Kabar seseorang di masa lalu

1015 Words
"Selamat ya hari ini kamu mulai kerja menggantikan Bu Ika." Anjani tersenyum, mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah taman kanak-kanak. Setelah satu minggu berlalu, ternyata rencana untuk mengajar di salah satu taman kanak-kanak lebih cepat dari yang Anjani duga, guru lama yang mengajar di sini memutuskan untuk resign sebelum kelahiran anaknya. Alhasil Anjani sudah resmi mulai mengajar di sini, meski kuliahnya belum rampung. "Sekali lagi terima kasih, Bu. Saya nggak nyangka malah lebih cepat masuk untuk mengajar di sini." "Biar kamu juga bisa adaptasi sama anak-anak di sini kan. Semoga betah ya mengajar anak-anak di sini," ucap Bu Nika, Kepala Sekolah taman kanak-kanak. Anjani mengangguk, "Pasti, Bu. Terima kasih atas kesempatan yang Ibu kasih sama saya." "Kalau begitu kamu bisa mulai mengajar kelas TK A. Saya serahkan sepenuhnya sama kamu." "Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak," ucap Anjani kembali kemudian pamit untuk segera ke kelas yang sudah di tunjuk oleh Bu Nika sebelumnya. Anjani pun berjalan ke dalam kelas. Hari ini semuanya akan dimulai, setelah cukup lama Anjani membayangkan bisa mengajar anak kecil di taman kanak-kanak, sekarang mimpinya terwujud. Di samping proses penyelesaian skrispinya, Anjani malah diberikan kesempatan untuk mulai bekerja. Senyum itu masih tercetak jelas di wajahnya, sebelum masuk ke dalam kelas, dalam hatinya Anjani berdoa. Semoga ini adalah awal kehidupan dia yang baru, setelah apa yang terjadi di masa lalu. Sekarang, Anjani ingin membuktikan kepada semuanya, terutama Anjani ingin membuat orang tuanya bangga, mimpi yang dulu Anjani duga akan hancur, nyatanya mampu Anjani bangkitkan kembali Tuhan memang baik, memberikan bahagia setelah tangisan yang selama ini selalu Anjani lewati. ** "Selamat pagi anak-anak." Anjani masuk ke dalam kelas, semua murid sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Di dalam satu kelas hanya ada dua puluh orang saja, posisi duduk mereka pun secara berkelompok. Dalan satu kelompok terdiri dari empat murid dan duduk secara melingkar. Anjani tersenyum menyapa anak-anak muridnya. Hari pertama membuat dia semangat, namun tidak bisa di hindari juga kalau sebenarnya Anjani begitu gugup, untuk pertama kalinya mengajak seperti ini. "Perkenalkan nama Ibu guru, Bu Anjani. Kalian bisa panggil Ibu, Miss Jani. Mulai hari ini Miss akan mengajar dan main bersama kalian di kelas ini." "Miss cantik," celetuk salah satu murid membuat Anjani terkekeh, anak kecil sudah tahu saja mana perempuan cantik. "Senang nggak ketemu Miss hari ini?" "Senang Miss!" seru mereka kompak membuat Anjani merasa bersyukur dan lega karena anak-anak kelasnya menyenangkan. "Sekarang, karena Miss belum tahu nama-nama kalian. Jadi kita kenalan dulu ya, nanti kalian gantian ke depan buat sebutin nama kalian masing-masing. Boleh kan?" "Boleh Miss!" "Pinter. Oke, siapa duluan yang mau ke depan?" "Aku Miss ..." "Aku ..." "Aku mau Miss ..." Melihat anak-anak muridnya antusias, Anjani pun semakin semangat untuk mengajar. Akhirnya Anjani memanggil mereka untuk berkenalan di depan kelas dari kelompok yang paling depan. ** Raka baru saja selesai bimbingan untuk bagian terakhir skripsinya. Semua sudah selesai, tinggal mengikuti sidang akhir saja. Seperti biasa, dia kembali tidak bertemu dengan kekasihnya, karena kesibukan mereka menjelang sidang akhir ini membuat keduanya jarang sekali bertemu, kecuali kalau memang Raka menelepon Sheina dan bertanya sedang di mana kekasihnya, maka Raka akan langsung menghampiri gadis itu. Namun kali ini, Raka tidak menelepon Sheina. Gadis itu yang tadi sudah memberikan kabar kepadanya, Sheina sedang ada urusan dan akan sangat lama dengan dosen pembimbing, katanya ada revisi kembali namun di selesaikan hari ini, akhirnya Sheina menyuruh Raka untuk pulang lebih dulu. "Cewek lo mana?" tanya Jodi, teman satu angkatannya. "Ngapain lo tanya cewek gue?" Raka tampak sewot membuat Jodi terkekeh. "Yaelah, kan gue nanya doang. Biasanya udah kaya prangko, nempel terus kan kalian," balasnya. Raka mendengkus. Itu sih yang dilihat Jodi, padahal lebih seringnya bahkan untuk bermesraan saja, Raka dan Sheina bisa di katakan sangat jarang. Komunikasi mereka malah terkesan kaku sekali padahal sudah lama menjalin hubungan. "Lo udah selesai bimbingan?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan mereka. "Baru mau ketemu Pak Teguh, gue harus lulus tahun ini, Ka. Yakali lo lulus, gue nggak. Jadinya mau gerak cepat nih," balasnya. "Lo sih main mulu kerjaannya, untung masih sempat buat nyusun skripsi, dapat dosen pembimbing baik pula," ucap Raka yang merasa Jodi begitu beruntung sekali, padahal kemarin lebih dulu Raka yang mengajukan judul dan akhirnya bimbingan, sekarang malah mereka sebentar lagi sama-sama selesai mengerjakan skripsi masing-masing. "Otak gue kan kalau mepet kadang jadi encer," ucap Jodi terkekeh. "Sombong amat lo!" "Udah ah, gue mau temuin dosen dulu. Biar cepetan beres terus ikut sidang," pamit Jodi kepada Raka. Raka mengangguk, kemudian berlalu dari tempat tersebut. Lelaki itu memilih untuk segera pulang saja, karena Sheina sedang ada urusan, jadi tidak ada yang Raka kerjakan juga kan. ** Raka baru saja sampai di rumah, melihat kedua adiknya yang sedang berada di depan televisi. Tidak biasanya mereka kompak sekali menonton bersama. "Tumben amat kompak," ucap Raka membuat kedua adiknya menoleh. "Biasanya juga gini, Bang." Rangga, adik lelaki Raka membalas perkataan Raka. Sementara Rossa, adik perempuannya hanya mengacungkan jempol tanda setuju dengan apa yang di katakan oleh kakak keduanya. "Tumbenan jam segini udah pulang, biasanya jalan sama pacar," lanjut Rangga kembali setelah melihat jam di pergelangan tangannya. "Paling Kak Sheina sibuk," timpal Rossa, seperti sudah tahu sekali kalau Raka cepat pulang ke rumah, maka Sheina sedang sibuk. Padahal tidak selalu seperti itu. "Kalau dulu, waktu Abang masih saja Mbak Jani, pasti selalu main ke rumah. Bisa rame banget ini rumah, apalagi kalau kita udah main monopoli barengan, iya kan Sa?" Rangga meminta persetujuan adiknya. Rossa mengangguk, "Bener, kalau sama Kak Sheina, nggak seru. Terlalu pendiam juga, kenapa nggak sama Mbak Anjani sih, Bang?" Raka sukses dibuat bungkam oleh kedua adiknya. Raka akui hubungannya dengan Anjani dulu, dibandingkan dengan hubungannya dengan Sheina sekarang jauh berbeda. Jika dulu Anjani bisa dengan mudahnya akrab dengan kedua adik Raka, justru tidak untuk Sheina sekarang. Raka juga tidak tahu kenapa, setiap Raka mengajak Sheina untuk ke rumah pun, gadis itu hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku, padahal Rossa kerap kali mencoba untuk dekat, namun malah terkesan kaku sekali. Kembali diingatkan pada sosok Anjani, oleh kedua adiknya. Membuat Raka juga kembali ingat dengan gadis itu, kekasih saat dulu dirinya masih mengenakan seragam putih abu. Apa kabar Anjani sekarang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD