Bab 6

1596 Words
Aku duduk di sebuah kafetaria dekat dengan sekolahku. Menggenggam segelas ice coffee latte yang tidak terlalu pahit. Justru lebih banyak manisnya. Mataku mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencoba menemukan saudaraku yang belum juga datang. Hari ini kami berjanji untuk bertemu di sini. Sebuah kafe yang cukup minimalis dengan cemilan yang enak dan kopi yang tidak pahit. Karena mereka menambahkan banyak cream dan gula ke dalam setiap gelas yang dipesan. Minumanku sudah separuh habis, namun kehadiran Nelly belum juga terlihat olehku. Rasanya setiap detik bagaikan hukuman untukku. Menunggu kehadiran sosok yang selalu kurindukan. Aku menoleh saat mendengar suara pintu yang terbuka. Nelly datang dengan dress berwarna merah muda dan sepatu kets. Ia tersenyum lebar saat melihatku yang berada di pojok ruangan. “Milly sudah lama?” “Kau seolah-olah berkata kepada seorang pemuda yang sudah lama menunggumu.” “Haha, maafkan aku. Biasalah, Jakarta macetnya keterlaluan.” “Aku tahu. Untuk saat ini kita memang tinggal di Jakarta. Tapi, dalam beberapa hari kita akan terpisah jauh,” ucapku dengan lesu. Kalau mengingat kenyataan itu membuatku tersadar kalau cepat atau lambat aku harus merelakan mereka. Ya, Mama dan Nelly. “Jangan bersedih, kita pasti bisa bersama lagi.” Rasanya mendengar sebaris kalimat tersebut membuatku benar-benar sadar kalau perpisahan sudah di depan mata. Tidak mungkin ada cara untuk mengelaknya. Seperti yang dikatakan Bunda kemarin, aku bisa saja ikut bersama Mama. Namun, kali ini hati nuraniku bicara. Kalau sosok Ayah membutuhkanku di sini. Walaupun aku jarang berbicara dengan Ayah. Aku menyadari kalau ia pasti sedih ditinggalkan oleh Nelly. Dan, mungkin saja kehadiranku di sini dapat meringankan kerinduan itu. “Kalau akhirnya tidak bisa bersama?” tanyaku penuh keraguan dan kebimbangan. “Percayalah. Kalau kita akan bersama-sama sampai akhir. Kita adalah kembar identik, segala sesuatu mungkin terjadi.” Aku terdiam mendengar penuturan Nelly. Mengelak pun rasanya percuma. Terkadang saudara kembarku ini bisa menjadi sangat keras kepala jika berurusan dengan pendapatnya. Bahkan, dulu sewaktu denganku, kami seringkali bertengkar karena hal-hal tidak penting. Seperti sebuah kesalahanku menaruh kecap manis di dalam kulkas hingga membuatnya kotor. Biasanya ia menjadi sangat keras kepala. Bahkan waktu itu ia menjadi kesal. Karena Nelly menyukai kebersihan dan kerapihan suatu tempat. Mama sering memujinya mengenai itu. Jauh berbeda denganku. Setelah memilih menu kami pun membicarakan hal-hal yang sulit untuk dijabarkan. Namun, satu hal pasti kalau aku menyukai bagaimana Nelly menceritakan pengalamannya tinggal bersama Mama. Lebih banyak suka dibandingkan dukanya. Karena jika mereka Bersama akan ada banyak canda tawa mengiringinya. Aku merindukan Mama. Membicarakan masalah yang tidak selesai atau berbagi cemilan manis yang rasanya tidak sanggup kuhabiskan seharian. Aku merindukan semua itu. .+.+.+.+. Sepulangnya dari bertemu Nelly. Aku disambut oleh kehadiran Ayah di depan pintu masuk rumah. Ia tidak berkata apapun saat aku tiba. Namun, melipat lengan memperhatikanku dari atas sampai bawah. Lalu, masuk ke dalam rumah. Kurasa Ayah sedikit marah. Itulah mengapa hanya diam saja dan mengarahkanku untuk mengikutinya. Kami duduk berhadapan di meja makan. Ayah masih menampilkan raut wajah menakutkan. Sedangkan aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan alasan pulang pada malam hari. Dan, masih berkeliaran dengan seragam SMA milikku. Selama ini aku belum pernah pacaran. Lebih tepatnya adalah belum berani. Namun, kali ini kurasa Ayah pasti menduga kalau aku berpacaran hingga sikapku berubah dari sebelumnya. Aku jarang sekali pulang di malam hari. Sekalipun mempunyai banyak tugas, aku memilih untuk mengerjakannya di rumah. Waktu semua orang telah tertidur nyenyak. “Kau dari mana? Apakah lupa sudah jam berapa?” tanya Ayah dengan nada suara yang menakutkan. “Milly tadi bertemu teman, Ayah,” jelasku berbohong. Rasanya sangat berat hati menjelaskan kalau aku bertemu dengan Nelly tadi. Karena mungkin saja Ayah akan merindukan kembaranku. “Sampai jam segini?” tanya Ayah sekali lagi. Seolah meragukan pernyataan dariku. Selama ini aku selalu mematuhi perintah Ayah. Bahkan, sampai pada saat pertengkaran orangtuaku terlihat. Aku tetap menuruti dengan tetap berada d sisi Ayah. Meskipun kedekatan kami berbeda dengan kembaranku, Nelly. Aku tetap berusaha untuk menghadapi segalanya sendiri. Perceraian kedua orangtuaku yang semua begitu hangat. Pernikahan kedua Ayah yang jelas-jelas kutentang. Atau, sewaktu Bunda mengadukanku kepada Ayah walaupun posisiku tidak salah sama sekali. Semuanya dapat aku terima. Hanya saja aku tidak dapat menerima jika harus berjauhan dengan Nelly. Rasanya ada yang kurang saat ini. Seperti sebongkah batu menghinggapi rongga d**a. Aku begitu merindukannya. Yang justru tidak dapat kutemui walaupun saat ini kami hanya berjarak beberapa kilometer saja. Murni karena aku mencemaskan Ayah. Hanya saja kecemasan ini tidak pernah dihargai olehnya. Atau, mungkin saja aku yang terlalu berlebihan. Padahal aku berharap kalau Ayah mengasihiku seperti yang dilakukannya terhadap Nelly. “Ada banyak tugas, Ayah. Kurasa akhir-akhir ini Milly akan pulang malam.” “Bukan karena menemui Nelly?” Lidahku terasa kelu. Bagaimana mungkin Ayah mengetahuinya? Aku terdiam dan mematung mendengar apa yang dikatakan. Rasanya tidak ada jalan selain mengaku. “Iya, Ayah.” Akhirnya sebuah kalimat singkat itu kuucapkan. Mencoba membaca raut wajah Ayah. Mudah-mudahan saja aku tidak mendapat omelan lagi karena menemui Nelly. Terakhir kali menemuinya dan diketahui oleh Ayah, ia menyita ponselku. Dan, tidak membiarkanku untuk bertemu teman-teman di dekat rumah. Alasannya bukan karena melarangku untuk menemui kembaranku. Melainkan karena aku tidak jujur. Dan, Ayah sangat membenci kebohongan. “Ayah tidak marah. Tapi, lain kali jujur saja jika kau menemui Nelly.” “Baiklah, Ayah.” “Justru Ayah merasa bersalah kepada kalian berdua,” jelasnya dengan wajah murung. Sekian lama aku tidak pernah melihat raut wajah Ayah yang begitu sedih. Seperti ada yang membebani pikirannya. “Sudahlah, Ayah. Milly mengerti perasaan Ayah. Itulah mengapa Milly memiliih untuk tetap bersama Ayah di sini. Maaf karena telah berbohong.” Aku bangkit berdiri. Berjalan menuju kursi Ayah dan merangkulnya. Rasanya sudah lama tidak memeluk Ayah. Seperti ada kerinduan yang tidak bisa kuungkapkan terhadap sosok Ayah. Tangannya menepuk pundakku. “Jangan pergi. Ayah hanya punya kau di sini. Selain Bundamu.” Mendengar sebaris kalimat tersebut agak menyulut emosiku. Karena nama Bunda di sangkut pautkan di sini. Memang kehadiran Bunda membuat Ayah tidak hentinya tersenyum lebar. Namun, aku tidak pernah tahu kalau sosok Ayah jauh lebih rapuh daripadaku. Kurasa pasti Ayah merindukan Nelly. Karena selama ini Nelly selalu manja. “Milly janji tidak akan pergi,” jelasku meyakinkan. Tidak ada lagi yang ingin kukatakan sekarang. Hingga aku melepaskan rangkulan pada Ayah dan tersenyum simpul.”Ayah, Milly duluan ya.” “Baiklah, kalau ingin menceritakan sesuatu, Ayah berada di sini.” Aku mengangguk mengerti dan berjalan menuju kamarku yang bersebelahan dengan dapur. Di dalam pikiranku banyak hal berkecamuk. Termasuk bagaimana nanti hari-hari kulalui tanpa adanya Nelly. Kurasa semua akan terasa semakin menyakitkan. Seiring berjalannya waktu. Kutarik gagang pintu perlahan. Menarik napas dalam-dalam karena tidak pernah merasakan hal yang begitu berat seperti sekarang. Selama enam belas tahun hidup di dunia aku selalu berbagi tempat ini dengan Nelly. Banyak hal yang telah kami lewati. Dan, salah satunya adalah sewaktu kami membaca dongeng sebelum tidur. Tanganku menekan saklar di samping pintu. Mataku mencoba menyesuaikan sinar bohlam yang memenuhi ruangan. Lalu, menggantung tas gendong milikku di belakang pintu. Aku tersenyum melihat tulisan berwarna merah muda milik Nelly berada di sana. Waktu itu kami mendapatkan masalah karena Nelly mencoret-coret pintu ini. Kalau tidak salah umur kami masih lima tahun. “Nelly..” gummku sedih. Aku mencoba menahan air mata yang telah menggenang di pelupuk. Menyingkirkan memri-memori yang berseliweran di dalam kepalaku. Padahal tadi kami sudah bertemu. Tetap saja rasanya masih kurang. Karena aku merindukan tawanya yang nyaring. Biasanya kami akan menghabiskan cemilan manis di kulkas saat semuanya telah tertidur. Lagi-lagi aku menarik napas panjang. Lalu, berjalan menuju kasur milik Nelly. Menyentuh sprei yang masih belum diganti sejak terakhir kali ia pergi. Dan, mengambil boneka sapi yang disukainya. Ia berkata padaku kalau seandainya suatu hari merindukan Nelly bisa memeluk boneka sapi miliknya. Mungkin terkesan kanak-kanak dan tidak masuk akal. Namun, begitulah sifatnya yang kurindukan. Aku kembali berjalan menuju kasurku untuk menyelimuti diri. Tanpa sadar air mata mengaliri wajahku. Napasku tersengal karena mencoba menahan tangis. Aku tidak boleh kalah oleh keadaan. Karena telah berjanji pada Nelly untuk tegar demi kedua orangtua kami yang telah terpisah. Salah satu dari kami akan menjaga orangtua. Tidak membiarkannya untuk merasakan kesepian yang saat ini dirasakan. Langkahku menuju kasur Nelly dan mengambil boneka sapi. Kemudian bersandar pada pintu masuk dan duduk memeluk kaki. Menatap boneka sapi yang saat ini kupegang. Air mataku terus menerus jatuh membasahi bajuku. Aku sudah tidak peduli seperti apa wajahku sekarang. Yang ingin kulakukan adalah mencoba melepaskan semua rasa sakit itu. Salah satu caranya adalah dengan menangis mengingat semuanya. Aku menahan suaraku agar tidak terdengar oleh Ayah dari luar. Lalu, mengusap wajahku yang penuh dengan air mata. Seandainya orang dewasa tidak bersikap egois dengan mementingkan perasaannya semua pasti berbeda hasilnya. Karena semua ini tidak jauh berbeda dari campur tangan mereka.Hal-hal yang kuinginkan adalah bertumbuh besar dengan Mama dan Ayah. Bukannya hidup terpisah seperti sekarang. Kurasa hal itu juga yang dirasakan oleh Nelly. Napasku semakin memburu mengingat banyak rencana yang belum aku lakukan bersama Nelly. Salah satunya adalah pergi ke luar negeri. Bermain di wahana yang ada di Universal Studio Singapore. Atau, menyantap makanan khas di Korea Selatan. Semua bagaikan hal mustahil sekarang. Tanpa adanya Nelly di sini semua terasa percuma. Kami pun memiliki impian untuk berkuliah di tempat yang sama. Hanya saja Ayah pasti menentangnya. Itulah mengapa aku benar-benar frustasi dengan keadaan saat ini. Aku tidak bisa membayangkan harus bagaimana jika merindukan Nelly. Dalam tiga hari ia akan pergi meninggalkanku dan Ayah. Hal yang dapat kulakukan adalah merelakannya pergi. Walaupun aku tahu untuk bertemu lagi sangatlah sulit. Setidaknya yang bisa kulakukan adalah berdoa. Kalau semua akan baik-baik saja. Suatu hari kami akan baik-baik saja. Menerima keputusan orang dewasa yang sampai sekarang pun sulit untuk kupahami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD