GILANG PRAMUDYA WIJAYA
Gue marah sama keadaan yang menuntut gue ada di posisi ini. Demi Tuhan, gue yakin itu anak gue. Makanya gue berusaha mendekat. Biarpun gue sendiri masih ngerasa aneh sama semua ini. Lo bayangin aja, tujuh tahun gue hidup sendirian. Gak tahu kalau ternyata gue punya anak. Terus tiba-tiba Rani datang dengan pengakuannya yang hampir saja bikin gue mati saking kagetnya.
Dan begonya gue, gue nggak nyadar kalau pengakuan Rani waktu bilang dia gak hamil itu serius. Gue benar-benar melepaskan dia tanpa curiga kalau dia hamil.
Sekarang ... di saat gue tahu kenyataannya, gue stuck. Gue gak bisa berbuat apa-apa. Ragil lebih dekat dengan Yoga yang berstatus ayah sambungnya, dia hanya mengenal Yoga. Dia nggak kenal gue. Baru sehari gue tahu, tapi frustasinya bikin gue kepala gue hampir pecah dan hampir saja bikin gue gelap mata buat nyentuh alkohol lagi.
Kemudian gue sadar, alkohol tidak akan membantu apa-apa. Gue butuh solusi dari sekadar pelampiasan. Gue butuh teman bercerita sedangkan teman-teman gue sudah punya kehidupan masing-masing. Di tengah pelik yang hampir bikin kepala gue meledak karena seharian mikirin kedekatan Ragil dengan Yoga, gue membelokkan mobil ke kompleks perumahan Bang Galih. Saat ini gue butuh dia, biarpun gue yakin setidaknya satu tonjokan akan melayang darinya. Temperamennya gak pernah hilang padahal umur sudah kepala empat.
Sebelum keluar dari mobil, gue telepon Mbak Susi dulu. Gue harus memastikan nyokap sudah tidur. Setelah memastikan kondisi nyokap, gue turun dari mobil. Telunjuk kanan gue menekan bel yang ada di pintu. Lalu Nana muncul dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Lang? Kenapa malam-malam ke sini? Mama baik-baik aja kan?" Nana memberondong gue dengan pertanyaan, dia langsung panik. Gue emang tamu gak tahu aturan. Jam sepuluh malam ngetuk pintu rumah orang. Tapi gue butuh ngobrol sama kakak gue.
"Baik. Aku mau ketemu Bang Galih dong, Na. Udah tidur belum?"
Kepanikan di wajah Nana mendadak hilang.
"Belum. Yuk, masuk!"
Nana membuka pintu lebih lebar. Gue masuk. Lampu di ruang tengah sudah padam, tapi tidak lama kemudian Nana menekan saklarnya hingga gue bisa melihat seluruh furnitur di dalam rumah ini.
"Elea sama Naura udah tidur ya?"
"Udah," jawab Nana. "Mau minum apa, Lang?"
"Kopi dong, Na. Suntuk banget."
Sumpah! Suntuk gue bertambah setelah beradu argumen dengan Rani tadi. Keras kepala Rani tidak pernah hilang dari dulu, dan tetap dengan sikap defensifnya.
"Aku panggil Mas Galih dulu habis itu bikin kopi."
"Siap. Eh, aku di halaman samping aja deh. Butuh angin segar."
"Oke."
Nana pergi ke kamar buat panggil Bang Galih, gue meluncur ke halaman samping rumah. Duduk di kursi teras. Mengambil kotak rokok dari saku kemeja. Entah ini sudah rokok ke berapa yang gue isap hari ini.
"Eh, pria bangkotan yang belum nikah di usia 34 tahun ngapain ke sini?"
Abang gue begitu tuh. Puas banget ngeledek gue. Gara-gara dulu gue sering ledekin dia juga karena belum nikah di usia 30 tahun, eh ternyata gue malah lebih dari dia.
Bang Galih mendatangi gue dengan muka masam. Gue menyeringai melihat penampilan dia sekarang. Tubuh bagian bawahnya hanya dilindungi sarung, sementara badan atasnya gak pakai baju. Gue mencium malam mingguan gulat di kasur.
"Gue ganggu lo, ya?" Gue sengaja memancing dia.
"Sialan lo emang! Malam minggu ini, Lang. Malam minggu!" sahutnya berulang-ulang menekan kata malam minggu.
Gue tertawa keras. "Udah sampe mana?"
"Lepas sarung!"
"Bangke! Bangke!" Gue gak bisa nahan tawa apalagi melihat muka Bang Galih yang merah. Kelihatan sekali lagi pengin hasratnya tersalurkan.
"Sabar dulu, Bang. Lo bisa lanjut abis gue balik nanti."
"Keburu ngantuk!" sungutnya.
Semangat dia buat nambah anak masih membara. Hal ini kontras dengan Nana yang menganggap dua anak cukup. Padahal Bang Galih pengin punya anak cowok. Jangan anak deh, Bang. Yang cowok cukup keponakan.
"Mau ngapain lo ke sini?" tanya Bang Galih. Masih dalam mode garangnya. Baru aja gue mau buka mulut, Nana keburu datang membawa nampan dengan isi yang berbeda. Secangkir kopi dan segelas air putih. Abang gue terlalu sehat hidupnya makanya minuman favorit dia air putih.
Nana balik ke dalam rumah. Dia memberi gue waktu buat ngobrol sama suaminya, dia gak terang-terangan menunjukkan wajah kesalnya ke gue karena aktivitas kasur mereka terganggu. Berbeda dengan Bang Galih yang menatap gue seolah ingin menerkam gue hidup-hidup.
"Gue mau bikin pengakuan dosa sama lo, Bang."
Bang Galih tidak langsung memberi tanggapan. Ekspresinya pun tidak sama sekali menunjukkan rasa terkejut. Dia mengambil gelas air putihnya, lalu meneguknya rakus. Oh, habis foreplay cape rupanya.
"Apalagi sekarang?" Bang Galih mulai mengintimidasi gue lewat tatapannya. "Lo nidurin anak orang lagi?"
"Kagaklah!" sangkal gue.
Gue cuma sekali tidur sama perempuan, dan ternyata benih gue tumbuh jadi bayi. Gue menghela napas, mengingat kerumitan kisah gue dan Rani tuh bikin nyesek.
"Bang, lo kemarin ketemu Rani?"
"Ketemu di rumah sakit," jawabnya tak acuh. Curiga nih gue sama dia.
"Lo ketemu anaknya?"
"Ketemu, tapi dia udah tidur."
"Itu anak gue, Bang."
"Tau gue!" cetusnya, santai.
Gue tercengang. Ekspresi Bang Galih terlewat tenang untuk orang yang biasa marah kalau gue ngaku berbuat salah semacam ini.
"Serius lo?"
"Serius, Kambing!" serunya. "Sekali gue lihat wajah tuh bocah tengilnya udah mirip lo waktu kecil."
Kali ini gue harus mengakui kalau Bang Galih punya kepekaan yang lumayan oke. Gue sendiri hampir tidak mengenali Ragil kalau ternyata mirip sama gue.
"Kemarin gue ketemu Rani, dia bilang semuanya sama gue. Awalnya gue dikasih foto anaknya, tapi malah nggak ngeh kalau dia mirip gue."
"Berengsek lo emang! Kecebong lu itu."
"Gue tahu." Gue tidak menyangkal sama sekali. Gue tidak butuh tes DNA untuk membuktikan kebenarannya. Tapi masalahnya, gue terus melihat pandangan sayu Rani. Dia seolah mengatakan kalau dia cape, dia punya banyak beban di pundaknya.
"Gimana caranya biar gue bisa ngangkat beban Rani, Bang?" Gue bertanya. Pelan. Bang Galih menoleh sesaat ke gue.
"Dia udah nikah?"
"Udah. Sama Yoga, teman kantornya dulu." Gue sesap rokok di jari gue sebelum melanjutkan. "Dan Yoga yang selama ini jadi ayah dari anak gue."
Kampret! Momen kedekatan mereka merusak imajinasi gue.
"Siapa yang punya anak?"
Nana tiba-tiba datang. Dia berdiri di antara gue dan Bang Galih. Melempar tatapan bertanya ke gue dan Bang Galih secara bergantian. Merinding gue kalau berhadapan sama ibu-ibu, suka kalah adu bacot biasanya.
"Lo belum kasih tahu Nana, Bang?"
"Belum sempet cerita."
Mendengar jawaban Bang Galih, Nana langsung berkacak pinggang di depan suaminya.
"Malam ini rencananya mau cerita kok."
Cih najis! Bang Galih mendadak jadi lemah lembut bicara sama Nana. Dan apaan tuh? Tatapan penuh cinta. Geli gue.
"Hectic banget gue dari kemarin, Lang. Hari ini libur direcokin anak gue terus. Pas ada waktu buat emaknya, eh diganggu bujangan."
Masih terus diungkit soal gue yang mengganggu acara mereka malam ini.
"Ih aku tanya, siapa yang punya anak?" Nana kembali bertanya, mendesak lebih tepatnya.
Gue menghela napas.
"Aku."
"Hah?" Nana tercengang. Matanya membulat lebar. "Bercandanya bisa aja, Lang."
"Lah, serius." Gue lebih kaget karena Nana menganggap omongan gue bercanda. Gue menunjuk suaminya untuk memberi penjelasan. "Tanya Bang Galih langsung."
"Mas? Bohong kan Gilang? Bercanda doang 'kan?" Nana mengguncang-guncang bahu Bang Galih. Terus mencecar dengan pertanyaan. "Mas, jawab aku dong."
"Gilang emang punya anak."
"Anak kandung?" Guncangan Nana di bahu Bang Galih terhenti sepenuhnya.
"Iya. Produk dari s****a gue asli."
"Siapa Ibunya? Perempuan mana yang kamu hamili, Lang?"
Mampus! Gue dihakimi sahabat dari ibu anak gue. Gue yakin dia akan pro ke Rani dan menyalahkan gue.
"Bang, duh gue gak sanggup kalau sampai bini lo berurai air mata kayak gue kemarin."
"Apa sih? Kenapa aku harus nangis? Mas?"
Gue menggeram tertahan. Gue kesal karena acara konsultasi gue ke Bang Galih harus tertanggu dengan rasa penasaran Nana.
Bang Galih dengan sabar memberi pengertian ke istrinya. Dia mengambil tangan Nana untuk kemudian dia genggam. Kampret! Gue iri.
"Karena ibu dari anak Gilang itu sahabat kamu," katanya pelan.
"Hah? Maksud kamu apa, Mas?"
"Ingat dulu Gilang pernah ngaku kalau tidur sama Rani?"
"Ingat. Aku bahkan langsung telepon Rani buat mastiin. Rani bilang nggak hamil, Mas! Bagaimana bisa dia punya anak sama Gilang?" Nana melotot sangar ke gue.
"Kita dengerin penjelasan Gilang dulu."
Nana mengangguk. Dia langsung menuntut penjelasan dari gue. Gue menarik napas secara teratur serta menandaskan sisa kopi dalam cangkir.
"Awalnya dia emang gak tahu kalau hamil. Duh ini kalau diceritain panjang banget kayak cerpen. Intinya, Yoga kerja sama dengan dokternya dan bilang Rani bisa makin stres kalau tahu lagi hamil. Kampret kan tuh orang?"
"Kamu lebih kampret sih, Lang!"
Gue mingkem. Mulut gue gak berani menyangkal kalau yang mengejek gue itu Nana. Gue memang kampret. Menyakiti sahabatnya berkali-kali. Padahal dari dulu dia sudah mewanti-wanti gue kalau gue tidak boleh menyakiti Rani.
"Istriku tersayang, makasih udah diwakilkan."
Gue mendecih sebal.
"Jadi, Rani nikah nggak sama Yoga? Kebangetan dia tuh ngilang gitu aja tanpa kabar apa pun."
"Nikah," jawab gue sedikit tidak ikhlas.
"Sumpah, nahan napas aku dengernya."
"Aku bukan lagi nahan napas, Na. Tapi nggak bisa napas."
Kondisi gue langsung kacau begitu Rani bilang punya anak dari gue.
"Anaknya cewek atau cowok?"
"Cowok. Bulan depan usianya enam tahun."
"Ya iyalah, kampret! Kalau tuh anak kurang dari lima tahun berarti bukan anak lu."
"Iya, sih." Gue menggaruk kepala yang mendadak gatal.
"Serius, Rani punya anak sama kamu?"
Sepertinya Nana masih belum percaya. "Harusnya kamu tanya ke Rani langsung, Na. Kenapa dulu nggak jujur sama aku."
"Mukanya Gilang semua, Yang," timpal Bang Galih.
"Gue ada nih fotonya."
Buka handphone. Gue kemarin sempat mengambil foto Ragil biarpun dia dalam keadaan tidak sadar dan asyik bermain dengan mainan yang gue beli. Gue buka galeri, kurang lebih ada sepuluh foto Ragil.
Nana mengambil ponsel gue dengan tergera. Wajahnya berbuah terkejut setelah melihat foto-foto Ragil.
"Astagfirullah! Iya lho, mirip Gilang."
"Namanya Ragil, Rani bilang singkatan nama gue dan dia. Rani-Gilang digabung Ragil. Dia nggak kenal sama gue, ngenes banget kan gue?"
"Sabar. Dia kan gak tahu lo ayahnya."
Gue mengangguk. Tiap saat gue selalu memberi semangat ke diri gue sendiri.
"Lang, bagi nomor Rani."
"Cari aja."
"Namanya apa? Aku search Rani nggak muncul."
"Ibunnya Ragil."
Nana mengembalikan ponsel gue. Dia bergegas masuk rumah setelah mendapatkan nomor handphone Rani.
Sekarang tinggal ada gue dan Bang Galih. Bang Galih tidak memaki gue, tidak juga nonjok gue kayak dulu.
"Gue bingung, Bang." Gue jambak rambut karena pusing gue belum sepenuhnya hilang. Gue harus cari cara buat lebih dekat dengan Ragil. "Entah gue harus marah sama siapa. Keadaan ini beneran nguras pikiran gue banget. Apalagi gue harus lihat kedekatan Yoga sama anak gue. Nggak kuat gue, Bang. Gue gak tahu kalau rasanya kayak gue nelen empedu gini. Pahit banget, anjing!"
"Gue selama ini mungkin diem, Lang. Dulu, gue sengaja gak bantu lo di depan bokap. Karena gue yakin lo pasti bisa hadapi bokap sendiri. Lo udah gede, udah gak pantes gue lindungi. Tenyata gue punya adek tololnya melebihi gue."
Gue menertawakan diri sendiri. Gue memang ... t***l. Selain itu gue ini pengecut yang hobinya kabur tanpa menyelesaikan perkara hati. Tapi kali ini, biarpun keadaan tidak sama lagi. Biarpun Rani sudah milik orang lain, tapi gue masih berhak mendapatkan hati Ragil.
Bang Galih menonjok meja pelan, seolah meminta gue buat memperhatikannya. Matanya menatap gue bengis. "Kalau emang Rani udah nikah, ya udah biarin. Kewajiban lo di sini bukan buat emaknya tapi buat anak lo. Jangan ikut campur rumah tangga dia selama itu nggak ngelibatin anak lo. Paham lo?"
"Paham."
"Lo pas pembagian otak makanya jangan telat. Otak lo itu cuma 1% dari otaknya orang jenius."
Bang Galih paling bisa bikin gue tak berkutik sedikitpun.
"Balik sana lo! Udah malem kasihan nyokap lo tinggal."
Gue mengangguk. Segera bangkit dari posisi duduk gue. Tanpa basa-basi lagi gue langsung pergi lewat jalan samping tanpa harus repot-repot masuk ke rumah dan keluar dari pintu utama.
Gue butuh istirahat biar pikiran normal lagi. Mengurangi kecepatan mobil karena gue lagi malas nyetir. Harusnya tadi gue minta supir Bang Galuh antar gue pulang. Mata gue melirik kanan dan kiri, mencari minimarket. Gue butuh minuman dingin untuk menyejukkan tenggorokan gue. Di sebelah kiri gue, ada restoran. Bukan restorannya yang menarik perhatian. Tapi mobil HR-V dengan plat nomor yang sama seperti milik Yoga. Gue terus melajukan mobil gue pelan-pelan, melewati mobil yang gue yakini milik Yoga itu.
Gue menurunkan kaca mobil agar bisa melihat kejadian di belakang sana.
"s**t!"
Gue refleks menginjak rem. Gue menengok ke belakang untuk memastikan apa yang terlihat oleh pandangan gue itu nyata. Yoga baru saja keluar dari restoran sambil menggandeng perempuan. Gue lihat dia tersenyum sambil membukakan pintu mobilnya.
"Anjing! Yoga sialan!"
Mobil Yoga melewati mobil gue. Dari balik kaca mobil gue melihat jelas kalau Yoga tengah bersama perempuan lain.
Gue ikuti mobil si kampret itu. Mengurungkan niat untuk mampir ke minimarket. Yoga mempercepat laju kendaraannya, apa dia sadar kalau gue sedang mengintainya di belakang. Dia ngebut, gue juga ngebut.
"Ahh, anjing!"
Gue terjebak lampu merah.
*****