4. Rani

2709 Words
Chalya Agrania Sebagian beban hidup rasanya terangkat. Aku tidak tahu kalau pengakuanku ke Gilang siang ini bisa melepas sebagian beban yang sudah menumpuk di kepala. Aku tahu kalau aku egois sejak awal. Aku menempatkan diri sebagai korban keserakahan manusia-manusia kaya yang menjadikan kehormatan dan tahta sebagai yang utama. Berniat memperbaiki ekonomi keluarga malah mendapat cibiran dari orang-orang kaya. Mereka menatap rendah sambil mengatakan; Sadar diri dong. Itu sebabnya, rasa insecure selalu muncul sewaktu-waktu. Menegurku kalau aku tidak pantas berkeliaran di antara orang-orang suci itu. Mereka bilang aku hina, lahir tanpa adanya seorang ayah yang mengakui. Mereka bilang aku anak haram yang bisa saja membawa pengaruh buruk bagi anak-anak mereka. Aku pernah bertanya sama Tuhan lewat salatku di sepertiga malam. Kenapa hal buruk yang terjadi pada Ibu harus kembali terjadi padaku? Hamil tapi bukan anak dari suami sendiri tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Menikah dalam keadaan hamil bahkan tidak pernah aku inginkan. Lalu, melahirkan ketika usia pernikahan masih berjalan tujuh bulan adalah bahan gibah yang paling bagus untuk para tetangga. Kemudian, wajah anakku yang tidak mirip denganku atau mirip suami kembali menjadi bahan gibah yang layak diperbincangkan. Tujuh tahun ini, aku benar-benar lumpuh dengan kebahagiaan selain karena wajah berseri anakku yang terkadang menular. Menikmati tumbuh kembangnya menjadi batu loncatan agar aku tidak terlalu memikirkan beban hidup. "Teh?" "Iya, Bu?" Aku cepat-cepat mengusir air mata. Lamunan tentang masa-masa kelam itu selalu mampu membuatku berlinang air mata. Ibu menghampiriku yang tengah duduk di samping ranjang Ragil. Beliau memelukku dari belakang. Perlakuannya justru membuatku kembali terisak. Ibu tidak bertanya apa pun selain membiarkanku menangis. "Cape, Bu." Pelukan Ibu semakin mengerat, aku mendengar Ibu juga menangis. Dagunya bertumpu di kepalaku. Aku hanya bisa berharap Ragil tidak bangun dan tidak melihat kejadian ini. "Mau cerita sama Ibu?" Ibu bertanya lagi setelah kami sama-sama meluapkan kesedihan. Jemari Ibu sangat terampil mengusap wajahku yang basah. Tanganku terulur ke nakas, mengambil beberapa helai tisu, sebagian kuberikan pada Ibu untuk menghapus air matanya juga. "Aku habis ketemu Gilang, Bu." "Kapan?" "Tadi siang. Maaf aku bohong sama Ibu. Aku izin pulang, tapi malah ketemuan sama Gilang." "Nggak papa." Ibu mengusap bahuku. "Kamu sudah kasih tahu dia?" "Udah." Kuperhatikan wajah lelapnya Ragil. Entah bagaimana caranya aku memberi pengertian pada dia tentang Yoga yang bukan ayah kandungnya, dan tentang Gilang yang mau tidak mau harus dia akui sebagai ayahnya. "Terus gimana reaksinya?" "Kaget, dan mungkin marah juga." "Ibu bisa bilang itu wajar karena kamu nggak ngasih tahu dia selama ini." Aku mengangguk. "Ibu ke toilet dulu sekalian mau beli makan. Mau titip sesuatu, Teh?" "Nggak, Bu. Belum lapar." "Ya sudah." Ibu keluar dari ruangan. Menarik napas dalam, kepalaku berat dan pusing. Aku mengambil cermin kecil dari dalam tas. Kuperhatikan wajahku di depan cermin. Oh, God! Merah sekali mataku. "Ibun." Mendengar suara Ragil, aku menyimpan kembali cermin kecilku ke dalam tas. "Udah bangun, Nak." "Haus." "Minum dulu." Aku berdiri, mengambil botol minum yang sudah ada sedotan di dalamnya. Lalu membantu Ragil untuk bersandar di ranjang, membantunya untuk minum. "Sudah?" tanyaku. Dia mengangguk. Kututup kembali botol minum itu dan menyimpannya di tempat semula. "Ayah mana? Katanya Ayah janji mau ke sini bawa mainan." Duh, Yoga. Kalau tidak bisa menepati janji harusnya tidak usah janji-janji. Aku yang akhirnya bingung cari alasan. "Ayah kan kerja." Aku menempelkan punggung tanganku di dahinya. "Kemarin bilangnya mau ke sini buat main sama Agil. Telepon Ayah, Bun. Telepon Ayah." Tangan kecilnya mengguncang bahuku dengan tidak sabaran. Aku mengembuskan napas, lalu mengambil ponsel dari dalam tas. Mencoba mendial nomor Yoga. Beruntung Yoga langsung mengangkat teleponku. "Halo!" "Halo, Ga. Lagi di mana?" "Di kantor. Kenapa?" "Ragil nanyain kamu, katanya kamu udah janji mau ke sini." "Aduh, aku lupa. Soalnya lagi deadline. Lembur juga kayaknya," celotehnya. "Ragil udah bisa pulang?" "Kata dokter, nanti sore juga bisa pulang kalau botol infusnya udah habis." "Nanti sore ya? Kayaknya aku nggak bisa jemput." "Nggak papa. Banyak taksi online. Tapi masalahnya sekarang kamu ngomong dulu sama Ragil." "Mana sini. Aku ngomong sama dia." "Ayah mau ngomong." Ragil langsung antusias dan mengambil ponselku untuk ditempelkan ke telinganya. Dia menyapa Yoga penuh semangat. "Yah..." Dia mendesah. Tiba-tiba wajahnya muram. "Kenapa nggak jadi, Yah? Ayah sibuk ya? Padahal Agil pengin main robot-robotan sama Ayah. Ibun tadi pulang dulu buat bawa robot, Yah. Main sama Agil, yuk?" Wajahnya semakin sendu. Aku yakin Yoga pasti menolak tawaran main dari Ragil. "Ya udah deh. Tapi janji ya, besok main ... oke, Agil juga sayang Ayah." Ragil menyerahkan ponselku dengan cemberut. Aku tertawa kecil, lalu mencubit pelan pipinya. "Main sama Ibun aja sekarang mah, ya? Ayah kan kerja buat Agil juga. Kalau Ayah nggak kerja, Agil nggak bisa jajan s**u nanti." Aku mengusap kepalanya dengan lembut. Putraku, nanti kalau sudah besar jadi orang yang hebat ya. Aku duduk di tepi ranjang dan sedang berusaha membujuk Ragil yang sedang merajuk karena Yoga tidak jadi datang. Anak ini kalau ngambek ya begini. Lalu, ketukan di pintu mengalihkan perhatianku, terpaksa harus beranjak sebentar untuk melihat sosok siluet laki-laki yang terlihat dari kaca pintu. Begitu membuka pintu, aku terpaku. Gilang berdiri di sana. Mengulas senyum sambil mengangkat dua paper bag cokelat berukuran besar. "Boleh ketemunya sekarang?" Dia bertanya dengan raut gugup. "Boleh," kataku. "Tapi anaknya lagi ngambek." "Kenapa?" "Ayahnya ... maksudku, Yoga nggak bisa ke sini. Dia lagi hectic banget di kantor." "Apa bisa aku gantiin Yoga jadi ayahnya?" "Hah?" Aku mengernyit. "Bisa nggak?" "Kamu ayahnya. Kenapa masih tanya sih?" Aku kesal kalau dia sudah seperti ini. "Sori ... aku gugup banget mau ketemu dia." Dia menggaruk tengkuknya sembari meringis panjang. "Dia mudah akrab sama orang baru kok. Nggak jauh beda sama kamu. Tapi, mungkin dia tahunya kamu itu bukan ayahnya. Bagi dia, ayahnya itu Yoga." Dia mendengkus. "Perih banget dengernya. Coba kalau dari dulu aku tahu dan nggak jadi pengecut, dia gak harus punya ayah lain selain ayah kandungnya." Aku memilih mengabaikan ucapannya itu. Lalu bergerak ke samping untuk membuka pintu lebih lebar lagi. "Mau masuk nggak?" "Mau dong." Aku hendak berbalik badan, tapi kemudian Gilang memanggilku. Terpaksa aku kembali menghadapnya. "Apa?" "Aku minta maaf," katanya pelan, lebih terdengar sebagai rintihan. "Buat?" Aku menatapnya, dia membalas. Tatapannya sayu, dia sepertinya dalam kondisi buruk. "Apa pun itu. Terutama untuk kesalahanku ke kamu." Menghela napas jengah. Aku bosan dengan obrolan seperti ini. "It's okay. Aku udah sangat kebal kok." Gilang berdeham. "Jadi, di depan dia, aku harus berperan sebagai siapa?" Aku ikut bingung. Lalu menggeleng karena tidak bisa mendapatkan solusi. "Aku akan kasih tahu dia pelan-pelan. Asal kamu sabar. Dia sudah terlanjur menganggap Yoga sebagai ayahnya." "Aku akan menggantikan posisi itu," selorohnya, kali ini suaranya terdengar lebih yakin. "Jangan menggantikan. Berbagi tempat lebih baik. Suatu saat dia akan paham." Gilang hanya diam menatapku. "A Gilang?" Situasi canggung itu berhenti saat Ibu kembali. Ibu menyapa Gilang dengan ramah. Aku tidak mengerti mengapa Ibu baik sekali. "Ibu?" Gilang terkejut melihat kedatangan Ibu. Dia segera mencium tangan Ibu. "Ibu sehat? Lama banget nggak ketemu." "Sehat, A. Mau ketemu Agil ya?" "Iya, Bu." Kegugupannya kembali muncul. "Ayo masuk, A. Ibu tunggu di luar aja ya, Teh." Ibu menyentuh lengan Gilang yang terekspos karena kemeja hitam yang dipakainya tergulung sebatas siku. Ragil masih merajuk. Dia tidur menyamping, dan memunggungiku. "Agil..." "Agil, lihat Ibun dong." Aku mengusap lengannya, tapi dia menggerakan lengannya seolah tidak ingin disentuh. "Agil kok ngambeknya nggak ilang-ilang. Coba tebak Ibun bawa siapa ini?" "Siapa?" Dia bersuara pelan. "Hadap Ibun dulu makanya." Aku merasakan sensasi gemetaran saat pelan-pelan Ragil mulai berbalik badan dan berbaring terlentang. Matanya yang hampir sama persis dengan laki-laki yang berdiri di sebelahku, menoleh. Ragil terkejut melihat orang yang menurutnya asing, sedangkan Gilang terkejut melihat wajah Ragil. Tega dia tidak mengenali wajah anaknya dalam foto. "Om siapa?" Gilang langsung salah tingkah dengan todongan pertanyaan itu. "Om..." Gilang merasa ragu dan menoleh padaku, lalu melontar cengiran sambil menggaruk tengkuknya. "Om temannya Ibu." "Ibun." Aku mengoreksi. "Om temannya Ibun. Panggil Om Yayang aja. Soalnya ponakan Om juga manggilnya Om Yayang." "Oke, Om Yayang." Ragil melontar cengiran. Entah kenapa aku terkekeh melihat reaksi Ragil yang menggemaskan. "Om bawa mainan buat kamu." Aku menyaksikan tangan Gilang bergetar ketika mengangkat dua buah paper bag di tangannya. Lalu dia menyimpan kedua paper bag tersebut di tepi ranjang Ragil. "Apa, Om?" Soal mainan anak ini akan antusias. Sebab Yoga tidak pernah absen membelikan mainan baru. Padahal di rumah mainannya sudah numpuk sekali. Wajah Ragil yang semula ditekuk kini kembali berseri. Memang cukup gampang membujuknya kalau sedang menangis atau merajuk, tinggal disogok pakai mainan. Maka semua beres. Aku tidak tahu kalau misalnya Gilang punya inisiatif membeli banyak mainan. "Nih, satu." Gilang mulai mengeluarkan isi paper bag. Kotak lego pertama kali dia keluarkan. "Asyik lego!" soraknya mengambil kotak lego itu dari tangan Gilang. Dia semakin antusias menyimak Gilang yang sedang mengeluarkan beragam mainan. "Ada robot-robotan juga. Wah, ini ada buku gambar sama krayon juga," serunya. "Banyak banget, Om?" "Biar nggak bosan," jawab Gilang. Tak lupa dia menyematkan senyuman. "Buat Agil semua?" Matanya beralih menatap Gilang. Gilang sempat terdiam, kemudian mengulurkan tangan kanannya. Dia mengusap rambut Ragil pelan. "Ya, buat Agil." "Kata Ayah nggak boleh terima mainan sembarangan dari orang lain." Hatiku tersentil dengan kalimat Ragil, sepertinya Gilang juga demikian. Wajahnya berubah kecut dan tidak nyaman dengan hal itu. "Om bukan orang lain," cicitnya. Aku merasakan suaranya bergetar. Hatiku juga ikut bergetar. "Kok bukan?" Gilang terpaku. Wajahnya memerah. Dia pasti kebingungan mencari jawaban. Aku duduk di tepi ranjang, mengamati semua mainan yang Gilang beli. Lalu mengusap pipi Ragil pelan. "Om kan teman Ibun, jadi Agil boleh terima mainannya." Aku berusaha menjelaskan saat Gilang tidak bereaksi apa-apa. "Main sama Om Yayang ya." Ragil mengangguk penuh semangat, sedangkan mata Gilang membeliak takjub. Mungkin dia tidak menyangka jika respons Ragil akan welcome seperti itu biarpun status Gilang masih aku sembunyikan. Aku mengangguk sekali ke Gilang, meyakinkan dia kalau dia bisa. Anak Nana saja dulu dekat sama dia, seharusnya memenangkan hati anak kecil tidak sulit bagi dia. Gilang mengembuskan napas. Lalu mengusap bagian kasur yang kosong. "Boleh Om duduk di sini?" "Boleh, Om." Ragil menangkap maksud Gilang. Lihat saja dia langsung menggeser duduknya, berbagi tempat dengan Gilang yang sudah naik ke ranjang dan duduk bersebelahan dengan Ragil, posisi kaki sama-sama berselonjor. Sontak saja aku menarik kedua sudut bibirku. Lalu duduk di kursi untuk memperhatikan interaksi keduanya. Aku terkesima dengan kemiripan wajah mereka. Bagaimana bisa wajah mereka semirip itu? "Agil suka gambar?" Gilang memulai percakapan. Dia masih terlihat gugup. "Nggak bisa, Om. Kata temen Agil di sekolah, gambar Agil jelek." Gilang tertawa pelan. "Pas banget nih ada buku gambar." Tangan kanannya membuka lembar pertama buku gambar. "Mau gambar?" "Mau. Gambar apa, Om?" Gilang terkejut begitu Ragil mendongakkan kepala, menatapnya penuh rasa penasaran. Lalu kulihat jakun Gilang yang naik turun, diikuti bibirnya yang menyunggingkan senyum. Oh, ya ampun. "Bentar, Om cari dulu gambar yang bagus." Gilang membuka ponselnya. Aku yakin dia mencari gambar yang dimaksud itu di google. "Nah ini, coba sini sama Agil lihat." Agil merapatkan tubuhnya, dia mencondongkan kepalanya untuk bisa melihat layar ponsel Gilang. Kepala Ragil kini tepat berada di d**a ayahnya. Aku tahu Gilang gagal fokus, bukan melihat layar ponsel tapi sibuk menatap kepala Ragil. "Wah ada kuda, Om." Seru Ragil membuat Gilang sadar. "Iya, nih kudanya banyak! Ada yang putih, ada yang cokelat, ada yang hitam. Eh, ini ada juga yang belang-belang." Ragil tertawa. Dia sangat antusias melihat-lihat hewan yang muncul di layar ponsel Gilang, sedangkan Gilang terus scroll ponselnya ke atas. "Tahu nggak kenapa kudanya belang?" "Nggak tahu, Om." Putraku. Polos sekali kamu sayang. "Emang kenapa?" "Ibu kuda, pas hamil anaknya suka banget makan permen." "Kok permen?" Aku melotot. Penjelasan macam apa itu. "Lang, jangan aneh-aneh." Aku menegurnya, dia justru tertawa. Sepertinya dia mulai enjoy. "Nanti Om beli buku ensiklopedia hewan ya. Biar Agil tahu kenapa kuda ini warnanya belang." "Agil punya kok Om. Udah dibeliin sama Ayah. Banyak banget." Ekspresi Gilang seketika berubah. Dia tidak suka dengan jawaban Ragil, aku tahu. Gilang berdeham. Lalu kembali bertanya, "Mau gambar kuda?" "Mau." "Coba Agil yang gambar." "Gambar Agil jelek, Om. Kalau ada PR gambar, biasanya suka dibuatin sama Ayah." Lagi, Gilang akan bereaksi sama setiap Ragil menyebut ayahnya. Yang jelas ayah itu tertuju pada Yoga. "Ya udah, Om aja yang gambar ya. Nanti kamu yang kasih warna. Oke?" "Oke." Gilang mengambil pensil dari dalam paper bag. Dia mulai menggambar di buku gambar yang dia simpan di atas sebelah lutut yang ditekuk. Gilang bisa menggambar, hasil gambarnya tidak jelek-jelek amat. Bahkan dia pernah melukis sketsa wajahku. Entah sekarang gambarnya hilang ke mana, aku pun tidak pernah mencarinya. Ada riak yang tidak bisa aku jabarkan dalam hati. Melihat interaksi keduanya yang sejauh ini berjalan lancar berhasil membuat hatiku menghangat. Setiap hari aku menyaksikan interaksi Yoga dan Ragil, memang aku terharu melihatnya. Tapi ini ... berkali-kali lipat mampu membuat senyum di bibirku mengembang. "Om bikin kudanya tiga ya. Kuda Ayah, kuda Ibun, sama kuda Agil. Kuda Ayah harus yang gede banget soalnya Ayah kan harus kuat karena kerja terus tiap hari sampai jarang pulang." Gerakan tangan Gilang seketika terhenti karena serentetan kalimat yang diucapkan Ragil. Mungkin bagi Ragil kalimat itu terdengar biasa saja, tapi bagi Gilang pasti terdengar aneh. Gilang menoleh ke arahku. Jelas saja tatapan dia seperti ingin meminta penjelasan dariku. Aku memilih berpaling ke lain. Beruntung, dokter Resa masuk untuk memeriksa. Acara menggambar kuda itu harus berhenti sejenak. Gilang turun dari ranjang Ragil, dan aku langsung bangkit berdiri. "Gimana, Dok? Anak saya sudah boleh pulang?" tanyaku ketika dokter Resa selesai mengecek infus dan detak jantung Ragil. Termasuk melepas selang infus yang sesuai prosedur. "Boleh, Bu. Jangan lupa obatnya diminum sesuai resep terus Ibu juga harus menjaga asupan makanan buat si adek." "Baik, Dok." "Dek Ragil, mau pulang nggak?" "Mau, Bu dokter!" "Harus semangat minum obatnya ya. Terus jangan main hujan-hujanan. Nanti tidurnya harus di rumah sakit lagi." "Ih, nggak mau!" Ragil langsung menutup wajahnya menggunakan selimut. Dokter Resa dan perawat tertawa melihat aksi Ragil itu. "Terima kasih, Dokter." Aku mulai mengepak barang-barang yang dibawa ke rumah sakit. Baju dan mainan Ragil aku simpan di tas yang terpisah. "Teh, udah bisa pulang?" Ibu menghampiriku saat masih mengepak baju ganti Ragil. "Udah, Bu." "Pakai jaketnya, Sayang" Aku berniat menyerahkan jaket ke Ragil, justru Gilang yang menerimanya. Dia membantu Ragil untuk memakai jaketnya. "Bun, telepon Ayah. Ayah nanti jemput!" seru Ragil. "Ayah kerja, Sayang. Kita naik taksi aja ya." "Pulang sama Om aja, ya? Nanti biar Om yang anterin Agil ke rumah." "Hore!" "Nggak perlu, Lang. Taksi masih banyak kok." Aku menolak tawarannya. Tidak ada tanggapan dari Gilang membuatku penasaran untuk mendongak. Gilang sedang memperhatikanku, wajahnya terlihat kesal. Aku menghela napas. Menyimpan tote bag yang berisi baju ganti Ragil di atas ranjang. "Bun, mau pipis." "Biar Ibu yang antar." Gilang membantu Ragil turun dari ranjang, dan Ibu langsung menggandeng Ragil untuk ke kamar mandi. Sebelumnya, Ibu memberi kode padaku untuk bicara dengan Gilang karena perubahan ekspresi dari lelaki ini. Dan terjadi ketegangan antara aku dan dia. "Mau jadi ayah aja susah banget ya?" Dia tertawa miris. Dia bersekedap sambil menempelkan punggungnya di ranjang. Matanya terus membidikku sejak tadi. "Padahal habis beli mainan, sepanjang perjalanan dari mal ke sini udah bener-bener takut kalau ditolak sama Ragil. Ternyata yang nolak aku tetap ibunya." Aku tidak dikasih kesempatan untuk bicara. "Kenapa aku harus selalu serba salah di mata kamu? Kenapa kamu selalu bersikap defensif gini, Ran?" Gilang berhasil membungkamku. Aku bingung harus menanggapinya seperti apa. Sementara kutatap wajahnya yang hampir putus asa. "Dulu aku nggak bisa jadi pacar yang baik buat kamu, tapi seenggaknya aku bisa jadi ayah yang baik buat Ragil, Ran. Kalaupun aku nggak bisa memiliki ibunya, aku tetap bisa memiliki Ragil." Oh, hatiku. Kenapa kembali terasa sesak. "Aku gak peduli kamu setuju atau nggak, aku tetap mau antar kalian pulang. Ini bukan cuma tentang tanggung jawab, Ran. Tapi aku berusaha memahami kewajibanku sebagai seorang ayah baru yang belum tahu bagaimana caranya menjadi ayah yang baik." Suaranya yang menggebu-gebu mendadak lenyap begitu Ibu dan Ragil kembali masuk ke kamar. Gilang menghampiri Ragil, sedangkan aku masih terpaku karena kilatan amarah yang muncul dari sorot matanya. Aku menatap nanar punggung Gilang yang berdiri setengah badan demi menyejajarkan tinggi badannya dengan Ragil. "Gendong sama Om mau ya? Kasihan kalau Ibun gendong kamu, nanti jalannya bungkuk kayak nenek-nenek." Ragil tergelak sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian, Gilang meraih tubuh Ragil dan membawanya ke dalam gendongan. Ragil tersenyum semringah menatapku, tangannya melambai-lambai. "Ibun, ayo pulang!" Apa betul aku terlalu defensif? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD