Memasuki rumah mewah bergaya Eropa milik keluarga Suryodjatmiko, selalu membuat Felicia bangga karena dirinya adalah bagian dari trah keluarga tenar tersebut. Bergegas perempuan itu melangkah gontai bersama sang suami menuju ke ruang makan yang luas. Aroma makanan yang lezat buatan sang ibunda menguar di udara bercampur dengan aroma parfum dari berbagai macam merk terkenal. Felicia dan Juna segera berbaur dan bergabung dengan keluarga besarnya.
"Kamu tahu Juna, kenapa malam ini Ibu mengajak kalian semua kumpul di sini untuk makan malam bersama?" Seluruh keluarga memandang ke Bu Dilara Suryodjatmiko—seorang perempuan paruh baya keturunan Turki yang masih terlihat cantik di usianya yang mulai senja—yang duduk di ujung meja makan. Sementara keluarga besar lainnya seperti Ghayda Larasati atau yang biasa dipanggil Ghea—kakak kandung Juna—tampak duduk di dekat sang ibu bersama suaminya, Adam dan kedua anak mereka yaitu Jovanka Lovata dan Danial, sedangkan Juna dan Felicia juga Barra—adik Juna duduk di kursi yang ada di depan mereka.
"Memangnya Ibu mau ngadain acara special untuk kami?" sela Barra sambil menikmati makan malam buatan sang ibu yang selalu menggugah selera. Dilara pun mengangguk, garis-garis kecantikannya yang diwariskan pada anak-anaknya terutama Juna, masih tampak terlihat dibalik kerut-kerut wajah yang mulai menua.
"Ibu ingin merayakan pesta ulang tahun pernikahan Juna dan Felicia dengan pesta ulang tahunnya Jova!"
Jova memutar kedua bola matanya dan menghela nafas kasar. "Nenek, masa ulang tahunnya Jova digabung sama ulang tahun pernikahannya Om Juna dan Tante Felicia? Nggak asyik aah! Ntar yang datang tua-tua semua tamunya, Aku nggak mau!" Jovanka Lovata, putri sulung Ghea mulai protes.
"Jova, Sayang. Ulang tahunmu ini ‘kan baru yang ke enam belas tahun, nggak ada salahnya ‘kan kalau pestanya digabung? Nanti kalau kamu ultah yang ke tujuh belas tahun baru kamu bisa ngadain pesta kamu sendiri." Kali ini Ghea sang ibu kandung ikut buka suara.
"Kamu masih bisa undang teman-temanmu ke pestamu, Sayang. Nanti kita buat pestanya standing party aja, jadi nggak usah pake panggung segala. Bagaimana?" bujuk sang Nenek yang menatapnya penuh harap agar sang cucu bisa mengerti.
"Bener, itu. Panggungnya buat band saja!” sela Felicia cepat, “nanti kita pakai band orkestra, seperti yang kemarin kami pakai di pesta amal yang aku buat bareng teman-temanku, bandnya bagus lhoo, Bu!" Juna jadi teringat sama Nadine yang tergabung dalam band orkestra tersebut, begitu mendengar ucapan Felicia.
"Apa nggak terlalu berlebihan? Lebih baik kita pakai konsep band biasa saja, nggak usah format lengkap seperti orkestra itu,” sela Juna heran, “lagian ini ‘kan juga pestanya Jova, dia pasti juga penginnya cuma band biasa saja, bukan begitu, Jova?" lanjutnya sambil melirik ke arah gadis itu yang mengangguk membenarkan ucapan pamannya sambil menyeringai senang.
"Iyaa aah! Aku maunya band biasa aja, nggak format lengkap kayak gitu! Kalau perlu kasih DJ juga, jadi kita bisa nge-dance malamnya, gimana Om?" sahut Jova antusias dan meminta dukungan ke sang paman.
"Jova, nggak ada acara nge-dance. Lagian tamunya itu nggak cuma anak muda aja, kamu mau teman-teman nenekmu yang datang pada sakit encok semua?" Kali ini Adam—ayah kandung Jovanka—ikut buka suara.
"Nggak papa lah, Kak Adam. Sekali-kali nggak masalah. Nanti kita bikin dancing-nya setelah tamu-tamu yang sepuh-sepuh sudah pulang, baru kita rock n roll-an, kamu setuju kan, Jova?" Barra yang sedari tadi terdiam ikut menimpali ucapan Adam sambil menggoyangkan tubuhnya, seluruh keluarga yang melihat tingkahnya pun tertawa. Dilara juga hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat ulah putra bungsunya.
"Setuju bangeeet, Om!" sahut Jova sambil ikut goyang.
"Sudah-sudah, soal konten acaranya biar dipikirin sama Felly, Jova dan Barra, tapi Ibu pesan, tetep harus pikirin tamu-tamu yang tua, jadi jangan pikirin tamu yang muda aja," sela Dilara tegas.
"Untuk tempatnya, menyusul saja, jadi bagaimana? Kalian sudah sepakat, ‘kan?" sela Ghea sambil memperhatikan seluruh keluarganya satu per satu. Mereka pun mengangguk sebagai tanda setuju untuk menggabungkan ulang tahun pernikahan Juna dan Felicia dengan pesta ulang tahun Jovanka. Juna sendiri mau nggak mau akhirnya menerima rencana tersebut.
***
Keinginannya untuk bertemu dengan gadis konyol itu semakin menguat, apalagi saat dirinya ditantang untuk menemukan keberadaan sang gadis. Bergegas Nagarjuna Evandaru menuju ke café Trisha—sahabat Nadine. Entah kenapa laki-laki itu punya keyakinan kalau Nadine bakal main musik di sana. Rasa rindu yang teramat dalam, rupanya tidak mendapat sambutan dari sang gadis. Beberapa pesan yang dia kirimkan dari kemarin, belum satu pun dibalas oleh gadis itu, ditelepon pun juga tidak diangkat, Juna jadi semakin penasaran sama Nadine.
Malam itu Juna datang sekitar pukul sembilan malam bareng Chandra—sahabatnya. Sayup-sayup dari luar terdengar lagu More Than Words-nya Extreme dinyanyikan secara duet oleh laki-laki dan perempuan, ketika mereka masuk ke dalam café, ternyata yang menyanyikan lagu itu adalah Nadine dan seorang temannya. Chandra segera menepuk punggung Juna, saat laki-laki itu hanya terdiam terkesima melihat dan mendengar suara Nadine yang bernyanyi sambil memetik gitar dan duduk di kursi bar yang tinggi. Perempuan itu terlihat begitu santai, mengiringi penyanyi di sebelahnya yang juga duduk sambil menyanyi. Penampilannya dengan permainan gitar, benar-benar memukau Juna, hingga dia tidak bisa berpaling pada hal yang lain, kecuali saat Chandra menggeretnya untuk mencari tempat duduk yang ada di café. Mereka berdua kemudian duduk di kursi yang agak menjorok di belakang. Namun, Juna masih bisa melihat penampilan Nadine dengan jelas. Tak lama kemudian, Chandra memesan dua gelas Latte hangat dan Cheese stick untuk mereka berdua. Ketika pelayan mengantar pesanan mereka, tiba-tiba Juna meminta secarik kertas untuk request lagu ke penyanyi.
"Tolong berikan kertas ini ke Nadine, ya. Terima kasih!"
Pelayan café tersebut hanya mengangguk lalu meninggalkan mereka dan beralih menuju ke depan menghampiri Nadine dan memberikan kertas tersebut ketika gadis itu selesai menyanyi. Nadine lalu mendongak untuk mencari siapa yang request lagu, tapi saat itu pengunjung di café Trisha sangat ramai, jadi dia tidak bisa melihat secara jelas. Kalau dilihat dari inisialnya sepertinya Nadine tahu orang ini, tapi apa iya, dia datang ke sini?
"Terima kasih untuk anda yang masih betah berlama-lama bersama kami di sini, tadi saya baru saja menemani Kevin menyanyikan lagunya Extreme yang More Than Words, yang di request oleh Pak Michael yang duduk di sebelah sana!" ujar Nadine sambil berdiri dan memegang gitar kesayangannya lalu menunjuk ke arah seorang laki-laki muda yang duduk di bagian depan, yang disambut dengan tepukkan tangan dari para pengunjung lain yang puas dengan penampilan mereka. "Kali ini ada sebuah request lagu lagi dari seseorang yang berinisial 'J'. Hmm … siapa, ya orang ini? Cowok atau cewek, ya? Kalau nggak keberatan untuk anda yang berinisial 'J' apa bisa berdiri sebentar? Agar kami yang ada di sini bisa melihat anda!" pinta Nadine sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari orang yang request lagu. Sesaat suasana hening, para pengunjung yang ada di sana saling berbisik-bisik satu sama lain, sambil saling menengok ke belakang atau ke samping mencari orang yang request lagu.
Tak lama kemudian dari arah belakang, berdirilah seorang pria seraya mengangkat tangannya dan berkata, "Saya yang request lagu!" Sesaat Nadine tertegun karena ternyata laki-laki itu bukan orang yang seperti diharapkannya.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Jandra! Oh maaf, maksud saya Chandra," sahutnya lantang hingga terdengar ke seluruh ruangan.
"Ooh, oke terima kasih Pak Chandra, anda boleh duduk kembali, kami akan menyanyikan lagu yang anda request-- ..."
Belum juga Nadine menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang menyela, "Maaf menyela, bukan dia yang request lagu, tapi aku!" Kali ini Juna berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di sebelah Chandra. Nadine bukan hanya tertegun, tapi tersenyum penuh arti sambil menatap ke laki-laki itu yang tersenyum padanya.
"Rupanya dia benar benar mencari aku, good job! Not bad!" batin Nadine senang.
"Ooh oke, ternyata ada dua orang yang berinisial 'J' di sini, kalau anda, siapa namanya?" Gadis itu kembali menggoda Juna dengan pura-pura tidak kenal sambil menunjuk ke arahnya.
"Aku rasa Nona Nadine tahu jawabannya!" sahut Juna sambil tersenyum miring. Nadine jadi mati kutu saat Juna memojokkan dirinya.
"Baiklah, para hadirin kali ini kami akan menyanyikan lagu yang di-request oleh Pak Juna dan Pak Jandra, eh maaf, maksud saya Pak Chandra. Dari Mata from Jaz! C'mon guys ... kita mainkan!"
Trisha dan Melinda yang kebetulan juga ada di café, saling menatap satu sama lain begitu mendengar Nadine menyebut nama Juna. Kedua perempuan itu lalu menoleh ke arah Juna dan Chandra yang masih berdiri menatap ke arah sahabat mereka. Kedua sahabat Nadine ini lalu saling berbisik-bisik satu sama lain.
"Jadi orang itu yang namanya Juna? Ganteng juga!" bisik Melinda lirih, Trisha pun mengangguk mengiakan ucapan sahabatnya. Nadine sendiri kembali duduk di kursi bar dan mulai memainkan musik bareng teman-teman musisinya, sedangkan Juna dan Chandra juga kembali duduk sambil menikmati penampilan Nadine and friends. Sesekali Nadine melirik ke arah Juna yang masih terus menatapnya tanpa berkedip sambil menikmati latte hangat dan cheese stick pesanannya.
"Cantik juga dia, pinter main gitar lagi!" puji Chandra sambil menyenggol siku Juna.
Juna pun menyeringai kecil seraya berkata, "Nggak cuma gitar, dia bisa main semua alat musik, tapi dia lebih suka sama gitar!" sahutnya sambil menyesap latte hangat. Namun, matanya tak lepas menatap ke arah Nadine yang masih asyik memainkan senar-senar gitar hingga lagu tersebut usai. Semua orang bertepuk tangan, memberikan applause untuk Nadine dan teman-teman musisi yang lain. Gadis itu lalu berdiri, menaruh gitarnya di belakang panggung lalu menghampiri Melinda yang masih berdiri di dekat panggung.
"Mel, gantiin aku bentar, ya. Aku mau nemuin tamu dulu!"
"Iya, aku tahu, si pangeran hidung bengkok, ‘kan?" Nadine hanya tersenyum manis lalu meninggalkan Melinda dan segera beralih ke tempat Juna.
"Hai, apa kabar? Finally you found me!" sapa Nadine sambil menghempaskan tubuhnya di kursi kosong yang ada di sebelah Juna.
"Yes, I found you! Terbukti ‘kan aku bisa menemukan kamu!"
"Boleh juga, not bad! Oh iya, apa ini temanmu yang--..."
"Aah ya, kenalkan ini Chandra, sahabatku! Chandra, ini Nadine!" sela Juna. Chandra pun segera mengulurkan tangannya ke Nadine sambil menarik kedua ujung bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman yang manis.
"Heii, apa kabar?" Nadine pun tersenyum sambil menyambut uluran tangan laki-laki itu. "Senang bertemu denganmu, apa sahabatmu ini sudah cerita dari mana dia mendapatkan luka di hidungnya?" tanyanya sambil melirik ke arah Juna yang masih terus menatapnya.
Chandra pun tersenyum sambil ikut melirik ke arah sahabatnya. "Kenapa kamu tanya seperti itu?" Chandra balik bertanya.
"Karena biasanya kita selalu suka membagikan pengalaman kita pada sahabat terdekat yang bisa dipercaya, ‘kan? Aku lihat sahabatmu ini sangat percaya sama kamu!" Juna tertawa kecil begitu mendengar celoteh gadis itu.
"Dari mana kamu tahu?"
"Apa kamu lupa kalau ada seseorang yang mengatakan aku ini penyihir? Seorang penyihir biasanya tahu segalanya, bukan begitu, Mister Juna?"
Nadine kembali menggoda Juna, membuat laki-laki itu jadi semakin gemas, saat itu salah seorang teman musisi mendekat ke arah mereka dan membisikkan sesuatu ke padanya. Sesaat Nadine melirik ke arah beberapa laki-laki yang baru masuk ke café. Gadis lalu mengangguk pada temannya itu dan menoleh ke Juna. "Maaf, aku tinggal dulu, ya. Kalau kalian mau pulang, pulang saja, nggak usah nunggu aku, sebentar, ya."
Juna mencoba mencegah Nadine. Namun, gadis itu sudah melesat pergi meninggalkan meeka dan beralih ke beberapa laki-laki yang baru datang tadi. Dari tempatnya duduk, Juna bisa merasakan kalau Nadine sangat dekat dengan salah satu laki-laki tersebut. Gadis itu tampak santai dan hangat ketika memeluk laki-laki itu. Entah kenapa d**a Juna terasa sakit, seperti ada yang berdesir di dalam sana, saat dia memperhatikan Nadine yang sedang ngobrol mesra dengan pria tersebut, bahkan gadis itu tidak segan untuk kembali memeluk laki-laki itu sambil tertawa-tawa lepas, tanpa beban.
"Hei, kamu kenapa? Kamu cemburu?" Chandra merasa heran dengan sikap sahabatnya yang tiba-tiba menggenggam tangannya sendiri dengan keras tanpa dia sadari. Juna lalu mengendurkan genggaman tangannya begitu menyadari sikapnya sendiri.
"Aku nggak papa, it's okay. Kenapa memangnya?" Juna berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Aku belum pernah lihat kamu seperti ini, Man. Aku nggak pernah lihat kamu cemburu waktu Felicia dekat sama laki-laki lain, sikapmu malah biasa-biasa saja." Juna hanya terdiam mendengar ucapan Chandra yang sepenuhnya benar. "Tapi kali ini, baru saja kamu lihat Nadine dekat sama laki-laki lain, tanganmu langsung mengeras, kamu kenapa? Kamu cinta sama dia?"
Juna melirik ke Chandra dengan tatapan bimbang. Dia sendiri bingung, apa dia benar-benar mencintai Nadine? Padahal dirinya sudah punya seorang istri, tapi kenapa perasaannya ke Nadine lebih kuat ketimbang ke Felicia—istrinya? Juna jadi gelisah dengan perasaannya sendiri, baru berapa hari ini dia ketemu sama gadis itu, tapi kenapa perasaannya selalu tidak karu-karuan kalau Nadine ada di dekatnya. Namun, ketika gadis itu menjauh, jantungnya serasa berhenti.
"Ndra, menurutmu apa itu cinta?"
Chandra menyeringai kecil sambil melirik ke Juna dan menghela napas dalam lalu berkata, "Bagiku, cinta itu ... seperti angin, kita nggak bisa melihatnya. Namun, kita bisa merasakannya, kalau menurutmu?"
Sesaat Juna terdiam. "Bagiku, cinta itu bukan tentang seberapa lama kita telah mengenal seseorang, tapi tentang seseorang yang telah membuat kita tersenyum sejak pertama kali kita mengenalnya dan Nadine telah melakukan hal itu ke aku," sahutnya sambil menatap Nadine dari kejauhan.
Chandra tercengang begitu mendengar pengakuan Juna. Laki-laki itu menggeleng pelan. "Parah kamu, Bro! Kamu sadar ngomong seperti ini? Kamu itu sudah punya istri!" bisiknya lirih seolah-olah agar jangan sampai ada orang yang mendengar percakapan mereka.
"Aku sadar, bahkan seribu persen sadar. Perasaan ini datang begitu saja ketika aku melihatnya. Jujur, aku belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini pada seorang perempuan, apa aku salah?" Juna pun ikutan berbisik lirih.
"Jelas salah, Man. Statusmu yang sudah nggak single lagi, itu yang membuatmu salah. Kamu harus sadar itu, jangan berikan harapan palsu pada gadis itu, kasihan dia. Dia nggak tahu apa-apa!"
Juna hanya terdiam sambil terus menatap ke Nadine yang masih ngobrol dengan teman-temannya. Benar seperti yang dikatakan oleh Chandra, dia tidak boleh memberikan harapan palsu ke gadis itu. Perasaan ini harus dipendamnya dalam-dalam, Juna tidak ingin Nadine terluka.