2. Rani

2575 Words
"Cepat sembuh, Nak." Aku mengusap dahi putraku, Ragil Gunadewa Mahendra. Dahinya asih agak hambar. Muntahnya juga sudah berkurang. Dia tertidur setelah minum obat tadi. Masih kutatap wajah damainya. Hatiku teriris menyaksikan wajahnya yang biasa berseri kini terkekuk dan pucat. Kuseka air mata yang mengalir dengan deras, mengambil beberapa helai tisu yang berada di nakas samping ranjang Ragil. Aku habis curhat padanya biarpun tidak yakin kalau Ragil yang tertidur pulas akan mendengar curhatanku sampai akhirnya bersimbah air mata seperti ini. After seven years, aku tetap kalah. Setelah memastikan Ragil tidur pulas, aku beranjak ke toilet untuk merapikan riasan. Aku takut jika Ibu datang dan melihat wajah sembapku, Ibu bisa khawatir. Saat kembali ke kamar inap Ragil, aku melihat Yoga di sana. Duduk sambil memandangi wajah Ragil. Sesekali dia mengusap lengan kecil milik putranya itu. Sadar dengan kedatanganku, dia melirikku namun tidak beranjak dari posisinya. Aku membuang napas, lalu berdiri di samping ranjang Ragil. Saling berseberangan dengan posisi Yoga duduk. Aku turut memandangi wajah putraku. "Kenapa nggak bilang Ragil sakit?" Yoga mulai bertanya. Aku memang sengaja tidak memberitahunya. Sebab dia sudah minta izin, kalau hari ini tidak bisa menemui Ragil karena harus menyiapkan persyaratan nikah ke KUA. Jadi, daripada aku mengganggu waktunya yang berakibat kecemburuan dari calon istri dia, aku lebih baik mencari aman. "Aku pikir kamu sibuk, Ga." Yoga mantan suamiku. Kami pernah nikah, hanya bertahan tiga tahun. Lalu bercerai. Aku menyebut perceraian kami terjadi secara baik-baik, walaupun sebetulnya tidak ada perpisahan yang berakhir dengan baik. Kami hanya menjaga perasaan Ragil. Aku tinggal di Jakarta semenjak nikah dengan Yoga. Memulai kehidupan baru bersamanya. Yoga membawaku kembali ke kota megapolitan ini karena kerjaan dia ada di sini, sementara aku resign setelah menikah. Awalnya, kami baik-baik saja. Lambat laun kerikil itu mulai mengganggu perjalanan rumah tangga kami. Selepas perceraian, Yoga memberikan rumah yang kami tempati atas nama Ragil. Dia bilang, aku dan Ragil bisa tetap tinggal di sana. Sementara dia mencari rumah baru. Untuk pekerjaan, aku tidak lagi bekerja di penerbitan. Mulai merintis usaha dari hasil tabungan. Aku mencoba membuka bisnis laundry pakaian sejak resmi bercerai dari Yoga, laba yang didapat cukup untuk hidup berdua. Namun, Yoga tetap memberikan nafkahnya pada Ragil. Aku sudah melarangnya, Yoga tetap bersikeras untuk menafkahi Ragil. "Aku selalu punya banyak waktu untuk anakku, Ran." Aku terbungkam. Dia selalu marah kalau aku tidak memberitahunya tentang kondisi Ragil. Dia menyayangi Ragil dengan tulus. Aku tahu itu. "Sakit apa dia?" Jemari Yoga kembali mengusap dahi Ragil. "Gejala typus. Kemarin hujan-hujanan nggak bisa aku larang." "Astaga, Rani." Aku terkesiap saat dia membentak. "Aku kan udah bilang, Ragil gak boleh keujanan. Dia mudah flu." Aku mengangguk. Aku tahu, tapi Ragil tetap ngotot main hujan-hujanan. Mengembuskan napas pelan. Aku membalas tatapan marah Yoga, mencoba membasuh kemarahannya itu. "Bisa ngomongnya pelan-pelan, Ga. Ragil baru aja tidur." Mata Yoga terpejam cukup lama. Dia juga menarik napas, lalu membuangnya pelan. "Ayah..." Suara lemah Ragil menghentikan perdebatanku dan Yoga. Lagi, untuk kesekian kalinya aku menghela napas. Ragil terbangun karena mendengar suara keributan di sekitarnya. Tapi, dia justru memandangi Yoga dengan antusias. "Hai?" Ragil minta dipeluk, Yoga melakukannya sebelum kembali duduk. "Maaf, Ayah ganggu tidur kamu ya, Sayang?" Aku selalu terpaku menyaksikan interaksi Yoga dan Ragil. Yoga mencurahkan kasih sayangnya tanpa pamrih. Sayangnya, baik aku ataupun dia sama-sama mengkhianati diri sendiri. "Agil seneng Ayah datang. Kata Ibun, Ayah sibuk." "Nggak kok. Kerjaan Ayah udah beres. Jagoan Ayah kok sakit, hm?" "Pusing, Yah." Ragil memegangi dahinya. Seolah meminta perhatian lebih dari ayahnya. Yoga peka. Dia langsung mengulurkan tangan untuk memijit pelan dahi Ragil. Oh, God! Aku tidak pernah menyesal pernah menikah dengan lelaki ini. "Makanya kalau dibilangin nggak boleh hujan-hujanan tuh jangan bandel. Nggak enak kan kalau sakit?" Yoga menyentil hidung mancung Ragil dengan gemas. "Nggak bisa makan es krim. Ibun larang." Yoga tertawa mendengar gerutuan Ragil. "Ya iyalah Ibun larang. Nanti kamu makin sakit," balasku. Ragil cemberut. Bibir bawahnya lebih condong ke depan kalau lagi cemberut. Persis seseorang di masa lalu kalau lagi merajuk. "Nanti kalau Agil udah sembuh, kita beli es krim yang banyak. Tapi Agil harus janji, gak boleh ujan-ujanan lagi." "Janji!" "Jangan bohong lho, kasihan Ibun kalau Agil sakit." "Janji!" Ragil mengulurkan jari kelingking tangan kanannya yang bebas infus. Yoga menyambut, dan mereka membuat janji kelingking. Bola mata hitam Ragil beralih pandang padaku. Dia hanya diam memperhatikanku untuk beberapa saat. "Kenapa liatin Ibun begitu? Kamu mau sesuatu?" tanyaku. "Ibun tadi kenapa nangis?" "Hah?" Aku mengerjap. Ternyata Ragil dengar kalau aku menangis pas waktu dia tidur tadi. "Ibun nggak nangis," sangkalku. Yoga menatapku dalam diamnya sambil bersedekap. Dia tahu aku berbohong. "Agil tadi dengar Ibun nangis. Ibun peluk-peluk Agil sambil bilang maaf. Ibun salah apa sama Agil? Ayah kan bilang, kalau orang salah itu harus minta maaf. Berarti Ibun punya salah sama Agil." Terpejam. Mataku hanya bisa terpejam untuk menghalau air mata. Aku rapuh, tetapi harus tetap kuat di depan Ragil. Sesak sekali rasanya. Menjadi manusia yang pura-pura tegar, menahan semua rasa sakit yang bertahun-tahun terpendam, sakit sekali. Sewaktu-waktu, aku merasakan jantungku hampir meledak. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana Ragil. Ya, aku banyak salah padanya. Aku menyembunyikannya, aku belum bisa menjadi ibu yang baik bagi dia. Aku ceroboh, sampai akhirnya dia masuk rumah sakit. "Assalamualaikum..." Keheningan yang terjadi akhirnya pecah begitu Ibuku masuk dengan langkah tergesa. "Waalaikumsalam." Ibu berjalan cepat menghampiri Ragil. Menggeser posisiku demi melihat dengan jelas keadaan cucunya. Ibu mengusap-usap kepala Ragil, penuh kelembutan. Di situ, air mataku kembali harus jatuh. Perasaanku sungguh sensitif hari ini. "Sakit apa, Kasep?" "Pusing, Ni. Dahinya panas. Tapi sekarang udah nggak," jawab Ragil. Dia terlalu kecil untuk tahu realita yang sebenarnya. Yoga sejak tadi terus memandangku. Bertanya lewat tatapan, namun aku memilih untuk menggelengkan kepala. "Bu?" Dia menegur Ibu. Mengajak Ibu bersalaman. Meski bukan lagi menantunya, Yoga masih bersikap sopan terhadap Ibu. "Eh, A Yoga. Sehat, A?" "Alhamdulillah. Ibu sehat?" "Sehat," jawab Ibu sambil tersenyum. "Ibu sama siapa ke sini?" Yoga kembali bertanya. "Sama Uwanya Rani." Aku buru-buru menyeka air mata. Lalu, mencium tangan Ibu dan memeluknya. Aku masih butuh penenang, setidaknya ada pelukan Ibu. "Kenapa nangis, Teh?" Aku menggeleng. Lalu mengurai pelukan. Terkekeh pelan sembari mengusap air mata lagi. "Uwanya ke mana, Bu?" tanyaku. "Lagi