Bab 28

1621 Words

Setelah percakapan kemarin sore di taman belakang. Ayah memanggilku pagi ini untuk duduk di ruang keluarga. Sofa yang empuk tidak juga berhasil membuat perasaanku lebih nyaman. Aku memandangi lukisan-lukisan yang terpajang di dinding tembok bercat krem. Perlahan aku menarik napas dalam-dalam. Menunggu kehadiran Ayah di sini bagaikan serasa di hukum. Detak jantungku tidak beraturan karena cemas mengenai keputusan yang mungkin dapat mengubah hidupku. Ayah adalah sosok yang keras. Bahkan, dulu beberapa pemuda menyerah setelah mengetahui bagaimana sifat dari Ayah. Hal itu pernah terjadi pada Nelly. Namun, kembaranku memilih menyerah dan fokus pada pelajaran. Sekarang justru terjadi kepadaku. Hanya saja aku tidak akan melepaskan Nathan semudah itu. Ia terlalu berharga untukku. Aku pun telah be

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD