Bab 5

1579 Words
Pagi hari saat suara teman-teman memecah kesunyian kelas. Riuh terdengar di bawah teriknya sinar mentari yang menyorot dari luar. Kebanyakan dari mereka sibuk dengan tugas dari guru yang absen. Atau, ada beberapa yang sibuk bergosip dipojokan dekat dengan mading kelas. Aku bukan termasuk salah satu di antaranya. Hal ini dikarenakan perasaan yang menggangguku akhir-akhir ini. Mataku menatap cermin kecil berbentuk bulat. Mengamati wajahku. Bukannya hendak memuji diri sendiri. Aku hanya terheran. Padahal baik aku atau Nelly mengambil gen Ayah lebih banyak daripada Mama yang merupakan keturunan Belanda asli. Tidakkah Mama merasa rindu sewaktu menatap wajah Nelly? Sampai sekarang pun aku sering memikirkan hal itu. Aku dan Nelly memiliki rambut dan mata yang berwarna hitam. Bedanya hanyalah pada gaya rambut kami. Karena Nelly memutuskan untuk memotong rambutnya sebahu setelah perceraian kedua orangtua. Namun, kami memiliki kulit putih s**u dan wajah yang mirip dengan Mama. Seandainya saja mereka bisa berbaikan dulu pasti semuanya tidak berakhir begini. Sampai sekarang pun aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran orang dewasa. Kenapa mereka memilih untuk bersama jika pada akhirnya mengakhiri dengan begitu cepat? Aku berjalan di depan papan mading. Dan, mendapati salah satu gambaran dari Nelly terpajang di sana. Sebuah karya seni yang cukup menarik. Yaitu pemandangan di pedesaan. Saat itu ada lomba di sekolahku. Karena boleh mengikut sertakan peserta dari sekolah lain, aku pun mengajak Nelly turut serta. Perasaanku masih tidak karuan melihat lukisan ini. Karena banyaknya hal yang mengingatkanku pada kenangan lalu bersama keluargaku. “Hei, melamun saja.” Aku menoleh. Mendapati Nathan tersenyum penuh memandangku. Nathan Arya adalah pemuda sekelas yang katanya menaruh hati denganku. Ia memiliki kulit putih bersih, harus kuakui kalau wajahnya pun tampan. Bibirnya berwarna merah muda. Dan, model rambutnya mohawk. Banyak siswi dari kelas lain sengaja datang untuk menemuinya. Baik itu hanya sekadar menyapa atau memberikan hadiah padanya. Namun, sosok Nathan selalu dingin menanggapi setiap pernyataan cinta dari siswi-siswi tersebut. Aku saja keheranan dengan sikapnya. Karena ia selalu bersikap ramah padaku, hal itulah yang mendasari beredar gosip kalau ia menyukaiku. “Aku tidak melamun.” “Lalu, apa yang kau lakukan?” “Memandangi gambar yang dibuat oleh kembaranku.” “Maaf, aku tidak bermaksud,” jelas Nathan dengan raut wajah sedih. “Tidak masalah. Lagipula seluruh teman sekelas telah mengetahuinya.” Aku masih ingat saat keputusan itu kudengar dari Mama yang meneleponku di waktu istirahat siang. Saat itu tanpa bisa kubendung menangis sesenggukan. Seluruh kelas dalam sekejap menjadi sunyi. Namun, beberapa teman lainnya memelukku begitu hangat. Seakan-akan aku makhluk yang rapuh. “Kau masih sering bertemu kembaranmu?” “Tidak. Kami jarang sekali bertemu. Tapi, minggu lalu ia datang sewaktu aku sakit.” Nathan terdiam lalu, memandangku untuk beberapa lama lalu kembali tersenyum. “Tentu saja ia datang. Kalau aku menjadi kembaranmu pun, pasti melakukan hal yang sama.” “Walaupun Ayahku melarang? Apakah mungkin kembaranku menemuiku lagi?” “Tidak mungkin ia akan berdiam diri. Kalian kembar identik, pasti ada sebuah perasaan yang tidak bisa dirasakan oleh yang lainnya.” Aku mencoba memahami perkataan dari Nathan. Memang benar kalau apapun yang kurasakan selama ini selalu dirasakan pula oleh kembaranku. Hal itu pernah kutanyakan langsung sewaktu kami masih bersama. Jika aku jatuh sakit, pasti kembaranku ikut-ikutan sakit. Waktu itu Mama akan kerepotan untuk mengurus kami. Berbeda dengan sekarang. Mungkin karena terpisah jauh. Sewaktu aku sakit, Nelly merasa tidak enak. Seperti ada yang mengganggu pikirannya. Itu yang diungkapkan kepadaku saat ia menjengukku. “Terima kasih, Nathan. Kau selalu tahu cara untuk menghiburku. Walaupun semuanya terasa percuma.” “Jangan menyerah. Kau tentu tahu kalau banyak hal yang mustahil menjadi nyata.” “Kurasa itu tidak berlaku untuk masalah percintaan,” jelasku penuh penekanan. “Banyak orang percaya kalau dengan adanya cinta apapun menjadi mungkin. Tapi yang kutemukan justru kebalikannya,” lanjutku menatap wajah Nathan yang keheranan. Memang benar kalau aku mulai meragukan dongeng-dongeng yang dibacakan oleh Mama dulu. Bagaimana mungkin seorang pangeran bisa menikahi rakyat jelata. Atau, seorang pangeran yang membuat putri tidur tersadar setelah sekian lama. Kurasa dulu aku terlalu terbuai dengan kisah-kisah manis yang dituturkan Mama hingga melupakan kalau dunia orang dewasa jauh berbeda dari pandangan kami, remaja. Dulu aku menganggap keluargaku adalah yang paling sempurna karena memiliki orangtua yang saling menyayangi. Namun, seiring berjalannya waktu aku dapat melihat kalau mereka mulai menjauhkan diri. Mengasingkan diri ke masing-masing di antara kami. Seolah-olah sudah memberikan gambaran kalau nantinya mereka akan berpisah dan kami harus memilih antara Ayah atau Mama. “Kau tahu.. Kita masih remaja. Masih banyak hal yang tidak kita pahami. Termasuk pemikiran orang dewasa yang begiu kompleks. Jadi, cukup jalani hidup ini dengan semangat yang kita punya.” “Tapi aku tidak memiliki semangat untuk itu. Semuanya begitu samar di hadapanku.” Tidak kusadari kalau Nathan sudah menggenggam tanganku. Sontak aku menoleh. Dan, mendapatinya tersenyum simpul. Saat ini aku merasakan sebuah perasaan aneh yang sebelumnya tidak pernah kurasakan. Seperti banyaknya kupu-kupu menggelitik perutku. Rasanya begitu ringan dan nyaman. Mencoba untuk menenangkan pikiran, aku menarik tanganku. Aku takut kalau teman-teman lain menyadarinya. “Aku bisa menjadikannya jelas untukmu. Dengan menjadi matahari di hari-hari gelapmu.” Kali ini Nathan kembali menggenggam tanganku. Awalnya aku berusaha untuk melepaskan tangannya. Justru ia semakin mengeratkan pegangan tangan. Dan, ia memandang lurus ke depan. Tidak berniat untuk memandangku. Terlihat senyuman jahil di wajahnya. Akhirnya aku pun menyerah dan membiarkannya menggenggam tanganku. Padahal setengah mati aku menahan rasa gugup. Selama ini Nathan adalah pemuda yang pertama kali menggenggam tanganku. Tentu saja selain Ayahku yang sekarang berubah semakin dingin. Walaupun di luar kelas begitu terik. Aku merasa tanganku begitu hangat. Karena seseorang menggenggamnya dengan sepenuh hati. .+.+.+.+. Malam harinya saat bintang-bintang masih menemaniku di kamar yang semakin lama menjadi begitu sepi. Aku menggumamkan lagu dalam hati. Mencoba mengusir kesunyian yang tercipta tanpa adanya kembaranku di sini, Nelly. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Maka dari itu aku merasa begitu sepi setelah kepergiannya dari rumah. Sekarang tinggal menunggu beberapa hari lagi sampai Nelly dan Mama kembali ke Belanda. Aku bahkan tidak yakin bisa menemui mereka karena jarak yang begitu jauh. Perlu belasan jam untuk datang ke sana. Belum lagi aku takut ketinggian. Waktu dulu saja sepanjang perjalanan di dalam pesawat aku tertidur. Karena takut ketinggian dan awan-awan yang bagi Nelly terlihat begitu indah. Aku mengambil boneka sapi milik Nelly. Mencoba untuk menirukan seperti Nelly bercerita. Awalnya memang aku bersenang-senang bermain dengan boneka sapi miliknya. Namun, aku kembali terdiam waktu mengingat bagaimana Nelly tertawa saat aku balas melemparnya dengan bantal karena ia terlalu berisik dengan bonekanya. Kucoba untuk menahan perasaanku. Rasanya begitu aneh saat kami harus berjauhan seperti sekarang. Tidak ada hal yang menarik kulakukan sendirian tanpa Nelly. Masih berada di dalam satu negara saja tidak bisa bertemu. Apalagi nanti jika kami berjauhan ribuan kilometer? Baik aku atau Nelly tidak pernah menginginkan semua ini. Entah mengapa orang dewasa membuat skenario seolah-olah hal ini yang terbaik. “Milly, belum tidur?” Aku menoleh mendapati Bunda masuk ke kamar. Melihat-lihat ke sekeliling kemudian duduk di Kasur milik Nelly. Ia memandangku sejenak sebelum tersenyum tipis. Kurasa ada yang berbeda dari pandngannya. Seakan menatapku penuh kasih. Dan, aku membenci hal itu. Meskipun Bunda selalu melakukan banyak hal untukku. Contohnya saja menyisirkan rambutku setiap pagi sebelum sekolah. Atau, menyiapkan snack sore sebelum kami makan malam. Aku masih tidak bisa menerimanya. “Belum, Bunda. Ada apa?” Bunda mengambil boneka sapi milik Nelly menyentuh dengan ibu jarinya. Kemudian, menatapku yang penuh keheranan. Tidak biasanya Bunda langsung ke kamarku. Pasti ada hal yang mendasarinya untuk datang ke tempatku. Seperti beberapa waktu lalu saat meminta tolong untuk memasak. Walaupun aku hanya sempat menyiapkan bahan dan memberikannya kepada Bunda. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan olehku. Karena aku sama sekali tidak bisa memasak. “Bunda dan Ayahmu sudah membicarakan hal ini. Mengenai kembaranmu, Nelly.” Aku terpaku. Mencoba memikirkan kemungkinan yang terjadi. Apakah Ayah akan mengijinkan untuk bertemu Nelly lagi? Atau, sebuah kabar buruk disampaikan oleh Bunda? Banyak sekali pemikiran berkecamuk di dalam pikiranku. Semoga saja hal baik menyertai berita yang disampaikan Bunda. “Mengenai hal apa, Bunda?” “Awalnya Ayahmu tidak mengijinkan untuk bertemu lagi dengan Nelly. Apalagi sampai ikut dengannya. Tapi, kemarin Ayah berubah pikiran dan mengijinkan jika kamu ingin berangkat bersama mereka.” Mendengar sebuah berita yang membahagiakan itu membuatku tersenyum penuh. Namun, setelah berpikir dua kali. Kurasa hal itu bukanlah sebuah keputusan yang baik. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Ayah untuk bersama Mama dan Nelly? Walaupun tidak mengatakannya secara langsung. Ayah pasti merasa kesepian. Apalagi tanpa hadirnya Nelly yang biasa dimanjakan olehnya. “Milly tidak akan ikut dan tetap bersama kalian di sini. Karena Milly tidak ingin berpisah dengan Ayah.” “Baiklah, Bunda mengerti. Selamat tidur, Milly.” Setelah menyampaikan jawabanku, Bunda pun keluar kamar dan mematikan lampu. Sedangkan aku berbaring dengan perasaan yang begitu kacau. Aku bisa saja mengikuti Nelly dan Mama. Tapi, jauh di hati kecilku masih kepikiran dengan sosok Ayah yang telah berubah. Rasanya aku tidak mempunyai pilihan lain selain tinggal di sini. Masalahnya hanya satu. Aku masih belum terbiasa dengan kehadiran Bunda disamping Ayah. Bahkan sampai detik ini masih berharap ada keajaiban yang membuat Mama kembali rujuk. Hingga aku tidak perlu lagi menyesuaikan diri dengan Bunda. Mungkin terdengar jahat. Tapi, itulah yang kuinginkan. Aku menarik selimut. Memandangi langit-langit kamar yang bersinar karena adanya hiasan bintang di langit yang menyala. Mataku terasa panas. Aku sangat merindukan Nelly dan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukannya saat ini. Dalam hatiku selalu berdoa jika saja kami bisa bertemu lagi. Karena aku membutuhkannya di sini. Membuat lelucon garing yang membuatku tertawa lepas. Dan berbagi perasaan sedih dan bahagia bersama. Aku merindukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD