Chalya Agrania
Aku pernah ada di masa menggebu-gebu untuk mengejar sesuatu yang aku inginkan. Optimis akan segala hal yang bisa kukejar tidak peduli dengan tatapan meremehkan dari orang-orang sekelilingku. Tapi kemudian, impian itu tidak pernah menjadi nyata. Hanya sebatas angan yang lambat laun menghilang. Rasa optimisku pun pelan-pelan mengabur dan terkubur.
Aku seperti hidup tapi mati. Sama sekali tidak memiliki upaya untuk mengeluarkan diri dari jeratan rasa takut. Takut untuk melangkah, takut untuk memulai, takut untuk memercayai orang lain. Takut semua itu hanya akan menjadikanku lebih kecewa lagi.
Memutar balik waktu tidak akan mampu aku lakukan. Jika memang bisa, aku ingin mengubah sedikit alur cerita hidupku. Memilih untuk tidak mengenal Gilang daripada membiarkan hatiku untuk jatuh cinta padanya. Kupikir, setelah lepas darinya semua akan kembali normal. Memang normal, sebelum dia kembali dan merusak semuanya.
Gilang adalah orang yang membantuku untuk move on dari Beni, kekasihku yang selingkuh. Risiko dari bantuannya itu adalah jatuh cinta pada orang yang membantu. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta sampai kemudian kami memutuskan menjalin suatu hubungan yang sayangnya tidak pernah direstui.
Papanya tidak punya empati. Tidak pernah setuju dengan hubungan yang kami jalani. Katanya terlalu dongeng untuk Upik Abu sepertiku masuk ke istana pangeran. Terlalu dongeng jika anak di luar nikah menjadi jodoh anak-anaknya. Itu sebabnya, aku memilih melepaskan Gilang.
Lalu kemudian, alurnya kembali berubah setelah dua tahun jalinan asmara kami selesai. Dia datang lagi dan memintaku kembali, rupanya hatinya telah terbagi. Lalu untuk apa dia menampakkan diri padaku lagi?
Puncaknya ketika otak bodohku terbawa oleh arus permainan yang dibawa olehnya, terlena akan jeratan rindu yang perlu dituntaskan. Dan aku yang bodoh ini menyerahkan semuanya, hatiku juga ragaku. Dari situlah, tahun-tahun kesedihan selalu aku rayakan setiap tahun.
Sudah cukup.
Mengenang masa lalu tidak akan pernah ada habisnya.
Setiap hari aku akan menjadi orang yang super sibuk. Selepas subuh, aku akan langsung menyapu dan mengepel lantai, membangunkan Ragil untuk sekolah, membuatkan sarapan untuknya, mengantarkan dia ke sekolah, mencuci pakaian sendiri lalu mencuci pakaian orang lain. Seperti yang aku bilang, aku membuka usaha laundry karena di daerah sini dekat dengan kampus dan kos-kosan mahasiswa. Lumayan banyak mahasiswa yang lebih memilih jasa laundry daripada mencuci baju sendiri.
Aku memulai usaha ini selepas perceraianku dengan Yoga. Mengubah garasi mobil menjadi tempat laundry dengan dua mesin cuci dan lemari kaca berukuran besar untuk menyimpan pakaian yang sudah bersih dan rapi.
"Kak, mau ambil baju dong!"
Seorang pelanggan datang ketika aku sedang menyetrika. Dia salah satu mahasiswa yang paling sering menggunakan jasa laundry-ku, namanya saja sampai kuhafal."
"Mega ya?"
Aku menunda kegiatan setrikaku untuk mencari pakaian Mega. Pakaian-pakaian yang sudah rapi dan bersih ini tidak langsung disimpan di lemari, ketika sudah disetrika pakaian-pakaian ini dimasukkan ke dalam plastik sesuai dengan nama pemiliknya, setelah itu disimpan di lemari.
"Ini." Aku menyerahkan pakaiannya.
Mega melihat nominal harga yang harus dibayar, lalu merogoh saku celana bagian belakang. Satu lembar uang nominal seratus ribu dia serahkan padaku.
"Bentar ya, aku ambil kembaliannya."
"Kak, tiga hari kemarin ke mana? Kok tutup? Padahal aku mau laundry lagi."
"Anakku sakit, harus dirawat di rumah sakit. Terus libur beberapa hari dulu buat nemenin dia sampai benar-benar sembuh."
"Sekarang udah sembuh?"
"Alhamdulillah. Ini kembaliannya, makasih ya."
"Sip, Kak. Nanti sore aku anterin laudry-annya lagi."
"Oke."
Bertepatan dengan Mega yang baru saja keluar dari pagar rumah, sebuah mobil putih berhenti di depan. Aku mengernyit, menajamkan pandangan. Itu bukan mobil Yoga, bukan juga mobil Gilang. Ini hari Senin, baik Yoga ataupun Gilang pasti masih di kantor. Rasa penasaran membuatku beranjak dan memangkas jarak supaya lebih jelas.
Begitu pintu mobil bagian belakang terbuka, seorang perempuan turun bersama dua orang anak kecil. Mataku sontak melotot begitu menyadari siapa yang baru keluar dari mobil mewah itu.
"Raniii...!"
Suara teriakannya sangat aku rindukan. Dia Nana, sahabatku. Aku lantas mencabut kabel setrika, meninggalkan pekerjaanku, dan berjalan cepat untuk menghampirinya.
"Kangen banget!" Nana berhambur ke pelukanku. Anak-anaknya sampai menatap keheranan.
Aku membalas pelukannya.
"Kok lo semok sih sekarang, Na?" kekehku. Badan Nana memang lebih berisi sekarang, berbeda ketika masih gadis dulu.
"Anak gue udah dua jadi nggak bisa lagi badannya sekecil dulu." Nana mengurai pelukan, tangannya memukul pelan bahuku dengan wajah masam. "Sumpah lo orang paling jahat yang pernah gue kenal! Lo ke mana aja selama ini?"
"Gue ada kok." Aku melontar ceringan yang membuat wajah Nana semakin kecut.
"Tapi lo block komunikasi sama gue. Kebangetan lo emang!" Nana mendelik sebal.
"Sori..." Aku meringis.
Kalau aku tidak blok komunikasi dengannya, mungkin saja Nana akan tahu kalau aku hamil anak Gilang waktu itu. Aku mengundangnya saat menikah dengan Yoga, namun dia tidak bisa hadir pasca-melahirkan.
Ah, sahabatku.
Senyum di bibirku tidak pernah surut. Aku kembali memeluk Nana, erat. Menumpahkan rasa rindu yang sudah lama terpendam. Dulu, kami adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada Nana di situ pasti ada aku. Kami saling curhat tentang apa pun yang membuat hati resah. Namun semua berbeda, saat Nana memutuskan untuk menikah sebelum lulus kuliah. Komunikasi kami tetap lancar, namun aku dan Nana tidak bisa nongkrong lagi setelah pulang kuliah.
Kangen masa-masa duniaku masih sedikit berwarna.
"Kok lo nangis sih?"
Aku memalingkan wajah. "Cengeng salah satu sifat gue sekarang."
Nana terdiam menatapku. Lalu kedua tangannya terangkat membingkai wajah, dia menghapus air mata yang jatuh di pipiku.
"Mana Ragil? Katanya dia sakit."
Dia tahu tentang Ragil, dia tahu alamat rumahku. Jadi jawabannya sudah jelas, Gilang sudah menceritakan semuanya ke Nana.
"Ada di dalam. Udah sembuh kok sekarang."
"Sori banget, baru sempat nengok sekarang."
"Nggak papa," kataku. Mengusap lengannya.
Lalu kepalaku menunduk. Melihat dua putri Nana yang sudah besar. Tersenyum hangat pada mereka berdua yang menatapku asing.
"Kakak El, Dek Nau, kenalin ini Tante Rani. Sahabat Mama. Ayo salim, Nak."
"Halo!" Aku menyapa lengkap dengan senyum terbaikku.
Elea dan Naura mencium punggung tanganku secara bergantian.
"Nau ini mukanya Nana banget. Tapi bongsor." Aku mengusap pipi Naura sebelum kembali berdiri tegap.
"Iya. Tinggi badan kakaknya aja hampir kesusul."
Aku terkekeh memperhatikan dua putri Nana. Untuk postur badan, Elea lebih mengikuti Nana yang kecil dan pendek. Sementara Naura, lebih bongsor dari kakaknya.
"Ayo, masuk!"
Aku berjalan lebih dulu, Nana mengikuti dari belakang sambil menuntun kedua putrinya. Begitu aku membuka pintu rumah lebar, Ragil cukup terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Mata bulatnya mengerjap saat sadar ada orang lain yang mengikutiku di belakang.
"Ibun..." Dia berlari ke arahku dan meninggalkan lego pemberian Gilang. Tangan mungilnya melingari pahaku. "Siapa itu, Bun?" tanyanya, mengintip Nana dan dua anaknya. Usia Naura kalau tidak salah hanya berbeda setahun dengan Ragil.
"Ini Tante Nana, Sayang. Teman Ibun. Yuk, salim dulu. Masa ngumpet gini."
"Halo, Ganteng."
Ragil masih mengintip, dia menggeleng malu ketika aku berusaha melepaskan tangannya yang memeluk pahaku erat. Tidak biasanya dia malu-malu seperti ini.
Nana membungkuk, berusaha membujuk Ragil yang merajuk. "Tante bawa camilan banyak banget. Ada buah-buahan, ada chips, ada kue juga. Kak El sama Kak Nau juga bawa kado nih buat Agil."
"Kok Adek dipanggil kakak, Ma?" tanya Naura.
"Kan Ragil ini adiknya kalian, jadi panggilnya kakak," jawab Nana. "Ini, mau nggak? Tante ke sini cuma mau main sama Agil kok. Yuk, main sama Kakak El dan Kakak Nau."
Pelan-pelan Ragil mulai tergiur karena Elea dan Naura mengasongkan sebuah kado. Dia menatap kedua kado tersebut dengan wajah penasaran. Lalu mendongak padaku.
"Ajak Kakak-kakaknya main lego," kataku mengusap pipinya.
"Ini buat Agil. Mama bilang Agil itu sepupu kita jadi harus dikasih hadiah sama diajak main," kata Elea lengkap dengan senyum tulusnya.
Perlahan tangan kanan Ragil terulur, ujung-ujung jarinya bergerak kemudian mengambil kado dari Elea dan Naura.
"Boleh nggak kita main sama Agil?" Elea bertanya, dan langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh putraku.
Aku tersenyum bangga melihat interaksi ketiga bocah ini. Nana mendidik anak-anaknya dengan baik. Keduanya langsung menerima Ragil tanpa berkomentar apa pun. Lalu putraku, dia mengajak Elea dan Naura untuk bermain lego di atas meja ruang tamu.
Sore ini, rumah memiliki nuansa yang berbeda dari sore-sore sebelumnya.
"Mau minum apa, Na?"
"Air putih ajalah, Ran. Nggak usah repot-repot," katanya. Lalu, duduk di single sofa. "Ini gue juga bawa brownis. Tapi gue belum sempat potong-potong."
"Nggak repot kok. Ya udah gue ambil piring sama pisau sekalian."
Nana mengacungkan jempolnya. Aku beranjak ke dapur untuk mengambil piring dan pisau yang diperlukan juga menuangkan air putih ke dalam empat gelas. Agar lebih mudah aku menaruh piring dan gelas air mineral itu di atas nampan sebelum kembali ke ruanh tamu.
"Gilang semua mukanya. Kok bisa sih, Ran? Lo kayaknya cinta banget sama Gilang."
"Ngaco." Aku menyangkal. Menyimpan nampan di atas meja. Kemudian duduk di bagian sofa lain di samping Nana. Aku turut memperhatikan Elea dan Naura yang berusaha mengakrabkan diri dengan Ragil.
"Allah itu adil ya, Na. Dulu, gue nggak akan pernah kasih tahu Gilang. Tapi ternyata anaknya pengin diakui sama ayahnya, Na. Coba kalau wajahnya mirip gue, gue gak yakin Gilang langsung percaya."
Nana mengulas senyum. Tangannya terulur mengusap-usap punggung tanganku.
"Banyak banget kejutan selama lo menghilang, Ran." Dia memulai cerita. Padahal aku sudah tutup buku tentang apa pun yang terjadi dalam keluarga Gilang. Itu bukan lagi urusanku. Namun, Nana sahabatku. Tidak mungkin aku mengabaikan dia begitu saja.
"Hubungan Gilang dan papanya nggak bisa dianggap baik biarpun Gilang bersedia nerusin tongkat estafet Papa untuk memegang perusahaan. Papa mertua terkena stroke, selama dua tahun cuma bisa berbaring di atas tempat tidur."
"Sekarang udah sembuh?" tanyaku. Seperti papanya yang tidak memiliki nurani, rasa hormatku terhadapnya sudah tidak tersisa lagi. Aku tidak peduli keadaannya sekarang, namun aku harus tetap menjadi lawan bicara yang responsif di depan Nana.
Nana tidak langsung menjawab. Dia menyusupkan tangannya pada ruas jari-jariku.
"Papa mertua udah nggak ada, Ran."
"Innalillahi..."
Terhenyak. Tujuh tahun ini, aku mati-matian menahan diri untuk tidak mencari apa pun berita tentang keluarga Gilang. Tidak pernah mengaktifkan media sosial selain w******p. Aku tidak ingin menambah sakit hati lagi.
Tapi sekarang aku terkejut dengan berita yang Nana sampaikan. Sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Gilang nggak berhenti nangis di pusara Papa. Dia terus minta maaf karena di masa-masa terakhir Papa dia sering kali abai, Gilang masih menyalahkan Papa mertua yang udah kasar sama lo." Nana mengeratkan genggamannya, sementara aku hanya mampu mengerjap. Aku tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa.
"Mama mertua juga sekarang udah nggak sesehat dulu. Lo juga ketemu sama Mama di rumah sakit kan?"
Aku mengangguk kecil.
Nana beralih menatap anak-anak yang sedang asyik dengan dunia mereka.
"Gilang belum berani ngasih tahu Mama tentang Ragil. Dia takut Mama kolaps lagi kalau dengar berita mengejutkan."
"Awalnya, gue juga nggak berniat nyari dan ngasih tahu Gilang. Karena bagi gue Ragil udah cukup dapat figur ayah dari Yoga."
"Itu jahat, Ran."
Aku membuang napas. Makanya aku tidak ingin dicap sebagai ibu yang jahat karena memisahkan Ragil dengan ayah kandungnya.
"Sejak kejadian tujuh tahun lalu, Gilang hampir tidak pernah mengenalkan pacarnya ke Mama. Mama sampai berusaha jodoh-jodohin dia ke anak temennya."
Aku tidak paham mengapa darahku berdesir mengetahui fakta itu. Pernyataan Nana seperti sebuah konfirmasi dari ucapan Yoga beberapa waktu lalu. Tapi, percuma. Aku tidak mau berharap apa pun. Cukup Gilang menerima keberadaan Ragil sebagai anaknya saja.
"Lo sama Yoga gimana?"
Haruskah aku memberitahu Nana tentang statusku?
"Gue..."
"Mama...!"
Ucapanku terputus begitu jeritan Naura melengking kencang. Anak itu memeluk Nana sambil menangis.
"Kenapa, Nak?"
"Ragil pukul aku, Ma."
Ya ampun! Aku buru-buru menghampiri Ragil yang menundukkan kepalanya.
"Agil, kenapa kakaknya dipukul?" Aku merangkum wajahnya, memintanya untuk menatapku.
"Ibuuunnn! Naura rusakin legonya!"
Oh, putraku.
"Nggak sengaja!" Naura menyahut lantang.
Rumah jadi rame karena tangisan Naura.
"Pasangnya susah. Om Yayang aja sampai malem pasang itu tapi malah kamu rusakin."
Aku meringis sambil menepuk dahi. Menatap lekat Ragil yang menampilkan wajah takut dan tatapan sayunya. Aku mengusap dahinya yang berkeringat.
"Kita susun lagi ya, ini cuma dikit kok yang lepas."
Ragil langsung mengangguk. Aku duduk di bawah sofa, dan Ragil berdiri di sebelahku. Aku menatap horor lego dengan susunan rumit ini. Gilang saja yang biasa susun lego butuh waktu lama, apalagi kalau amatiran sepertiku.
"Nau, minta maaf sama Agil."
"Nau nggak sengaja, Mama."
"Na..." Aku menegurnya. "Udah nggak pa-pa. Gak sengaja juga itu. Ini bisa disusun lagi kok."
"Biar jadi kebiasaan kalau dia salah harus langsung minta maaf."
Aku tidak lagi menanggapi.
"Kata Papa apa?"
"Kalau Nau bikin salah harus minta maaf." Naura masih menekuk wajahnya. Tangisnya sudah mulai berhenti.
"Yuk, sekarang minta maaf sama Agil."
Naura mengulurkan tangan kanannya ke depan Ragil.
"Maaf."
Aku menunggu reaksi Ragil, ternyata dia membalas tangan Naura.
"Aku maafin."
Indahnya kerukunan jika selaras dengan ketulusan. Semoga hubungan ini tetap terjaga apa pun yang akan terjadi ke depannya, aku tidak mungkin menghindar lagi
*****