BAB 2 - nyaman bersamamu

2390 Words
Setelah selesai dijahit, Juna keluar dari ruang UGD dengan batang hidungnya yang diplester kecil, sedangkan darah tampak masih keluar dari lubang hidung. Nadine jadi semakin panik, saat pria itu terus-menerus mengusap darah yang keluar dari lubang hidung dengan tissue. "Kok hidungmu masih berdarah? Ayo, sini duduk dulu! Apa itu nggak apa-apa? Sudah dijahit, ‘kan?" Laki-laki itu hanya terdiam dan tidak merespon ucapannya. Juna lalu duduk di bangku yang ada di depan ruang UGD sambil terus mengusap-usap hidungnya yang berdarah. Entah sudah berapa lembar tissue yang terbuang, sementara lengan kemeja panjangnya sudah tergulung sampai ke siku, hingga menunjukkan otot tangannya yang kekar. Nadine jadi kembali membayangkan kalau dirinya dipeluk oleh lengan itu, pasti akan terasa hangat dan nyaman, apalagi ketika dilihatnya dua kancing kemeja bagian atas agak sedikit terbuka dengan dasi yang menjuntai di leher, membuat laki-laki ini jadi semakin macho di depannya. Tepat pada saat itu salah seorang perawat keluar dari ruang UGD dan menghampiri mereka seraya bertanya, "Maaf, apa anda istrinya? Ini resep yang harus ditebus." Perawat itu lalu memberikan selembar kertas yang bertuliskan resep obat atas nama Juna ke Nadine. Gadis itu segera berdiri dan menerima resep tersebut dan bertanya, "Suster, maaf! Apa dia nggak apa-apa? Karena aku lihat hidungnya masih berdarah," tanya Nadine cemas sambil menunjuk ke Juna yang masih duduk di bangku depan ruang UGD sambil memejamkan mata. Perawat itu hanya tersenyum sambil melirik ke Juna yang sedang mendongakkan kepala ke atas, agar darahnya tidak keluar lagi dari lubang hidung. "Nggak apa-apa, itu hanya sisa-sisa darah yang tadi, nanti juga baikkan, kok. Tadi dokter sudah menjahit lukanya, jadi lebih baik Nyonya segera tebus resep ini di apotik, agar bisa segera diminum sama suami Nyonya, agar perdarahannya bisa segera berhenti. Apotiknya itu tinggal lurus aja ke depan lalu belok kanan, dari situ sudah terlihat apotik ada di bagian sebrang. Sudah mengerti, 'kan? Ada pertanyaan?" Nadine menggeleng pelan, penjelasan perawat tadi sudah sangat detail. "Maaf saya tinggal dulu, ya!" "Oh iya, iya. Terima kasih, Suster," sahutnya sambil meringis kecil. Entah kenapa dia tidak komplain atau berusaha menjelaskan ke perawat itu kalau dia bukan istri Juna. Sekilas Nadine melirik ke pria itu yang masih mendongakkan kepalanya ke atas untuk menahan sisa darah yang keluar dari lubang hidung. Perempuan itu lalu menghampiri Juna seraya berkata, "Kamu tunggu di sini sebentar, ya! Aku tebus resepnya dulu." Laki-laki itu hanya mengangguk pelan. Nadine bergegas menuju ke apotik yang ada di rumah sakit tersebut lalu menyerahkan resep itu ke Apoteker yang sedang bertugas malam itu, diliriknya jam dinding di ruang apotik, saat itu sudah jam 2 pagi. "Pestanya pasti sudah usai, coba ah aku telpon Melinda. Ya ampun, gimana aku bisa nelpon? Ponselku ‘kan di dalam tas!” Gadis itu baru menyadari kalau dia tidak membawa apa-apa, dompet pun tidak. Lalu bagaimana dia bisa membayar resep tersebut? Dari kejauhan, diliriknya Juna dari tempatnya berdiri. "Laki-laki itu pasti bawa dompet. Cowok ‘kan biasanya naruh dompet di saku celana, coba deh aku tanya dia!" Nadine segera menghampiri Juna yang masih memejamkan mata sambil mendongakkan kepala ke atas dan sesekali menyeka darah dihidung yang sudah mulai sedikit. "Hmm, Pak ... Tuan, sorry ... bisa minta tolong lagi?" Juna membuka mata dan dilihatnya gadis konyol itu sedang duduk di sebelahnya dengan tatapan mengiba. "Minta tolong apalagi?" tanyanya sambil menyeka hidung yang berdarah. "Aku butuh uang untuk bayar resep obatmu, nanti aku ganti deh, swear! Sumpah! Kamu percaya sama aku ‘kan? Kebetulan dompetku ketinggalan di dalam rumah itu, rumah yang tadi waktu kita ketemu ...." Tanpa banyak bicara, Juna segera mengeluarkan dompet dari saku celana belakang lalu memberikan dompet itu ke Nadine. "Ambil saja, berapa yang kamu butuhkan! Nggak usah dibalikkin! Ini 'kan resep obatku sendiri." "Kok sama dompetnya segala? Nggak usah, nggak usah! Aku cuma butuh uangnya saja!" "Iya, tapi kamu nggak tahu butuhnya berapa, ‘kan? Udah bawa saja! Aku percaya sama kamu, kok. Kalau sudah selesai bayar, dompet itu bisa dikembalikkan ke aku lagi. Mengerti?" Sesaat Nadine tercengang karena laki-laki di sebelahnya ini selain tampan, baik hati sepertinya juga dermawan dan gampang percaya sama orang. Bisa saja dia pergi dan membawa dompet yang ada di tangan. Namun, laki-laki itu malah terlihat santai dan tidak ambil pusing. Nadine jadi semakin kagum padanya. Bergegas dibawanya dompet itu menuju ke kasir untuk membayar biaya obat dan perawatan Juna. Setelah selesai membeli semua obat yang tertulis di resep, Nadine kembali ke tempat Juna berada, laki-laki itu masih terduduk di bangku sambil memejamkan mata. Namun, sudah tidak mendongak lagi, darah di hidungnya pun sudah tidak keluar, hanya sisa-sisa bekas darah saja yang membekas di sana. "Ini dompetmu! Aku bayar sesuai dengan apa yang ada di struk ini, nggak kurang dan nggak lebih!” Laki-laki itu membuka mata saat mendengar suara Nadine kemudian mengangguk pelan sambil tersenyum, “jadi aku nggak ngambil uangmu, tapi aku minta kartu namamu boleh, ‘kan?" ujar Nadine sambil mengembalikkan dompet itu ke Juna dengan perasaan canggung dan mengacungkan sebuah kartu nama yang diambilnya dari dalam dompet tadi. Juna kembali tersenyum sambil menerima dompet itu lalu memasukkan ke dalam saku celana belakang. "Terima kasih, aku percaya sama kamu dan kamu boleh menyimpan kartu namaku." "Terima kasih kembali! Ooh iya, lebih baik kamu minum obatnya dulu, agar perdarahannya segera berhenti!" Nadine bergegas menuju ke tempat gallon air mineral yang ada di dekat mereka, kemudian diambilnya gelas plastik bersih yang memang disediakan di sana. Dituangnya air yang ada di dalam gallon itu ke dalam gelas dengan memencet tombol hijau yang ada di mesin dispenser, kemudian diberikan ke Juna. Laki-laki itu segera meminum obat tersebut. Perempuan itu hanya bisa termangu melihatnya, diliriknya di sebelah Juna masih ada beberapa lembar tissue. Setelah laki-laki itu selesai meminum semua obat, Nadine mengambil gelas bekas itu dan mengisinya kembali dengan air gallon, kemudian duduk lagi di sebelah Juna. Diambilnya selembar tissue yang ada di sebelah Juna, lalu dicelupkan tissue tersebut ke dalam air yang ada di dalam gelas dan diperasnya sedikit, kemudian perlahan-lahan gadis itu mulai membersihkan sisa-sisa bekas darah yang menempel di hidung dan pipi Juna. "Maaf, aku rasa sisa-sisa bekas darahmu ini harus segera di bersihkan, kalau sudah mengering, nanti akan susah dibersihkan." Tanpa meminta persetujuan dari Juna, Nadine terus saja membersihkan sisa bekas darah di wajah tampan itu. Laki-laki itu pun hanya terdiam sambil memperhatikan gadis yang sedang merawatnya. "Terima kasih," ujar Juna saat perempuan itu sudah selesai membersihkan sisa-sisa darah di sekitar hidung, "lebih baik aku antar kamu pulang, di mana rumahmu?" "Rumah ku ada di--... heiii! Bukannya kita belum kenalan dari tadi? Kenalkan namaku Nadine, kamu?" "Juna ...." "Oh iya, Juna!" sela Nadine cepat sambil menepuk jidat, "tadi aku sudah membaca namamu di kertas resep dan di kartu namamu, Nagarjuna Evandaru Suryodjatmiko. Sepertinya aku familier dengan nama keluargamu." Laki-laki itu tidak kaget saat ada orang yang berkata seperti itu tentang keluarganya karena nama keluarga besarnya memang cukup ternama di kota ini. "Oh iyaa, aku minta maaf atas semua yang aku lakukan tadi, aku benar-benar nggak sengaja, maafkan aku." "Nggak, nggak apa-apa, it’s oke! Anggap saja ini kecelakaan kecil, lagian aku juga nggak apa-apa, hanya hidungku saja yang--..." "Yang luka!” sela Nadine dengan rasa bersalah, “aku benar-benar minta maaf. Aku kira tadi aku bisa mendarat sempurna di tanganmu, ternyata aku malah menindihmu, maaf ....” lanjutnya sedih, “tapi kenapa hidungmu bisa terluka, ya? Apa lututku yang mengenai hidungmu? Tadi itu semuanya terasa serba cepat dan spontan jadi aku sampe nggak sadar kalau aku telah melukai kamu.” Juna hanya tersenyum, “oh iya, itu jasmu!" Nadine menunjuk ke jas milik Juna yang teronggok di sebelah pria itu. Juna pun mengangguk sambil mengambil jas tersebut seraya bertanya, "Kalau boleh aku tahu, kenapa kamu bisa sampai di atas pohon tadi, malam-malam lagi?" Laki-laki itu jadi penasaran, sementara Nadine malah tertawa terkekeh begitu ditanya soal insiden di atas pohon. Benar-benar sebuah peristiwa yang memalukan baginya. "Ceritanya lucu, konyol banget! Jadi tadi itu ...." Nadine lalu menceritakan kronologi dirinya sampai naik ke atas pohon, Juna pun ikut tertawa tergelak. Dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya berada dalam posisi gadis ini. "Terus ... kamu nggak tahu siapa mereka berdua?" Dengan cepat Nadine menggeleng saat Juna bertanya soal dua sejoli yang sedang dimabuk cinta di kamar. "Mana berani aku ngintip, denger suaranya aja aku sedikit merinding disko, tapi aku jadi penasaran juga. Siapa ya, orang itu? Kok mereka berani masuk ke dalam kamar Nyonya Preeta? Apa mungkin dia itu Nyonya Preeta sendiri? Bisa jadi, ‘kan?" Juna hanya mengendikkan bahunya ke atas dan berkata, "Ah sudahlah! Nggak usah dipikirin, yang penting kamu sudah terbebas dari insiden pohon itu!” sahutnya sambil menyeringai lebar, “sekarang sudah jam tiga pagi, lebih baik kita pulang! Lagian hidungku juga sudah nggak berdarah lagi. Aku akan antar kamu pulang!" "Wah, kamu baik sekali! Terima kasih banget karena udah mau nganterin," sahut Nadine senang. "Sama-sama! Aku juga mau ngucapin makasih ke kamu," ujar Juna sambil berjalan keluar dari rumah sakit beriringan bareng Nadine menuju ke parkiran mobil. "Terima kasih soal apa?" "Terima kasih karena kamu sudah membuat malamku jadi lebih berwarna dan tidak membosankan." Kening Nadine mengerut ke tengah dan berhenti sejenak setelah mereka tiba di dekat mobil Maserati hitam milik Juna. "Aku juga ikut senang kalau bisa membuat kamu senang dan nggak bosan mendengar ceritaku. Kalau boleh aku tahu, apa kamu bosan sama pestanya tadi?" Juna segera mengangguk membenarkan ucapan Nadine. "Ya, begitulah, aku nggak begitu bisa menyukai pesta, kadang-kadang semuanya palsu, harus serba perfect dan--" "Kalau musiknya bagaimana?" sela Nadine cepat. "Musiknya ...?" Nadine mengangguk mantap, menanti jawaban laki-laki itu yang sejujurnya sambil membuka pintu mobil lalu duduk di dalam mobil, begitu Juna membuka pintu mobil. "Musiknya menarik, apalagi dengan konsep orkestra seperti itu, full band. Lagu-lagunya juga asyik!" puji Juna sambil menyalakan mesin dan melajukan mobil itu dan meninggalkan pelataran parkir rumah sakit. "Kamu suka musik?" "Aku suka musik, kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Juna penasaran. Nadine hanya tersenyum kecil sambil membalas lirikan mata elang itu yang menatap tajam ke arahnya. "Aku hanya ingin tahu saja, karena biasanya pekerja keras seperti kamu yang selalu berkutat di belakang meja. Biasanya nggak begitu suka musik, kalian terlalu asyik dengan angka-angka, grafik dan sejenisnya." Juna tertawa kecil. "Argumen kamu itu salah, Nona! Karena aku suka musik. Coba kamu tebak, musik apa yang aku suka?" "Hmm ... kalau tipe-tipe seperti kamu ini,” sela Nadine sambil memikirkan sesuatu yang terlihat dari kerut yang tercetak di dahi, “sepertinya kamu itu lebih suka ke musik yang berbau-bau jazz, blus gitu. Iya, ‘kan?" Juna menggeleng sambil tersenyum miring lalu melirik ke Nadine lagi yang semakin penasaran dengan dirinya. "Kamu salah lagi, Nona! Dua kosong! Aku lebih suka musik rock dan raggae!" "Raggae ...? Oh ya?" sahut Nadine dengan ekspresi wajahnya yang terkejut dan tidak percaya. "Oke, kalau musik rock, okelah! Masih masuk akal, semua laki-laki pasti suka musik rock, tapi kalau raggae? Untuk orang seperti kamu? Rasanya it's imposible!" Juna kembali tertawa kecil. "Jadi kamu nggak percaya? Kapan-kapan akan aku tunjukkin koleksi musik raggae-ku! Kamu sendiri?" "Semua jenis genre musik aku suka, sejak kecil aku sudah berkubang bersama mereka!" "Berkubang? Maksudmu?" Juna jadi semakin penasaran "Iya berkubang! Hmm ... maksudnya aku sudah memainkan semua jenis musik. Kebetulan aku juga bisa main alat musik. Bagiku musik adalah duniaku, ya seperti kamu ... pekerjaanmu adalah duniamu! Bener, ‘kan?" "Ooo ... aku tahu, jadi kamu bertanya tentang musik ini tadi, karena kamu salah satu pemain musik di kelompok orkestra yang ada di pesta tadi?" "Yup! Exactly! Tepat sekali dugaanmu, aku memang salah satu anggota orkestra di pesta tadi yang melarikan diri, sebenarnya bukan melarikan diri, sih. Cuma kebetulan tadi aku--..." "At the wrong place and the wrong time!" Juna dan Nadine kompak mengucapkan kata yang sama. Sesaat mereka terdiam sambil saling menatap satu sama lain lalu tertawa bersama-sama mentertawakan kekonyolan mereka barusan. Laki-laki itu benar-benar merasa nyaman dengan Nadine, meskipun mereka baru pertama kali bertemu. Perempuan itu mampu membuatnya tertawa terpingkal-pingkal, melupakan sejenak semua permasalahan yang ada. Juna belum pernah merasakan hal yang seperti ini bersama Felicia—istrinya. "Felicia...?" batin Juna dalam hati. "Dia pasti mencari-cari aku semalaman, tapi bagaimana aku bisa menghubunginya? Ponselku saja ada di dalam tasnya. Ah ... sudahlah soal Felicia aku pikirkan nanti saja." "Nah, di depan sana, kamu bisa belok ke kanan, maju sedikit, baru masuk ke perumahan!" Suara Nadine membuyarkan lamunannya sesaat. "Kamu tinggal dengan orang tuamu di sini?" "Nggak! Di sini aku tinggal sama dua sahabatku. Orang tuaku tinggal di luar kota! Aku merantau dan sebetulnya ini rumah sahabatku waktu SMA, namanya Trisha. Dia seorang ibu rumah tangga, anaknya baru satu, suaminya kerja di kapal pesiar. Kamu tahu ‘kan bagaimana orang yang kerja di kapal pesiar? Pulangnya cuma setahun sekali! Jadi dia selalu merasa kesepian, sendirian." "Lalu ...?" "Ya, dia lalu menawari aku untuk tinggal bersama, sekalian menemani dia. Kebetulan sahabatku yang satu kampus denganku dulu juga butuh tempat tinggal. Ya, udah aku ajak dia juga untuk tinggal bareng Trisha, jadi sekarang kami tinggal berempat plus satu pembantu." "Jadi satu rumah isinya perempuan semua ceritanya!" sela Juna. "Nggak juga, anak Trisha laki-laki! Namanya Daren, usianya baru 5 tahun, kebetulan temanku itu nikah muda, tapi dia pintar masak. Tahun lalu suaminya membuatkan sebuah café dan toko roti, nggak jauh dari rumah.” Nadine terus saja merepet bercerita soal sahabatnya. “Aku juga kadang suka bantuin dia di café. Kapan-kapan kamu harus mampir, kamu harus nyicipi roti buatan Trisha yang semuanya enak!" lanjutnya sambil mengecupkan jarinya ke ujung bibir lalu mengangkat jari itu ke atas sebagai tanda enak dan lezat. "Oh ya ...? Boleh juga kapan-kapan pasti aku akan mampir!" "Nah, kali ini kamu belok kiri, lima rumah sebelah kanan, itu rumahnya Trisha. Kamu bisa berhenti di sana." Tak lama kemudian mobil itu sudah tiba di depan sebuah rumah yang berkonsep minimalis modern yang tertutup pagar yang sangat tinggi melampaui tingginya orang dewasa. "Terima kasih untuk tumpangannya dan sekali lagi maaf atas kejadian tadi," ujar Nadine sambil menoleh ke Juna yang masih memegang setir kemudi. "Aku yang malah harus berterima kasih sama kamu. Ngomong-ngomong, kapan-kapan aku boleh ‘kan mampir ke rumahmu?" "Dengan senang hati, pintu rumah kami selalu terbuka untuk siapa saja. Kalau gitu aku turun dulu, ya. Sekali lagi terima kasih." Nadine kemudian turun dari mobil dan tak lama kemudian laki-laki itu mulai melajukan mobil dan menembus dinginnya suasana pagi itu menuju ke jalan raya, ketika Nadine sudah memasuki gerbang kayu yang tinggi menjulang di rumah Trisha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD