Bab 2

2031 Words
Sebuah pesan singkat masuk pada tengah malam ke ponsel layar sentuhku. Hanya suara pemberitahuan kecil tapi mampu membuatku terbangun dengan mata setengah terpejam. Beberapa kali aku menyentuh layar ponsel. Membaca dengan kesadaran yang tersisa. Lalu, terbangun dengan kaget. Sudah dua bulan Nelly mengabaikan pesan singkat maupun telepon. Tapi, sekarang ia menghubungiku meskipun hanya beberapa deret kata. Berhasil membuatku terpaku beberapa saat. Seolah aku sedang bermimpi. Berusaha menyadarkan diri kalau semua yang k****a barusan adalah nyata. Aku menoleh ke jam dinding dan melihat waktu memang telah menunjukkan tengah malam. Jam dua belas lebih sepuluh menit. Setahuku Nelly sulit sekali begadang. Bahkan, saat menonton film horror ia selalu ketiduran di tengah-tengah adegan seram dan bertanya kepadaku apa kelanjutan dari film yang kami tonton keesokan harinya. Meskipun begitu ia pasti menunggu sampai aku selesai menonton barulah mengajak untuk pindah ke kamar. Bergegas tidur. Karena jika Mama mengetahuinya bukan aku saja. Nelly pun terkena imbasnya juga. Baru saja ingin menyentuh layar ponsel untuk menghubunginya. Sebuah panggilan masuk. Kurasa sekarang ia pasti tengah ketakutan hingga menghubungiku duluan. Kapan saja merasa ketakutan ia selalu menelepon misalkan aku berada di luar rumah. Karena Nelly termasuk sosok yang cuek. Ia jarang menghubungiku duluan. Dulu, waktu bersekolah di SMP yang sama. Ia memilih untuk menunggu di depan gerbang sekolah daripada menghubungiku untuk mengajak pulang sekolah bersama-sama. Padahal ia bisa saja pulang sendirian. Hanya satu kali ia pernah menghubungiku. Waktu itu kami kelas satu SMA. Tapi sekolah kami berbeda. Nelly mengirimkan pesan kalau ia takut pulang sendirian. Hingga aku berinisiatif menjemputnya. Padahal sekolah kami berlainan arah. Alasan ia takut pulang sendiri karena ada kakak kelas yang terus-terusan mengganggu untuk meminta nomor ponsel. Mendengar alasan itu membuatku tidak hentinya meledek Nelly penakut jika berdekatan dengan lawan jenis. ‘Ada apa, Nel?’ tanyaku dengan nada sedatar lantai dingin di kamar. Padahal aku sebenarnya kegirangan menerima telepon. Sudah lama aku menunggu kabar darinya. ‘Tidak apa.. Hanya belum bisa tidur,’ jawabnya dengan cuek seperti biasa. Karena kami memang kembar identik. Aku sengaja menyamakan gaya rambut dan suka memakai baju bermotif sama. Tinggi badan kami hanya berbeda dua senti. Tapi yang paling membedakan adalah sikap cuek Nelly yang tiba-tiba. Suatu ketika ia akan membicarakan banyak hal sampai aku harus mendengarkan baik-baik apa saja yang dikatakan olehnya. Karena ia akan menanyakan pendapatku. Di lain waktu ia akan bersikap cuek, tak acuh, bahkan diam seribu bahasa. Itulah mengapa aku tidak berani mengusiknya jika sedang memikirkan sebuah masalah. Dan mencoba mencari solusi. ‘Kau tengah menyembunyikan sesuatu..’ ujarku tanpa menghilangkan sedikitpun kecurigaan. Memangnya untuk apa ia menghubungiku pada jam tidak wajar seperti sekarang? ‘Tidak. Hanya perlu seseorang untuk mengobrol,’ ujarnya. Sekarang, baru lebih mirip dengan Nelly yang kukenal. Nada suaranya tenang dengan suara rendah yang bagi beberapa orang sulit untuk didengar. Karena setiap kali berbicara tidak jarang ia akan disuruh untuk menaikkan nada suaranya. ‘Kau ingin membicarakan apa?’ tanyaku penuh harap. Biasanya jika aku bertanya demikian ia pasti menjawab setenang mungkin. Lalu, menangis dengan tersendat-sendat. Saat itu, aku akan memeluk untuk menenangkan. Hingga kami akhirnya menangis bersama. ‘Apa saja, Milly.. Karena aku ingin mendengar suaramu. Hidup terpisah seperti sekarang membuatku merasa berbeda.” ‘Berbeda bagaimana memangnya?’ tanyaku heran. Kami sudah hidup terpisah sejak tiga bulan lalu. Kenapa baru sekarang Nelly merasakan hal itu? Sedangkan aku sudah tersiksa sejak awal ia pergi. Tidak ada lagi canda tawa memenuhi kamar kami. Atau remah-remah bekas kue kering yang biasanya mengotori lantai kamar kami hingga mendatangkan semut-semut lalu membuatku kesal dan mendiamkannya seharian. “Kau tentu tahu.. Apa yang biasa kita lakukan sebelum tidur..” ujarnya dengan nada penuh penyesalan. Seakan-akan sikapnya yang mengabaikanku bukanlah hal disengaja. ‘Ya, aku tahu.. Kita biasanya akan membaca buku dongeng berbeda setiap malam.. Lalu, apa masalahnya?’ ‘Aku merindukannya.. Bagaimana kau menceritakan kisah sleeping beauty atau beauty and the beast..” kali ini terdengar nada merajuk dari Nelly. Tanpa sadar aku tersenyum. Merebahkan kepalaku pada bantal dan memeluk guling. Sudah lama tidak mendengarnya merajuk seperti sekarang. Kurasa aku harus berpura-pura bingung dan belum paham maksudnya menghubungi tengah malam seperti sekarang. ‘Kau bisa membaca cerita itu di internet, Nelly.. Aku masih belum mengerti maksudmu sebenarnya..” ujarku pura-pura kesal. Aku sekadar ingin mengetahui apakah ia masih bisa menebak kalau aku sedang berpura-pura atau sungguhan kesal dihubungi tengah malam seperti sekarang. ‘Iya, aku tahu.. Cuma aku lagi pengen ngobrol sama kamu, Milly.. Kangen bercanda, lempar-lemparan boneka, bahkan lomba makan mi kuah yang akhirnya bikin berantakan dapur..’ jelasnya panjang lebar. Tapi, sayup-sayup kudengar tarikan napas tidak beraturannya. Seperti tengah menahan tangis. ‘Kau menangis?’ tanyaku penuh selidik. Sekarang pun aku merasakan gejolak rasa itu. Bagaimana kerinduan terhadap saudara yang sejak di kandungan selalu bersamaku. Semuanya seakan keputusan salah dan sama sekali tidak adil untuk kami. Apakah kedua orangtuaku pernah memikirkan semua yang kami rasakan? ‘Tidak kok.. Cuma bengek karena pilek. Aku kan sudah janji sama Milly harus kuat supaya bisa jaga Mama..’ ucapnya meyakinkan. Namun, aku bisa mendengar suaranya yang semakin tersendat-sendat. ‘Cukup Nelly.’ ‘Aku sudah berusaha, Milly. Maaf..’ ujarnya sebelum isakan tangis terdengar olehku. Sungguh, aku benar-benar sedih harus berjauhan dengan kembaranku. Rasanya seakan aku menjadi saudara yang tidak berguna sekarang. Hanya mampu mendengar suara tangisan tanpa bisa menghentikan atau menghiburnya. Padahal setiap kali Nelly menangis aku akan menunjukkan wajah konyol. Tidak jarang membelikannya cemilan asin seperti kripik singkong di ujung komplek yang selalu ditagihnya jika kami melewati jalan tersebut. ‘Dengarkan aku,’ ucapku pelan. Bahkan menyerupai bisikan. ‘Jangan menangis lagi.. Aku tahu apa yang kau rasakan.. Hal itu pula yang kurasakan setiap harinya.. Kita memang harus hidup terpisah demi menjaga salah satu orangtua kita.’ ‘Ya, aku tahu..” ujarnya dengan suara yang semakin bengek dan serak. Napasnya terdengar tidak beraturan dan suaranya tersendat-sendat. Sejujurnya aku tidak setegar itu. Jauh di dasar hatiku, aku pun ingin menangis seperti Nelly. Hal yang biasa kami lakukan. Menangis bersama. Jika Nelly bersedih bahkan sampai meneteskan air mata. Secara tidak sadar aku akan ikut-ikutan menangis dengan perasaan tidak karuan. Mungkin karena selama belasan tahun bersama apalagi kami memiliki kemiripan fisik yang hampir sempurna –kecuali tanda lahir di tangan Nelly. ‘Lalu, apa yang membuatmu bersedih?’ tanyaku membenarkan posisi tidur dengan bersandar pada kasur tanpa memainkan ujung ibu jari dan jari tengah. ‘Karena tidak bisa menemuimu dengan alasan yang belum bisa kujelaskan sekarang.. Kau, mengerti kan Milly?’ ‘Tentu saja.. Aku tahu kau pasti mempunyai alasan mengapa perlu waktu selama ini untuk menghubungi kembaranmu kan? Sekarang tidurlah, jangan lupa mencuci muka agar matamu tidak sembab..’ ‘Baiklah, Milly.. Kau juga tidur, ya.’ ‘Iya..’ jawabku singkat. Meskipun rasanya masih belum rela memutuskan sambungan telepon. Karena sangat jarang kami bisa mengobrol selama ini. Lebih sering aku yang terus-terusan menghubungi tanpa adanya jawaban. Kali ini suara Nelly terdengar lebih jelas daripada tadi. Mungkin ia sedikit tenang. Napasnya yang tersendat kini terdengar beraturan. Lalu, sekitar hitungan ketiga sambungan telepon terputus. Aku menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan. Mencoba mengusir rasa sedih yang menyelimuti diri. Padahal tadi aku berjanji untuk tidur justru air mataku mengalir tanpa sempat kutahan. Perasaan itu kembali mengusikku. Bagaimana aku sangat merindukan Nelly. Meskipun kembar, kami kadang-kadang bertengkar karena hal sepele. Namun, beberapa menit kemudian akan berbaikan lagi. “Kenapa kedua orangtua kami begitu egois?” tanyaku di kesunyian kamar. Mempertanyakan hal yang sama sekali tidak kupahami. Mereka adalah pasangan paling serasi yang pernah kulihat. Pertengkaran jarang terjadi. Namun, sekalinya bertengkar hebat justru keduanya memilih untuk berpisah. Seakan mereka melupakan bagaimana rasa itu tercipta. Dan akhirnya berkomitmen untuk membina keluarga kecil dimana kami akhirnya terlahir ke dunia untuk melengkapi kebahagiaannya. Aku kembali mengingat saat dimana kami masih menjadi keluarga utuh. Dimana setiap pagi adalah hari yang paling kutunggu. Karena kami akan duduk di meja makan bersama-sama membentuk lingkaran kecil. Kalau aku dan Nelly akan menghabiskan selembar roti gandum dengan selai kacang juga segelas s**u coklat. Sedangkan orangtua kami akan memakan salad dan daging asap. Tidak lupa dengan meminum jus buah. Akan ada percakapan hangat mengikutinya. Juga banyak lelucon yang dilontarkan oleh Ayah. Berbeda dengan sekarang. Ayah lebih memilih diam dan sesekali terpaku pada layar ponsel. Kenangan membahagiakan itu seperti sebuah ingatan yang mampu meluruhkan pertahananku sekarang. Kini, aku bahkan melangkah menuju tempat tidur milik Nelly dan menyelimuti diri. Airmata masih membasahi seluruh wajahku. Dengan napas yang tersengal dan suara tersendat-sendat aku menggumamkan banyak hal. Seperti sebuah doa kalau hari esok dan seterusnya dapat kulalui. .+.+.+.+. Hangat mentari kurasakan memenuhi kamar tidur. Tanpa membuka mata aku tahu salah satu sinarnya tengah menyoroti seakan memergokiku bangun kesiangan. Hari minggu memang seharusnya lebih bersantai. Apalagi kesempatan ini jarang kurasakan karena harus bersekolah dari hari senin sampai jumat. Detik berikutnya aku bisa mendengar derap langkah kaki yang mendekat. Namun, kedua mataku masih terkatup. Aku mendengar suara pintu kamar dibuka. Lalu, sentuhan pada pundakku. Tapi, aku masih berpura-pura tertidur. Saat mendengar langkah kaki yang menjauh, aku mengintip sedikit dan melihat Ayah membuka pintu. Seakan tahu apa yang akan dilakukannya. Mataku kembali terpejam. Aku benar-benar yakin pasti tadi Ayah menoleh. Untung saja aku berpura-pura tidur. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu seharian di kamar. Menonton film horror yang kemarin lusa kuminta kepada teman di sekolah. Aku memerlukan hiburan untuk menghilangkan rasa sepi selama berada di kamar. Karena selama berdiam diri di sini banyak sekali benda yang membuatku teringat dengan Nelly. “Jadi, Milly masih tertidur?” mendengar pertanyaan yang terlontar dari luar ruangan membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. Apa mungkin aku sedang berhalusinasi mendengar suara Mama? “Iya, mungkin saja semalam ia begadang..” Sekarang, terdengar suara Ayah menimpali. Aku rasa tidak sedang berhalusinasi. Maka dengan langkah perlahan membuka sedikit celah di pintu dan mengintip dari baliknya. Penasaran dengan percakapan yang kudengar. Senyum terkembang di wajahku melihat Mama. Seperti biasa, Mama lebih menyukai berpakaian santai dengan menggunakan kaos putih polos dan celana jins biru tua. Tapi yang membuatku bertambah senang karena Mama memakai sepatu kets hadiah dariku. Sudah lama aku tidak bertemu Mama. Kulebarkan pintu kamar. Saat hendak melangkah kudengar hal yang membuatku terpaku. “Milly baik-baik saja kan tanpa Nelly? Aku bermaksud kembali ke Amsterdam. Dan menetap di sana..” Apakah Mama bercanda? Baik-baik saja bagaimana? Waktu tidurku terpangkas menjadi empat jam sehari karena selalu memikirkan Nelly. Seringkali aku akan kembali memutar video yang kami buat bersama. Lebih banyak video kami bernyanyi. Dan, ada beberapa kegiatan bersama teman-teman sekolah dulu. Hanya dengan begitu aku bisa mendengar lelucon payahnya. Lalu, menangis sesenggukan karena kembali merasakan sepi. Tidur sendirian di kamar yang terdapat banyak kenangan bersama saudariku itu. “Aku tidak pernah menanyakannya langsung kepada Milly.. Kenapa terburu-buru?” tanya Ayah dengan kedua alis yang menaut. Sekarang ini aku tidak bisa melihat jelas bagaimana ekspresi Ayah mengetahui Mama akan kembali negara asalnya. Tanganku tiba-tiba terasa kaku. Kurasa bukan hanya tangan melainkan seluruh tubuhku enggan bergerak. Aku justru memilih untuk berdiri di ambang pintu menyimak percakapan orangtuaku yang sekarang menjadi sosok asing satu sama lain. Dulu, aku selalu melihat pancaran penuh kasih sayang dari mata Mama terhadap sosok yang sekarang kusebut Ayah. Sama halnya dengan Ayah. Seperti dua orang yang benar-benar tidak pernah menjalin kasih. Hal-hal semacam ini selalu kutakutkan jika nanti beranjak dewasa. Kalau sewaktu-waktu orang yang mengatakan pernah mencintaiku sepenuh hati akan pergi meninggalkan luka. Ya, kali ini aku melihat pandangan terluka Mama. “Kukira kau sudah paham kenapa aku memilih untuk buru-buru kembali. Sebenarnya aku tidak ingin menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Tapi, aku perlu memberitahukan perihal kepergianku kepada putriku..” “Kau tidak perlu memberitahukannya, biar aku saja nanti yang berbicara dengannya.” Berbeda dari pandangan Ayah yang biasanya meneduhkan. Justru garis rahang Ayah mengeras. Seperti tengah menahan amarah. Aku bisa saja keluar kamar dan memeluk Mama. Namun tidak kulakukan karena tahu semua itu sia-sia. Mama dan Nelly akan tetap meninggalkan kami meskipun aku merajuk. Karena alasan yang jelas terbaca di wajah Mama. Sakit hati. Mama pasti sakit hati mendengar kabar pernikahan kedua Ayah. Bahkan, saat menyerahkan undangan jelas sekali kalau Mama tidak baik-baik saja dengan senyum yang ditunjukkan. Aku tidak berusaha mendengar lebih jelas percakapan kedua orangtuaku. Lalu memilih untuk berjalan menuju tempat tidur. Menyelimuti diri dan berharap kalau percakapan barusan cuma gurauan paling tidak lucu yang pernah kudengar. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi wajah lalu jatuh di bantal yang kugunakan. Semua memang tidak baik-baik saja. Keluarga kami telah terpecah-belah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD