BAB 3 - pangeran hidung bengkok

2517 Words
Juna akhirnya sampai di rumah sekitar pukul setengah lima pagi. Bi Surti, pembantu setia rumah itu langsung menyambut kedatangan sang majikan, begitu didengarnya suara deruman mobil masuk ke pelataran rumah. Indra pendengaran perempuan tua ini memang benar-benar tajam. Masa kerjanya yang cukup lama di keluarga Suryodjatmiko, membuatnya bisa membedakan suara mobil siapa yang masuk ke rumah. "Mbak Felly, apa sudah pulang, Bi?" "Sudah, Mas! Baru saja. Sekarang Mbak Felly sedang istirahat di kamar." Kening Juna berkerut sambil melirik ke arah jam yang melingkar di tangan. "Baru saja? Sama siapa dia pulang, Bi?" "Sepertinya sih sama teman-temannya, Mas," sahut perempuan tua itu cemas. Dalam hati dia hanya bisa berharap, tuan dan nyonya majikannya ini tidak akan bertengkar lagi seperti yang sudah-sudah. Kurang lebih hampir dua tahun tinggal bersama mereka, Bu Surti sangat hapal dengan karakter suami istri ini. Juna bergegas naik ke lantai atas, menuju ke kamar pribadinya dan Felicia. Ketika masuk ke dalam kamar, istrinya sudah tertidur pulas dengan posisi menelungkup tanpa melepas high heels dan baju pesta. Didekatinya perempuan itu yang sudah dua tahun ini dinikahinya. Bau aroma alkohol tercium begitu menyengat dari mulutnya yang sedikit terbuka. Juna hanya bisa geleng-geleng kepala, kebiasaan minumnya kambuh lagi rupanya. "Sudah berapa kali sih aku bilang, hilangkan kebiasaan kamu minum-minum. Bagaimana bisa kamu punya anak, kalau hobby minummu ini nggak bisa kamu tinggalkan?" gerutu Juna sambil melepas high heels Felicia, lalu menyelimuti tubuh istrinya itu dengan selimut. Laki-laki itu lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap sang istri yang masih tertidur lelap. Juna jadi teringat kembali pada pernikahannya dengan Felicia yang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka sejak kecil. Bagi kedua keluarga mereka, bibit bobot bebet itu sangatlah penting. Sejak dulu keluarga mereka tidak pernah menikahan putra putrinya dengan pasangan yang sembarangan dan trah keluarga Felicia, termasuk pilihan trah keluarga Suryodjatmiko. Sebenarnya Juna sendiri tidak mau menikah dengan Felicia, karena dia enggan dijodohkan, tapi saat itu Felicia mengancam akan bunuh diri kalau Juna tidak mau menikah dengannya. Mau tidak mau dan juga atas desakan keluarga, Juna akhirnya menerima rencana pernikahan itu. Dan sebulan lagi hari jadi pernikahan mereka yang kedua akan segera tiba, Felicia pasti akan menyelenggarakan pesta besar-besaran untuk merayakannya. Tiba-tiba begitu teringat kata pesta, Juna jadi teringat Nadine. Laki-laki itu tertawa kecil sambil membayangkan pertemuannya tadi dengan gadis konyol itu. Dirabanya hidungnya yang diplester, sambil terus membayangkan paras Nadine yang cantik dan sifatnya yang periang dan spontan. Entah mengapa, Juna jadi kangen sama gadis itu, padahal baru berapa jam yang lalu, mereka berpisah. "Gadis itu memang lucu, kenapa aku jadi mikirin dia terus, ya? Tapi dia itu memang ngangenin!" batin Juna sambil beralih ke sisi tempat tidur di samping Felicia kemudian ikut menyusul tidur di sebelah istrinya. Sementara itu di rumah Trisha, sinar matahari pagi tampak malu-malu membiaskan sinarnya ke dalam kamar yang cukup gelap, di mana penghuninya masih meringkuk malas, bergelung di bawah selimut. "Woii ... bangun! Ke mana aja kamu semalam? Kata Bi Tum kamu pulang sekitar jam empatan, ya?" Melinda—sahabat Nadine—langsung menyeruak masuk ke dalam kamar dan berusaha membangunkan gadis itu yang masih asyik tertidur di balik selimut dengan menarik selimut tersebut. Namun, gadis itu bergeming. Melinda bergegas membuka tirai dan jendela kamar lebar-lebar agar sinar matahari masuk ke dalam kamar yang dingin karena embusan pendingin udara yang menguar di kamar itu. "Aduh, Mel ... biarin aku tidur barang lima belas menit lagi, aku masih ngantuk nih. Nanti aku ceritain ke mana aku semalam, tapi biarin aku tidur dulu ya...," pinta Nadine lirih sambil menggeret selimutnya lagi dan menutupi mukanya dengan selimut tersebut. Namun, Melinda tetap bersikeras ingin membangunkan gadis itu. Melinda malah kembali menarik selimut tersebut sambil menggelitik kaki Nadine hingga terbangun gara-gara kegelian. "Melon ... udah aaah, setop! Setop, aku nggak tahan ... oke, okee aku bangun, lagian udah jam berapa sih?" Nadine lalu duduk di atas tempat tidur sambil mengusap-usap matanya yang masih mengantuk. "Udah jam sepuluh pagi, Sayang! Kamu ada kelas ‘kan siang nanti jam satu? Kamu mau dipelototin sama Bu Oxana? Gara-gara kamu telat ngajar murid kesayangannya?" Nadine menepuk jidat. "Buseeet! Aku lupa! Terima kasih yaa, Sayang. Kamu udah ngingetin aku, aku kudu buru-buru mandi, nih!" sahutnya sambil mencubit kedua pipi sahabatnya itu dengan gemas. Gadis itu bergegas beralih duduk di depan meja rias dan mulai membersihkan wajah secara buru-buru, sementara Melinda beralih mendekat ke arahnya sambil duduk di tepi ranjang di belakang gadis itu. "Kamu belum cerita tadi, ke mana aja kamu semalam? Sampe-sampe ninggalin group! Katanya cuma ke kamar kecil, tapi kok malah ngabur?" Nadine tertawa kecil sambil membersihkan wajah. "Iya, aku memang ngabur, ngabur sama pangeran hidung bengkok!" "Pangeran hidung bengkok? Maksudnya?" Melinda jadi semakin penasaran dengan cerita kaburnya Nadine semalam. "Nanti deh aku ceritain sambil berangkat, tapi jangan lupa nanti mampir ke café Trisha dulu, ya. Aku mau beli sesuatu!" Nadine bergegas melesat masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Melinda yang masih termangu. Tak lama kemudian mereka berdua sudah berada di dalam mobil VW Combi putih milik Nadine menuju ke tempat kursus musik di mana mereka berdua bekerja di sana sebagai pengajar alat musik. Sepanjang perjalanan, Nadine mulai menceritakan insiden kaburnya semalam dengan pangeran hidung bengkok alias Nagarjuna Evandaru Suryodjatmiko. Melinda yang saat itu pegang kemudi stir, tertawa terbahak-bahak begitu mendengar cerita Nadine tentang pangeran hidung bengkok dan insiden terjebaknya di balkon kamar. "Jadi kamu nindih tubuh cowok itu? Gila kamu! Kamu bener-bener parah, Nad!" "Ya abis, aku nggak punya pilihan lain untuk turun dari pohon itu, selain menghambur ke tubuhnya. Lagian dia juga udah siap-siap kok mau menerima aku, jadi sebenarnya aku nggak salah juga, ‘kan?" Nadine berusaha membela diri, tepat pada saat itu, mereka sudah sampai di depan pelataran parkir café Trisha. "Selamat siang, semua!" sapa Nadine sambil memasuki café Trisha bareng Melinda yang melenggang di sebelahnya. Aroma wangi roti menguar di udara, membuat Nadine jadi semakin lapar, meskipun tadi sudah menikmati masakan Bi Tum—asisten rumah tangga di rumah Trisha. Namun, tetap saja aroma wangi kue yang lezat itu membuat perutnya kembali kosong. "Sudah bangun kamu rupanya? Bukannya kamu ada kelas siang ini? Kenapa malah mampir ke sini?" tanya Trisha yang sedang menaruh kue-kue buatannya di dalam etalase roti. "Aku mau beli cake in jar-mu. Aku beli lima ya, tapi dipacking yang bagus, buat kado special! Sama roti keju dua!" Kening Trisha dan Melinda pun berkerut dengan tatapan penasaran sambil menatap Nadine dengan tatapan aneh. "Buat siapa, sih? Tumben amat kasih kado special?" sindir Trisha. "Udah buruan! Ceritanya nanti aja, nanti aku bisa telat ngajar!" Trisha segera menyiapkan pesanan Nadine dan memasukkan cake in jar atau cake di dalam gelas itu ke dalam kemasan karton yang telah disiapkan sebagai pembungkus. "Nih! Udah siap pesananmu, sana bawa! Jangan lupa ntar malam kita nonton bareng!" "Iya, beres!" Nadine segera membayar cake pesanannya itu lalu bergegas pergi meninggalkan café Trisha bareng Melinda dan melajukan mobilnya menuju ke kantor Juna yang kebetulan satu arah dengan tempat kursus musiknya. Sementara itu di kantor Juna, Setelah selesai makan siang, Juna sedang asyik ngobrol bareng Chandra—rekan kerja sekaligus sahabat dan orang kepercayaannya—di ruang kerja laki-laki itu. Rupanya Chandra penasaran dengan luka di hidung sahabatnya. "Jadi tu cewek nindih kamu dan menyebabkan hidungmu luka?" "Ya begitulah, konyol banget ‘kan tu cewek! Aku baru nemu cewek yang macem dia, sikapnya sangat spontan dan berani!" "Cantik nggak?" Juna menyeringai dan tertawa kecil sambil memainkan penanya dengan jemari kiri. "Cantik! Tentu saja cantik! Rambutnya hitam dan panjang, matanya besar dan bulat, bibirnya yang mungil nggak pernah berhenti bicara, tapi aku suka, dia lucu dan konyol!" "Sepertinya ada yang lagi kesengsem nih, lalu bagaimana Felicia? Apa dia tahu luka di hidungmu itu?" Dengan cepat Juna menggeleng sambil menghela napas dalam. "Sampai aku berangkat ke kantor, dia belum bangun juga, jadi kami belum sempat ketemu." Chandra bisa melihat perbedaan yang sangat jelas ketika sahabatnya itu bercerita soal Felicia—istrinya, dia tampak tidak begitu semangat, tidak seperti ketika menceritakan tentang Nadine tadi yang begitu antusias dan berapi-api. Ada apa dengan Nagarjuna Evandaru? "Hubungan kalian baik-baik saja, ‘kan?" Alis Juna naik ke atas dengan mata elangnya yang menghujam menatap Chandra, sahabatnya. "Maksudmu? Hubunganku dengan Felicia?" Chandra pun mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu. "Ya, hubungan kami baik, kami baik-baik saja, kenapa kamu tanya kayak gitu? Apa ada yang aneh dengan kami berdua?" Chandra hanya tertawa kecil. "Ya, aku hanya nebak-nebak saja, karena kalau aku perhatikan, kamu sepertinya kurang bersemangat kalau cerita soal Felicia, nggak seperti ketika kamu cerita soal Nadine tadi, tapi maaf kalau aku salah menduga." Juna pun ikutan tertawa kecil sambil kembali memainkan penanya dengan jemari kiri, tepat pada saat itu, telepon portable yang berada di atas meja kerja berbunyi. Shinta—sang sekretaris—menghubunginya dari ruang depan. "Ada apa, Shinta?" "Ada kiriman untuk Bapak! Dari seseorang, tapi dia nggak nyebutin namanya." "Siapa? Laki-laki atau perempuan?" Juna jadi penasaran "Nggak tahu, Pak. Yang ngantar ke sini security kantor." "Iya, tapi kamu ‘kan bisa tanya sama security itu, yang nganter kirimannya itu laki atau perempuan! Masa gitu aja nggak ngerti? Kudu diajarin?" sungut Juna kesal. "Oh ... maaf, Pak. Saya nggak tanya tadi." Shinta jadi merasa bersalah, gadis itu benar-benar takut kalau nanti pimpinannya ini marah, karena Juna bisa sangat menakutkan kalau lagi marah. "Ya sudah! Bawa saja ke sini kirimannya!" Tak lama kemudian Shinta, sekretaris Juna masuk ke dalam ruang kerja itu sambil membawa sebuah paket dari kertas karton dengan label Trisha's café and pastry lalu menaruhnya di atas meja kerja. Juna yang awalnya kesal dengan sekretarisnya ini, tiba-tiba malah tertawa kecil begitu membaca label paket tersebut. Dia jadi teringat pada ucapan Nadine. "Kebetulan Trisha nikah muda, tapi dia pintar masak, tahun lalu suaminya membuatkan sebuah café dan toko roti. Nggak jauh dari rumah, aku juga kadang suka bantuin dia di café. Kapan-kapan kamu harus mampir, kamu harus nyicipi roti buatan Trisha yang semuanya enak!" Juna juga masih teringat gaya Nadine ketika mengecupkan jari ke bibirnya lalu mengangkat jari itu ke atas sebagai tanda kalau kue buatan Trisha itu enak dan lezat. Kali ini kue itu sudah ada di depannya. "Kenapa kamu ketawa-ketawa sendiri, sih ?" Chandra yang memperhatikan sahabatnya itu sedari tadi jadi heran dan penasaran dengan isi paket yang ada di depan mereka. "Shinta, kamu boleh kembali, terima kasih ya. Oh ya, sekalian, tolong buatkan kami teh panas, ya. Terima kasih!" Shinta pun mengangguk dan segera berlalu meninggalkan mereka berdua. "Kamu tahu, yang kita bicarakan sedari tadi, rupanya datang ke sini, dia yang mengirimkan paket ini!" ujar Juna sambil menunjuk paket tersebut. "Oh ya? Maksudmu ... cewek itu? Siapa namanya?" "Nadine!" sahut Juna sambil membuka kotak tersebut dan dilihatnya lima buah cake in jar dengan sebuah kartu ucapan di dalamnya yang bertuliskan 'sorry' dengan inisial "N" di bawahnya. Laki-laki itu lalu menunjukkan kartu ucapan itu ke Chandra. "Dia minta maaf lagi, padahal aku sudah memaafkan dia sejak semalam." "Bagaimana kamu bisa tahu, kalau dia yang mengirimkan kue ini?" Chandra jadi penasaran. Juna kembali tertawa kecil. "Semalam, dia sempat cerita soal sahabatnya yang buka café dan toko roti. Dia bilang semua kue buatannya itu enak dan nama sahabatnya itu Trisha!" ujarnya sambil menunjukkan label kotak tersebut 'Trisha café and pastry' , Chandra pun mengangguk sebagai tanda mengerti. "Ayo, sekarang kita cicipi cake yang unik ini. Ooo … rupanya ada sendoknya, jadi kita makannya pake sendok," ucapnya lagi sambil memberikan segelas cake in jar itu ke Chandra, mereka berdua lalu menikmati cake tersebut. "Enak juga! Benar yang dibilang Nadine, kue buatan sahabatnya ini memang enak, rekomen juga nih, bisa order lagi!" Chandra memuji kue buatan Trisha, Juna pun mengangguk kecil membenarkan ucapan pria itu, kue buatan Trisha memang enak dan lezat. Sementara itu di tempat kursus musik tempat Nadine mengajar. Gadis itu sedang mengajari alat musik gitar ke salah satu murid kesayangan Bu Oxana, pemilik tempat kursus musik ini, yaitu seorang gadis remaja usia 15 tahun yang bernama Jovanka yang sedang merintis karirnya di dunia entertainment sebagai seorang model dan penyanyi. "Permainan gitarmu sudah semakin mahir, Jova. Tinggal membiasakannya saja. Nah, kalau di rumah, sering-sering lah berlatih memainkan gitar, lama-kelamaan nanti tanganmu akan terbiasa." "Oke, Miss. Akan aku ingat itu!" "Ngomong-ngomong kenapa kamu suka sama gitar? Biasanya remaja seusiamu lebih suka piano ketimbang gitar." Dengan cepat Jovanka menggeleng. "Awalnya aku memang suka sama piano, bahkan sejak kecil mamaku mengajari aku bermain piano di rumah, tapi siang itu waktu aku lihat Miss Nadine mendemokan sebuah lagu di salah satu kelas, aku jadi tertarik untuk bermain gitar." "Oh yaa? Serius? Jadi gara-gara melihat aku main gitar, kamu jadi tertarik untuk berlatih gitar?" Kali ini Jovanka mengangguk cepat. "Permainan gitarmu benar-benar mengagumkan, Miss Nadine. Keren, aku suka! Miss Nadine juga salah satu guru favoritku!" "Terima kasih, Jova. Kamu ini terlalu berlebihan menyanjungku." Jovanka menggeleng sambil mengulas sebuah senyum yang teramat manis. "Nggak, Miss Nadine. Aku sungguh-sungguh, serius! Oh ya, bulan depan datanglah ke pesta ulang tahunku yang ke enam belas. Miss Nadine harus memainkan sebuah lagu untukku di pestaku nanti. Waktu dan tempatnya menyusul. Miss Nadine mau, ‘kan?" pinta Jovanka penuh harap. Nadine akhirnya mengangguk mengiakan undangan Jovanka, tepat pada saat itu, ponsel Nadine bergetar di atas meja. Dia memang sengaja memberikan mode getar ketika sedang mengajar. "Sebentar ya, aku angkat telpon dulu!" Nadine bergegas mendekat ke arah meja dan diliriknya nama Juna yang memanggil. Gadis itu tersenyum kecil, kemudian keluar ruangan meninggalkan muridnya sebentar yang masih asyik mencari nada-nada yang pas di gitar. "Hei, apa kabar? Bagaimana hidungmu?" "Kenapa tiba-tiba kamu langsung nanya hidungku?" Suara Juna terdengar di ujung sana. "Karena aku yang menorehkan luka di sana. Oh iya, kamu sudah terima kirimanku?" tanya Nadine malu-malu. Juna pun tersenyum kecil seraya berkata, "Sudah, aku sudah terima dan juga sudah melahapnya sampai habis. Memang benar seperti yang kamu bilang, kuenya enak. Temanku bahkan bilang rekomended banget, bisa order lagi, nih!" "Oh ya? Temanmu?" "Iyaa, namanya Chandra, dia sahabat sekaligus rekan kerjaku. Oh iya, ngomong-ngomong, nanti malam apa kamu ada acara?" "Kenapa? Kamu kangen sama aku, ya?" Tawa Juna kembali terdengar di ujung sana. "Kamu memang penyihir, Nad. Dalam sehari kamu langsung bisa menyihirku untuk mikirin kamu terus." "Oh yaa, serius amat? Tapi sorry, malam nanti aku ada acara." Nadine bisa merasakan ada nada kecewa dalam lenguhan Juna di ujung sana. "Tapi, bagaimana kalau malam minggu nanti kita ketemuan, kebetulan ada konser raggae di Pantai Ancol, aku yakin kamu pasti suka!" ajaknya penuh antusias. "Malam minggu nanti? Itu artinya baru tiga hari lagi, apa sebelum malam minggu kita nggak bisa ketemu?" "Sepertinya kamu ngotot banget ya, kalau gitu usaha aja sendiri untuk menemukan aku sebelum malam minggu!" "Oh yaa? Kamu nantangin aku nih!" Ego laki-laki dalam diri Juna mulai tergugah. "Yes ! I dare you Mister Nagarjuna Evandaru!" "Okee, kamu jual aku beli, aku pasti bisa menemukan kamu sebelum malam minggu nanti, kita lihat saja nanti!" "Good luck! Bye!" Nadine segera menutup ponsel itu dan menyeringai kecil. "Penyihir?" batinnya sambil tersenyum. "Boleh juga, pangeran hidung bengkok, kita lihat saja seberapa keras usahamu untuk menemukan aku!" Gadis itu benar-benar ingin menguji bagaimana kesungguhan Juna padanya, karena selama ini dia sudah lelah dengan laki-laki buaya yang ada di sekitarnya yang selalu ngegombal tidak jelas dan ujung-ujungnya selalu minta lebih dari yang dia beri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD