Baru seminggu lalu berita tidak menyenangkan tersebut kudengar. Bukan karena menguping pembicaraan orangtuaku. Waktu itu aku berpura-pura belum mendengar beritanya. Tapi, Ayah menjelaskan dengan rinci kalau Nelly dan Mama akan kembali ke Belanda akhir bulan Juli bahkan berniat menetap di sana. Hal ini menandakan kalau hanya tersisa dua puluh tujuh hari. Kalau dihitung dengan sekarang menjadi dua puluh hari. Akan sangat sulit bagiku untuk menemui Mama dan Nelly.
Dalam ingatan masa kecilku tidak banyak yang bisa kuingat. Rumah kayu milik Grandma dan Grandpa di Belanda. Lalu, kincir angin tinggi yang berada di dekat pedesaan juga bagaimana dinginnya suhu saat hujan salju turun di bulan Desember. Butiran salju itu berwarna putih bersih. Menyapu seluruh atap rumah dan membuat jalanan semakin licin.
Sarapan yang dibuat Grandma lebih banyak bahannya terbuat dari keju. Aku sangat menyukai aroma sedap dari dapur Grandma yang selalu sibuk saat kami berkunjung. Sudah sangat lama, waktu itu umur kami baru delapan tahun. Dulu aku ingin mencoba menaiki perahu melewati kanal. Sayangnya pada waktu itu sedang musim salju. Dan banyak kanal dialihkan menjadi tempat bermain ice skating.
“Apa yang kau lakukan di sini, Milly?”
Aku menoleh mendengar suara seseorang. Lalu, mendapati Bunda membawa sebuah piring berisi roti bakar dengan selai kacang dan ditaburi kacang almond renyah di atasnya. Sudah pasti kalau cemilan itu dibelinya dekat rumah. Jaraknya hanya beberapa blok dari sini.
Selama ini yang mengetahui kesukaanku terhadap roti bakar dengan rasa yang tidak biasa hanyalah Ayah dan Nelly. Reflek aku tersenyum. Meskipun tidak terlalu menyukai rasanya, Nelly akan menghabiskan satu potong jika aku menyuapinya. Lagi-lagi aku kembali merasa kesal kepada keputusan sepihak yang merugikanku dan Nelly. Apakah memang tidak ada yang bisa dilakukan selain menyerahkan semua keputusan kepada orangtua kami? Mungkin aku belum dewasa. Berumur tujuh belas tahun pun tidak. Tapi, aku masih menyayangkan keputusan para orang dewasa tanpa melibatkan kami di dalamnya.
“Ya, Bun..” jawabku dengan kaki masih menyentuh tanah kemudian mengayun dengan perlahan. Ayunan ini bisa digunakan untuk berdua.
Aku biasanya mengurung diri di taman belakang jika ingin menyendiri. Memandangi tanaman di sini, entah bunga mawar, melati, bahkan anggrek bulan yang menggantung di langit-langit taman. Warna-warna beraneka ragam yang tertangkap oleh penglihatan mampu membuat perasaan nyaman di dalam hatiku. Taman ini tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk aku, Nelly dan Mama dulu. Biasanya aku akan menceritakan banyak hal termasuk ketertarikan terhadap lawan jenis.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Bunda dengan raut wajah yang sulit untuk kutebak. Bunda tersenyum ramah. Hanya saja aku merasa masih ada jarak antara aku dengannya.
“Bukan apa-apa,” jawabku dengan malas. Bunda memang membawa sepiring penuh roti bakar kesukaanku. Tapi, aku enggan untuk makan. Karena memikirkan kepergian Mama dan Nelly yang tinggal menghitung hari.
“Milly tidak ingin bercerita kepada Bunda?” tangan ramping yang menurutku lebih pas jika disebut terlalu kurus itu menaruh piring di meja kayu dekat ayunan. Lalu, menghentikan gerakan ayunan dan ikut-ikutan berayun bersamaku.
Jujur saja. Aku kurang suka bahkan sangat tidak menyukai tindakan Bunda. Boleh saja ia menerobos masuk kamarku. Merapihkan pakaian Nelly dan menyingkirkannya di gudang. Tapi, berbagi ayunan yang biasa kulakukan dengan Mama atau Nelly sedikit mengusikku. Di tempat inilah pusat dari kenangan itu berada. Di setiap sudut dari taman selalu ada kenangan yang mampu membuatku merindukan kebersamaan itu. Bagaimana Mama mengulaskan senyum setiap kali merawat tanaman. Aku bersama Nelly akan berayun sambil menyenandungkan lagu-lagu semasa kami kecil.
“Tidak,” jawabku singkat minim ekspresi.
Kakiku menapaki tanah. Membiarkan laju ayunan terhenti. Bunda menatapku bingung. Namun, aku hanya terus menunduk menatap kedua sepatu kets biru yang kugunakan. Aku membencinya. Bagaimana mungkin ia bisa hadir di tengah-tengah kami. Menghancurkan impian Mama yang ingin menemani Ayah di hari tua bersama-sama dan meyakini kalau kisah mereka akan bahagia bersamaku dan Nelly. Mungkin juga cucu-cucu manis yang nanti akan kuberikan kepada mereka. Hal ini justru berbeda dengan kenyataannya.
“Kau masih marah kepada Bunda?” tanyanya dengan alis bertautan.
Aku seharusnya tahu kalau hal yang membuat Ayah tertarik adalah wajah khas jawa yang dimilikinya. Berbeda jauh dengan Mama. Tapi, tetap saja itu tidak membenarkan semua tindakan Ayah. Baru beberapa bulan mereka berpisah. Namun, Ayah sudah memiliki pengganti Mama. Bukankah itu terlalu kebetulan?
Aku bangkit berdiri menatap Bunda dengan mata berkaca-kaca. Kugigit bibir bawahku pelan. Selama ini aku sudah menahan diri. Tidak ingin mengutarakan apa yang kurasakan sebenarnya. Bagaimana aku sangat menentang pernikahan kedua Ayah. Selama belasan tahun, mimpi buruk yang tak kusangka adalah hal itu. Harus memanggil nama Bunda pada orang asing yang sampai sekarang belum dekat denganku. Manusiawi, bukan? Karena kehadiran Bunda memberi jarak kepadaku dan Nelly bahkan Mama.
“Jawaban itu bukankah sudah sangat jelas?” tanyaku balik. Daripada menjawab pertanyaan yang sudah pasti, aku memilih untuk membuat Bunda menerka sikapku selama ini.
“Maafkan Bunda, Milly. Sungguh. Kalau semua yang Bunda rasakan untuk Ayahmu tulus,” jelasnya mencoba meraih tanganku. Memandang dengan penuh keyakinan seakan-akan apa yang diucapkan adalah kejujuran tanpa sedikitpun kebohongan.
Apa katanya? Tulus? Kurasa Bunda tengah bergurau. Bagaimana mungkin ia tulus? Sedangkan, perbedaan umur mereka adalah enam belas tahun. Ayah sudah tidak setampan waktu muda. Namun, aku yakin dengan kesuksesannya dalam karir bisa menarik gadis berumur dua puluh tahun. Ya, contohnya saja Bunda.
“Oh, ya? Lalu, apakah Mama tidak tulus? Bunda baru mengenal Ayah beberapa bulan. Sedangkan Mama sudah bertahun-tahun! Jangan berpikiran kalau Milly akan menganggap Bunda seperti Mama.”
Langkah kupercepat setelah mengatakan semuanya. Hanya karena menghormati Ayah aku memendam segala perasaan kecewa, sedih, dan marah. Maka dari itu puncaknya adalah sekarang. Aku tidak bisa menahan lebih lama perasaan kesalku ini.
Aku melewati ruang keluarga. Melihat foto pernikahan Ayah dan Bunda yang menurutku pribadi sangat tidak serasi. Dibandingkan menjadi pendamping hidup, Bunda lebih cocok jika menjadi anaknya. Apalagi terlihat beberapa helai uban yang mulai tumbuh di rambut hitam Ayah.Memang tidak banyak tapi cukup membuktikan perbedaan umur mereka.
Dengan langkah terburu-buru aku kembali berjalan menuju kamar tidur dan mengunci pintu. Tinggal di rumahku yang sekarang membuatku merasa asing dan tidak nyaman. Seandainya saja waktu itu aku turut serta bersama Nelly pasti ceritanya akan berbeda. Kami pasti berbahagia. Hanya ada aku, Mama dan kembaranku. Hanya saja semua sudah terlambat tanpa bisa mengubahnya.
Kalau boleh, aku ingin menemani Mama dan Nelly. Bukannya terjebak dalam kebahagiaan Ayah yang mengesampingkan aku di dalamnya. Sekarang untuk berpergian saja aku harus meminta ijin kepada Bunda. Padahal sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal semacam itu. Aku tidak membenci peraturan-peraturan baru yang diterapkan di rumah. Hanya saja aku kesal jika harus menuruti segala perkataan Bunda. Yang membuat jarak antara aku dan Ayah semakin jauh.
Saat membuka pintu kamar. Aku memilih untuk berbaring di tempat tidur Nelly. Kembali membayangkan banyak hal. Salah satunya adalah kebersamaan kami dulu. Ia yang selalu mengigau saat tertidur lelap. Betapa seringnya Nelly menangis karena ketakutan mendengar suara ketukan pada jendela kamar.
“Aku merindukan suara rewelmu. Bahkan omelan Mama yang mengatakan tidak ada apapun di balik jendela..” gumamku pelan membiarkan senyum penuh kepahitan itu terpatri di wajah. Menatap kosong pada kaca memanjang pada lemari pakaian.
Banyak yang sudah berubah. Terutama kebiasaan Nelly yang sekarang lebih sering mengabaikanku. Aku menatap layar ponsel. Semua sia-sia. Kini aku hanya perlu menunggu saat-saat paling kuhindari tiba. Bagaimana aku dan Nelly yang lahir di hari yang sama bahkan memiliki wajah serupa. Harus terpisah di antara dua benua berbeda.
.+.+.+.+.
Malam harinya seperti yang sudah kuprediksi sebelumnya. Ayah marah mengetahui pertengkaran kecilku dengan Bunda. Aku tidak sepenuhnya merasa bersalah karena memang semua itu disebabkan oleh Bunda yang tiba-tiba mendatangi tempat kenanganku bersama Mama dan Nelly.
Aku masih merindukan Mama. Tempo hari saat ke rumah, aku tidak menyapanya malahan terpaku mendengar berita mengejutkan tentang rencana Mama untuk kembali ke Belanda bersama Nelly. Ayahku merupakan orang Indonesia asli sedangkan Mama merupakan warga negara Belanda yang justru jatuh cinta saat menempuh pendidikan di bangku kuliah. Orang beruntung itu adalah Ayah. Hanya saja semua hal itu tidak berarti apa-apa lagi sekarang.
“Mau sampai kapan terus menolak kehadiran Bundamu, hm?” tanya Ayah dengan pandangan menakutkannya. Di antara aku dan Nelly, akulah yang paling takut menghadapi kemarahan Ayah. Berbanding terbalik dengan kembaranku, ia justru mengajak bercanda jika sedang dimarahi.
“Milly tidak menolak kehadiran Bunda..” jawabku dengan penuh ketenangan. Memainkan garpu dan sendok dengan menunduk penuh.
“Lalu, kata-katamu terhadap Bunda? Milly, berusahalah bersikap sedikit dewasa. Ayah tahu, selama ini kau selalu dimanjakan. Jadi, sekarang harus berubah demi keluarga baru kita.”
Mulanya aku menunduk. Tapi setelah mendengar perkataan yang langsung terlontar dari Ayah membuat perasaanku bercampur aduk. Lebih banyak perasaan kecewa dan sedih. Apakah sedemikian mudahnya melupakan Mama? Bahkan, seorang putri yang memiliki paras serupa denganku. Meski sifat kami bertolak belakang.
“Milly hanya berusaha jujur. Selama ini selalu menahan apa yang dirasakan. Apa yang seharusnya diubah, Ayah? Bagi Milly, keluarga adalah Papa, Mama dan Nelly. Bukan Ayah atau Bunda yang sekarang.”
“Cukup, Milly! Kami sudah tidak bisa bersatu lagi. Terlalu banyak perbedaan antara Ayah atau Mamamu!” seru Ayah menaikkan nada bicaranya.
Aku benar-benar terpukul mendengarnya. Bagaimana mungkin mereka memiliki banyak perbedaan? Selama ini yang tertangkap oleh penglihatanku adalah kebahagiaan serta canda tawa saat mereka bersama-sama. Bukannya perbedaan yang dikatakan oleh Ayah. Setahuku, dua orang berbeda dipersatukan untuk melengkapi perbedaan masing-masing hingga membuatnya sempurna. Kurasa hal itu tidak berlaku untuk sosok Ayah.
“Apakah mungkin jika memang berbeda mampu bertahan selama bertahun-tahun? Ayah jangan membohongi Milly!”
Karena terbawa suasana aku tidak sadar menaikkan nada bicaraku. Menahan air mata yang menggenang. Aku tidak ingin sedikitpun terlihat lemah di mata Ayah atau Bunda baruku. Mengingat hal itu membuatku menjadi uring-uringan sekarang. Kepalaku berdenyut keras sekali. Rasanya seperti aku bisa jatuh kapan saja.
“Banyak yang tidak bisa dimengerti oleh pemikiran seorang remaja. Kau kembalilah ke kamar. Jangan mengulangi kesalahan fatal seperti tadi. Biar bagaimana pun ia adalah Bundamu sekarang.”
Aku ingin mengutarakan semuanya. Kalau aku sangat keberatan dengan panggilan baru orangtuaku. Terutama menyantap sarapan atau makan malam yang terasa asing. Karena terbiasa memakan roti gandum pada waktu sarapan dan menikmati steak beserta makanan khas eropa lainnya untuk makan malam.
Aku merasa sangat asing dengan nasi goreng atau ayam bumbu yang dimasak Bunda. Sekarang percakapan hangat di meja makan mejadi sebuah kenangan berharga yang sangat tidak mungkin terulang lagi. Jarak yang memisahkan aku dan Nelly memang bisa ditempuh dengan pesawat terbang. Tapi, aku benar-benar yakin kalau Ayah tidak akan mengijinkanku menemui Nelly dan Mama seandainya hal buruk itu benar terjadi.
Namun, semua kata-kata tersebut tidak kukatakan. Lalu, memilih untuk bangkit dan meninggalkan meja makan. Beberapa kali aku mendengar Ayah menggumamkan kata-kata yang tidak kudengar dengan jelas. Yang pasti aku membutuhkan lagu-lagu menenangkan sekarang. Suara petikan gitar akustik mampu menyulap perasaanku menjadi lebih ringan dari bunga kapas.
Aku menutup pintu kemudian jatuh terduduk di depannya. Membiarkan air mata kembali mengalir. Semuanya terlalu tiba-tiba bahkan sangat tidak adil. Kamar ini begitu sepi. Buku-buku yang kami letakkan di rak buku sama sekali tidak tersentuh sekarang. Pigura tokoh utama dalam dongeng yang dibacakan Mama dulu juga jarang kukeluarkan dari dalam lemari kaca. Karena pemilik sebagian koleksi itu telah pergi.
“Hei, Nelly.. Dapatkah kau merasakan semua perasaan menyesakkan ini?” tanyaku di kesunyian dan kegelapan kamar. Aku tidak ingin seorangpun mengetahui saat menangis. Termasuk boneka sapi milik Nelly.
Aku pernah mendengar kalau hal terbaik untuk mengusir kesedihan adalah menangis di dalam kegelapan. Hingga tidak seorangpun mengetahuinya. Berbeda dari yang k****a, justru hal yang sekarang kurasakan adalah kesunyian. Tidak seorang pun bisa menyelamatkanku. Membiarkanku untuk pergi meninggalkan rumah yang kini terasa asing. Aku tidak lagi mendengar suara tawa di dapur atau taman belakang. Aroma masakan Mama yang menggoda. Hingga bisa membangunkan aku yang tertidur lelap.
Yang kubutuhkan sekarang adalah pelukan Mama. Kebawelan dari Nelly yang bisa meningkat drastis jika membicarakan grup musik kesukaannya. Bagaimana ia akan mendengarkan satu persatu lagu meskipun aku menolaknya. Ia dengan gigih menyisipkan sebelah earphone agar aku mendengarkan lagu itu.
“Dasar bawel..”
Aku menangkupkan kedua tangan di depan wajah. Mencoba menghentikan laju air mata. Tapi, hal itu sama sekali tidak berpengaruh. Justru napasku sekarang tersendat karena menahan suara tangisan agar tidak terdengar. Apalagi yang dapat kulakukan sekarang? Berulang kali kata-kata itu terucap dalam lubuk hati terdalam. Namun, hal yang mampu kulakukan hanya menangis. Menghilangkan rasa sakit yang kian menyiksaku.
“Kita akan selalu bersama, Mama.”
Kalimat itu selalu diucapkan olehku maupun Nelly. Kita akan selalu bersama meskipun dulu Mama disibukkan dengan pekerjaannya sebagai designer gaun pengantin. Aku akan menghabiskan waktu dengan para asisten rumah tangga dan bermain-main dengan anak tetangga sebayaku. Barulah saat menjelang tidur Mama akan menemani untuk beberapa menit menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur dengan suara merdunya.
Mama bilang, melihat wajah klien yang senang dengan rancangannya adalah kesenangan tersendiri. Apalagi saat itu klien Mama terlihat lebih cantik. Itulah alasan mengapa Mama tetap membuat gaun pengantin. Walaupun waktu bermain bersamaku atau Nelly menjadi berkurang. Sekarang Mama menghabiskan seluruh waktunya untuk menemani kembaranku. Semua itu kuketahu dari sosial media Mama. Status atau beberapa foto yang diposting mampu membuatku merasa sedih karena bukan bagian dari orang di dalam foto.
Mama mengatakan kalau sebuah pernikahan dapat terjadi karena kedua orang yang berjanji untuk selalu bersama. Dalam suka dan duka. Itu yang selalu dikatakan oleh Mama. Menurutku pribadi semuanya tidak selalu berakhir demikian. Ayah dan Mama tidak berakhir manis sebagaimana Mama menjelaskannya kepadaku. Padahal sudah bersumpah setia
Kurasakan badanku mengigil kedinginan. Rambut cokelat keemasan milikku lepek karena basah keringat. Dan napasku terasa berat saat menarik dan menghembuskannya. Aku berjalan menuju tempat tidur Nelly. Menarik selimut lalu berbaring. Membiarkan semua kejadian lalu memenuhi pikiran dan mencoba untuk tidur.