6. Rani

1805 Words
Chalya Agrania Yoga datang pagi-pagi ke rumah, katanya dia tidak ingin mengecewakan Ragil seperti kemarin sampai bikin anak itu merajuk susah dirayu. Sepertinya aku patut bersyukur karena kedatangan Gilang, dia datang di waktu yang tepat. Dia berhasil menghipnotis Ragil dengan mainan baru dan lupa dengan aksi ngambeknya. Aku belum sempat cerita ke Yoga tentang pertemuanku dan Gilang. Komunikasiku dengan dia terbatas. Aku hanya akan menghubungi dia sesuai permintaan Ragil. Aku hanya ingin menjaga perasaan calon istrinya. Bagaimana pun perempuan pasti cemburu melihat kekasihnya terlalu dekat dengan mantan. Ah, mengapa harus ada kata mantan di dunia ini? "Ran?" Aku terkesiap karena panggilan Yoga yang tiba-tiba. Pagi ini aku sedang mengobrol di dapur dengan Ibu sambil masak untuk sarapan. Mumpung ada Ibu yang lebih jago dalam hal mengolah makanan, jadi sarapan kali ini Ibu yang memasak. "Kenapa?" tanyaku, menoleh sesaat padanya yang kini duduk di kursi makan. Lalu kucoba menawarkan secangkir kopi. "Mau kopi, Ga?" "Boleh," jawabnya. Aku berbenti sejenak dari pekerjaanku. Mengambil cangkir bersih dari kabinet bawah dan mulai menuangkan kopi dan gula sesuai selera Yoga. "Kemarin jadi beli mainan?" "Nggak kok. Kenapa?" tanyaku. Lantas membawa kopi panas yang sudah kuseduh ke hadapannya. Kusimpan secangkir kopi itu di depan dia. "Itu. Aku lihat banyak mainan baru di meja," tunjuknya menggunakan dagu. Mainan Ragil pemberian Gilang kemarin termasuk lego yang sudah tersusun belum aku bereskan. Masih menumpuk di meja ruang tamu. Karena saat bangun tidur, anak itu akan langsung mencari mainan barunya. "Oh, itu dari Gilang." Jawabanku jelas mengundang kerutan dahi dan tatapan tajam dari Yoga. Kubalas tatapannya dengan senyuman. Aku tahu dia akan merasa aneh. Bertahun-tahun dia membujukku untuk memberi tahu Gilang, baru sekarang aku melakukannya. Setelah pertemuanku kembali dengan lelaki itu secara tidak sengaja di rumah sakit. Aku jadi berpikir, mungkin sudah seharusnya aku berbagi rasa sakit dengan dia. Aku sempat bimbang, tapi kemudian aku berusaha berpikir dengan otak yang waras. Usia Ragil yang masih kecil mungkin akan memudahkanku mendekatkan dia dengan ayah kandungnya. Lain lagi kalau usia Ragil sudah besar, aku tidak yakin prosesnya akan lebih gampang. Makanya aku menguatkan niat untuk memberitahu Gilang. "Gilang?" Raut keheranan masih tampak jelas di matanya. "Gilang ketemu Ragil?" Yoga melempar tatapan tidak percayanya. Dia masih menatapku tajam. Aku mengangguk. Lalu duduk di depannya. Melipat kedua tangan di atas meja. "Panjang ceritanya. Intinya kemarin aku udah kasih tahu dia soal Ragil. Dia kaget. Tapi, kupikir dia nggak bakalan langsung datang, eh nggak lama setelah aku kasih tahu dia datang sambil bawa mainan." "Dia langsung percaya kalau Ragil anaknya?" Sesaat aku diam. Kembali mengingat reaksi Gilang kemarin. Dia tidak menyangkal sama sekali, begitu dia bertemu dengan Ragil pun tidak ada sangkalan apa pun darinya. "Kalau nggak percaya aku bakal langsung ngusir dia kok. Udah jelas-jelas muka Ragil tuh Gilang semua." Yoga mengangguk. Lalu meminum kopinya. Sedangkan aku hanya memperhatikannya, memori tentang masa lalu kembali hadir. Aku berhutang budi pada Yoga. Kehadirannya banyak sekali membantuku ketika terpuruk. Dia yang terus memberiku semangat, meyakinkan aku bahwa aku bisa melewati setiap kesulitan. Dia selalu percaya jika di dunia ini semuanya akan balance termasuk bahagia dan kesedihan. Dia percaya jika hari ini tercipta kesedihan, suatu hari akan tercipta kebahagiaan. Belum tentu besok datangnya, tapi suatu hari yang masih rahasia. Aku pernah tidak menerima Ragil saat aku sadar wajahnya mirip Gilang. Merasa tidak sanggup kalau aku harus hidup bersama versi kecil Gilang. Yoga dengan sabar meyakinkanku. Hingga aku betul-betul bisa menerima Ragil. "Terus? Kamu kasih tahu Ragil juga?" Pertanyaan Yoga menarikku kembali pada kenyataan setelah bernostalgia. Aku menggeleng pelan. "Aku bingung, Ga. Bilang kamu mau nikah ke dia aja belum. Apalagi bilang kalau Gilang ayahnya." "Pelan-pelan aja, Ran. Jangan dipaksa. Anak kecil kalau dipaksa takutnya malah jadi nggak suka. Soal pernikahanku, aku akan coba jelasin pelan-pelan ke dia." Aku mengangguk. Pasti ada masa di mana Ragil akan menerima jika perjalanan hidup kami memang tidak semudah orang-orang di luar sana. Kami harus lebih ekstra berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang dinamakan kebahagiaan. "Jadi gimana perasaan kamu sekarang? Udah lega kan?" "Lega. Biarpun tugasku belum selesai." Seperti yang aku bilang kemarin. Sebagian bebanku terangkat. Tugasku selanjutnya adalah mengenalkan Gilang pada Ragil sebagai ayahnya. "Gilang tahu kalau kita udah pisah?" Pertanyaan selanjutnya dari Yoga sukses membuatku bergeming untuk beberapa saat. Aku diam, kemudian mengulas senyum tipis seraya menggelengkan kepala. Tujuanku menemui Gilang hanya untuk memberitahu soal Ragil, bukan memberitahu statusku. Untuk apa memangnya? Aku sudah tidak pernah mengharapkan apa pun dari dia. Dia juga mungkin sudah punya calon istri, atau bahkan sudah punya istri. Sebab mustahil di usia sekarang dia belum berkeluarga. "Nggak penting juga bagi dia soal statusku," jawabku. "Gilang juga pasti udah punya calon atau mungkin udah nikah." Aku mengedikkan bahu, berusaha tak acuh namun pertanyaan "apakah dia sudah menikah" itu muncul ketika aku kembali bertemu dengannya di depan lift hari itu. "Gilang belum nikah." Munafik bagiku kalau pernyataan Yoga tidak menarik perhatian dan memberikan reaksi pada hati. Sesaat aku ingin percaya jika ucapan Yoga benar, tapi kemudian logikaku menolak. Terlalu mustahil rasanya. Aku tidak ingin kembali terjebak pada delusi yang berkepanjangan. "Jangan asal bicara, Ga." "Serius. Aku serius." Dia menekankan kalimatnya. Sontak saja aku terenyak. "Temanku kerja di perusahaan Gilang. Dia beberapa kali cerita soal Gilang. Gilang sosok pemimpin yang tegas, ketegasannya sama dengan papanya. Hanya saja, dia bilang Gilang lebih manusiawi dari papanya. Dia juga cerita kalau Gilang masih setia melajang padahal banyak sekali karyawan perempuan yang sibuk godain dia." "Bisa jadi dia salah info." Lagi, aku berusaha keras menyangkal semua informasi itu. Yoga kesal. Dia menggeram tertahan, kedua bola matanya membidikku intens. Lalu menghela napas. "Kamu tuh selalu begini, Ran. Kalau emang masih ada jalan buat kalian balik, kenapa harus ditutup-tutupi?" "Apa yang aku tutupi, Ga?" "Hati kamu." Jawabannya membungkamku. "Ran, pikirin juga diri kamu, perasaan kamu." Aku tertawa miris. "Perasaan apa? Perasaan cinta yang harus dipaksa berhenti karena status ekonomi? Begitu?" Aku mencecarnya. Intonasi suara kami sudah tidak sepelan tadi. Mataku terpejam seiring rasa sesak yang kembali hadir. Mengatur napas secara teratur. Aku tidak ingin ribut apalagi masih ada Ibu di rumah. Mendengar kami saling melontar argumen, Ibu sampai harus keluar dari dapur. "Aku udah cape, Ga. Udah nggak mikirin cinta-cinta lagi." "Ran..." "Udah cukup, Ga." Aku bangkit berdiri, menghindarinya. Mulai mengambil makanan yang sudah ibu siapkan dari minibar ke meja makan. "Jangan mempersulit keadaan, Ran. Kalau Gilang tahu kamu udah pisah sama aku, aku yakin dia pasti akan bujuk kamu lagi buat balik ke dia." "Ga..." Aku membentak. Meminta dia untuk tidak lagi menyinggung soal ini. Tapi Yoga tidak berhenti sampai di situ. "Love your life. enjoy every moment. Kalian udah sama-sama sakit, Ran. Waktunya buat sembuh. Kasih kesempatan buat Gilang, Biarin Gilang yang berjuang buat kamu, buat Ragil. Karena mau seberapa deket pun aku sama Ragil, darahnya tetap terikat sama Gilang. Kalian pasti berharga di hati dia. Jangan sampai menyesal, Ran. Tolong jangan terlalu defensif seperti ini." Aku bergeming di tempatku berdiri. Dalam diamku, lagi-lagi aku merasakan hatiku menangis. "Ayah!" "Eh, Jagoan Ayah udah bangun!" Setelah mengucapkan kalimat panjang yang mengundang sesak itu, Yoga berdiri. Menghampiri Ragil yang baru saja membuka pintu kamar. Seolah berada di persimpangan dilema yang membuatku kesulitan untuk memilih. "Gimana tidurnya? Nyenyak?" Kulihat Yoga mengusap pipi kanan Ragil. "Nyenyak dong, Yah. Kasurnya gede nggak sempit kayak di rumah sakit." "Makanya jangan sakit lagi. Oke?" "Oke!" "Tos dulu!" Yoga mengangkat tangan kanannya, dan Ragil menyambutnya dengan ekspresi gembira. "Agil punya lego baru, Yah." "Oh ya? Siapa yang beli?" "Dikasih Om Yayang kemarin. Om Yayang temen Ibun, Yah." "Ayah mau lihat dong legonya." "Ibun, lego Agil mana?" Ragil menghampiriku, diikuti Yoga dari belakang. "Itu di meja," tunjukku. "Hore! Legonya udah jadi!" soraknya girang. Dia langsung berlari ke ruang tamu untuk melihat lego yang sudah berhasil Gilang susun semalam. "Pikirin omonganku tadi, Ran." Aku tidak mengangguk tidak juga menggeleng. *** Ucapan Yoga soal status Gilang tadi pagi mengusik pikiranku hingga malam hari. Pagi tadi, Gilang datang ke rumah. Namun Ragil memilih bermain dengan Yoga, Gilang akhirnya pulang begitu saja. Setelah menidurkan Ragil. Aku bangun, dan duduk bersandar di ranjang. Hatiku dirasuki rasa penasaran. Akhirnya, aku mengambil handphone dan kacamata yang tersimpan di atas nakas. Mulai mencari informasi tentang Gilang di internet. Ketika aku mengetikkan nama Gilang Pramudya Wijaya, muncul banyak berita. GILANG PRAMUDYA WIJAYA, CEO MUDA WIJAYA GROUP TERNYATA MASIH BETAH MELAJANG. BETAH MELAJANG, INILAH 10 WANITA YANG DIKABARKAN PERNAH DEKAT DENGAN PENGUSAHA GILANG PRAMUDYA WIJAYA. DULU CUNGKRING, SEKARANG BERBADAN ATLETIS. INILAH LIMA POTRET PERUBAHAN GILANG PRAMUDYA WIJAYA. DIKABARKAN DEKAT DENGAN PENYANYI ISYANI SARASVITA, GILANG PRAMUDYA ANGKAT BICARA. Debar jantung pelan-pelan mulai meningkat. Desir hangat selalu muncul setiap aku membaca satu persatu artikel online itu. "Assalamualaikum." Aku terperanjat. Itu suara Gilang. Kemudian bunyi bel mulai terdengar. Aku bangun, mengintip sedikit dari celah gorden kamar. Ternyata memang Gilang. Mendadak aku kebingungan, mondar-mandir di dalam kamar sambil menggigiti kuku sementara seruan di luar masih terus terdengar. Kenapa dia harus datang di saat yang tidak tepat? Saat Ragil sudah tidur, dan saat Ibu sudah pulang ke Purwakarta. Sedangkan Yoga jelas saja tidak ada di rumah ini, karena sejak bercerai kami pisah rumah. Yoga bilang malam ini dia juga sedang ada acara bersama tunangannya. Ayolah, Rani. Sudah punya anak masa nyalinya ciut begini. Sudah cukup bersikap menye-menye. Hadapi! Hadapi! Aku terus membaca mantra itu di tengah gemuruh jantung yang semakin tidak keruan. Menarik napas dalam sebelum memutuskan keluar kamar dan membuka pintu untuk Gilang. "Kok sepi?" Pertanyaan yang paling awal dia tanyakan begitu aku membuka pintu. Pandangannya melewati bahuku, dia mengintip ruang tamu yang sudah gelap. Penerangan hanya berasal dari lampu duduk yang menyala. "Ragil udah tidur. Ibu udah pulang ke Purwakarta." "Suami kamu?" Sial! Aku lupa kalau dia akan bertanya soal Yoga juga. Bibirku mendadak kaku, lidahku kelu. Sementara Gilang berusaha menilai ekspresiku dengan cara menatap. "Lagi ada acara sama temannya," jawabku asal. "Malam-malam begini." Dia mengecek jam tangannya. "Ninggalin istrinya cuma berdua dengan seorang anak kecil berusia enam tahun di rumah." Nada suaranya mengandung sindiran. "Urusan rumah tanggaku bukan urusan kamu." Gilang menerobos masuk. Aku baru sadar kalau dia membawa kantong kresek putih berisi box makanan. Entah makanan apa itu. Setelah dia menyimpan makanan itu di atas meja, dia berbalik badan. Dalam minimnya pencahayaan, aku masih bisa melihat bola mata hitam legamnya menghunusku, dan ternyata tetap memberikan efek hangat di hatiku. Dia bersedekap, ekspresinya jelas menunjukkan ketidak-sukaannya pada Yoga. "Memang bukan urusanku. Tapi itu menyangkut soal anakku. Apakah acara dengan temannya itu lebih penting daripada keluarga? Sementara anak yang dia akui itu baru saja keluar dari rumah sakit. Di mana otak warasnya?" "Cukup ya, Lang! Kamu sudah terlalu lancang." Aku membentaknya. Dia diam, namun langkahnya mendekatiku. Aku refleks untuk mundur, tiba-tiba perasaan was-was mulai menyeruak. "Pergi dari rumahku!" Cara terbaik untuk menghindar adalah mengusirnya. "Pergi, Lang! Atau aku teriak kencang dan tetangga akan datang." Gilang bergeming dan menatapku dingin. Aku merinding karena tatapannya itu. Beberapa saat kami hanya berdiam diri, tapi dia menyerah. Dia berjalan melewatiku dan keluar dari rumah. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD