9. Gilang

2097 Words
GILANG PRAMUDYA WIJAYA Gue benci ada dalam situasi seperti ini. Gue terpaksa duduk berdua di sebuah kafe bergaya vintage yang cukup ramai pengunjung, saling berhadapan sama cewek yang belum gue kenal. Cewek ini namanya Isyani atau Isyana. Halah, gue lupa nama aslinya yang jelas dia dipanggil Icha. Anak bungsu dari teman bokap katanya. Profesi penyanyi, body aduhai, kaki semampai, wajah kinclong, rambut lebat panjang. Tapi, dia nggak menarik di mata gue. Canggung sudah pasti. Gue sendiri gak punya niat buat memulai obrolan. Terlanjur malas. Gue cuma diam memperhatikannya yang tampak tersenyum malu-malu. "Jadi, Mas Gilang kenapa belum nikah?" Plis, gue paling geli disebut 'mas' kecuali sama dua orang yang gue kenal. Pertama Mbak Susi, asisten rumah tangga di rumah. Kedua, ibunya Nana. "Belum pengin aja," jawab gue cuek. "Kalau aku malah mau nikah muda, Mas. Cuma belum nemu yang cocok sama aku sama cocok buat keluargaku." Dia senyum malu-malu lagi. Dan gue gak pernah nanya. Gak peduli juga. Gue ogah kenalan sama cewek karena dijodoh-jodohkan seperti ini. Nyokap terlalu takut gue gak laku, padahal antrean panjang. Cuma gue aja yang belum mampu buka hati lagi. "Aku doain biar cepet dapat yang cocok ya, biar kamu cepet nikah." Dia tercengang, matanya sampai membeliak, menatap gue heran. Gue mengedikkan bahumenilik jam tangan di pergelangan kiri. Jam 12.50 WIB, gue mending bolos ke kantor dan pergi menemui Ragil. Baru dua hari gak ketemu rasanya udah kayak setahun. Minggu, Ragil jalan cuma sama Yoga sementara Rani tidak diajak. Ini bikin gue curiga kalau rumah tangga mereka lagi dirundung prahara. Senin, gue sibuk di kantor. Gue kangen wajah antusias Ragil setiap kali berbicara. Matanya yang hitam bundar selalu menularkan semangat ke gue. Gue mengeluarkan beberapa lembar uang nominal seratus ribu untuk membayar bill. "Aku lagi sibuk. Kamu bisa pulang sendiri kan?" Tanpa menunggu jawaban Icha, gue beranjak dan melangkah lebar keluar dari kafe. Dalam perjalanan menuju mobil, salah seorang karyawan yang gue suruh untuk mengikuti Yoga selama beberapa hari ini menelepon. Gue masuk ke mobil sebelum menerima telepon dari orang suruhan gue. "Halo?" "Halo, Pak Gilang." "Iya. Kenapa? Sudah dapat informasi?" "Sudah. Saya tadi ke kantor Bapak cuma kata Manda, Bapak lagi keluar." "Ngomong di sini aja, saya mungkin telat ke kantor lagi. Tapi kamu pastikan kamu sedang di tempat sepi dan nggak ada yang dengar kamu ngomong." Gue menyuruh dia mengikuti Yoga karena sepertinya Yoga tahu malam itu gue mengikuti mobilnya di belakang, makanya dia ngebut. "Saya di gudang, Pak. Aman kok." "Baik. Apa yang kamu dapat?" "Yoga bekerja di salah satu penerbit, Pak." "Ya, saya tahu." "Dia punya pacar namanya Eriska." "What the hell? Kamu bilang apa?" Awalnya gue kira salah dengar, makanya gue ulang pertanyaan. Memastikan kali ini telinga gue berfungsi dengan baik. "Pacar, Pak. Bahkan info yang saya dapat, mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah." Gue menonjok setir mobil tidak peduli tangan gue yang justru merasakan ngilu. Gue longgarkan dasi yang terasa mencekik, udara yang gue hirup sepertinya menipis. Yoga, b*****t! Lelucon macam apa ini? Gue menggeram, rahang gue spontan mengetat menahan amarah yang tiba-tiba naik. Gue yakin muka gue sudah sangat merah karena emosi yang tidak bisa gue tahan. Yang gue inginkan kali ini menemui Yoga dan nonjok wajahnya sampai babak belur, tapi jangan sampai mati. Kalau gue di penjara, waktu gue sama Ragil semakin berkurang. "Yoga sudah punya istri, kamu sudah cari tahu?" "Istri, Pak?" "Iya, istri..." "Mas Gilang!" Oh, s**t! Kenapa perempuan ini harus mengikuti gue. Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil gue. "Saya tutup dulu, nanti kita ngobrol lagi. Yang penting saya sudah tahu kalau Yoga selingkuh." "Baik, Pak." "Terima kasih banyak." "Sama-sama, Pak." Gue mematikan sambungan, dan menyimpan ponsel di saku kemeja navy yang gue kenakan. Lantas terpaksa harus menginjakkan kaki keluar mobil lagi. "Apalagi?" "Anterin aku ke lokasi manggung dong. Aku udah terlambat nih, Mas." Wow! Gue tercengang. Ternyata di balik wajah cantiknya, dia juga centil. "Aku pesenin ojol mau gak? Lebih praktis." Gue bersiap mengambil ponsel namun Icha menahan tangan gue. "Jangan, Mas." Gue buru-buru melepaskan tangan dari cekalannya. Gue tidak suka cewek yang terlalu agresif. Itu sebabnya gue suka Rani dulu, karena dia cuek dan tidak agresif ke cowok yang baru dikenalnya. "Kamu punya supir dan asisten kan? Telepon mereka suruh jemput. Saya punya urusan yang lebih penting." Gue akhiri obrolan itu dan kembali masuk mobil. Menyalakan mesin, dan menginjak gas tanpa peduli dengan perempuan itu lagi. Sebelum ke rumah Rani, gue mampir ke mal terdekat. Belanja makanan ringan, s**u, roti dan semua makanan yang sekiranya disukai oleh Ragil. Gue mampir ke toko mainan anak. Seharusnya anak seusia Ragil gak butuh mainan, tapi karena gue melewatkan pertumbuhan dia di masa balita, makanya gue beli mainan. Gue juga mampir ke toko buku buat beli buku cerita anak. Dan terakhir, gue mampir ke toko pakaian anak. Gue pilih tiga setel baju dan sepasang sepatu. Mudah-mudahan anaknya suka. Sip. Seorang Gilang mau susah payah bawa satu kantong kresek besar dan dua paper bag besar demi menjadi ayah yang baik. Semua belanjaan yang bikin tangan gue kebas ini, gue taruh di jok belakang. Gue ambil minuman dulu dari kresek makanan sebelum masuk mobil. Tenggorokan gue kering banget, gue teguk minuman itu. Baiklah, sekarang gue siap meluncur buat ketemu Ragil. Sampai di depan rumah Rani, gue lihat Rani sedang melayani pelanggan. Dari sini terlihat jelas wajah lelahnya. Apa nafkah dari Yoga kurang sampai dia harus buka usaha begini? Mengingat Yoga, gue harus buktikan kalau Yoga selingkuh. Sebelum turun, gue melepas dasi yang masih terasa mencekik. Gue taruh begitu saja di atas dasbor dan turun dari mobil. Membuka pintu belakang, dan membawa semua belanjaan gue. Gue menghampiri Rani, dia sedang memperhatikan barang belanjaan yang gue bawa. Namun sama sekali tidak bertanya. "Sibuk?" tanya gue. "Lumayan," jawabnya singkat. "Mau kubantu?" Kalau dia jawab iya, gue siap melipat tangan kemeja sampai siku dan melihat celana sebatas lutut. "Nggak perlu. Bentar lagi selesai." "Oke." Gue malas berdebat dengan dia. Balik lagi ke tujuan awal gue ke sini, untuk bertemu Ragil. "Kamu habis ngerampok supermarket?" Gue mengulum senyum karena pertanyaannya. Pertanyaan itu persis selalu dia ucapkan dulu, saat gue sering melakukan hal yang sama untuk dia. Tapi dulu, sebelum negara api menyerang. "Ragil ada?" "Ada di dalam." "Aku temenin dia boleh?" Dia mengangguk. "Nggak kerja?" "Sekarang, main sama anak rasanya lebih menyenangkan daripada harus membaca setumpuk berkas." Gue nyengir, dan Rani cuma mengernyitkan alisnya. Masih