Dua kehidupan yang berbeda

1017 Words
Anjani baru saja pulang setelah mengajar sampai pukul dua belas siang. Di hari pertama dia mengajar, semuanya lancar dan anak-anak pun langsung menerima Anjani sebagai guru baru mereka. Anjani bersyukur sekali karena belum memiliki kesulitan di hari pertama dia mengajarnya. Pulang ke rumah, rasa lelah yang tadi Anjani rasakan menguap begitu saja melihat dua jagoan kecilnya tampak aktif sekali, sedang bermain dengan mobil mainan mereka di temani oleh sang nenek. Usia mereka akan menginjak usia dua tahun. Tidak terasa, anak-anaknya sudah sebesar ini, padahal Anjani rasa baru kemarin dia melahirkan Raja dan Rija ditemani oleh kakaknya, Bani. "Mama ..." Raja yang lebih dulu menyadari keberadaan Anjani. Anak lelaki itu begitu senang melihat mamanya sudah pulang. Langsung berjalan dengan tertatih ke arah Anjani, disusul oleh Rija yang mengikuti kakak kembarnya. "Aduh anak-anak Mama, lagi main berdua ya," ucap Anjani setelah si kembar berada di hadapannya. Raja dan Rija mengangguk, kemudian menarik tangan Anjani untuk mendekati mainan mereka, mungkin mereka ingin mengajak Anjani main bersama. "Gimana hari pertama kamu ngajar?" tanya Diani, Ibu Anjani. "Lancar, Ma. Anak-anaknya juga langsung terima guru baru, malah senang banget tadi." "Syukur kalau begitu, Mama senang dengarnya." Diani tersenyum lebar, senang sekali kalau Anjani nyaman di tempat bekerjanya seperti itu. "Mama ain (main)," ucap Rija pada Anjani yang malah mengobrol dengan neneknya. "Mama ganti baju dulu ya, nanti kita main bertiga," ucap Anjani dengan nada lembut. "Iya," balas Rija. "Anjani ke kamar dulu, Ma." Anjani pun berjalan ke kamarnya. Memilih untuk berganti pakaiannya lebih dulu sebelum menemani si kembar bermain. Biasanya kalau ada waktu luang maka Anjani akan memberikan seluruh waktunya untuk si kembar, sebenarnya setiap saat juga begitu, hanya saja setelah sibuk skripsi dan akan bekerja, Anjani jadi harus membagi waktu bersama dengan anak-anak, beruntung si kembar menerima kasih sayang dari orang tua Anjani begitu luar biasa, pun dari kedua kakak lelaki Anjani yang juga begitu menyayangi si kembar. Selesai berganti pakaian, Anjani segera bergabung dengan si kembar dan mamanya di ruang tengah. Kali ini giliran Anjani yang menemani Raja dan Rija, setelah sang ibu dibantu oleh asisten rumah tangga mereka. Anjani memang masih tinggal di rumah kedua orang tuanya bersama si kembar. Hal itu karena keputusan kedua orang tuanya, tidak mau anak perempuannya tinggal di rumah hanya dengan si kembar. Dan lagi Anjani juga belum ada niatan untuk memiliki rumah sendiri, bersama dengan orang tuanya Anjani malah merasa aman. Kedua kakak Anjani juga sudah memiliki rumah masing-masing. Apalagi Juna, Kakak pertama Anjani yang memang sudah lama menikah dan memiliki anak dua tahun di atas si kembar. Sementara Bani belum menikah, rumah yang dia miliki untuk di tempati dengan istrinya nanti, yang sekarang masih belum tahu siapa perempuan itu karena Bani masih menjomlo. Anjani pun menemani si kembar bermain di ruang tengah. Sudah masuk satu tahun lebih, menjelang dua tahun umur si kembar. Namun sampai sekarang Anjani masih belum memikirkan sosok Ayah untuk kedua anaknya. Anjani belum mau memulai hubungan dengan lelaki lain. Apalagi statusnya yang memiliki dua orang anak membuat Anjani harus lebih memilih dan menilai lelaki yang akan menjalin hubungan dengannya, Anjani ingin lelaki itu tidak hanya menyayangi dirinya namun juga menerima dan menyayangi si kembar. ** "Kita mau makan di mana?" tanya Raka pada Sheina. Tadi setelah Sheina selesai dengan urusannya. Raka menghubungi gadis itu dan menawarkan untuk menjemput sambil makan bersama. Sheina akhirnya setuju dan menunggu Raka menjemputnya kembali di kampus. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan, masih belum memiliki tujuan di mana mereka akan makan bersama. Raka sengaja mengajak Sheina jalan, karena perkataan kedua adiknya malah membuat Raka kembali kepikiran dengan gadis di masa lalunya. Raka ingin melupakan, akhirnya memilih untuk keluar rumah dan menjemput Sheina saja. "Tempat biasa aja, yang di dekat supermarket kan ada bakso yang enak di sana," ucap Sheina menyebutkan tempat penjual bakso yang memang kerap mereka datangi. Raka setuju saja, akhirnya melajukan mobil ke tempat yang Sheina maksud. Semoga dengan keluar bersama Sheina seperti ini, tidak lagi membuat dirinya mengingat tentang Anjani. Sampai di tempat penjual bakso. Sheina tampak berbinar, karena makanan ini termasuk favoritnya. Raka tersenyum tipis melihat binar dari kedua mata kekasihnya. Raka menggandeng tangan Sheina masuk ke dalam dan segera memesan bakso untuk mereka berdua. Suasana cukup ramai, maklum memang sudah banyak orang yang tahu dan setuju enaknya bakso di tempat ini, tidak heran setiap harinya akan ramai pembeli, termasuk hari ini. Beruntung Raka dan Sheina masih mendapatkan tempat kosong untuk berdua. Sheina yang memesan bakso untuk mereka, sementara Raka memilih untuk menunggu sembari memainkan handphone miliknya. Ting. Satu pesan masuk membuat Raka yang sejak tadi hanya mengscroll media sosial akhirnya membuka pesan masuk tersebut. Ternyata dari sepupunya, Ramon. Ramon : Bilang sama Om Tante, minggu depan acara lamaran gue sama Danisa. Gue bentar lagi nikah, lo kapan dong, Ka. Raka mendengkus setelah membaca pesan dari sepupunya. Kenapa tidak langsung menghubungi Mami Raka saja, malah lewat dirinya seperti ini. Raka yakin Ramon hanya ingin membuat dirinya sebal. Raka tidak menyangka Ramon malah akan lebih dulu melangkah ke arah serius dengan kekasihnya. Raka kira dua atau tiga tahun ke depan baru akan menikah, apalagi kuliah Ramon satu tahun lagi baru selesai, meski Raka tahu kalau Ramon akan langsung bekerja karena sudah disiapkan untuk menggantikan ayahnya. Raka pun mengetikkan balasan kepada Ramon. Raka : Sombong amat lo, mentang-mentang mau nikah. Kemudian menyimpan handphone di atas meja, tanpa menunggu balasan dari Ramon kembali. Menikah? Iya, Raka juga mau menikah. Tetapi belum tahu kapan, mungkin tahun depan atau dua tahun lagi. Raka hanya menjalani semuanya tanpa memaksakan untuk mereka segera ke arah serius. Lagipula, dua tahun menjalani hubungan dengan Sheina, memangnya Raka tidak serius. Hanya, memang belum kepikiran saja kapan mereka akan menikah. Raka dan Sheina masih fokus pada masa depan mereka masing-masing. Raka juga tidak mau kalau harus mengekang dan memaksa Sheina sampai membuat mimpi gadis itu patah begitu saja karena keegoisan. Cukup dulu, Raka egois dalam hubungan yang dia jalani. Sekarang, Raka tidak mau melakukan kesalahan yang sama, sampai akhirnya membuat gadis yang menjalin hubungan dengannya pergi, membuat mereka berpisah karena keegoisan tersebut. Cukup di masa lalu Raka melakukan kesalahan dengan menyakiti Anjani. Sekarang dan ke depannya, jangan sampai Raka menyakiti perempuan lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD