Dalam sekejap meja tembaga hitam yang berada di taman belakang telah disulap oleh para pelayan setia nyonya besar menjadi sebuah ruang makan terbuka hijau yang sangat indah, lengkap dengan aneka bunga segar yang menyebarkan aroma wangi alami, plus tanaman hijau di sekitar taman yang memberikan ambience yang segar dan natural. "Silakan duduk, Mas Juna. Sebentar lagi Bu Dilara turun." Juna kembali mengangguk ketika salah satu pelayan memberikan informasi tentang ibunya. Kedua pasangan itu lalu duduk di kursi tembaga hitam tersebut, menunggu kedatangan sang tuan rumah. Laki-laki itu jadi teringat kalau meja tembaga yang jadi meja makan outdoor ini adalah meja makan favourite sang ayah yang selalu menikmati sarapan pagi di sini setiap hari. Juna juga teringat saat dia menolak menikah dengan

