Pagi hari setelah Nelly siuman. Ia dipindahkan ke ruangan rawat inap. Karena kondisinya sudah membaik. Meskipun masih belum bisa berbicara dan memandangi wajah kami dengan lesu. Wajah Nelly pucat pasi. Perban menutupi kepalanya serta beberapa alat bantu memenuhi tubuhnya. Termasuk alat bantu pernapasan. Jujur aku sangat sedih melihat keadaannya sekarang. Namun, aku berusaha menahan air mataku. Mama duduk di samping tempat tidur dan menggenggam telapak tangan Nelly. Jarum infus tersemat di sana. Aku sebenarnya tidak tahan melihat keadaan Nelly yang begitu lemah. Hanya saja aku harus berada di sini untuk menyemangati Mama dan memenuhi janjiku terhadap Nelly. Aku masih berdiri di depan pintu. Melihat bagaimana Mama mengusap wajah Nelly dan berulang kali mengucapkan syukur karena kembaranku

