Suasana café terasa begitu menegangkan, meskipun Trisha hanya ngobrol via telpon dengan laki-laki itu. Suaranya yang menggelegar, sarat akan kemarahan, membuatnya merinding. Perasaan Trisha jadi tidak menentu, tapi bagaimana pun juga dia harus menghadapi laki-laki ini. "Mas Juna, sebelumnya maafkan aku, tapi terus terang sebenarnya aku sudah ngobrol soal ini sama Nadine, tapi kamu tahu 'kan bagaimana Nadine? Dia malah bilang kalau dia ingin anak-anaknya nggak manja. Mereka harus jadi orang-orang yang tangguh kalau mereka besar nanti, oleh karena itu dia nggak ngeluh waktu dia main drum itu." "Apa kamu yang nyuruh dia main drum?" sela Juna kesal dengan nadanya yang tinggi. "Nggak! Sama sekali nggak! Kebetulan saat itu posisi drummernya kosong dan Nadine--" "Dan Nadine yang menawarkan dir

