3. Gilang

2316 Words
Gue mau ketemu mantan hari ini. Lo gila emang, Lang. Ngapain lo senyum-senyum sendiri begini? Gue terus memaki diri gue sendiri yang gak tahu malu. Hal pertama yang terlintas di benak gue pas Rani telepon semalam, dia mau tanya-tanya soal asuransi. Karena gue kerja di perusahaan asuransi almarhum bokap nih, tujuan dia telepon pasti gak bakal jauh dari itu. Memangnya apa yang gue harapkan? Rani masih lajang dan bermaksud buat ngajak gue balikan. Halah! Eek kucing. Ingat, Lang. Dia bini orang. Sugesti gue selalu begitu, dia bini orang. Tapi masalahnya gue deg-degan hebat dari tadi. Mau ketemu mantan kok gini amat. Bayangin, tujuh tahun gak ketemu, lo mau apa kalau dipertemukan lagi sama mantan? Tanya kabar, basi. Dan semalam gue menanyakannya. Sialan! Saking gugupnya gue nerima telepon dari dia. Tanya sudah nikah belum? Jelas-jelas dia sudah punya anak. Cuma gue yang t***l, terlalu bucin sama satu perempuan. Gue janjian sama dia di kafe dekat rumah sakit. Entah gue yang terlalu semangat atau memang dia yang ngaret, gue datang lebih duluan. Padahal jarak tempuh gue lebih jauh. Sedangkan Rani katanya stay di rumah sakit yang letaknya kira-kira 100 langkah kaki dari sini. Anaknya sakit, entah sakit apa gue nggak tahu. Semalam, mau ngobrol panjang lebar pun tiba-tiba di skip sama dia. Apa perlu gue samperin sekarang? Yang ada gue mancing terjadinya perang dunia kalau ada Yoga di sana. Gue disangka lagi flirting ke bininya. Ya sudah, gue tunggu di dalam kafe. Hati gue panas dan penuh kecemasan, beberapa kali gue tengok pintu masuk di belakang. Rani belum menunjukkan wajah cantiknya. Sambil menunggu, gue memesan lemon juice. Hati gue yang panas butuh rasa penetral seperti manis, asam, dingin dan kecut. C'mon, Gilang. Masa lo uring-uringan gini. Ingat, Lang. Bini orang. Lakinya siapa tahu ikut datang. "Sori, lama ya?" Suaranya ... masih memorable di otak gue. Suara itu melewati telinga kanan gue lalu disusul visual cantiknya muncul di depan gue. Gue terpaku menatapnya. Urusan pakaian, gue lihat dia mulai berubah. Lebih tertutup. Dulu dia lebih suka pakai celana jins ketat atau rok selutut. Sekarang dia mengenakan celana kain yang senada dengan blazer mocca yang menutupi lengannya yang dulu sering terekspos. Dulu, dulu terus. Kebanyakan jadi bucin ya begini. "Boleh duduk?" Gue mengerjap. Sudah cukup bagi gue buat flashback ke masa lalu. Kini saatnya gue menjalani kehidupan masa sekarang. Termasuk pura-pura jadi orang yang baru kenal dengan Rani. "Duduk aja. Ngapain izin." Gue meringis. Dia mengangguk dan duduk di seberang gue. Ini gue harus gimana? Tujuh tahun, cuy. Tujuh tahun gue gak dengar kabar dia. Terus tiba-tiba kami duduk satu meja dan saling berhadapan. Sumpah! Gue mau terjun payung di atas ketinggian seribu kaki rasanya. Langkah awal, apa yang harus gue tanyakan? Baru juga semenit, momennya udah canggung banget. Apalagi untuk lima menit ke depan. Saat gue terus memperhatikan dia, dia justru mengalihkan pandangannya. Nggak mau bertemu pandang sama gue. "Mau pesan makanan?" Gue bertanya. Basa-basi dulu siapa tahu bisa mencairkan suasana. "Aku udah makan," jawabnya singkat. Baiklah. "Pesan minum aja dulu kalau gitu." Dia menggeleng cepat. "Nggak perlu juga. Aku buru-buru, takutnya dicariin anakku." Hati gue. Hati gue tersayat saat dengan merdunya dia bilang anakku. Kehidupan Rani sepertinya baik-baik aja. Punya suami dan anak, pasti terasa sangat lengkap. Nah, gue? Masih gini-gini aja. Rasanya sejak gue balik dari Jepang dulu, gue gak pernah ketemu sosok Rani yang ceria, Rani yang judes, Rani yang sering marah karena hal sepele. Rani tidak lagi menunjukkan identitasnya itu di depan gue. Dan sekarang pun sama, usia mungkin menjadi salah satu penyebab dia lebih terasa diam. Gue menelan ludah sambil berdeham. Rasa canggung gue sepertinya terlihat kentara, tidak jauh beda dari Rani. Ekspresi gugupnya tidak bisa dibohongi. "Ada yang bisa kubantu?" Matanya membeliak kaget. Kayaknya pertanyaan gue basic banget tapi kok dia kaget. Gue berusaha mengenyahkan apa pun pikiran tentang masa lalu, dan coba berhadapan dengan realita yang ada. Gue mengambil jas kerja yang tersampir di kursi, merogoh saku bagian dalam, dan mengeluarkan selembar brosur promosi. Gue awalnya ragu buat kasih ke dia, tapi ya sudahlah kali aja tebakan gue benar. Dia mau mengajukan asuransi. "Kamu mau tanya soal asuransi ya? Ini kebetulan aku bawa bros..." "Nggak. Bukan itu." Dia memotong ucapan gue. Goblok, Lang! Langsung tengsin gue. Gue melontar cengiran sambil mengusap tengkuk. Mending gue diam sampai dia yang ngomong sendiri tujuannya ingin ketemu sama gue. Alih-alih menyampaikan tujuannya, Rani merogoh sesuatu dari dalam tas. Gue pandangi wajah cantiknya, gak pernah bosan gue lihatnya. Ingat, Lang. Bini orang. Mata gue menyipit begitu Rani menggeser beberapa foto ke gue. Foto bayi. Gue mengernyit, meminta penjelasan darinya lewat tatapan. Sial, Rani pandai menutupi sesuatu. Tangan kanan gue mengambil foto-foto itu. Gue melihat satu persatu foto bayi tersebut. Wajah bayi laki-laki di foto ini rasanya femiliar bagi gue. Tapi di mana gue melihatnya. Di mana? Ah, otak! Bangke kalau disuruh mikir bener. "Ini foto siapa?" Buru-buru gue tanya. Raut wajah Rani berubah masam. Dia seakan tidak percaya dengan pertanyaan gue. Mendadak perasaan gue tidak enak. Gue penasaran sama jawabannya, sementara dia malah diam sambil menatap gue. Apa arti tatapannya? "Namanya Ragil Gunadewa Mahendra. Usianya hampir enam tahun. Dia ..." Dia menggantungkan kalimatnya yang bikin gue semakin penasaran. "Dia anakku." Menghela napas. Lalu, gue pandangi lagi foto bayi yang sedang tertawa ke arah kamera itu. Gue buka foto kedua, bayi ini sudah bisa jalan. Dia tampak sedang berjalan dan menghampiri Rani yang berjongkok di depannya. Dalam foto ini Rani tersenyum lepas. Foto ketiga, si bayi laki-laki sudah agak besar. Mungkin lebih cocok dipanggil anak-anak. Dia sedang belajar naik sepeda kecil. Kemudian, bibir gue secara spontan bilang... "Ganteng." Yoga punya anak setampan ini dari Rani, kok hati gue yang ngilu. Gue simpan ketiga foto itu di meja. Bibir gue yang kaku gue paksa buat senyum ke Rani yang masih menatap gue dalam diamnya. Dia kenapa sih? "Ada yang salah?" tanya gue. Menekan diri sendiri agar menghilangkan kecanggungan. Rani menarik napas. Menatap ke arah lain, sebelum pandangannya kembali terarah ke gue. Matanya ... gue gugup karena sorot matanya sejak tadi. "Kamu tahu kepanjangan dari nama Ragil?" Gue menggeleng layaknya orang bego. Euforia gue bertemu dengan dia terlalu mendominasi sampai tidak bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi. "Ragil ... Rani-Gilang. Tanda bahwa ada darah kamu di dalam diri anakku." Deg. Jantung gue diserbu debaran dahsyat. Kencangnya debaran itu bikin gue sesak napas. Oksigen dalam paru-paru gue menyempit. Gue mematung. "Coba jelasin yang lebih simpel lagi, Ran." Dia menggigit bibir bawahnya, kepalanya tiba-tiba menunduk. Tidak, hal itu gak ngasih gue jawaban apa-apa. Sementara bayangan-bayangan kejadian malam itu dan malam-malam setelahnya kembali memutar di otak gue. "Ran, plis!" Gue memohon. Ketegangan semakin terasa. Gue menegakkan punggung, meremas kedua tangan di atas meja. "Kamu ayah biologis dia." Jawaban Rani pelan sekali, tapi berhasil bikin gue terkulai lemas bersandar di kursi. Tangan gue gemetar, bahkan untuk mengambil foto-foto itu saja gue gak sanggup. Tapi gue mencobanya lagi. Gue ambil foto ketiga. Gue memastikan semua perkataan Rani lewat foto itu. Dan begitu gue ingat di mana gue melihat wajah ini, hati gue tersentil. Dia ... astaga! Dia mirip gue. Iya kan? "Dia anakku?" Rani mengangguk lemah. "Tapi dulu kamu bilang nggak hamil. Kamu bilang..." Gue nggak sanggup ngomong lagi. Shock berat. Cuma bisa menatap nanar Rani yang masih menunduk. "Yoga memanipulasinya." "b******n!" Gue refleks menggebrak meja sampai menjadi pusat perhatian semua pengunjung. Tapi berhasil bikin Rani mengangkat kepalanya. Gue terpaku, menyaksikan air mata yang mengalir di wajah dia namun buru-buru dia usap lagi. "Jangan marah sama Yoga. Dia tulus dan menganggap Ragil sebagai anaknya sendiri." "Dan nyembunyiin semua dari aku?" Amarah gue langsung naik ke level waspada. Pake otak lo, Lang. Mikir. Gue harus tenang, gak boleh emosi. Gue tahu dulu gue berengsek. Berharap dia hamil dan datang ke gue. Itu satu-satunya jalan terkampret yang bisa gue sama dia tempuh. Tapi, apa ini? "Aku juga setuju waktu itu. Karena sungguh, aku udah cape banget berurusan sama keluarga kamu. Apalagi sama papa kamu. Menyembunyikan Ragil dari keluarga kamu adalah pilihan yang harus aku ambil, Lang." "Oke." Gue merem, meremas rambut dengan kuat, emosi gue tiba-tiba membludak karena si b******n Yoga. Tujuh tahun, tujuh tahun mereka menyembunyikan fakta kalau gue punya anak. "Kenapa dia manipulasi?" tanya gue. Mengalah dan meminta penjelasannya. "Dulu aku takut hamil." Suaranya bergetar dan tatapannya sendu. "Aku banyak pikiran. Suatu hari aku sadar, kalau aku telat. Aku tambah stres. Terus tiba-tiba pingsan di kantor. Yoga bawa aku ke rumah sakit, periksa ke dokter kandungan. Dokternya bilang negatif, karena Yoga lebih dulu berkompromi sama dokternya kalau aku nggak boleh dikasih tahu langsung. Nanti aku tambah depresi. Aku nggak tahu gimana caranya mereka memanipulasi itu." Anjing! Yoga anjing! "Tapi jujur, mendengar kabar kalau aku nggak hamil itu lega banget." Rani tersenyum. "Itu artinya kisah kita benar-benar berakhir, Lang. Aku nggak perlu lagi berurusan sama kamu dan keluarga kamu." Fix, hati gue menangis. "Tapi lagi-lagi aku selalu dihadapkan dengan cobaan yang hampir bikin aku nyerah." Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kami sama-sama terdiam. Gue dengar suara isakan yang lolos dari Rani, detik berikutnya Rani menurunkan kedua tangannya yang menutupi wajah. Wajahnya semakin sembap. "Yoga sering bujuk aku buat kasih tahu kamu soal keberadaan Ragil. Buatku itu terlalu sulit, Lang. Kalau bisa aku nggak akan pernah kasih tahu kamu soal Ragil. Nggak papa, nanggung dosa seumur hidup daripada harus berurusan lagi sama keluarga kamu." Gue mengusap wajah dengan kasar. Entah sudah seberapa merah wajah gue sekarang. Gue shock, gue marah, tapi sisi lain ada rasa senang yang mulai menampakkan diri. Melipat kedua tangan di atas meja. Gue masih tidak menemukan kosa kata apa yang tepat buat merespons cerita dia barusan. Lalu, untuk sekian kalinya gue menghela napas berat. "Aku hampir gila waktu kamu milih Yoga!" Gue nyaris teriak. Gue nggak percaya kalau Rani memilih menyembunyikan kehamilannya daripada datang ke gue. "Kenapa kamu nggak datang padaku, Ran? Kenapa nggak minta tanggung jawabku?" "Percuma, Lang. Aku nggak mau nambah sakit hati karena penolakan papa kamu. Pertama, aku akan selalu jadi pihak yang paling bersalah. Kedua, aku nggak mau ngerusak hubungan kamu sama Andien waktu itu. Ketiga, aku cape. Cape terus-terus diperlakukan tidak adil hanya karena kasta." Yaa Tuhan. Gue gak bisa lihat dia nangis. Dia yang sudah berurai air mata tetap melanjutkan ucapannya, "Dan aku ada di sini sekarang bukan ingin memaksa kamu buat tanggung jawab. Kalau itu keinginanku, mungkin sudah dari dulu aku lakukan. Aku cuma ingin kamu tahu Ragil, dan Ragil bisa kenal kamu." "Tujuh tahun?" Gue tersenyum getir. Sejak perpisahan gue dan Rani berlalu, baru sekarang gue ngerasain lagi hati gue benar-benar hampa. "Tujuh tahun kamu menyembunyikan anakku? Tujuh tahun, aku jadi orang t***l yang nggak tahu apa-apa. Tujuh tahun, Ran." "Kamu pikir dalam tujuh tahun itu aku baik-baik aja? Nggak sama sekali." "Kenapa nggak dari dulu?" Gue nyaris putus asa. "Karena dulu, aku belum cukup kuat buat kasih tahu kamu." "Oh my Gosh!" Gue membenturkan kepala ke meja. Menjambak rambut. Kepala gue tiba-tiba pening dan pengar padahal gue gak lagi konsumsi alkohol. Seakan apa pun yang ada di sekitar gue sekarang melayang. Sama seperti tubuh gue yang rasanya melayang tertiup angin kencang sampai gak bisa berpijak dengan kokoh. "Aku harus kembali ke rumah sakit." Gue merasakan pergerakan Rani. Saat gue mengangkat kepala, dia sudah berdiri dan mengambil foto-foto anaknya, ah anakku juga. "Boleh aku ketemu dia?" Langkahnya terhenti. Lalu berbalik badan. "Anytime." Kasih gue waktu sebentar saja. Buat menyesuaikan diri dengan fakta yang Rani bawa barusan. Gue janji gak bakal lama, gue bakal segera menemuinya. Selepas kepergian Rani, gue benar-benar kacau. Gue gak tahu siapa yang harus gue salahkan di sini. Rani, Yoga, atau bokap gue yang dari dulu menentang hubungan gue dan Rani karena alasan perbedaan level ekonomi. Atau gue harus menempatkan diri menjadi tersangka yang paling jahat karena meninggalkan Rani yang hamil sendirian. Karena menelantarkan seorang anak yang baru gue tahu keberadaannya setelah tujuh tahun berlalu. Gue nangis. Benar-benar mengeluarkan air mata. Dalam situasi genting seperti ini, nyokap telepon. Gue mengusap wajah, minum sisa lemon juice karena tenggorokan gue sudah sangat tandus, dan menarik napas lebih dulu sebelum mengangkat telepon dari nyokap. "Halo! Kenapa, Ma?" "Kamu di mana?" "Di kafe. Ada apa? Mama sakit?" Dari suaranya, Mama tampak baik-baik saja. "Lho, padahal Mama udah suruh Icha ke kantor kamu." "Icha siapa, Ma?" Gue mengernyit. Tiba-tiba nggak enak hati. "Itu Icha anak temannya almarhum Papa yang kemarin mau Mama kenalin sama kamu." Oh, f**k! Mama! Gue menggeram dalam hati. Bisa-bisanya Mama kepikiran buat menjodohkan gue dengan anak teman almarhum bokap yang gue sendiri gak tahu wajahnya seperti apa, dan namanya siapa. "Kapan aku bilang setuju buat dikenalin, Ma?" Gue harus tenang. Nyokap nggak bisa dibentak. Nyokap juga nggak bisa menerima kabar yang mengejutkan. Dia bakalan kolaps. "Kalau kamu gini-gini terus, kapan kamu nikahnya?" "Ma..." "Pokoknya kamu temuin Icha. Ajak makan siang kalau perlu. Ngobrol." Aku mematikan telepon sepihak. Terlalu pusing untuk meladeni ide konyol Mama. Gue lanjut menelepon Amanda untuk memastikan apa benar ada perempuan datang ke kantorku. "Halo, Pak Gilang!" "Man, ada tamu perempuan yang lagi nunggu saya?" "Ada, Pak. Dia bilang sudah ada janji sama Bapak." Dia bisik-bisik. "Nggak ada. Saya nggak pernah janji sama dia. Tolong kamu usir ya, Man." "Eh, saya takut. Soalnya dia bilang disuruh Ibu Venna, Pak." Amanda masih berbisik-bisik. "Nggak papa, usir aja." "Saya harus alasan apa?" "Bilang saya lagi makan di luar sama klien." "Baik, Pak. Akan saya coba." "Thanks, Man." Gue tutup teleponnya. Gue bayar minuman yang gue pesan, dan keluar dari kafe. Di depan kafe, gue menatap gedung rumah sakit. Gedung itu seolah bergerak, melambaikan tangannya ke gue. Meminta gue mendatanginya. Tapi gue masih terlalu pengecut untuk dihadapkan pada situasi baru itu. Gue rasanya belum siap buat ketemu anak yang ada di foto tadi. Rani bilang namanya Ragil Gunadewa Mahendra. Ragil adalah Rani-Gilang, dan seharusnya nama belakang dia Wijaya bukan Mahendra. Hidup gue kenapa selalu menemukan jalan yang terjal. Gue seperti terseret ombak hingga sampai ke tengah laut, gue terombang-ambing tanpa seorang pun yang peduli. Sekali lagi gue tanya, gue harus bagaimana? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD