Anjani senang luar biasa, karena setelah mengerjakan skripsinya dengan penuh perjuangan, akhirnya hari ini Anjani dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Sidang yang waktu itu masih menghitung minggu. Sekarang sudah Anjani lewati dengan perasaan gugup sejak awal gadis itu memasuki ruang sidang. Namun berkat doa kedua orang tuanya, Anjani mampu melewati sidang akhir tersebut dengan cukup lancar.
Bani adalah orang pertama yang menyambutnya keluar dari ruang sidang. Setelah tahu hari ini adiknya akan mengikuti sidang, Bani tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menemani dan mendukung adik perempuannya tersebut. Sementara Juna menelepon adiknya, saat Anjani berada di perjalanan menuju kampus di antar oleh supir, karena Juna sedang berada di luar kota. Bahkan kakaknya berjanji akan memberikan hadiah untuk Anjani yang nanti selesai mengikuti sidang akhir.
"Kamu hebat, Kakak bangga banget sama kamu, Jani."
Bani tanpa ragu memeluk Anjani di depan mahasiswa yang mengikuti sidang di hari yang sama dengan Anjani. Memang semua orang tahu kalau salah satu dosen di kampus mereka, dosen yang menjadi idola mahasiswi adalah kakak dari Anjani.
"Makasih, Kak. Berkat Kakak yang dukung aku, Bang Juna sama Mama Papa."
Mereka melepas pelukan, Bani mengelus rambut adiknya dengan pelan. Kedua matanya tidak lepas dari wajah Anjani yang saat ini begitu berbinar, bercampur dengan rasa lega karena sudah melewati sidang akhirnya.
"Nanti malam, kita makan malam bareng sama yang lain buat rayain kelulusan kamu." Bani memberikan usul dan tentu langsung di angguki penuh persetujuan oleh Anjani.
"Anjani, selamat udah menyelesaikan sidang hari ini."
Yulia menghampiri Anjani yang masih bersama dengan Bani. Gadis itu juga menyapa Kakak Anjani dengan kaku karena tahu kalau Kakak Anjani adalah dosen di kampus mereka.
Anjani tersenyum lebar, kemudian mereka pun saling berpelukan. "Makasih ya, Yuli. Lo juga selamat udah selesai sidang," balas Anjani setelah pelukan mereka terlepas.
"Senang banget karena kita bisa lulus barengan kaya sekarang."
"Sama, gue juga senang. Apalagi lo double karena bentar lagi lamaran juga," ucap Anjani membuat Yulia tampak malu-malu.
Sahabatnya itu memang sebentar lagi akan melangsungkan acara lamaran. Anjani ikut senang saat minggu lalu mendapatkan kabar dari Yulia tentang acara lamaran tersebut.
"Lo juga, semoga cepet nyusul, biar si kembar punya Papa," balas Yulia sembari memelankan suaranya di akhir perkataan tadi.
"Iya-iya, nanti juga jodoh gue datang," balas Anjani membuat Yulia mencebik. Jawaban Anjani selalu sama.
Yulia memang sudah tahu tentang si kembar. Tidak lama dari hari di mana Yulia yang mengomel karena keheranan Anjani tidak juga menerima pernyataan cinta dari seorang lelaki, akhirnya Anjani menceritakan semuanya kepada Yulia, tanpa ada satu hal pun yang dia tutupi.
Tentu saja saat itu Yulia terkejut mengetahui kalau sahabatnya sudah memiliki anak. Bahkan dua sekaligus seperti ini. Namun mendengar cerita Anjani, semula Yulia geram karena berpikir bisa-bisanya Anjani melakukan hubungan suami istri saat dirinya belum terikat secara sah di mata hukum dan agama. Hanya saja setelah mendengar perjuangam sahabatnya, Yulia tidak mengalahkan Anjani karena yang Yulia lihat adalah Anjani perempuan hebat, Ibu yang luar biasa untuk si kembar.
**
"Selamat hari kelulusan, Raka."
Sheina tersenyum kemudian memeluk Raka yang baru saja keluar dari ruang sidang. Hari ini mereka mengikuti sidang, namun lebih dulu Sheina yang melewati semuanya, sementara Raka memiliki jadwal terakhir.
"Kamu juga, maaf ya tadi nggak temanin di dekat ruangannya," balas Raka mengelus punggung kekasihnya, tidak lupa kecupan di pelipis Sheina yang untuk pertama kalinya Raka lakukan.
"Nggak apa-apa, kan kamu juga lagi persiapan tadi." Sheina tersenyum hangat, memang tadi tidak ada Raka yang menyambutnya saat selesai sidang, seperti yang dia lakukan sekarang. Tetapi itu bukan masalah sama sekali, Sheina mengerti karena mereka memang sidang di hari yang sama.
"Nanti kita makan malam bersama ya buat rayain kelulusan kita berdua," ajak Raka dengan senyum yang begitu lebar.
Sheina tampak biasa saja, bahkan seperti akan mengatakan sesuatu tetapi ragu untuk mengatakannya kepada Raka.
"Kenapa?" tanya Raka yang tidak melihat Sheina antusias seperti dirinya.
"Aku udah ada acara sama keluarga besar, hanya keluarga, Ka."
Raka mengerti. Dia memang selalu akan mengerti pada kekasihnya. Lelaki itu tersenyum tipis, "Ya udah nanti malam kita sama keluarga masing-masing, lain kali kita makan malam berdua ya," ucapnya.
Sheina tersenyum dan mengangguk setuju. Memang sudah lama rencana makan malam ini, hanya keluarga besarnya saja dan itu keinginan dari neneknya. Apalagi untuk merayakan kelulusan cucu pertama di keluarga mereka.
**
Acara makan malam keluarga Anjani begitu hangat dan seru di saat bersamaan. Hangat karena semuanya ada di malam ini untuk merayakan kelulusan anak bungsu di keluarga mereka, dan seru karena tingkah si kembar juga anak Juna yang tidak mau berhenti bicara, mereka kelihatan senang karena bisa berkumpul seperti ini.
Anjani senang sekali karena kehidupannya kembali berwarna. Tidak hanya ada keluarga yang setia menemani dirinya selama ini, tetapi kali ini lengkap dengan keberadaan si kembar dalam hidupnya.
Hadiah indah saat dirinya menyelesaikan kuliah adalah keberadaan Raja dan Rija dalam kehidupan Anjani.
Sementara di tempat yang sama namun di lantai yang berbeda, keluarga Raka pun sedang mengadakan makan malam bersama untuk merayakan kelulusan anak sulung mereka.
Raka senang bisa makan malam di luar seperti ini dengan orang tua dan kedua adiknya. Memang sudah lama sekali mereka tidak memiliki waktu makan malam bersama di luar seperti ini, dan sekarang momen yang begitu pas selain untuk merayakan kelulusannya.
Meski tidak ada Sheina di sini, namun seperti yang sudah Raka katakan tadi kepada Sheina. Kalau mereka juga akan melakukan makan malam bersama nanti, hanya berdua saja.
**
Bani meminta Anjani dan si kembar untuk ke mobilnya lebih dulu, karena dia tiba-tiba ingin ke kamar mandi dan akhirnya memilih untuk belok ke arah kamar mandi setelah memberikan kunci mobil kepada adiknya.
Anjani pun mengajak anak-anak untuk ke mobil, tentu di bantu oleh salah satu pegawai restoran karena tidak mungkin Anjani menggendong kedua anaknya yang sama-sama sudah mengantuk. Sementara tadi orang tua mereka dan juga Arjuna sudah lebih dulu dengan mobil mereka masing-masing.
Selesai dari kamar mandi, Bani pun gegas menyusul adiknya yang sudah menunggu. Tidak mau kalau sampai Anjani dan si kembar menunggu lama di dalam mobil, apalagi si kembar yang pasti akan merengek di jam tidur mereka seperti ini.
Namun saat keluar dari restoran, Bani malah berpapasan dengan keluarga dari lelaki yang sampai detik ini Bani benci karena telah menyakiti adik perempuannya. Siapa lagi kalau bukan Raka.
"Nak Bani apa kabar?" tanya Mami Raka kepada Bani. Memang mereka pernah bertemu saat Raka menjalin hubungan dengan Anjani dulu.
"Saya baik, Tante." Bani terlihat biasa saja, sesekali melirik ke arah Raka yang berada di belakang orang tuanya, tatapan yang sama sekali tidak ramah.
"Habis makan malam di sini juga?" Kali ini Papi Raka yang bertanya, ingin sekali Bani berlalu namun tidak sopan kalau dia seperti itu. Yang dia tidak sukai kan Raka, bukan orang tua Raka.
Bani mengangguk, "Iya Om. Tapi sudah mau pulang."
Mereka mengangguk paham. Bani akan pamit namun pertanyaan yang keluar dari mulut Mami Raka membuat Bani mengatupkan bibirnya.
"Anjani apa kabar, Bani?"