dengan gemas. "Kamu baru saja berenang?" Dengan cepat Nadine mengangguk. "Gimana kalau kita renang bareng? Aku ganti baju dulu, ya!"
Bergegas Juna masuk ke dalam resort lalu naik ke lantai atas dan tak lama kemudian turun ke bawah dengan celana renangnya dengan telanjang d**a. Saat itu Nadine sudah berada di dalam kolam renang, Laki-laki itu lalu menyusul mencebur ke dalam kolam renang, mereka berdua mulai berenang bersama hingga beberapa putaran. Gerakan laki-laki itu begitu gesit dan cepat dengan gaya bebas, sedangkan Nadine lebih suka berenang santai dengan gaya katak. Setelah lelah berenang, pasangan pengantin baru ini lalu duduk bersisian di anak tangga kolam renang dengan tubuh mereka yang masih terendam di dalam kolam. Sesekali mereka bermain air dengan saling mencipratkan air ke tubuh mereka masing-masing sambil tertawa-tawa lepas.
Dinginnya angin malam, malam itu tidak dirasakan oleh kedua sejoli ini. Keduanya malah terbuai dengan suasana romantis yang ada di sekitar mereka, Juna lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh sang istri, ditatapnya paras ayu istrinya sambil menyingkap anak rambut perempuan itu ke belakang telinga, Nadine hanya terdiam sambil tersenyum manis. Dipeluknya perempuan itu dari samping hingga terasa kehangatan di antara keduanya. Entah siapa yang memulai duluan, yang pasti mereka berdua sudah tenggelam dalam ciuman yang intens dan liar.
Hingga tanpa mereka sadari, saat itu pelayan room service datang membawakan makanan yang dipesan untuk dinner. Nadine yang menyadari kedatangan mereka, bergegas melepaskan pagutannya di bibir sang suami. Juna tersenyum miring sambil melirik ke arah para pelayan itu. "Kamu mau bikin dinner rupanya?"
"Iya ... buat kamu, kalau gitu aku mandi dulu, ya!" Nadine segera naik ke atas kolam renang dan meninggalkan Juna yang masih berendam di dalam kolam lalu mengenakan kimono handuk dan memberikan instruksi sedikit pada pelayan room service tersebut. "Tolong, nanti ikannya dibakar lagi, ya supaya hangat. Aku mau mandi dulu!"
"Baik, Bu …."
Nadine bergegas masuk ke dalam resort, sedangkan Juna juga mulai naik ke atas kolam renang lalu mengambil handuk yang teronggok di kursi malas. Angin malam itu sedikit membuat tubuhnya kedinginan, dikeringkan tubuh dan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menghampiri para pelayan room service itu.
"Menunya apa malam ini?"
"Ikan bakar, plecing kangkung, juga ada gorengan, lalapan. Untuk minumannya orange juice, Pak. Apa mau tambah lagi?" tanya salah satu pelayan room service yang sepertinya jadi leader di antara teman-temannya.
"Nggak ada buahnya?"
"Bisa tambah buah, Pak. Bapak mau pesan buah apa? Nanti kami siapkan!"
"Hmm ... aku mau anggur hijau yang manis. Ada?"
"Bisa kami usahakan, Pak! Nanti kami tambahkan. Oh ya, Pak. Apa ikannya mau dibakar sekarang?"
Juna mengangguk mantap. "Boleh! Dibakar saja sekarang, biar nggak begitu panas waktu kami makan nanti. Kalau gitu aku tinggal dulu, ya. Aku mau mandi dulu!" ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak pelayan room service tersebut lalu beralih masuk ke dalam resort.
Saat Juna naik ke lantai atas, tampak tempat tidur mereka sudah terlihat, begitu menginjakkan kaki di anak tangga yang paling atas. Namun, Nadine belum terlihat di sana. Baik di depan meja rias atau di sofa panjang yang menghadap ke TV, itu artinya perempuan itu masih berada di dalam kamar mandi. Dari dalam kamar mandi, Juna mendengar suara air shower yang mancur. Perlahan dibukanya pintu kamar mandi yang tidak terkunci, laki-laki itu tersenyum miring. Entah Nadine lupa mengunci pintu kamar mandi atau memang dia sengaja tidak menguncinya, yang pasti laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar mandi. Dilihatnya Nadine sedang berdiri membelakangi dirinya dengan tubuhnya yang telanjang bulat sambil menikmati siraman air shower yang hangat.
Sejenak Juna terpana dan meneguk ludahnya sendiri, karena baru kali ini dia benar-benar melihat perempuan itu dalam keadaan tanpa busana seperti itu. Lekuk tubuhnya yang bak biola, membuat laki-laki itu jadi semakin terpesona dengan keindahan yang ada di depannya. Tanpa menunggu lagi, Juna lalu masuk ke dalam kotak kaca yang berisi shower dan bergabung bersama betinanya sambil memeluk tubuh itu dengan erat dari belakang. Nadine tersentak kaget, apalagi saat tangan pejantannya mulai mengeksplorasi gumpalan padat yang bulat dengan lembut sambil menciumi rambutnya yang basah. Nadine tersenyum melihat ulah sang suami, lalu berbalik menghadap ke laki-laki itu dibawah siraman air shower yang hangat.
Perlahan Nadine melancarkan ciumannya dengan lembut di bibir sang pujaan hati sambil meremas rambutnya yang basah. Juna sendiri mulai membalas ciuman betinanya dengan lembut juga sambil memainkan jemarinya di tubuh sintal itu. Dalam hati sebenarnya ingin sekali Nadine berlama-lama bermain di bawah kucuran air shower bersama sang kekasih, tapi apa daya makanan yang dipesannya untuk dinner malam ini, tiba-tiba terlintas di benaknya.
"Kita simpan untuk nanti malam. Nanti ikannya keburu dingin, aku tunggu di bawah, ya ...." bisik Nadine lembut di telinga Juna setelah melepaskan pagutannya. Laki-laki itu bergegas mencegah istrinya yang hendak pergi dengan meluruskan tangannya ke dinding kotak kaca itu. Namun, perempuan itu menggeleng tegas dan melepas tangan sang suami perlahan lalu bergegas keluar dari kotak shower sambil tersenyum, dan mengerlingkan sebelah mata ke arah pejantannya, membuat Juna jadi semakin gemas.
Tak lama berselang akhirnya Juna turun juga ke lantai bawah setelah menyelesaikan ritual mandi. Saat itu dilihatnya Nadine sedang asyik ngobrol dengan seseorang via ponsel sambil tertawa-tawa riang. Laki-laki itu segera menghampiri sang istri dan kembali memeluknya dari belakang sambil menciumi pundak perempuan itu yang terbuka.
Malam ini, Nadine mengenakan rok terusan dengan model tali spaghetti di pundak. Perempuan itu sedikit menggelinjang geli saat Juna menciumi lehernya yang jenjang dari belakang tanpa mempedulikan dengan siapa betinanya ngobrol saat ini. Malam itu, area kolam renang pribadi mereka sudah sepi. Hanya lampu-lampu taman yang menerangi dengan sinarnya yang redup, menambah suasana romantis yang tercipta di sana. Suara deburan ombak yang memecah karang, masih terdengar begitu merdu di kejauhan, selain suara hewan malam yang mulai muncul malam itu. Para pelayan room service yang lalu-lalang sedari tadi, juga sudah tidak terlihat batang hidungnya. Hanya ada mereka berdua.
"Oke, Trisha, udahan dulu, ya. Suamiku sudah datang, nih. Kami mau dinner dulu, salam buat semua yaa, bye!"
"Telfon dari Trisha?" tanya Juna sambil terus menciumi leher, telinga dan pundak perempuan itu, membuatnya tidak tahan menahan geli.
"Iya, dari Trisha. Dia titip salam buat kamu. Waktu aku cerita tentang suasana di sini, mereka jadi pengin berlibur ke sini suatu saat nanti katanya," ujar Nadine sambil menoleh ke belakang, melirik ke Juna yang tersenyum manis menatapnya. "Sayang, aku mau panggang ikannya lagi, sebentar ya ...." Nadine bergegas melepaskan tangan Juna perlahan lalu menuju ke tempat pembakaran untuk memanggang ikan.
"Bukannya tadi sudah dibakar sama pelayan room service?" tanya Juna heran sambil menghampiri meja dan memetik buah anggur hijau yang sudah tersedia di atas meja lalu memakannya satu per satu. Meja itu sudah tertata begitu rapi dan cantik dengan tambahan bunga segar dan lilin yang menyala yang berada di tengah meja.
"Biar hangat sedikit, Sayang. Cuma sebentar, kok! Kamu duduk saja dulu di kursi dan nikmati musiknya, bagaimana menurutmu?"
Juna pun tersenyum dan mencoba mendengarkan dengan seksama musik yang lamat-lamat terdengar dari dalam ruangan seraya bertanya, "Kamu lagi muter musik reggae?" tanyanya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi.
Nadine mengangguk dan tersenyum manis lalu berjalan menghampiri Juna sambil membawa piring yang berisi ikan bakar. "Ikannya sudah siap. Ayo kita makan! Oh iya, apa tadi Mas Juna mesan buah anggur hijau?" tanyanya sambil meletakan piring yang berisi ikan bakar itu lalu duduk di kursi yang ada di depan Juna.
Kali ini Juna yang mengangguk. "Iya, aku yang mesan, abis aku liat tadi buahnya belum ada. Ayo ... kita makan!"
Pasangan pengantin baru itu kemudian mulai menikmati dinner mereka berdua di teras di dekat kolam renang, sambil sesekali saling menyuapi satu sama lain. "Bagaimana, enak?" Juna mengangguk mengiakan ucapan sang istri. "Besok aku akan masak sendiri buat kamu. Besok siang, Mas Juna bisa pulang ‘kan untuk makan siang bareng? Eh, tapi tunggu ... ngomong-ngomong kenapa tadi nggak jadi pulang malam? Katanya mau ke Mataram?" Nadine jadi penasaran.
"Akan aku usahakan pulang siang besok. Tadi itu orang yang mau aku temui ternyata lagi pergi ke Jakarta, baru pulang besok lusa. Jadi aku ketemunya baru besok setelah lusa. Kamu seneng, ‘kan?" Dengan cepat Nadine menggeleng. "Lho ... kenapa? Kok cemberut lagi?"
"Gimana nggak cemberut, kalau tiap hari selalu gini! Kita ‘kan baru aja nikah, sampai kapan kita akan ada di resort ini? Aku kesepian kalau ditinggal Mas Juna kerja dan lagi aku juga nggak bisa ngapa-ngapain di sini. Kalau di Jakarta ‘kan aku bisa main musik di café-nya Trisha, bisa ngajar musik, banyak kegiatan yang bisa aku lakukan di sana." Nadine mulai menggerutu sambil menyesap air putih perlahan.
"Boleh saja, kamu boleh pulang ke Jakarta. Tapi gini, coba kamu pilih, enak ‘kan mana?” sahut Juna sambil menghentikan suapannya dan kembali berkata, “kamu tinggal di Jakarta dengan segala fasilitasnya dan bisa melakukan semua aktifitas kesukaan kamu, tapi jauh dari aku, atau kamu tetap tinggal di sini, di kota kecil ini dan nggak bisa melakukan aktifitas yang kamu suka, tapi deket sama aku. Kamu mau pilih yang mana? Semuanya terserah kamu." Sesaat Nadine hanya terdiam sambil menatap laki-laki yang baru dinikahinya kemarin. "Asal kamu tahu, aku nggak mungkin seminggu sekali pulang ke Jakarta, karena proyek ini butuh perhatian ekstra. Mungkin aku hanya bisa pulang sebulan sekali, itu pun hanya dua hari. Hari Jumat sore pulang lalu hari Minggu sore balik lagi ke sini, kamu mau? Kalau kamu mau, minggu depan kita balik ke Jakarta!"
Nadine pun menggeleng keras seraya berkata, "Nggak! Aku nggak mau balik ke Jakarta, kalau harus jauhan sama kamu, mending aku di sini aja, nemeni kamu, tapi apa kita akan di resort ini terus?" tanyanya sambil menghabiskan sisa makanan yang masih ada di atas piring.
"Nggak, Sayang. Aku juga sudah mikirin untuk beli rumah di sini, lalu cari pembantu untuk nemeni kamu selama aku kerja. Jadi kamu nggak ngerasa kesepian kalau aku berangkat kerja, gimana? Kamu setuju?" tanya Juna sambil menyesap air putih perlahan.
Senyum di wajah perempuan itu tampak begitu lebar, begitu mendengar jawaban suaminya. "Kapan kita akan lihat-lihat rumah?" tanyanya antusias sambil menyesap orang juice perlahan dan menunggu jawaban Juna yang sedang menghabiskan suapan terakhir.
"Besok! Kebetulan besok, jadwalku nggak gitu padat, jadi kita bisa lihat-lihat rumah. Kamu nanti bisa pilih rumah yang sesuai dengan selera kamu." Kedua manik mata Nadine berbinar terang, senyum di wajahnya pun belum juga menghilang. Akhirnya dia bisa membangun dunia kecil mereka di kota kecil ini. Ini adalah konsekuensi yang harus dia terima karena menikah dengan seorang pekerja keras yang baru merintis usaha baru.
Setelah selesai menikmati dinner, Nadine dan Juna mulai menari bersama dengan diiringi lagu-lagu reggae yang dibelinya di Mall tadi. Mereka berdua mulai menggoyakan tubuh bersama-sama sambil tertawa-tawa senang dan bernyanyi bersama di dalam ruang tamu, sama seperti dulu ketika melihat konser reggae yang pertama kali.
Tak terasa mereka berdansa hingga larut malam, keduanya lalu menggoyangkan tubuh mereka perlahan-lahan dalam diam, setelah Juna mengganti lagu dengan lagu instrument yang ada di dekat CD player tersebut. Kedua sejoli itu saling berpelukkan satu sama lain begitu dekat dan erat sambil menikmati alunan musik tersebut dengan memejamkan mata. Untuk seribu alasan, Juna merasa damai dan nyaman bila bersama istrinya ini, begitu pula Nadine yang juga merasa senang bisa berduaan dengan laki-laki yang sangat dicintainya ini. Tapi apakah Juna akan berterus terang soal statusnya ke Nadine?