parkir mobil," jawab Ibu. "Ragil sakit apa kata dokter?" "Gejala typus, Bu." "Kasihan cucu Nini." Ibu kembali membungkukkan badannya. Menempelkan punggung tangannya di dahi Ragil. "Tapi demamnya udah turun." "Bu, titip Ragil sebentar. Saya mau ngobrol sama Rani." Aku menghela napas. Yoga pasti penasaran mengapa aku serapuh ini sekarang. "Sayang, Ayah keluar dulu ya sama Ibun. Agil sama Nini dulu." Yoga mengangguk. Yoga berjalan lebih dulu, sedangkan aku memilih menjadi ekornya. Yoga mengajakku ke kafetaria rumah sakit. Dia memberiku secangkir teh, dan dia memilih kopi. Karena aku lebih suka teh daripada kopi. Kuperhatikan uap yang mengepul di atas cangkir, kedua tangan dinginku melingkupi dinding cangkir untuk mendapatkan kehangatan. Yoga masih menyimak apa yang aku lakukan, sedangkan aku tidak berniat cerita. "Kamu nangis ke Ragil?" Setelah jeda yang cukup banyak, dia akhirnya bertanya. "Iya." Kujawab tanpa ragu. Yoga akan tahu jika aku berbohong. "Kenapa?" "Nggak papa. Cuma sedih lihat Ragil sakit." Aku berbohong kali ini. Dan alibiku sama sekali tidak diterima olehnya. "Nggak usah bohong sama aku." Aku melepas senyum, getir sekali rasanya. "Ran..." Dia menatapku dengan penuh keseriusan. Namun tidak ada genggaman tangan apa pun. Karena kami sama-sama menghargai keputusan yang sudah kami ambil. "Biarpun kita bukan suami istri lagi, kamu masih bisa cerita ke aku." "Tunanganmu bisa salah paham nanti," kekehku. Kemudian, menyesap teh sedikit. "Dia paham," jawabnya defensif. "Dia ngerti kalau aku punya kewajiban untuk selalu ada di samping Ragil." "Ya, hanya untuk Ragil. Bukan untukku." "Rani...." Yoga mulai terlihat frustasi. Dia memijat keningnya. "Stop menjadi egois." Aku tertegun. Selama ini mungkin aku memang terlalu egois. Hanya mementingkan perasaanku sendiri. Menarik napas dalam, kuputuskan untuk bercerita ke Yoga. "Sebelum kamu datang tadi, aku berniat buat pergi ke minimarket. Aku titip Ragil sama suster. Begitu keluar dari lift..." Aku tidak sanggup melanjutkan ucapan. "A-aku, aku papasan sama Gilang dan mamanya." Yoga terbatuk saat menyesap kopinya. Dia mengambil beberapa helai tisu yang tersedia di atas meja. "Terus?" tanya Yoga, penasaran. Aku mengangkat bahu. Karena memang tidak terjadi apa-apa. "Ngobrol basa-basi aja sama mamanya. Ya kamu pikir aja, tujuh tahun nggak ketemu bakalan secanggung apa?" Yoga mengangguk. Setelah terlihat tegang tadi, kini dia lebih rileks. Punggungnya bersandar di kursi. "Iya, aku sampai lupa wajah Gilang kalau nggak lihat versi mini dia." "Semirip itu, ya?" "Mirip." "Padahal aku yang ngandung dia, pas lahir nggak ada mirip-miripnya sama aku." Yoga ikut tersenyum. "Jadi kapan kamu mau kasih tahu dia?" Kali ini aku menggeleng. Berhadapan dengan dia lagi sama saja mencari derita baru dan membuka luka yang dulu. Berhadapan sama dia harus punya mental baja. Cibiran keluarganya sampai sekarang belum bisa aku hapus dari ingatan. "Aku belum sanggup, Ga. Dan mungkin nggak akan pernah sanggup buat berhadapan lagi sama keluarga mereka." Tertunduk. Aku sudah sangat hopeless. "Aku minta maaf." "Ngapain minta maaf?" Pandanganku kembali terangkat. Bertatapan dengan Yoga. "Dulu aku sembunyiin soal kehamilan kamu. Karena takut kamu semakin stress." Ya, Yoga membohongiku. Dokter bilang aku tidak hamil setelah melihat hasil USG yang dilakukan ketika aku pingsan. Aku percaya dengan hasil itu. Terlalu membahagiakan bagiku menerima kenyataan bahwa aku tidak harus menanggung akibat dari dosa yang kuperbuat. Nyatanya, itu semua bohong. Sebulan dari situ, aku mulai curiga karena periode menstruasiku tidak kunjung datang. Aku iseng beli testpack, hasilnya sanggup membuat duniaku yang sudah gelap bertambah gelap lagi. Aku marah sama Yoga saat itu, dia memanipulasi semuanya dengan alasan takut bahwa aku akan semakin stres. Pada akhirnya, aku kehilangan poros hidup. Aku berada di titik paling hampa. Tapi Yoga tidak meninggalkanku. Dia bersikeras akan menikahiku dan bertanggung jawab. Aku jelas menolak. Dia bukan ayahnya, seharusnya dia tidak pernah terlibat dengan keruwetan yang terjadi. Yoga tetap kekeh, dia berusaha meyakinkanku. Berbicara pada Ibu dan Ayah. Pada akhirnya aku menyerah, dan berusaha untuk hidup dengan dia. Dia menjadi ayah dari anakku, nama dia yang tertera di akta kelahiran Ragil. Walau ujung-ujungnya semuanya harus kembali kandas. "Aku juga minta maaf karena jadiin kamu cinta sesaat." Ya, polemik yang terjadi antara kami begitu rumit untuk dijabarkan. Intinya Yoga pun mencintai perempuan lain, cintanya padaku hanya sesaat. Hal itu menjadi awal perceraian kami. "Kamu pun tahu kalau aku nggak pernah bisa move on dari Gilang sepenuhnya." *** Selepas maghrib, aku meminta Ibu pulang ke rumah yang di Jakarta, bukan pulang ke Purwakarta. Biar aku yang jaga Ragil. Yoga juga bilang akan kembali ke rumah sakit setelah menemui tunangannya. Ragil sudah terlelap. Dia kembali ceria saat Yoga ada di sampingnya. Dia juga bercerita banyak ke Ibu apa saja yang terjadi dalam kesehariannya. Aku lega menyaksikan perkembangannya. Pintu ruangan diketuk dari luar. Aku melihat siluet seorang laki-laki di sana. Jantungku mulai berdebar tidak keruan. Itu bukan Yoga. Dia tidak mungkin mengetuk pintu lebih dulu. Perlahan, aku menempelkan tangan pada handle pintu. Lalu membukanya pelan sekali. Tubuhku mematung. Dokter Galih berdiri di balik pintu. Aku harus bagaimana sekarang? "Halo, Rani." Dia mengajakku bersalaman. "Hai, Dok." "Ternyata benar, kamu ada di rumah sakit ini." Aku mengerutkan dahi. Apa Gilang yang memberitahu dokter Galih tentang keberadaanku di sini. Ah, tidak mungkin. Aku yakin apa pun yang berhubungan denganku bukan lagi urusan dia. "Nana tadi telepon. Dia maksa saya buat nyari kamu di rumah sakit ini. Dia dengar kabar dari Mama kalau anak kamu sakit dan dirawat di sini. Makanya, saya tanya ke resepsionis tadi." Di akhir penjelasan, dokter Galih melontar senyum hangat. "Nana pasti senang. Udah lama banget dia pengin ketemu sama kamu." "Saya juga." Tidak bisa aku pungkiri, aku rindu masa kuliah. Aku rindu main-main sama Nana tanpa harus menjalani hidup yang sesulit ini. "Elea sama Naura sudah besar ya, Dok?" "Iya sudah. Elea sudah kelas 6, Naura masih kelas 2 SD." Aku mengangguk. "Sakit apa anaknya, Ran?" "Awalnya demam sama muntah, Dok. Setelah diperiksa, dokter bilang gejala typus." "Boleh saya bertemu?" Lulutku lemas. Tulang-tulang yang menopang dari kepala hingga ujung kaki rasanya rontok. Aku menguatkan hati, mungkin ini saatnya aku harus mulai terbuka. Kupersilakan dokter Galih bertemu dia Ragil. Dia terpaku dari jarak satu meter sebelum ranjang Ragil. Lalu menoleh padaku, aku hanya bisa membuang wajah. "Wajahnya mengingatkan saya sama seseorang." Itu kalimat pertama yang diucapkan ketika bertemu langsung dengan Ragil. Iya, memang. Wajah Ragil adalah duplikatnya orang yang sangat dia kenal. "Namanya siapa?" "Ragil, Dok." "Berapa tahun usianya?" "Enam tahun." Dokter Galih mengecek botol infus. Mengecek dahi Ragil. Membenahi selimutnya yang sedikit agak turun. Setelah memastikan semuanya aman, dia berbalik badan. Menghampiriku tanpa berkata apa pun. "Dok..." Napasku tercekat. Aku tidak sanggup, Tuhan. "Anak Gilang kan?" Menggigit bibir bawah cukup kuat, bola mataku mengabur ke segala arah untuk menahan rasa sesak yang semakin mencengkram hati dengan kuat. Aku tidak kaget kalau dokter Galih akan langsung mengenalinya. Lalu, yang bisa aku lakukan untuk menjawab pertanyaan dia adalah sebuah anggukan kepala. Aku mendengar dokter Galih menghela napas. "Saya tidak punya kapasitas apa pun, Ran. Saat saya diminta Nana buat nyari kamu di rumah sakit ini, saya betul-betul tidak punya pikiran kalau Ragil itu anak Gilang." Dia menjeda ucapannya. Lalu melanjutkan, "Ragil adalah Gilang waktu kecil. Persis banget." "Saya juga nggak tahu kalau mereka bakal semirip itu, Dok." "Beritahu Gilang, Rani. Dia berhak tahu." Aku tidak bisa menjawab apa pun untuk sekarang. Melihat aksi diamku. Dokter Galih mengambil ponsel. Jantungku semakin berdentam keras, hampir meledak. Aku takut dia betul-betul memberitahu Gilang. "Dok..." "Pinjam tangan kamu." Refleks aku mengembuskan napas lega. "Pinjam tangan kamu sebentar." Lagi, dia meminta untuk kedua kalinya. Ragu-ragu aku mengulurkan tangan kanan padanya. Dokter Galih mengambil bolpoint yang ada di saku jas dokternya. Dia mencatat dua belas nomor handphone di tanganku. "Itu nomor Gilang." Dokter Galih pergi. Meninggalkanku sendiri dalam kebimbangan. Aku masih terpaku, menatap sederet nomor telepon yang tertera pada telapak tangan. Tenang Rani. Berpikir jernih. Sialnya dalam situasi genting seperti ini aku tidak bisa berpikir. Dengan langkah terseok, aku menyeret kursi dan duduk di dekat ranjang Ragil. Aku mulai membuka ponsel. Haruskah sekarang waktunya? Penuh keraguan, aku mengetikkan satu persatu nomor Gilang di handphone. Untuk beberapa saat hanya mampu kupandangi saja. Lalu, aku melirik Ragil. Haruskah aku menghubungi ayah kandungnya? Masih dengan tangan yang bergetar, aku mendial nomor Gilang. Berdering. Napasku tersenggal saking kencangnya debar jantung. Aku tidak bisa menghentikan kecepatan detaknya. "Halo?" Aku langsung menutup sambungan begitu Gilang menjawabnya. Tidak. Aku tidak akan pernah sanggup. Sekali lagi. Sekali lagi aku menghubungi dia. "Halo, siapa ini?" Aku membisu. "Halo, ada orang di sana? Saya sibuk. Kerjaan masih belum ber..." "Ini Rani." Aku memotong ucapannya. Tidak ada respons lagi dari Gilang, namun panggilannya masih belum dia akhiri. Aku menunggu. "Sori ... siapa?" Setelah terjadi aksi diam antara aku dan Gilang, dia kembali bertanya. "Rani," kataku. Lalu, mengoreksinya. "Aku Agrania." "Oh ... hai? Apa kabar? Kok tahu nomorku?" Aku berusaha keras untuk menenangkan hati yang terus berdesir kuat. Aku bisa. Aku pasti bisa. "Dokter Galih yang kasih." "Oh, iya. Ketemu sama kakakku ya di rumah sakit," katanya. Perasaan dari tadi dia menjawab telepon dengan santai. Sama sekali tidak terkesan canggung. "Hmm, ada yang bisa kubantu?" "Ada waktu buat ketemu?" Aku bertanya pelan-pelan sekali. Lalu, kembali ada jeda. Entah untuk sekian detik. "Boleh. Kapan?" "Terserah kamu bisanya kapan. Aku menyesuaikan. Tapi di dekat rumah sakit, anakku masih sakit." "Besok boleh. Kalau lusa aku ada meeting." "Iya, boleh." Ini akan menjadi awal yang baru lagi bagiku. Kembali harus terlibat dengan masa lalu tidak pernah membuatku baik-baik saja. "Oke. Um, Ran..." "Ya?" "Long time no see." "Sori, anakku rewel. Aku tutup teleponnya." Aku tidak ingin ada percakapan yang terlalu jauh. It's over. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD