Sore itu, sepulang kantor, Nagarjuna Evandaru sengaja mampir ke café milik Trisha. Laki-laki itu merasa satu-satunya tempat di mana dia bisa mencari informasi tentang Nadine Diomira adalah dari cafe milik sahabat gadis itu. Sore itu, café milik Trisha tampak ramai oleh pengunjung, banyak orang yang nongkrong di sana, mulai dari kongkow bareng teman-teman atau mengerjakan tugas kantor mereka yang belum selesai sambil menikmati kopi dan kue buatan si empunya cafe. Juna pun memesan segelas espresso pahit dan sepotong kue waffle. Di sudut ruangan tampak sekelompok musisi sedang menunjukkan kebolehan mereka bermain musik dan menyanyi. Laki-laki itu mencoba memperhatikan para musisi tersebut dengan saksama satu per satu. Namun, Nadine tidak ada di antara mereka.
"Maaf, Mbak. Boleh saya nanya?" Juna tiba-tiba mencegat salah seorang pelayan café yang melintas di dekatnya.
"Iya, mau nanya apa ya, Pak?" tanya si pelayan café.
"Apa live music ini selalu ada setiap hari atau hanya hari-hari tertentu saja?"
"Setiap hari ada, Pak. Tapi mulainya baru malam hari, sekitar jam tujuh malam ke atas. Kalau yang lagi main ini karena ada permintaan dari pengunjung yang minta, kebetulan dia ada acara sore ini."
"Lalu apa pemusiknya hanya band ini saja atau ganti-ganti?"
"Biasanya sih ganti ganti, Pak. Sesuai jadwal, tapi kadang juga beberapa hari tetap sama pemain musiknya, semuanya tergantung jadwal."
"Oh gitu, lalu yang ngisi besok malam sama hari Jumat siapa, Mbak?"
"Kalau nggak salah sih, teman-temannya Mbak Nadine, Pak!" Juna tersenyum miring, clue pertama sudah dia dapatkan.
"Oh Nadine. Yang temannya Bu Trisha yang punya café ini?" sela Juna cepat, pelayan cafe itu pun mengangguk membenarkan.
"Iya, Bapak kenal sama Mbak Nadine?"
"Aku temannya, kebetulan sudah lama nggak ketemu sama dia. Apa dia juga ngisi acara di café ini?"
"Biasanya kalau teman-temannya main, Mbak Nadine juga selalu ikutan main." Juna kembali tersenyum senang karena clue kedua sudah dia dapatkan.
"Terima kasih, ya. Ini tip buat kamu!" Juna lalu memberikan selembar uang berwarna merah ke pelayan cafe tersebut. Pelayan café itu awalnya ragu, tapi kemudian akhirnya menerima juga.
"Terima kasih, Pak!"
Juna kembali mengangguk, kemudian pelayan café itu bergegas berlalu meninggalkannya, sementara Juna kembali menikmati espresso dan kue waffle sambil menikmati iringan musik pop di café tersebut sambil mulai menyusun langkah selanjutnya untuk menemukan Nadine. Malam ini, Juna sudah mendapatkan dua clue yang kalau disimpulkan, Nadine bakal main musik di café-nya Trisha, entah itu hari Kamis atau Jumat.
Sekitar pukul delapan malam, Juna akhirnya tiba di rumah. Felicia yang mendengar suara mobil sang suami masuk ke pelataran rumah, segera menyambut pria itu di ruang tengah, begitu Juna memasuki rumah.
"Hai, Sayang, apa kabar? Kamu sudah makan?"
Felicia menggelanyut manja di lengan laki-laki itu. Juna hanya terdiam sambil memberikan sebuah tas karton ke perempuan itu yang menyeringai senang dengan kedua bola matanya yang berkilat terang. "Apa ini? Oleh-oleh? Makasih banget, Sayang!" Felicia sangat senang begitu menerima kertas karton tersebut, yang ternyata berisi cheese roll cake yang dibeli Juna di Trisha's café and pastry. Perempuan itu lalu membawa roll cake itu ke dapur, sedangkan Juna melesat ke kamar pribadinya. Diirisnya roll cake itu sedikit, lalu dicicipinya. “Hmm, enak juga! Bisa buat dessert nanti,” ujar Felicia senang lalu ditaruhnya roll cake itu di dalam lemari pendingin dan beralih berlalu menuju ke kamar, menyusul Juna.
"Sayang, besok malam kamu ada acara nggak?" teriak Felicia sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar pribadi mereka, rupanya Juna sedang mandi di dalam kamar mandi. "Tadi Ibu telfon, kita diundang untuk makan malam di rumah Ibu. Kalau bisa batalkan semua acaramu besok dan besok pulangnya jangan malam-malam ya, kalau bisa jam lima sore kamu sudah sampai di rumah!"
"Emang Ibu mau ngadain acara spesial?" tanya Juna yang saat itu keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkap lalu beralih naik ke atas ranjang.
"Nggak tahu juga sih, tapi nggak ada salahnya ‘kan kita seluruh keluarga kumpul bareng seperti ini. Sudah lama juga ‘kan kita nggak ngumpul bareng kayak gini. Iya, ‘kan?" ujar Felicia sambil mengikuti sang suami yang naik ke atas ranjang, lalu memeluk laki-laki itu yang sudah terbaring di ranjang. Namun, Juna hanya terdiam dan bergeming, apalagi ketika Felicia mulai bermanja-manja sambil mencium-cium pipinya, pria itu malah menghindar.
"Aku capek, Fel. Aku mau tidur."
Juna benar-benar malas untuk menyalurkan hasratnya malam ini dengan Felicia, keinginannya cuma satu, tidur lebih awal, karena besok ada meeting yang harus dihadiri. Saat laki-laki itu hendak berbalik membelakangi sang istri, Felicia baru menyadari kalau hidung Juna terluka.
"Kenapa hidungmu, Sayang? Hidungmu terluka?"
"Nggak apa-apa, hanya terbentur pintu kaca di kantor, tapi sudah nggak apa-apa sekarang, sudah diobati. Sudah, ya ... selamat malam, aku capek, aku ingin tidur."
Juna lalu membalik tubuhnya membelakangi dia yang hanya bisa manyun begitu diberi punggung oleh sang suami. Felicia jadi bertanya-tanya, apa Juna marah padanya? Gara-gara kemarin dia pulang pagi? "Tapi menurut Bi Surti, Juna sendiri kemarin juga pulang pagi. Aku juga belum tanya ke dia, ke mana saja dia kemarin? Meninggalkan aku di pesta itu, aku harus menanyakan padanya besok!" batinnya kesal sambil melirik ke arah Juna. Suara dengkuran halusnya sudah mulai terdengar, itu artinya pria itu sudah terlelap ke alam mimpi.
Keesokan hari, menikmati nasi goreng ikan asin buatan Bi Surti saat sarapan pagi seperti ini, selalu membuat Juna ketagihan. Laki-laki itu selalu tambah dua piring, demi memenuhi rasa laparnya, sementara sang istri lebih memilih membuat roti bakar dan salad kesukaannya yang menurutnya merupakan makanan sehat demi menjaga tubuhnya agar tetap langsing.
"Sayang, hari ini jangan lupa ya, pulangnya agak sorean. Nanti malam kita akan makan malam di rumah Ibu!” Felicia kembali mengingatkan Juna tentang rencana mereka malam nanti sambil menikmati sarapan pagi bareng sang suami di ruang makan. Juna hanya terdiam sambil terus menikmati nasi goreng ikan asin. "Oh iya, Sayang. Nanti aku ada arisan di rumah Sonia. Biasa arisan mama-mama muda, sekalian kami juga mau ngebahas soal rencana kami bulan depan. Kamu tahu pesta amal kemarin malam itu sukses besar lho! Rasanya nggak sia-sia hasil kerja keras kami selama ini!"
"Lalu kalian merayakannya dengan minum bareng-bareng?" sela Juna ketus sambil menyesap air putih perlahan.
"Kemarin itu hanya sedikit, Sayang. Aku hanya minum sedikit dan lagi aku hanya menghargai teman-temanku, nggak enak ‘kan menolak permintaan mereka." Felicia berusaha membela diri.
"Kamu bisa bilang ‘kan sama mereka, kalau kamu saat ini sudah berhenti minum. Bagaimana kamu bisa punya anak? Kalau kebiasaan burukmu itu nggak kamu tinggalkan?"
"Sayang, bukannya hal ini sudah sering kita bahas?"
"Soal apa?" Suara Juna masih terdengar ketus.
"Soal anak! Kamu tahu ‘kan kalau aku belum siap untuk jadi seorang ibu. Aku belum siap untuk direpoti oleh tangisannya setiap malam yang memekakkan telinga. Aku belum sanggup, Sayang."
"Tapi kita menikah sudah dua tahun, Fel. Sampai kapan kamu akan siap untuk punya anak? Apa sampai rambut kita beruban semua? Kamu baru menyadari betapa pentingnya seorang anak dalam kehidupan rumah tangga kita?" sela Juna kesal.
"Apa kamu nggak bahagia dengan kehidupan rumah tangga kita, Sayang?"
Sesaat keduanya terdiam, ada keheningan yang menyelimuti di antara mereka berdua selama beberapa detik. Juna lalu mengembuskan napas panjang dan menoleh ke sang istri seraya berkata, "Apa aku harus bilang lagi ke kamu? Kamu sudah tahu ‘kan jawabannya? Kamu sendiri juga tahu, bagaimana aku selalu berusaha untuk mencintai kamu sebagai istriku. Bagaimana aku selalu berusaha untuk menerima kamu, tapi semuanya tidak semudah seperti yang kita bayangkan selama ini." Suara Juna mulai terdengar kembali sambil menghabiskan nasi goreng ikan asin yang tinggal beberapa sendok di atas piring.
"Tapi aku mencintai kamu, Jun. Aku sangat mencintai kamu, apa itu belum cukup?" ujar Felicia sambil meremas tangan sang suami yang terletak di atas meja dengan tatapan mengiba.
Juna hanya menghela napas panjang, lalu melepas tangan perempuan itu dan berdiri dari kursi setelah menyesap air putih. "Aku harus ke kantor, nanti sore aku usahakan untuk pulang agak sore!"
Baru beberapa langkah Juna melangkahkan kakinya ke luar ruangan, Felicia lalu berteriak. "Kemana saja kamu malam itu waktu di pesta amal? Kata Bi Surti kamu juga pulang pagi waktu itu!" teriaknya lantang dengan ekspresi wajahnya yang kesal.
Juna lalu menghentikan langkahnya dan menengok ke Felicia yang menuntut sebuah jawaban. "Aku pergi mencari udara segar, mencari suasana baru, aku bosan dengan acara pesta-pestamu itu."
"Apa kamu juga bosan denganku, Juna?" Pertanyaan Felicia benar-benar menohok.
"Jangan pancing aku untuk mengatakan sesuatu yang tidak ingin kamu dengar, Fel! Aku pergi dulu!"
Bergegas Juna pergi meninggalkan Felicia yang masih menyimpan rasa kesal di d**a. Tiba-tiba saja Felicia membanting gelas yang ada di sebelahnya ke lantai dengan perasaan kesal, hingga gelas itu tidak berbentuk lagi dan pecahannya berhamburan di lantai. Perempuan itu lalu berlari ke dalam kamar dan menumpahkan semua kekesalannya di sana. Felicia menangis tersedu-sedu di atas ranjang, sementara Bi Surti hanya bisa geleng-geleng kepala dan mulai membersihkan pecahan gelas tersebut. Perempuan paruh baya itu menghela nafas perlahan, baginya hal seperti ini sudah biasa, maka tak heran kalau dia tidak kaget begitu ada gelas atau piring yang dibanting.
Beberapa jam kemudian, siang itu Felicia tiba di rumah Sonia, teman arisan sosialitanya dengan muka sembap. Semua teman-teman arisan sosialitanya yang berjumlah tujuh orang termasuk dirinya, tidak pernah merasa heran kalau Felicia datang dengan wajah seperti itu.
"Kamu bertengkar lagi sama suamimu, Felly?" tanya Preeta sambil mengepulkan asap dari rokok putihnya ke atas, sementara Felicia hanya terdiam lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan perasaan kesal.
"Ya, apalagi sih, kalau bukan itu, cerita lama," sela Angel yang duduk di sebelah Preeta, sementara Sonia yang merasa kasihan dengan Felicia segera memeluknya lembut, sambil menenangkan perasaan perempuan itu. Begitu pula Yessy yang selalu memilih lebih baik diam sambil mendengarkan celotehan teman-teman arisannya.
"Sudah, nggak usah mewek terus, kamu tahu ‘kan gimana suamimu itu? Dia ‘kan emang selalu dingin dan cuek, jangankan sama kamu istrinya, sama kita-kita aja, dia nggak nggubris!" ujar Sonia yang berusaha menenangkan Felicia.
"Jangan-jangan suamimu hombreng!" sahut Mona yang suka nyeletuk dengan bibirnya yang julit, semua orang yang ada di ruangan itu langsung menghardik Mona dengan keras.
"Huussss, Mona! Jaga mulutmu!"
"Tapi bener kata Mona, di dunia ini laki-laki itu cuma ada dua macem, yang pertama itu pria tidak bermoral, yang kedua hombreng!" Semua orang yang hadir di sana tertawa terbahak-bahak begitu mendengar ucapan Preeta yang membela Mona.
"Aaah, tapi nggak juga lagi, masih banyak kok tipe laki-laki yang lain, ada tipe buaya, tipe playboy, tipe mata duitan," sahut Baby yang ikut menimpali ucapan Preeta, semua teman-teman arisan sosialita Felicia kembali tertawa terbahak-bahak termasuk Sonia dan Yessy. Namun, Felicia hanya terdiam, tidak ikut tertawa seperti mereka. Perasaannya masih kesal dan sedih atas sikap Juna tadi pagi.
"Huuss! Ngawur kalian ini, nggak semua laki-laki seperti itu, buktinya suamiku sangat baik sama aku, bahkan saking baiknya dia itu sangat takut sama aku!" sela Angel yang diiringi tawa teman-teman sosialita yang lain.
"Ya iyalah! Suamimu itu takut sama kamu, suamimu itu kan anak mama, tapi bener lho, masih ada kok laki-laki yang baik di dunia ini. Cuma jumlah komunitas mereka saat ini sangat sedikit, jadi yang terlihat diluaran ya ... oknum-oknum yang seperti itu!" kali ini Sonia kembali menimpali.
"Sudahlah, Felly, Sayang. Nggak usah dipikirin suamimu itu, kamu sendiri sudah tahu ‘kan konsekuensinya sejak pertama kali kamu nikah sama dia, kalau dia itu nggak cinta sama kamu, jadi jangan mewek kalau tiba-tiba dicuekin," sela Preeta lagi.
"Yang penting, dia masih mau ‘kan diajak bobok bareng?" Baby ikut menimpali.
"Itu juga aku yang minta. Dia nggak pernah punya inisiatif untuk minta duluan kalau kami lagi berduaan!" Suara Felicia mulai terdengar.
"Alaa itu nggak penting Felicia, Sayang. Yang penting buat kita ini status! Yang penting suami kita tetep nganggep kita sebagai istrinya, kalau untuk urusan yang gituan, kamu bisa dapet dari banyak laki-laki. Banyak laki-laki yang mau! Apalagi kamu cantik!" sela Preeta lagi.
"Iya, kayak Preeta tuu yang selalu dapet brondong baru!" sahut Sonia sinis, Preeta pun hanya tertawa disindir seperti itu.
"Ya, abis suamiku keluar kota mulu, kapan aku bisa menyalurkan hasratku? Nggak salah, ‘kan?" Preeta mencoba membela diri.
"Tapi sumpah lhoo, Preet! Brondong yang di pesta amal kemarin yang kamu ajak masuk ke kamarmu itu, sumpah ganteng banget! Aku juga mau, bagi nomernya dong!" pinta Baby mengiba dengan penuh harap.
"Enak aja! Nggak! Aku nggak mau bagi-bagi sama kalian kali ini! Karena yang ini milikku! Servisnya wow! Bikin aku merinding dan ketagihan terus!" ujar Preeta dengan penuh semangat sambil menyeringai senang.
"Nah tu, Fel. Udah nggak usah nangis, tiru itu si Preeta, yang penting status! iya kan, Preet?" sela Baby yang melirik ke arah Preeta yang saat itu mau ngambil rokok putihnya yang entah sudah ke berapa. Preeta pun mengangguk mantap
"Kamu juga sih, udah tahu tu cowok nggak demen sama kamu, masih juga minta nikah!" Mona juga menimpali ucapan Baby.
"Udah, udah! Kalian ini bukannya ngasih semangat sama Felly atau paling nggak ngasih nasehat kek, gimana supaya suaminya bisa cinta sama dia, malah ngasih nasehat yang ngawur!" Sonia masih terus membela Felicia.
"Didukunin aja tu suamimu!" sela Mona lagi.
"Hush ! Monaa! Nggak usah pake dukun-dukunan, ini jaman milenial! Orang-orang luar negeri sana udah mikir gimana caranya bisa wisata ke bulan, kamu masih aja mikirin yang gituan!" Lagi-lagi Sonia menghardik Mona.
"Yaa udah, kalau nggak mau, aku ‘kan cuma kasih saran aja!" sahut Mona
"Udah deh, Felly. Kalau kamu nggak puas sama suami kamu, mending sama brondong aja, kayak Preeta itu. Kalau suamimu masih mau bobok-bobok manja sama kamu, anggep aja itu bonus, selebihnya dibikin asyik aja. Nggak usah dibikin pusing, udaah ... santai ajaa!" Baby kembali menimpali ucapan Mona.
Felicia hanya terdiam sambil memperhatikan teman-teman arisan sosialitanya itu satu per satu. Kalau dipikir-pikir memang bener apa yang dikatakannya teman-temannya, ngapain juga dia stress mikirin Juna? Yang penting laki-laki itu masih tetep menganggapnya sebagai istri, itu sudah cukup, yang penting status! Selebihnya, dia bisa mencari kesenangan di luar sana, tapi bagaimana kalau Juna tahu apa yang dilakukannya?
"Aku harus tanya sama Preeta soal ini, dia itu memang sangat berpengalaman dalam urusan mencari kesenangan di luar rumah!" batinnya sambil mengusap pipinya yang sembap dan tersenyum manis.