dengan tangan gue yang penuh belanjaan, gue berjalan menuju pintu rumah yang tertutup. Gue taruh salah satu belanjaan di lantai demi bisa mengetuk pintu. Butuh beberapa kali ketukan sampai pintu terbuka dan menampilkan wajah anak kecil yang gue rindukan. "Hai?" Gue menunduk demi bisa sejajar dengan wajahnya. "Om Yayang." "Boleh Om masuk?" "Udah izin sama Ibun? Soalnya Ibun bilang kalau bukan Ayah yang datang nggak boleh masuk. Harus izin Ibun dulu." Gue tertegun sekejap. "Om udah izin kok sama Ibun. Coba tanya aja Ibunnya." "Kata Ibun boleh masuk?" "Boleh dong." "Ya udah." Dia membuka pintu lebar, dan meninggalkan gue begitu saja. Oh, my boy! Kamu tahu keinginanku saat ini, Nak. Memelukmu erat sambil bilang kalau aku ini ayahmu yang sebenarnya. Tapi, gue gak boleh egois seperti itu. Anak sekecil ini belum mengerti permasalahan yang menjerat orang tua. Gue menyimpan belanjaan di sofa. Di atas meja, gue melihat kertas sketsa pemandangan dan krayon yang berantakan. "Agil lagi ngapain?" "Mewarnai," jawabnya. Mata bundarnya fokus ke belanjaan. "Om bawa apa?" "Oh ini." Gue membuka paper bag berisi pakaiannya lebih dulu. "Nih, baju buat Agil. Suka nggak?" "Wah, gambar Kapten Amerika!" soraknya. "Suka, Om." Dia tersenyum. Senyumnya nular ke gue. "Sepatunya bagus," katanya setelah gue membuka kotak sepatu. "Iya, ini buat Agil." Gue mengusap kepalanya, dia masih memandang gue polos seakan tidak percaya kalau gue emang sengaja beli buat dia. "Ini juga ada mainan lagi buat Agil." "Mainan lagi?" Matanya langsung berbinar. Dia menggeletakkan paper bag pertama di meja. Lanjut membuka paper bag kedua. Sepertinya mainan lebih menarik perhatiannya. "Om juga beli buku cerita, sama makanan banyak nih. Om beli s**u kotak, tapi karena nggak tahu Agil suka rasa apa jadi Om borong semua susunya." "Hore!" Dia bersorak jingkrak-jingkrak. Melihat dia seperti ini saja sudah bikin gue senang. "Makasih, Om Yayang." "Sama-sama. Boleh Om peluk Agil?" Gue merentangkan tangan. Berharap dia tidak menolak. Dia menatap gue malu-malu, tapi perlahan mendekat. Detik berikutnya gue merasa tangan-tangan kecilnya bergerak melingkari pinggang. Gue tidak menyia-nyiakan kesempatan buat meraih dia ke pelukan gue. Oh, God. Jantung gue meleleh. Setelah momen yang bikin haru sampai mata gue panas nahan air mata. Gue menemani Ragil mewarnai. Katanya ada tugas mewarnai dari sekolah, karena ibunnya masih sibuk jadi Ragil berusaha mewarnai sendiri. Tapi sekarang ada gue yang membantu dia. Dia duduk di pangkuan gue. Tangannya bergerak aktif mengoleskan krayon warna hijau pada gambar sawah. "Kalau ini warna apa, Om?" Dia menunjuk batang pohon. "Ini batang pohon. Warnanya cokelat," jawab gue. "Coba cari warna cokelat yang mana?" "Ini." Dia mengacungkan krayon cokelat ke udara. "Pinter." Semoga karakter buruk gue tidak menurun ke dia. Cukup wajahnya saja. Untuk sifat lebih baik mirip Rani, kecuali keras kepalanya. "Gil, Om mau tanya boleh?" "Tanya apa, Om?" "Ayahnya Agil kalau pulang suka malem, ya?" "Ayah Agil nggak pulang-pulang, Om." Gue bengong. Kecurigaan gue sepertinya benar. "Kok nggak pulang-pulang?" "Ibun bilang Ayah punya rumah baru. Kalau rumahnya nggak dipake tidur nanti rumahnya kemalingan sama ada setannya." "Ibun bilang gitu?" "Iya. Kata Ibun, biarpun Ayah nggak bisa tidur sama Agil tapi Agil masih bisa kok main sama Ayah." Rani...! Apa yang sebenarnya dia tutupi dari gue? Kenapa dia selalu memberikan teka-teki yang harus gue pecahkan daripada langsung jujur. Yoga tidak tinggal di sini, Yoga juga punya pacar. Jadi selama ini apa statusnya dengan Rani? Rani masuk rumah saat otak gue panas dan sibuk menerka-nerka statusnya dengan Yoga. Gue menatapnya tajam, dan dia membalas dengan kerutan dahi. Dia berjongkok di depan Ragil yang masih asyik mewarnai. "Agil, bobo siang dulu." "Bentar lagi, Bun." "Belum selesai PRnya?" "Dikit lagi." "Kalau udah beres, tidur ya?" "Siap, Ibun." Mata gue gak teralihkan sedetik pun dari dia. Otak gue memaksa gue buat nanya langsung soal Yoga. Tapi gue menahan diri. Dia melirik gue sebelum berdiri. "Ran?" cegah gue saat dia hampir beranjak dari ruang tamu. "Hm?" Dia menoleh. Kalau gue bahas Yoga momennya nggak pas. Ada Ragil, dan mungkin Rani akan mengusir gue lagi. Baiklah, gue harus lebih sabar dan nahan diri biarpun gue penasaran. "Belanjaan," tunjuk gue. Meringis pelan. Masih saja gue kaku berhadapan sama dia. "Makanan ringan, roti, s**u, buah, sayur." "Buat siapa?" tanyanya. "Buat kebutuhan sehari-hari. Ragil masih suka minum s**u kan?" Dia mengangguk. "Berhubung aku nggak tahu rasa apa yang dia sukai jadi aku beli banyak varian rasa." Dia mengitari sofa, dan melihat isi belanjaan. "Ini kebanyakan. Ragil suka yang cokelat sama coconut." "Ya udah, sisanya buat kamu." Gue coba menarik ujung bibir kiri dan kanan membentuk lengkung senyum. Dia tetap diam menatap gue sebelum mengerjapkan matanya. "Aku bawa ke dapur kalau gitu." Rani mengangkat belanjaan itu ke dapur. Sekitar dua jam gue main sama Ragil. Gue memutuskan buat balik ke kantor karena Ragil pun tidur. Gue gak mungkin tetap di sana kalau situasinya cuma berduaan sama Rani. Jadi gue balik kantor, tapi gue janji malamnya gue bakal mampir lagi ke sini. *** "b******n!" Darah gue mendidih ketika melihat foto-foto mesra Yoga dan perempuan lain. Gue mengepalkan kedua tangan kuat, gue pastikan kali ini Yoga gak akan lolos. Beranjak dari posisi duduk. Gue harus membawa amplop cokelat berisi foto-foto perselingkuhan Yoga ke Rani. Biar dia tahu kelakuan binatang suaminya. Gue bertolak ke rumah Rani, gak bisa ngebut karena jalanan lagi penuh sama kendaraan baik roda empat ataupun roda dua. Gue menekan klakson dangan tidak sabaran. Sialan! Gue lagi buru-buru, woi! Dan mobil gue beneran tidak bisa bergerak. Gue pukul stir mobil kencang sampai klaksonnya bunyi. Tidak peduli orang-orang yang memaki di luar sana. Gue mengusap wajah sambil mengerang frustasi. Gue berusaha menetralkan emosi gue, mengatur napas sebaik mungkin. Kendaraan di depan gue sudah mulai bergerak lambat, gue terpaksa mengikuti ritme laju kendaraan mereka. Sampai di tempat tujuan. Ternyata sudah ada mobil Yoga. Biar sekalian gue buka topengnya di depan Rani, dan berharap anak gue udah tidur biar dia gak perlu dengar apa pun. Gue melangkah lebar, mengetuk pintu dengan tidak sabar. Lalu, Rani membukanya. "Mana Yoga?" "Kenapa nyari Yoga?" Gue benci kalau dia sudah balik bertanya, apalagi di saat gue emosi. "Mana suami kamu?!" "Kenapa?" Yoga muncul di belakang Rani denga raut wajah santainya. b******n ini! Aku menerobos masuk dan langsung menarik ke atas kerah kemeja Yoga. "Berengsek o!" Gue berhasil melayangkan satu buah pukulan. "LANG...!" Rani menghentak tubuh gue menjauh dari Yoga. Dia menatap gue nyalang, gue melihat kilatan amarah dari sorot matanya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD