Aku lupa sejak kapan tertidur sedemikian lama. Terakhir melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Sekarang sudah jam dua belas siang. Kepalaku terasa berat bahkan tenggorokan pun terasa kering. Ada yang aneh. Seseorang memegang tanganku erat. Ia tengah tertidur lelap. Rambut cokelat tua miliknya menutupi sebagian paras yang kini tengah berumur. Aku baru menyadari kehadiran sosok yang kurindukan akhir-akhir ini.
Ya, Mama sepagi ini berada di rumah. Kurasa aku tengah bermimpi. Apa mungkin kejadian lalu adalah mimpi buruk? Alangkah leganya aku jika memang itulah yang terjadi. Seulas senyum reflek mengulas di wajahku. Baru saja ingin membangunkan Mama, pintu kamarku terbuka. Nelly membawa nampan kayu dengan seulas senyum khas miliknya.
“Sudah bangun?”
Ia berjalan ke sisi tempat tidur. Duduk di dekat Mama lalu menaruh nampan berisi nasi uduk, telur dadar dan ayam sisit di meja. Juga membawa segelas teh hangat. Dari aroma yang tercium, aku yakin kalau Nelly menambahkan madu pada teh yang dibawa olehnya. Aku suka meminum teh madu biasanya seminggu sekali. Hanya saja beberapa waktu terakhir aku jarang meminumnya karena teringat dengan Nelly. Seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Ia berada di sini bersama Mama. Menghilangkan sedikit kerinduan akan kehadiran mereka.
“Ya, baru saja. Kenapa kau bisa berada di sini?”
“Kangen kamu, Milly.” jawabnya lalu tertawa jahil. Baru kali ini aku melihat raut bahagia Nelly setelah sekian lama.
“Aku juga kangen..” ucapku lalu tersenyum sebisa mungkin. Menyembunyikan rasa sakit yang sedari tadi kurasakan pada kepalaku.
Melihat kehadiran kedua orang yang berarti dalam hidupku membuat sebuah tanda tanya besar. Bagaimana mungkin mereka bisa berada di sini? Apakah Ayah dan Bunda tidak mengetahuinya? Aku sedikit kecewa karena kukira apa yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah sebuah mimpi buruk. Melainkan sebuah kenyataan pahit yang harus kuterima dengan lapang d**a.
“Kau mau makan sekarang?” tanya Nelly lalu beranjak mengambil nampan berisi makanan dan duduk di sisi kasur dekat jendela. Karena Mama belum juga terbangun.
“Iya,” jawabku mengangguk pelan. Kemarin malam aku tidak menghabiskan makan malam. Maka pagi hari ini aku merasa sangat lapar. Nelly menyendokkan nasi lalu mengarahkannya kepadaku. Aku memakan dengan lahap sarapan yang dibawa olehnya.
Kami persis seperti beberapa tahun lalu saat Nelly harus opname di rumah sakit karena terjangkit demam berdarah. Baik aku atau Mama bergantian menjaganya. Kalau Ayah tidak bisa berlama-lama di rumah sakit karena harus bekerja. Apalagi banyak proyek pembangunan baru yang dikerjakan olehnya.
Ayah adalah seorang arsitek handal. Banyak bangunan di Jakarta Selatan adalah proyek yang digarap olehnya beberapa tahun silam. Setiap gedung pencakar langit yang dibangun selalu mempunyai ciri khas tersendiri. Seperti jumlah anak tangga ganjil dari tiap lantai. Atau salah satu jendela gedung yang dipasang terbalik. Aku selalu menyukai bagaimana Ayah terlihat sibuk di meja kerjanya. Ia memang pintar membangun gedung mewah dan berkelas. Tapi, aku heran mengapa ia menyerah pada pernikahannya dengan Mama. Demi membangun keluarga yang bahagia.
“Apakah Ayah mengetahui kalian berada di sini?” tanyaku di sela-sela suapan makanan yang diberikan Nelly. Ia menyimak sebentar lalu menaruh sendok di atas piring dan menghela napas panjang.
“Tadinya tidak. Bunda meneleponku pagi-pagi buta. Berkata kalau kau demam. Badanmu mengigil dengan suhu yang setara dengan air panas. Segera saja Mama dan aku bergegas ke sini.”
Aku terheran menyimak apa yang dikatakan kembaranku. Bunda menguhubungi Mama? Aku bahkan tidak bisa membayangkannya. Selama ini kami tidak cukup dekat. Justru kemarin malam berdebat cukup lama. Meskipun saat itu yang beradu argumen denganku adalah Ayah. Bagaimana bisa hal ini tidak diketahui oleh Ayah? Banyak sekali yang ingin kutanyakan. Akhirnya aku hanya menatap lurus seakan tidak percaya seluruh perkataan Nelly.
“Ayah tidak mengetahuinya?” tanyaku terheran. Bukankah kalau siapapun yang datang dan pergi pasti akan diketahui oleh Ayah. Kalau tidak Bunda pasti melaporkan.
Selama peraturan baru diberlakukan di rumah, banyak hal yang berubah termasuk rutinitasku yang selalu dilaporkan oleh Bunda. Jam berapa aku pulang sekolah. Atau berapa kali aku pergi keluar untuk berjalan-jalan dengan teman sekolah.
“Waktu aku sampai Papa sedang tertidur. Bunda juga membuka pintu dengan berhati-hati. Katanya nanti akan disampaikan saat bangun. Tapi, tadi pagi Papa sudah tahu kehadiran kami di sini,” terangnya masih dengan menyuapiku nasi uduk.
“Oh demikian. Apa kau sempat berbincang dengan Ayah?” tanyaku sedikit ragu. Sejak kepergiannya dari rumah dan memilih untuk tinggal bersama Mama. Aku tidak tahu apakah Ayah masih sering berhubungan dengan Nelly hanya untuk menanyakan kabar.
“Tentu saja, aku rasa hanya beberapa menit. Banyak yang berubah, Milly. Sosok Papa sekarang jauh lebih kaku. Kau tahu, ia bahkan tidak memeluk dan mengacak rambutku seperti apa yang dilakukan dulu,” jelasnya lalu menatap ke arah lain.
Aku rasa Nelly tengah menahan perasaannya. Dulu Ayah selalu memanjakannya. Menganggap kalau putri bungsu yang berbeda hanya beberapa menit umurnya denganku masih gadis kecil. Makanya sepulang bekerja Ayah pasti menanyakan dimana Nelly sebelum memberiku sebungkus cokelat almond yang kusukai.
Seringkali Ayah pulang dengan membawa banyak cemilan. Karena menurut pengakuannya setiap kali berbelanja di supermarket ia selalu teringat kalau aku menyukai cemilan manis.
“Ya, memang banyak yang berubah. Tapi kau merindukan Ayah, bukan?”
Sesudah menyuapiku sendok terakhir, Nelly menaruh piring di samping tempat tidur lalu tersenyum simpul. Matanya menerawang mungkin mengingat tahun-tahun yang berlalu. Saat kami masih sebuah keluarga utuh dengan kebahagiaan yang porsinya lebih banyak. Berbeda dengan sekarang. Hanya ada perasaan canggung antara Ayah dan Mama.
“Justru hal aneh jika aku sama sekali tidak merindukan Papa. Sama halnya denganmu yang merindukan Mama,” jawabnya lalu menyodorkan segelas teh madu kepadaku.
Rasanya persis waktu sebuah kertas berisi tulisan yang tidak kupahami itu diberikan kepada Mama. Lalu, kepergian mereka dalam hidup Ayah. Aku masih bisa mengingat bagaimana raut wajah kecewa itu. Mama memaksakan untuk tersenyum dan berkata semuanya akan berlalu. Tidak perlu mencemaskan apapun. Dan aku hanya perlu menjalani kehidupanku seperti biasanya.
“Kukira kau akan membenci Ayah setelah apa yang dilakukannya kepada kita semua. Ya, memecah keluarga hangat kita menjadi kepingan yang tidak kukenali. Terkecuali dirimu..” jelasku panjang lebar. Karena semua itu memang benar. Bagaimana hubungan kami tidak bisa dikatakan sebagai keluarga lagi.
“Awalnya begitu..” tutur Nelly lalu membuang pandangan ke luar jendela. “Tapi setelah kupikirkan semua ini mungkin harus kita lalui. Dalam cinta tidak ada yang bisa dipaksakan. Mungkin saja jika kedua orangtua kita memilih untuk bertahan akan menjadi semakin berantakan. Kau tahu apa yang Mama katakan terkait pernikahan kedua Papa?”
Aku memandang tubuh mungil Nelly yang duduk di pinggiran jendela. Sinar mentari menyorotinya hingga membuatnya seakan terlihat bersinar. Satu kata pun tidak kuucapkan. Karena sama sekali belum mengetahui perasaan Mama terkait pernikahan kedua Ayah. Terakhir kali bertemu untuk makan es krim cokelat di dekat sekolah, Mama hanya berkata kalau ia merindukanku. Itulah alasannya menungguku untuk memakan es krim di siang yang terik.
“Memangnya apa, Nelly?” tanyaku dengan napas yang tidak beraturan. Aku sebenarnya takut mendengar kenyataan yang akan diucapkan Nelly. Bagaimana hancur perasaan Mama di kala itu.
“Mama berkata kalau merestui pernikahan Papa dan Bunda. Mungkin Papa sudah jenuh dengan Mama. Dan, Mama sepenuhnya sadar kalau tidak ada yang abadi apalagi perihal cinta. Jadi, saat Papa mengajukan surat cerai tanpa berpikir panjang Mama menyetujuinya.”
“Tapi.. Tidakkah Mama sakit hati dengan kenyataan itu? Kau tentu ingat kan keinginan orangtua kita untuk bertambah tua bersama-sama. Bahkan, menunggu cucu yang akan diberikan putri mereka.”
Nelly berbalik dengan mata memerah dan wajah yang sepenuhnya basah. Aku sama sekali tidak menyadari kalau ia menangis. Kurasa ia sudah menahan semua perasaannya sedari tadi. Itulah mengapa ia terus-terusan memalingkan wajah ke arah lain.
“Aku ingat semua itu. Hanya saja setiap rencana seringkali berubah. Sekarang tergantung individu itu masing-masing. Mama memang mencintai Papa sebagaimana ia menyukainya saat pertama kali masuk kuliah. Sekarang yang berbeda adalah Papa. Dan, perubahan itu tidak bisa kita cegah sama sekali..” jelas Nelly dengan napas yang tersendat.
Aku diam dan menyimak baik-baik semua yang dikatakan saudariku. Memang semuanya benar. Perubahan itu tidak bisa kami cegah. Bukan hal yang mustahil rasa cinta seseorang berubah seiring berjalannya waktu. Mendengar semua kenyataan pahit yang diutarakan Nelly membuatku ikut-ikutan menangis. Menumpahkan seluruh kesedihanku.
“Kurasa kita sudah harusnya berhenti berharap dan menerima keputusan mereka..” gumamku pelan. Tanpa bisa kutahan bulir-bulir air mata kembali membasahi wajah. Nelly berjalan mendekat lalu memelukku sangat erat.
“Kita pasti bisa bertemu lagi, Milly..” gumamnya dengan suara yang bergetar. Ia mengendurkan pelukan lalu kami berpandangan.
Bola mata kami seperti Ayah. Dengan rambut hitam. Serta kulit putih s**u. Semua ciri khas itu kami miliki. Tanpa ada perbedaan sama sekali. Dalam beberapa hari lagi aku akan berpisah jauh dari saudariku. Ia yang biasa merengek manja kepadaku akan kembali ke Belanda bersama Mama.
“Hei, jangan menangis. Kita hanya perlu berpisah untuk beberapa waktu..” ucapku untuk menghibur kemudian menepuk pelan punggungnya berniat untuk menyemangati.
“Aku tidak menangis, Milly. Serangga kecil tidak sengaja masuk ke dalam mata. Itulah alasan mengapa airmataku terus-terusan mengalir.”
Aku tersenyum. Rasanya seperti baru kemarin terakhir kalinya kami saling berpelukan dengan menangis tersedu. Sebelumnya adalah saat Mama mengatakan harus berpisah dengan Ayah. Seharian kami mengurung diri di kamar. Membicarakan banyak hal sampai akhirnya menangis sedih karena harus berpisah.
“Baiklah, aku percaya,” bisikku. “Meskipun jarak kita berjauhan pastikan kalau kau akan menjaga diri. Menuruti perkataan Mama,” lanjutku mengelus puncak kepalanya.
“Kalian sedang apa?” sebuah pertanyaan terlontar dari Mama yang ternyata sudah terbangun dari tadi.
Baik aku ataupun Nelly menyeka air mata kemudian menghambur ke pelukan Mama. Aku benar-benar merindukan kehadiran Mama di sisi. Suara lembutnya yang mampu membuatku tertidur hanya dengan mendengarnya bernyanyi. Atau betapa lezat cheese sandwich sebagai cemilan makan siang kami.
“Bukan apa-apa, Mama..” gumamku masih memeluk Mama erat. Karena aku benar-benar paham waktu yang tersisa sangat sedikit.
Seakan membaca kondisi yang terjadi Mama memilih diam dan balas memeluk kami berdua. Hangat pelukan Mama adalah salah satu yang kurindukan selama ini. Juga aroma kesejukan setiap kali berada dalam pelukannya. Untuk sesaat aku melupakan rasa sakit yang berdenyut di kepala.